
Ethan pulang ke rumah dalam keadaan bingung, buntut masalahnya masih panjang dan ingin cepat selesai. Mobilnya ia parkirkan di depan rumah lalu ia melangkah masuk ke dalam dan mendengar suara adu mulut dari orang tuanya. Ibu marah dan menangis karena ayah lebih memilih wanita lain ketimbang dirinya.
"Ada hal yang membuat aku lebih memilih wanita lain ketimbang kamu. Yang pertama, sikap burukmu, aku tidak suka itu, yang kedua kamu terus berhutang tidak jelas dan membuatku ikut dikejar penagih," ucap Ayah.
"Aku sampai berhutang juga untuk membiayai anak-anak kita dan membuat mereka bisa sukses lalu masa depannya cerah," sahut ibu.
"Dan membuat kita dikejar hutang segitu banyaknya?"
Ibu hanya diam saja, ini memang salahnya terlalu berambisi untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin dan membuat mereka mempunyai pekerjaan yang bagus. Ethan menengahi mereka dan menyuruh Ayah pergi jika ingin pergi karena bisa dilihat beliau tidak bertanggung jawab setelah apa yang terjadi pada keluarga ini.
"Ayah jika ingin pergi maka pergilah namun jangan sampai datang kembali ke sini setelah semuanya beres. Ayah tak perlu memikirkan hutang karena aku akan membayarnya," ucap Ethan.
"Baguslah jika kamu sadar, hutang menumpuk juga karenamu yang sok ingin menjadi dokter," jawab Ayah sambil menyeret kopernya ke luar.
Ethan hanya diam saja dan memang ternyata ayahnya nampak baik namun malah seperti itu. Ibu langsung terduduk di sofa sambil mengusap air matanya, satu hal yang dia pikirkan adalah untuk menjual rumah ini saja ketimbang pusing-pusing. Dia bisa pulang ke kampung halamannya dan dua putrinya sudah dewasa lalu bisa mengurus diri sendiri.
"Jual saja rumah ini Ethan, ibu mau pulang kampung saja dan hidup di sana. Dua adikmu bisa ngekos di sini dan mencari uang sendiri. Ibu salah mendidik kalian terutama dua adikmu, mereka terlalu menggampangkan orang tuanya," ucap ibu.
Ethan ikut duduk di sebelah beliau. "Ibu beli rumah ini dengan susah payah dan ini rumah satu-satunya kalian. Elina juga hamil dan Sonia belum lulus kuliah. Ibu tidak usah memikirkan Ayah dan pikirkan saja mereka yang masih butuh dukungan ibu."
Ibu masih terus menangis sementara Ethan memeluknya dengan erat, walau dia sangat kesal dengan perilaku ibu pada Ainsley namun dia tetap tidak tega melihat tangisan ibunya.
"Aku akan menjual rumahku, uangnya bisa melunasi hutang ibu dan membiayai kuliah Sonia sampai lulus nanti kemudian kita pikirkan nasib Elina yang hamil tanpa suami, barulah jika semuanya selesai aku akan pindah ke Rusia dan memulai hidup baru di sana," lanjut Ethan.
Ibu merasa menyesal pada Ethan, harusnya Ethan bisa fokus pada keluarganya sendiri namun malah harus mengurus ibu beserta adiknya. Sonia mendengarkan obrolan mereka dari dalam kamar, ia terdiam sejenak karena tidak bisa menghasilkan uang untuk mereka. Hatinya mulai terbuka dan berniat untuk bekerja paruh waktu. Sementara Elina terus mengusap air matanya karena keluarganya menjadi seperti ini dan merasa merepotkan sang kakak.
Elina terus menghubungi kekasihnya yang menghilang entah kemana, dia berjanji akan bertanggung jawab namun malah menghilang begitu saja. Bahkan ayahnya yang begitu sayang padanya memilih meninggalkan keluarga ini, Ayah yang selalu menjadi panutannya membuat hatinya terluka cukup parah.
Ethan tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, Elina mengusap air matanya dengan kasar. Dia menunduk tak berani menatap Ethan.
"Apa rencanamu?" tanya Ethan.
"Ikuti alurnya saja," jawab Elina.
"Masih kuat untuk bekerja?"
Elina mengangguk, jika tidak bekerja maka ia akan menghidupi hidupnya sendiri bagaimana?
"Apa keluarga kita seperti ini karena memperlakukan Ainsley dengan buruk? Semua seperti ini saat Ains hadir di keluarga kita," ucap Elina.
Tentu saja Ethan sangat kesal mendengar semua itu karena istrinya tidak tahu apa-apa tapi malah ikut disalahkan. Ethan menatapnya dengan tajam dan Elina tidak berani menatap wajah garang sang kakak.
"Tak ada hubungannya dengan Ainsley, dia malah menyuruh kakak untuk memikirkan kalian terlebih dahulu ketimbang memikirkan dia yang di sana sendirian sedang hamil 2 bulan. Di sana dia tak punya siapa-siapa dan bisa kuat menjalani sendirian. Tolong Elina jangan menyalahkan orang lain!" ucap Ethan.
Elina mengangguk sambil mengusap air matanya, Ethan mendekatinya lalu memeluknya dengan erat. Walau Ethan kesal namun sebagai kakak yang baik ia tak tega melihat adik-adiknya menderita.
"Kakak akan membereskan semuanya dan setelah itu kakak akan pindah ke Rusia tapi kakak sebelumnya harus memastikan jika kalian hidup bahagia," ucap Ethan.
"Terima kasih, Kak Ethan. Ainsley sangat beruntung bisa mendapatkan pria baik sepertimu," ucap Elina.
__ADS_1
"Aku yang beruntung mendapatkannya. Dia bisa sesabar itu menemaniku," jawab Ethan.
***
Keesokan harinya.
Sonia datang ke rumah wanita yang menjadi simpanan ayahnya selama ini, rumahnya sangat bagus dan malah lebih bagus dari rumah mereka. Saat bersamaan Ayah keluar, ia kaget karena anak terakhirnya ada di sini.
"Sonia?" tanya Ayah.
Ayah sepertinya hendak berangkat bekerja, Sonia langsung memeluk ayahnya dengan erat. Dia meminta beliau supaya tidak bercerai dengan ibu karena ia tak sunggup melihat perpisahan itu terjadi.
"Ayah... jangan pisah sama ibu!"
"Nak, maafkan Ayah! Ayah tak pantas menjadi ayahmu"
Seorang wanita keluar sambil menggendong anak kecil, dia menyuruh masuk Sonia dengan ramah. Mereka lantas berbicara di dalam rumah dan wanita bernama Dewi menyuguhkan minuman untuk Sonia.
Sonia memandang foto pernikahan ayahnya yang ada di dinding, ternyata mereka diam-diam sudah lama menikah tanpa sepengetahuannya. Ayah meminta maaf karena sudah mengkhianati kepercayaan mereka karena jujur saja ia sudah tidak betah hidup bersama ibu.
"Ini sangat menyakitkan," ucap Sonia sambil menangis.
Dewi mengelus pundaknya, dia juga meminta maaf jika ini telah terjadi.
"Bagaimana kamu bisa seperti ini pada ibuku? Kalian sama-sama perempuan," ucap Sonia.
"Nia, ini salah Ayah jangan salahkan Dewi!" sahut Ayah.
Ayah langsung membawanya ke kamar dan memberikan minyak kayu putih, sementara Dewi menatap suami sirihnya tersebut. Dia merasa bersalah pada mereka.
"Kamu mending balik lagi ke keluargamu itu," ucap Dewi.
"Tidak, aku sudah sangat cinta kamu," jawab Ayah.
"Setidaknya kamu urus dulu masalah mereka dan baru bisa memutuskan untuk hidup bersamaku. Jika begitu aku bisa percaya jika kamu adalah pria yang bertanggung jawab serta tidak lari dari masalah."
Ayah terdiam mendengar semua itu, dia memang lari dari masalah apalagi itu masalahnya bersangkutan dengan hutang. Ayah malah memikirkan Ethan yang berjuang sendirian padahal putranya itu baru saja terkena masalah besar.
"Rumah ini jual saja, aku tak perlu rumah mewah dan besar. Rumah ini jual, 50% untukku dan 50% untuk istri pertamamu. Aku tak pernah menuntut banyak darimu karena aku sadar jika aku hanyalah yang kedua," ucap Dewi sangat bijak.
"Semudah itu cara berpikirmu? Rumah ini aku beli dengan hasil keringatku sendiri sedangkan istriku itu berhutang tanpa sepengetahuanku. Aku tidak mau terlibat dengan masalah hutangnya," sahut Ayah.
"Tolong jangan buat aku bertambah hina seolah ingin mengusai kamu dan hartamu! Aku tidak mau hidup dibayangi rasa bersalah apalagi sampai dimusuhi anak-anakmu!" pinta Dewi.
***
Ethan melakukan panggilan video dengan Ains, mereka setiap malam hanya bisa saling memandang di layar ponsel masing-masing. Saat hamil Ainsley justru bertambah cantik bahkan auranya bersinar sedangkan Ethan yang dulu tampan dengan sejuta pesonanya semakin redup karena dihimpit masalah segitu banyaknya.
"Rumahnya akan laku dalam waktu dekat, seniorku ada yang mau membelinya. Doakan ya sayang," ucap Ethan.
"Iya, doaku menyertaimu, Mas Ethan," jawab Ainsley.
__ADS_1
"Ains, aku butuh kejujuranmu. Apa ada yang menghampirimu di sana?" tanya Ethan.
Wajah Ainsley langsung panik, dia tak ingin Ethan sampai salah sangka padanya dan menuduhnya berselingkuh di belakangnya.
"Itu, iya ada yang menghampiri Ainsley di sini," jawab Nilam.
"Dokter Azam?"
Ainsley mengangguk, wajah Ethan sudah tegang namun dia tak menunjukan amarahnya sama sekali pada Ainsley dan justru bersikap santai karena mau marah pun percuma.
"Dia ngapain aja ke sana?" tanya Ethan.
"Gak tau, dia ingin bertemu Ains saja dan saat itu kan Ains tidak sempat berpamitan dengannya. Ini juga salah Ainsley karena tidak sopan padanya dan asal langsung pergi," jawab Ainsley.
"Kamu juga tak perlu berpamitan dengannya karena dia bukan keluargamu. Lalu apa lagi yang dia lakukan di sana?"
Ainsley menceritakan semuanya sedetail mungkin termasuk wajahnya yang hampir mirip dengan adik Azam yang sudah meninggal dunia tapi tetap saja semua itu membuat Ethan cemburu.
"Pasti ada alasan lain juga sampai dia jauh-jauh ke sana hanya untuk menghampirimu tapi aku yakin kamu bisa menjaga diri dengan baik. Bisa 'kan?"
Ains mengangguk, mereka melanjutkan obrolan satu sama lain, mereka banyak bercerita kegiatan hari ini dengan sangat antusias. Jujur saja Ethan sangat merindukan Ains terutama kehangatan di setiap malamnya dan akhir-akhir ini dia merasa sangat kedinginan.
"Ains, dedek tegang nih," ucap Ethan tiba-tiba mengatakan seperti itu.
Pada dasarnya Ains memang sangat polos bahkan tidak paham apa yang dimaksud oleh Ethan.
"Dedek apa?" tanya Ainsley.
"Yang biasa bikin kamu ketagihan," jawab Ethan.
Ainsley berpikir keras namun tidak menemukan jawabannya. Ethan lantas mengkode dengan gerakan tangan seperti ular namun Ains masih tidak paham.
"Huh... aku sudah membuatmu hamil dan kamu belum paham juga?" tanya Ethan dengan heran.
Ains malah bertanya pada Jasmine yang ada di sebelahnya menggunakan bahasa Rusia. Ethan menepuk jidatnya, ia pun malu pada teman istrinya tersebut. Ains lalu kembali pada obrolan Ethan, dia tersenyum sendiri karena sudah paham.
"Mas kok pelihara ular tidak bilang padaku sih? Mana ularnya?" tanya Ainsley.
Ethan mengernyitkan dahinya.
"Kata Jasmine itu pertanda ular peliharaan Mas Ethan," sambung Ains.
Ethan menggaruk kepalanya sendiri, sepertinya dua orang itu sama-sama polos atau memang sok polos.
"Huh! Sudahlah, Ains! Mas mau bobok. Huh tidak peka!" ucap Ethan langsung mematikan telponnya.
Ainsley pun bingung karena Ethan malah marah.
...****************...
Gimana-gimana Reader's? Asumsi masih aman?
__ADS_1
Jangan lupa like, favorit, follow, vote ya.....😘