Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 20 Mencintai Ainsley


__ADS_3


Ethan mengklakson mobilnya membuat dua orang itu kaget, Ainsley memalingkan wajah tatkala Ethan keluar dari mobil. Pria itu naik ke atas lantai dua dengan cara melewati tangga, Azam merasa tidak enak jika terjadi kesalahpahaman lagi.


"Masuk!" pinta Ethan pada Ainsley.


Ainsley masuk ke dalam kamar kos sementara Ethan dan Azam masih berpandangan. Ethan mendekat, ia sebenarnya tak ingin mencari musuh apalagi mereka sama-sama seprofesi.


"Dokter Azam, benar 'kan itu namamu? Saya minta untuk menjaga jarak dengan istri saya. Saya kurang nyaman melihatnya," ucap Ethan.


"Maaf membuat kamu salah paham. Saya tidak bermaksud apa-apa dengan istrimu tapi saya menyarankan untuk tidak membuatnya bersedih," jawab Azam lalu berpamitan masuk ke dalam kosnya.


Ethan memutar bola matanya jengah, ia lalu menghampiri Ainsley dan memberikan satu wadah durian yang sudah diambil dagingnya pada Ainsley. Ainsley hanya diam saja sambil memainkan kakinya, ia masih mengingat foto yang dikirimkan oleh adik iparnya.


"Jadi yang membuatmu pergi ke rumah orang tuamu itu adalah Dokter Stella, dia alasanmu ke sana?" tanya Ainsley.


Ethan kaget karena Ains tahu jika saat itu ada Stella yang mendadak datang tapi Ainsley tahu dari mana? Pasti orang rumah yang memberitahunya.


"Aku ke rumah Ibu untuk memberikannya uang, beliau ingin meminjam uang hanya itu saja. Stella tiba-tiba datang membawa banyak durian dan kebetulan yang bisa membukanya hanya aku," jelas Ethan.


"Entah mana yang harus aku percaya, aku sendiri bingung. Dokter Ethan sebenarnya cinta atau tidak padaku? Jadi memang benar kata Dokter Stella kalau aku adalah sebuah pelarian?" tanya Ainsley.


Ethan kaget lagi mendengar ucapan itu, pasti Stella mengatakan hal yang tidak-tidak lagi pada Ainsley yang polos. Tak ingin berdebat, Ethan masuk ke dalam kamar mandi sementara Ainsley mengontrol gejolak emosinya.


Tak mau ambil pusing ia lantas memanaskan makanan yang sudah dibeli Ethan, ia melihat tas Ethan dan ingin mengambil kotak makannya lalu apa yang ia lihat? Dia melihat makanan yang ada di dalam kotak makan dan masih utuh bahkan basi. Tentu saja dia sangat sedih sekali karena dia sudah capek-capek masak dan kena omel mertuanya namun ujung-ujungnya tidak dimakan.


Jadi istri itu ternyata susah. Batin Ainsley.


Ainsley membuang ke tempat sampah lalu mencuci kotaknya, ia mengingat tatkala Darren tak pernah membuang-buang makanan buatannya dan selalu habis tidak tersisa.


"Aku kangen Kak Darren," gumam Ainsley.


Ainsley mencari jas dokter milik Darren, ia memeluknya dengan erat sambil menghirup aroma parfum Darren yang khas. Ainsley menangis merindukan kakaknya yang selalu baik padanya bahkan tidak pernah membuatnya bersedih.


Ethan keluar dari kamar mandi, ia sudah mandi dan melihat sang istri terlelap sambil memeluk jas dokter berwarna putih milik sahabatnya. Ethan membangunkan Ainsley dan mengajaknya makan, Ainsley masih menangis sampai sesegukan dan Ethan memeluknya dengan erat.


"Sudah, jangan menangis! Aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal, lain kali jika akan ke rumah orang tuaku akan ku ajak kamu supaya tidak salah paham lagi," ucap Ethan.


Ainsley mendongak menatap wajah tampan suaminya, ia tersenyum kecil karena begitu suka pada Ethan. "Aku mau anak, satu anak saja tidak apa-apa yang penting aku tidak kesepian saat kamu bekerja."

__ADS_1


"Kamu sudah siap menjadi seorang ibu?"


Ainsley mengangguk dengan penuh semangat.


"Oke, kita akan buat bayi. Sekarang mau?"


Ainsley mengangguk lagi saking polosnya, Ethan tersenyum menyeringai dan ia mendorong Ains supaya merebahkan diri di atas ranjang. Ethan melepas resleting celana yang dikenakan Ainsley, tangannya masuk ke dalam untuk memainkan apa yang harus dimainkan. Bibir Ethan mengecup bibir manis Ainsley dengan lembut, ia juga mengelus rambut Ainsley supaya semakin manis permainan mereka.


"Ayo kita buat bayi sekarang!"


***


2 minggu kemudian.


"Hueeek.... hueeek..."


Ainsley tidak enak badan serta perutnya mual di pagi hari, Ethan lekas memberikannya tespek dan Ainsley mengetes saat itu juga. Pria itu menunggu di depan kamar mandi dengan khawatir apakah negatif atau positif.


Ainsley keluar dari kamar mandi, ia menunjukan tespeknya yang menunjukkan garis 1 alias negatif. Ethan kecewa, ia lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Ainsley, ternyata Ainsley demam atau mungkin hanya masuk angin.


"Kamu istirahat saja di rumah, aku akan belikan obat di apotek."


"Aku mau ikut Mas Ethan, hari ini ibu juga menyuruhku untuk membantu memasak."


"Kamu sakit, di sini saja, di sana sangat sibuk nantinya," ucap Ethan.


"Gak papa, keluarga besar Mas Ethan juga berkumpul, aku ingin dikenalkan dengan mereka," jawab Ainsley.


Ainsley memang keras kepala dan pada akhirnya Ethan mengajaknya, hari ini Ethan libur dan bertepatan dengan arisan keluarga besarnya. Hubungan Ethan dan Ainsley sudah mulai membaik walau masih ada pertengkaran kecil karena saling cemburu. Ains juga semakin manja pada Ethan dan hanya Ethan saja yang menjadi tempat mencurahkan segala emosinya.


Ethan menyetir mobil sampai ke rumah orang tuanya sedangkan Ains duduk di sebelahnya sambil mengelus perutnya. Ethan tahu jika Ainsley sangat ingin mempunyai anak supaya tidak kesepian.


"Dokter Stella mau menikah minggu depan 'kan?" tanya Ainsley.


"Hem. Tidak usah dibahas," jawab Ethan.


"Cemburu?"


"Tidak, dia sudah masa lalu kenapa harus cemburu? Kamu adalah masa depanku."

__ADS_1


Ainsley senang mendengar semua itu, ia tersenyum sendiri sambil memainkan jemarinya.


"Oh ya, rumahku belum jadi dalam waktu dekat ini. Masih betah 'kan tinggal di kos?"


"Iya, enak kok di kos dan aku juga sudah betah."


Sesampainya di rumah orang tua Ethan, mereka masuk ke dalam, di sana para pembantu masih sibuk membuat berbagai makanan, acara arisan akan diselenggarakan nanti malam. Ainsley duduk bersama mereka, ia bertanya mau dibantu apa dan salah satu pembantu menyuruh untuk mengelap daun pisang saja. Ainsley mengelapnya dengan hati-hati sementara Ethan menuju ke dapur dan melihat Stella membantu ibu memasak.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Ethan.


"Ibu yang mengundang, kita kekurangan orang. Dia sampai tukar libur demi acara ini," jawab Ibu.


"Tukar libur? Semudah itu? Oh iya aku lupa, calonmu kepala rumah sakit jadi sangat mudah bertindak sesuka hati di tempat kerja," ucap Ethan.


Ethan mengambil dua gelas lalu ia isi air dingin, Stella memperhatikan Ethan yang berwajah dingin tak seperti biasanya.


"Oh iya Stella, calon suamimu tahu jika kamu sering datang ke sini? Ku harap jangan sampai ada masalah ke depannya dan malah melibatkan aku yang tidak tahu apa-apa," ucap Ethan sangat ketus.


"Ethan, Stella ke sini karena ibu dan bukan karenamu. Dua adikmu tidak bisa bantu maka ibu menyuruh Stella."


Ethan sangat kesal sekali mendengarnya, ternyata sampai detik ini Ainsley belum dianggap sama sekali oleh ibunya.


"Ibu tidak bisa menghargai Ains sama sekali, dia menantu ibu dan bukannya Stella. Kamu juga Stella, apa alasanmu masih sering datang ke sini?" tanya Ethan.


Stella hanya diam saja, dia melepaskan celemek yang sudah ia pakai sejak tadi lalu berpamitan pulang. Ibu tentu saja sangat kesal pada Ethan.


"Ethan, kamu melakukan kesalahan besar. Stella dipaksa menikah oleh orang tuanya dengan pria tua itu, sebenarnya dia tidak mau dan masih mencintaimu," ucap Ibu.


Ainsley mendengarkan pertengkaran kecil itu bahkan Stella melewatinya begitu saja dengan air mata yang mengalir. Ibu menatap Ainsley sebentar lalu memalingkan wajahnya, ia tidak suka dengan Ains.


"Ibu, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Ainsley.


"Ains, kita pulang saja," ajak Ethan sambil merangkulnya.


Ainsley melepaskan rangkulan Ethan. "Ibu sedang sibuk dan aku ingin membantunya."


"Kamu tidak dihargai di sini dan tidak pernah dianggap. Aku sakit sekali melihatmu diperlakukan seperti itu," ucap Ethan lalu bergantian menatap ibunya. "Ibu, setuju atau tidak setuju tak akan merubah takdir jika aku mencintai Ainsley."


Deg!

__ADS_1


Ainsley menoleh ke arah Ethan, baru kali ini Ethan mengatakan cinta padanya. Stella yang sudah berada di ruang tamu mendengarnya dan merasakan sesak di dada.


...****************...


__ADS_2