Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 6 Sebuah Kemeja


__ADS_3


Ethan mencari keberadaan Ainsley yang mungkin saja di sekitaran rumah sakit itu, dia mencari ke sana kemari sampai dia memutuskan untuk mencari di luar gedung. Ternyata benar jika Ainsley ada di tempat pemberhentian bus, gadis itu hanya diam sembari menunggu bus yang akan berhenti di depannya.


"Ains?" tanya Ethan.


Ainsley menoleh, ia langsung mengusap air matanya, dia tersenyum kepada Ethan dan Ethan memeluknya dengan erat. Pria itu meminta maaf karena sudah membuat Ethan salah sangka, ia dan Stella tak ada hubungan apapun lalu adegan tadi karena Ethan merasa kasian dengan Stella.


"Dokter jangan memelukku di sini! Tidak enak jika orang lain melihat karena dokter masih mengenakan pakaian dokter," ucap Ainsley sambil mendorong Ethan perlahan.


Ethan melepaskan pelukannya, ia melihat sekitar yang memang memperhatikan mereka. Ethan kembali memandang Ainsley yang masih sedih, dia meminta maaf dengan apa yang Ainsley lihat tadi.


"Aku minta maaf, Ainsley. Semoga kamu tidak mempermasalahkan ini," ucap Dirgam.


"Tak apa Dokter Dirgam, semua orang punya masa lalu dan terkadang kita sulit untuk melupakannya contohnya aku yang sulit melupakan Kak Darren," jawab Ainsley.


Ethan menepuk bahu Ainsley, dia tahu Ainsley masih berat tinggal di sini setelah sekian lama tinggal di Rusia apalagi makam kakaknya ada di sana dan Ainsley tinggal untuk pulang ke Jakarta.


"Yasudah, aku sudah menerima makananmu dan aku akan memakannya sedangkan kamu bisa pulang ke rumah naik taksi saja. Biar aku carikan taksi supaya kamu tak perlu berdesakan di bus."


"Tak perlu, aku sudah biasa naik bus ketimbang taksi yang aromanya menyengat. Itu dia busnya datang. Aku pulang dulu ya? Jangan lupa makanannya."


Ainsley lalu naik ke dalam bus lalu melambaikan tangan ketika bus itu pergi. Ethan menghela nafas panjang karena untungnya wanita itu tidak marah sama sekali namun dia tahu jika wanita itu sedih.


Ethan kembali lagi ke ruangannya dan saat melewati lorong dia bertemu dengan Stella, wanita itu mengajaknya untuk ke kantin tapi Ethan menolak karena akan makan di ruangannya saja apalagi sang istri sudah susah payah membawakan makanannya ke sini.


"Aku mau makan di ruanganku saja," ucap Ethan.


"Sekalian saja di kantin, ini aku sudah membawa makanan yang dibawa istrimu, kenapa kamu malah membiarkannya pulang? Kita bisa makan bersama dan dia tidak curiga dengan kita," jawab Stella.


"Curiga? Memangnya kita ada hubungan apa sampai istriku harus curiga kepada kita. Aku mau mendengarkan curhatanmu karena kasian saja bukan karena hal lain,"

__ADS_1


ucap Ethan.


Ethan menarik bekal yang dibawa Stella dan dia bawa masuk ke dalam ruangannya. Ethan memakan bekal itu yang ternyata sudah rusak karena mungkin saja gara-gara terjatuh. Dia tetap memakannya sampai habis supaya Ainsley tidak kecewa padanya.


Kenapa makin ke sini aku merasa pernikahannya terasa hambar? Padahal kami baru saja menikah. Apa karena aku terpaksa menikahinya? Batin Ethan.


Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya supaya pikiran jeleknya menghilang. Dia harus mencintai istrinya walau bagaimanapun caranya karena keputusan yang ia ambil untuk menikahi Ainsley adalah keputusannya sendiri.


Masakan Ainsley memang kurang enak karena wanita itu belum pandai memasak tapi sebisa mungkin Ethan menghabiskannya supaya Ainsley tidak kecewa pada dirinya.


Di sisi lain Ainsley merenung di bus, dia terus memikirkan kejadian tadi yang membuat dadanya nyeri, apa dia sudah mulai jatuh cinta dengan Ethan dan rasa sakit hati ini adalah cemburunya? Ainsley memukul kepalanya sendiri sampai semua orang memperhatikannya bahkan orang-orang yang ada di sebelahnya menjauh mencari tempat duduk lain. Ainsley melihat ke arah sekitarnya, ia langsung menurunkan tangan dari kepalanya dan mulai duduk tenang.


Ainsley tak langsung pulang ke tempat kos, dia ingin datang ke salah satu sekolahan SLB untuk mendaftar menjadi guru atau asisten guru, ia tak ingin berdiam diri di tempat kos saja.


Sesampainya di sekolah itu, Ainsley tak langsung masuk ke sekolah itu namun dia bertanya terlebih dahulu apa ada lowongan guru di sini atau tidak kepada satpam. Ainsley kecewa karena tidak ada lowongan sama sekali, ia lalu berpamitan pergi dan meninggalkan sebuah kartu nama jika suatu saat ada lowongan pekerjaan.


Ainsley berjalan mengikuti trotoar, dia masih mengandalkan maps di ponselnya sebagai penunjuk jalan. Sudah bertahun-tahun dia hidup di Moscow dan Jakarta sudah banyak berubah.


Ainsley melihat beberapa pakaian yang bagus namun itu adalah pakaian laki-laki, biasanya ia akan membeli pakaian untuk kakaknya namun kali ini berbeda, ia akan membelikan untuk Ethan. Ukuran suaminya memang sama seperti kakaknya jadi dia tidak kebingungan dalam memilih ukuran. Dua kemeja ia beli untuk Ethan sementara dirinya sendiri tidak membeli apa-apa. Selepas itu ia memutuskan untuk pulang ke kos dan menunggu suaminya pulang dari kerja sampai bosan.


***


Ethan pulang membawa makanan, Ainsley menyambutnya dengan baik dan menariknya duduk di tepi ranjang. Ainsley menunjukan dua kemeja dengan warna cerah pada suaminya tersebut tapi respon Ethan malah diluar dugaan Ainsley.


"Kenapa kamu membeli ini? Aku tidak menyuruhmu membelinya, lagi pula kenapa warnanya putih dan pink? Aku kurang suka warna-warna itu, jas dokter berwarna putih saja aku terpaksa memakainya," ucap Ethan.


"Tapi ini bagus dan pas ditubuhmu," jawab Ainsley.


"Lain kali jika membeli apapun untukku tanya dulu jangan langsung asal beli ketimbang aku tidak mau memakainya, Sudahlah! Berikan saja itu pada orang lain, aku mau mandi dulu, oh ya itu makanannya, kamu bisa panasin dulu," ucap Ethan lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ainsley menghela nafas kasar, tangannya mulai melipat pakaian itu dan dia simpan ke dalam lemari pakaian lalu setelah itu ia mengambil pakaian ganti untuk suaminya. Menjadi istri memanglah tidak mudah bagi Ainsley yang usianya terbilang masih sangat muda, mengurus dirinya sendiri saja dia belum tentu pecus apalagi harus mengurus orang lain.

__ADS_1


Ethan sudah ada di dalam kamar mandi, ia terdiam sejenak mengingat ucapannya tadi pada Ainsley. Entah mengapa ia merasa bersalah padanya dan merasa sudah menyakiti perasaan Ainsley. Ethan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tubuh atletisnya tentu saja terlihat jelas di mata Ainsley.


"Ada yang ketinggalan?" tanya Ainsley.


"Aku mau coba kemeja tadi, unik juga warnanya," jawab Ethan.


Ainsley pun bingung. "Katanya tadi tidak suka?"


"Aku berubah pikiran. Mana biar aku coba?"


"Tadi kata dokter kemeja tadi jelek?"


Ethan menghela nafas panjang, ia harus lebih bersabar dengan istri uniknya tersebut.


"Bagus, kemejanya sangat bagus, aku mau mencobanya."


"Kok sekarang dokter jadi plin plan?"


Ethan menyabarkan dirinya sendiri. "Di mana kemeja itu atau kamu mau aku cium jika terus bertanya?" ucap Ethan dengan wajah yang penuh ancaman.


Ainsley kaget, dia lantas mengambilkan kemeja itu lalu dicoba oleh Ethan. Benar-benar pas di tubuh Ethan bahkan terlihat maco sekali walau salah satunya berwarna merah muda. Saat mencoba kemeja itu tiba-tiba handuk yang melilit pinggang Ethan terlepas. Ainsley berteriak keras dan menutup matanya.


"Tutup! Tutup!" teriak Ainsley.


Ethan dengan santai memakai handuk itu lagi dan menarik tangan Ainsley supaya tidak menutupi mata.


"Bukannya kamu sudah sering lihat setelah menikah denganku? Kenapa kamu takut?" tanya Ethan.


Ainsley pun bingung dan panik jika Ethan memintanya lagi karena tidak akan selesai sampai nanti malam.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2