
"Menurutmu bagaimana? Apa yang kamu rasakan? Kok malah balik tanya?" tanya Ethan.
Wajah Ethan sangat manis saat tersenyum membuat Ainsley salah tingkah. Siapa yang tak akan jatuh hati pada pesona Ethan? Wanita manapun pasti akan jatuh hati pada dokter tampan itu bahkan banyak pasiennya yang sering terpesona pada dokter muda tersebut.
"Ini bukan cinta namun hanya jantung berdegup kencang saja. Aku merasa senang jika di dekat Dokter Ethan. Dokter adalah pengganti Kak Darren yang sudah tidak ada, dia mampu membuatku senang saat ada di dekatnya," jelas Ainsley.
"Aku terharu mendengarnya namun aku juga sedih karena itu ternyata bukan cinta. Hahaha... apa yang aku harapkan? Cinta? Konyol sekali. Kita menikah dadakan dan baru saja seminggu menikah. Cinta? Hahaha..." ucap Dokter Ethan geli sendiri.
Ainsley pun juga tertawa, dia juga geli membahas cinta-cintaan. Wanita autis itu hanya mengikuti jalannya skenario saja tanpa tahu yang ia rasakan adalah cinta yang sebenarnya.
Beberapa menit kemudian mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing dan Ethan masih fokus menyetir mobilnya.
Hari ini dia libur untuk pertama kali setiap bekerja di rumah sakit itu hampir seminggu.
Di sana ia juga harus berbaur dengan lingkungan sekitar serta para pasien yang baru. Dokter Spesialis Onkologi juga sering disebut sebagai spesialis kanker. Seperti namanya, onkologi adalah cabang kedokteran yang mengkhususkan diri dalam dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker.
Ethan selalu dihadapkan yang namanya kematian dari pasiennya namun banyak juga yang bisa sembuh dari penyakit kankernya atas kehendak Tuhan.
Di Rusia, Ethan sudah diakui sebagai dokter yang hebat, saat itu saja mereka enggan untuk melepas Ethan pulang ke Indonesia.
Perjalanan ke tempat kos masih sekitar 15 menit lagi, Ethan mengajak Ainsley untuk mampir ke kedai bakso padahal tadi mereka sudah makan.
Nafsu makan Ethan memang tinggi dan dia hobi makan makanan di pinggir jalan walau ia seorang dokter. Mereka mampir kedai bakso terdekat dan sesampainya di sana mereka memesan dua mangkuk bakso.
"Dokter Ethan sangat berbeda dengan Kak Darren. Kalo Kak Darren anti makanan seperti ini," ucap Ainsley.
"Makan sesekali tak masalah lagi pula bingung di kos mau apa karena ini masih siang," jawab Ethan.
Baksonya pun datang, mereka makan bersama-sama. Ainsley memperhatikan Ethan sedang meniup kuah bakso itu, wajah Ethan dari samping memang sangat tampan sampai Ainsley tersedak bakso kecil yang sudah ada di dalam mulutnya.
"Uhuk... uhuk..."
Ethan kaget dan memberikan pertolongan pertama dengan cara menarik dada Ainsley ke kebelakang lalu bakso itu keluar bulat utuh dan barulah Ainsley bisa bernafas lega. Semua orang kaget melihat Ethan, ia pun hanya menggaruk tengkuk lehernya karena malu.
__ADS_1
"Ains, hati-hati! Jangan buru-buru makan!" ucap Dokter.
"Maaf, dokter."
Mereka melanjutkan makan lagi sampai ponsel Ethan berbunyi yang ternyata itu adalah pesan dari Stella. Wanita itu mengirimkan foto preweddingnya seolah memamerkan pada Ethan.
Ada rasa cemburu yang dirasakan Ethan namun ia tak mungkin mengekspresikannya.
Ethan : Bagus sekali fotonya.
Stella: Benarkah? Aku nampak gendut.
Ethan : Tidak, sudah bagus dan kalian serasi.
Stella: Maaf ya kejadian tadi malah membuat orang tuaku mengajak pulang. Orang tuaku juga kebetulan ada urusan mendadak.
Ethan: Tak masalah.
Stella: Kamu bahagia menikah dengan gadis autis itu?
Stella : Aku tidak menghina gadis itu karena aku pun seorang dokter namun aku hanya ingin meyakinkan apakah kamu bahagia dengannya?
Ethan membalas : Pikirkan kebahagiaanmu sendiri saja karena aku bisa mengurus kebahagiaanku sendiri.
Selepas itu Dokter Ethan mematikan ponselnya supaya tidak diganggu oleh mantan tunangannya. Dia melihat Ainsley yang masih sibuk dengan bakso dan sumpitnya.
Ethan mengambilkan garpu untuk Ainsley lalu menyuruhnya untuk mengambil bakso itu menggunakan garpu.
"Jika ada yang mudah kenapa malah mengambil yang sulit?" tanya Ethan sambil menyodorkan garpunya.
Ainsley menolak garpu itu.
"Kita tidak boleh menyerah dulu sebelum berhasil. Begitu 'kan yang namanya hidup? Kadang kita tak ada pilihan untuk menghadapi kesulitan itu, pilihannya hanya satu, mundur atau terus maju," jawab Ainsley lalu berhasil menyumpit bola bakso itu.
Ethan tersenyum kecil, yang dia ajak bicara adalah seorang motivator dan tak dapat diragukan pemikiran cerdas dari Ainsley walau semua orang menganggapnya rendah.
__ADS_1
Mereka lalu menghabiskan bakso sampai bersih tidak tersisa, Ethan lekas membayarnya dan Ainsley keluar dari kedai itu terlebih dahulu.
"Hai, menunggu Ayah dan Ibu ya?" tanya
Ainsley sambil berjongkok.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah dan ibuku sudah meninggal."
Ainsley terdiam, ia menyadari jika pertanyaannya sangat salah. "Mau permen?"
Anak kecil itu menggeleng namun Ainsley memaksa untuk menerimanya dan harus diterima. Anak kecil itu kesal lalu menangis tersedu-sedu, seseorang datang dengan pakaian rapinya langsung menghampiri anak kecil yang bernama Rafael.
"Kamu apakan adikku sampai menangis begini?" tanya pria itu.
"Maaf, aku hanya menawarinya permen," jawab Ainsley sambil memainkan bola matanya ke atas dan ke bawah karena saking takutnya.
Ethan datang, ia pun kaget karena Ainsley masuk ke dalam area sekolah ini.
"Adik autismu tolong dijaga! Dia menakuti adikku," ucap pria itu dengan nada ketus.
Ainsley mundur perlahan sambil menutup telinganya, perasaannya tidak terkontrol dan dia ingin marah pada orang yang memarahinya. Ethan meminta maaf pada pria itu dan mengajak Ainsley untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Ketika sudah ada di dalam mobil, Ainsley masih mendapat serangan panik. Ethan tak paham tentang apa yang dirasakan gadis istimewa seperti Ainsley jika merasa tertekan begini pasti sangat membuatnya tidak karuan.
"Kenapa aku kena marah?" tanya Ainsley.
"Ains, aku tahu kamu niatnya baik tapi tidak semua orang bisa menerima kebaikan kita. Lain kali jika tidak kenal jangan mendekat," pinta Ethan.
"Padahal mereka tidak tahu aku autis tapi kenapa mereka bisa tahu jika aku autis. Aku tidak suka mendapat julukan itu karena seolah merasa dibedakan. Aku juga manusia seperti kalian namun hanya saja tidak bisa mengontrol setiap emosi yang aku rasakan."
Ainsley menepuk-nepuk kepalanya sendiri sekeras mungkin dan berulang kali. Ethan langsung memeluknya dengan erat dan Ainsley menyadari saat mendengar detak jantung Ethan membuatnya menjadi tenang. Perasaan macam apa ini? Tanya Ainsley dalam hatinya
...****************...
Jangan lupa like nya ya, koment sebagai bahan dukungan bagi penulis ✨❤️❤️
__ADS_1