Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 21 Wanita Hebat


__ADS_3


Cinta? Batin Ainsley menoleh ke arah Ethan.


"Ayo Ains kita pulang!"


"Ethan! Ayah rasa kamu sudah keterlaluan dengan ibumu. Kamu tidak boleh berbicara dengan nada membentak. Ayah setuju jika Stella seharusnya tidak datang ke sini tapi cara bicaramu perbaiki. Beliau ini ibumu ," ucap Ayah.


Ethan berdecih, entah mau pakai nada bicara seperti apa lagi untuk menyadarkan Ibu, Ethan sudah lelah karena merasa sia-sia jika berbicara halus pada ibunya.


"Ethan, semenjak kamu menikah dengan wanita itu kamu sungguh sudah berubah. Ibu kecewa."


Beliau masuk ke dalam kamar sementara Ainsley merasa bersalah, ia juga sadar jika ia adalah penyebab Ethan bertengkar dengan ibunya. Ainsley mengikuti Ibu lalu mengetuk kamar beliau, tidak ada sahutan membuat Ainsley memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar beliau. Ibu terlihat sedang duduk di tepi ranjang sambil mengusap air matanya, tentu saja perasaannya hancur tatkala anak laki-lakinya sudah berani dengannya.


"Ibu?" ucap Ainsley mendekat.


Ibu menoleh, ia memalingkan wajah. "Puas kamu sudah merubah Ethan seperti itu?" tanya ibu.


"Aku minta maaf, Ibu."


"Kenapa kamu mau menikah dengan Ethan? Dia tampan, kaya, mapan atau hanya dia yang mau denganmu karena pria lain tak mau?"


Ainsley diam sambil menunduk, bola matanya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri karena saking paniknya. Dia sadar jika kondisinya tidak diterima keluarga suaminya namun ia sudah sebisa mungkin supaya mengimbangi mereka.


"Orang tua hanya mau yang terbaik untuk anak-anaknya, jika kamu seorang Ibu pasti akan tahu suatu saat nanti. Kami membesarkan sepenuh hati dan cinta, kami menyukseskan anak-anak kami demi masa depannya supaya jauh lebih baik termasuk dalam pasangan," jelas Ibu.


"Ibu minta pasangan yang seperti apa? Aku akan berubah demi Ibu. Aku akan belajar masak supaya lebih baik, aku akan rajin beberes rumah, aku akan berusaha cepat hamil juga," jawab Ainsley dengan nada lembut.


Ibu memandang wanita di depannya itu. "Itu saja tidak cukup, masalah seperti itu masih bisa dibereskan oleh pembantu. Masalah utama dengan kondisimu seperti ini membuat keluarga kami malu terutama Ethan, semua orang sudah bertanya kenapa Ethan malah menikahi gadis idiot sepertimu. Mau ditaruh di mana muka keluarga kami?"


DEG!


Air mata mulai terjatuh, Ainsley merasa Ibu mertuanya sudah cukup untuk menghinanya. Dia merasa bukan gadis idiot, ia masih punya pemikiran yang cerdas dan punya pekerjaan yang bagus walau sampai detik ini belum ada yang mempekerjakannya.


Ainsley paham, dia lalu keluar dari kamar beliau sementara Ethan menolong Stella yang sedang pingsan. Ainsley kaget lalu mendekat, Stella mendadak pingsan dengan keringat yang banyak.


"Stella..." Ethan menepuk pipi Stella dengan lembut.

__ADS_1


Stella membuka matanya, ia memperhatikan wajah tampan Ethan yang persis tepat di depannya. Stella memeluknya dengan erat sambil menangis, dia mengungkapkan isi hatinya jika terpaksa mau menikah dengan pria itu karena diancam. Stella takut karirnya hancur karena pria itu terus mendesak menyebarkan rahasianya pada publik.


Ainsley mundur perlahan, ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Banyak kejadian tak terduga semenjak menikah dengan Ethan apalagi ia sering sakit hati mendengar cemoohan mereka.


Aku pengen pulang ke Moskow. Batin Ainsley.


Ayah mendekat, ia mengelus pundak menantunya itu.


"Ayah minta maaf jika ada ucapan Ibu yang menyakiti hatimu. Dia masih belum terima jika Ethan tidak jadi menikah dengan Stella. Hubungan Ethan dan Stella itu bukan setahun dua tahun melainkan 8 tahun bahkan keluarga kami sudah sedekat itu."


Ainsley mengangguk paham.


"Ains, kamu bersabarlah sebentar. Ibu pasti akan menerimamu. Ayah juga sudah tidak setuju dengan Stella karena dia sudah mengecewakan kami," sambung Ayah.


"Tapi Dokter Stella dan Dokter Ethan sepertinya masih mencintai."


Ayah tersenyum. "Tidak, Ethan sudah tidak cinta dengannya. Ethan sudah cinta denganmu bahkan sering bercerita jika kamu anaknya baik, rajin, penurut, lucu dan membuatnya nyaman."


Ainsley mengembangkan senyumannya lebar, ia tentu saja senang mendengarkan hal itu. "Benarkah Mas Ethan bilang begitu?"


Ayah mengangguk membuat Ainsley salah tingkah.


"Mau," jawab Ainsley seperti anak kecil.


Ayah mengajak Ainsley untuk ke warung tetangga meninggalkan drama di dalam rumah yang cukup pelik. Ethan keluar mencari istrinya yang ternyata sedang memeli es krim di warung tetangga depan. Ethan senang jika ayahnya bisa menghibur Ainsley dan tugasnya hanya meyakinkan Ibu jika Ainsley adalah pilihannya yang tepat.


"Ambil yang kamu mau, Ains."


"Aku mau yang ini."


"Ambillah yang banyak! Ayah yang bayar."


Ainsley menatap wajah mertuanya itu. "Papa kerja apa sebenarnya?"


Ayah tertawa kecil, ia memang sudah pensiun, dia dulu menjadi seorang polisi dan saat ini mempunyai bisnis bersama temannya.


"Wow.. hebat banget. Keluarga Mas Ethan rupanya orang-orang hebat semua."

__ADS_1


Ayah mengelus kepala Ains, dia tahu


Ains adalah anak yang baik walau dalam kekurangannya yang seringkali diremehkan oleh orang lain.


"Kamu juga harus jadi menantu dan istri yang baik untuk keluarga kami. Oh ya, Ethan cerita jika kamu ini guru TK dan motivator? Ayah akan bantu kamu cari lowongan kerja. Masih ingin kerja?"


Ainsley mengangguk. "Iya Ayah, aku ingin kerja."


"Nanti Ayah infokan jika ada lowongan pekerjaan."


***


Acara arisan pun dimulai, Ainsley sudah membantu semaksimal mungkin walau tetap tidak dianggap oleh Ibu mertuanya sementara Stella sudah pulang sejak siang tadi. Ethan menyuruhnya pulang karena tak ingin ada salah paham diantara keluarga besarnya.


Ainsley berusaha bersifat normal dan lebih banyak memilih diam di sebelah Ethan, sejak tadi Ethan mengelus punggung tangannya dan menyimak obrolan keluarga besarnya.


"Ini kita ada uang khas dan sisa banyak, ada yang menyarankan untuk piknik saja dan makanan bisa bawa sendiri-sendiri. Bagaimana?"


"Liburnya yang tidak bisa sama," sahut Ethan.


"Hari minggu?"


"Sulit untuk libur hari minggu."


Semua juga menyahut seperti itu karena kebanyakan mereka bekerja dengan sistem shift. Ethan menggenggam tangan Ains, Ainsley yang grogi malah kebelet pipis, dia berpamitan untuk ke kamar mandi sebentar.


Ains masuk ke kamar mandi yang dekat dapur dan tak berselang lama kemudian Ethan menyusulnya, Ains tersenyum manis pada pria itu dan Ethan memeluknya dengan erat. Dia berterima kasih pada Ainsley karena hari ini Ains bisa melewati dengan baik di rumah orang tuanya.


"Aku tahu kamu adalah sosok perempuan yang hebat, aku tak salah memilihmu menjadi istriku," ucap Ethan.


"Kamu terlalu berlebihan dalam memujiku," jawab Ainsley.


Ethan mengajak Ainsley masuk ke dalam kamar, ia mengunci kamar itu membuat Ainsley heran.


"Mau apa?"


Ethan tanpa menjawab langsung menciumi bibir Ains bahkan memasukkan lidahnya ke dalam, Ains berusaha mengimbanginya sampai mereka sama-sama jatuh ke ranjang yang empuk.

__ADS_1


Hayo, jangan traveling?!!


...****************...


__ADS_2