Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 39 Satu Demi Satu


__ADS_3


Bonus Hari Ini, Satu Bab Lagi, ya!!!


Jangan lupa tinggalkan jejak sayang, dan dukung penulis dengan follow!!!


...----------------...


2 minggu kemudian.


Rumah Ethan sudah terjual dengan dokter seniornya sendiri dengan harga 750 juta, tentu saja dia rugi namun apalah daya kerugian tak akan dipikirkan jika ia membutuhkan uang yang banyak. Uang sudah cair dan proses surat-suratnya masih terus berjalan. Yang pertama Ethan lakukan adalah melunasi hutang ibunya yang terus membengkak karena bunga yang besar. Selepas itu mengurus biaya perceraian ibu serta ayahnya dan yang terakhir untuk biaya kuliah adiknya. Untuk Elina sendiri dia masih bekerja dan bisa menghasilkan uang untuk biaya hidupnya.


Anak pertama laki-laki sangat berat sekali tanggungannya, jika orang tuanya terjadi apa-apa pasti dia yang nomor satu untuk membantu mengurusnya.


"Kak Ethan?" ucap Sonia.


Sonia merasa kasian dengan sang kakak yang harus menanggungnya sendirian.


"Ya?" tanya Ethan sambil menutup laptopnya.


"Kak Ethan tidak perlu membiayaiku kuliah. Aku akan berhenti saja dan mencari pekerjaan," ucap Sonia.


"Sayang sekali jika harus berhenti, kamu tak perlu pusingkan biaya karena kakak akan menanggung semuanya sampai kamu lulus."


Sonia memeluk Ethan dari samping, dia sangat berterima kasih karena kakaknya sangat baik dan bertanggung jawab namun dia malah kepikiran Ainsley yang jauh di sana. Harusnya Ethan sudah mengurus keluarga kecilnya sendiri dan malah mengurus ibu serta adiknya.


"Kak Ains bagaimana keadaannya?" tanya Sonia.


"Dia baik-baik saja dan senang di sana," jawab Ethan.


"Aku beli pakaian baru untuknya, apa bisa Kak Ethan memberi alamat lengkapnya karena akan aku kirimkan kepadanya."


Ethan mengangguk, dia lantas memberikan alamat lengkap milik sang istri. Semoga saja adiknya itu bisa bersikap baik pada Ainsley selamanya. Saat bersamaan Ayah datang, ia ingin mengambil pakaiannya yang masih tertinggal di sini. Ethan sudah tidak mau melihat wajah ayahnya lagi karena tidak bertanggung jawab.


Ayah masuk ke dalam kamar begitu saja dan ibu tidak ada di dalam, Ethan yang muak lantas menghampiri beliau.


"Ayah tidak tahu malu datang ke sini," ucap Ethan.


"Ayah hanya ingin mengambil pakaian saja," jawab Ayah.


Ethan menatapnya dengan tajam. "Ayah bisa menyuruhku untuk mengambilkannya, kedatangan Ayah ke sini hanya untuk menyakiti perasaan kami."


Ayah membalas tatapan Ethan, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan caci maki dari anak-anaknya terutama dari Ethan.


"Ethan, kamu tetap anak kesayangan Ayah. Kamu


adalah kakak yang baik dan Ayah tak akan melepas tanggung jawab Ayah begitu saja. Ayah akan memberi bagian untuk kalian terutama ibu setelah rumah Ayah sudah terjual," jelas Ayah.


"Simpan uangmu untuk wanitamu itu! Ayah tidak usah memberikan kami apa-apa karena aku masih bisa memberikan uang pada ibu," jawan Ethan sangat sarkas.


Ethan keluar dari kamar, dia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di dalam kamar ia hanya bisa meratapi keadaan, hidupnya terasa berat apalagi istrinya tidak ada di sampingnya. Ethan mengizinkan Ains pindah ke Rusia supaya Ainsley tidak ikut memikirkan masalahnya.


Ethan melangkah ke tempat tidur, setiap hari dia harus merasakan ranjang dinginnya tanpa seorang istri di sampingnya.


Dia hanya bisa memandang foto Ains di dinding dengan senyumannya yang khas.

__ADS_1


Tak lama berselang Sonia memanggilnya dari luar kamar, Ethan pun keluar dan adiknya itu mengatakan ada yang mencarinya. Ethan menemui tamunya tersebut yang ternyata adalah Azam, Ethan menatapnya dengan malas karena pria itu diam-diam menemui istrinya sampai jauh-jauh datang ke Rusia.


"Dokter Ethan, lama tidak bertemu. Saat di rumah sakit pun saya mencari anda namun tidak pernah berjumpa," ucap Azam sambil menyalami Ethan.


Ethan membalas salaman dari Azam lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa, mereka berbincang dan tentunya Azam meminta maaf saat mendatangi Ainsley tanpa sepengetahuan Ethan. Dia menjelaskan tidak ada maksud apa-apa bahkan ia juga mendadak ingin bertemu dengan Ainsley.


"Dokter Ethan bisa marah pada saya namun saya sekali lagi meminta maaf atas apa yang saya lakukan jika kurang berkenan di hati Dokter Ethan," jelas Azam.


"Bukannya apa-apa. Kamu sudah kelewatan karena Ains bukan siapa-siapa kamu," jawab Ethan.


Azam paham maka dari itulah dia datang kesini untuk meminta maaf pada Ethan atas kelancangannya. Dia juga ke sini untuk memberikan barang dari Ains untuk Ethan. Satu koper besar semuanya dari Ains untuk Ethan dan keluarga Ethan yang lain.


"Ini dari Ainsley, di sana keadannya baik-baik saja dan dia bercerita jika sangat merindukanmu," ucap Azam.


Ethan berterima kasih karena Azam mau membawa koper sebesar ini hanya untuk oleh-oleh dari istrinya. Azam juga memberikan seplastik oleh-oleh darinya untuk Ethan.


"Kalau ini dari saya," ucap Azam.


"Kenapa kami malah menjadi merepotkanmu?" tanya Ethan merasa tidak.


Azam tersenyum kecil. "Tak masalah dan mumpung saya dari sana. Pantas saja di sana Ains sangat nyaman, dia dikelilingi orang-orang yang baik dan lingkungan yang baik."


"Aku senang mendengarnya."


Elina datang, dia baru saja pulang. Walau dalam keadaan hamil dia masih bertugas untuk menemani kliennya. Elina menunduk pada Dokter Azam, tentu saja dia terpana dengan ketampanan teman kakaknya tersebut.


"Oh ya Dokter Azam, silahkan diminum dulu minumannya!" ucap Dokter Ethan.


"Baik, terima kasih," jawab Dokter Azam.


Ethan lalu menelponnya dan kemudian Ainsley mengangkatnya.


"Ains sayang, Mas sudah menerima semua oleh-olehmu. Banyak sekali?" tanya Ethan dari panggilan video.


"Sudah Mas terima? Hehehe... semoga suka. Oh ya, nanti bagi-bagi pada keluargamu juga ya? Di sana juga ada pakaian untuk mereka," ucap Ainsley.


"Kamu baik sekali Ains padahal mereka dulu jahat padamu."


Ainsley menggelengkan kepalanya dan tidak memikirkan yang sudah berlalu. Ainsley bukanlah orang yang pendendam dan gampang melupakan semua masalah yang terjadi.


"Hari ini bagaimana? Masih mual?" tanya Ethan melihat wajah Ainsley yang memucat.


"Ains terus muntah dan hanya bisa minum air putih saja," jawab Ainsley.


"Sabar ya sayang Mas akan cepat menyusul ke sana satu persatu sudah Mas selesaikan dan ini tinggal mengurus kepindahan Mas lagi dari rumah sakit itu karena prosesnya tidak sebentar," ucap Ethan.


Ainsley paham, dia mau menunggu Ethan sampai kapanpun. Mereka kembali melanjutkan obrolan dan diselingi dengan canda tawa. Berkomunikasi seperti ini saja bisa membuat mereka melepaskan rindu yang sudah menggebu apalagi Ethan yang seorang laki-laki yang butuh belaian dari sang istri.


"Mas Ethan, Ainsley sudah membaca artikel di internet. Maaf jika Ains tidak bisa memberikan kepuasan batin untuk Mas Ethan karena kita berjauhan."


"Tak apa, Mas maklum."


Tiba-tiba saja Ains melepaskan pakaiannya membuat Ethan kaget.


"Mas, gunakan cara ini saja untuk memuaskan batin Mas Ethan," jelas Ains sudah melepas semua pakaiannya.

__ADS_1


Jakun Ethan langsung naik turun dan lantas mengunci kamarnya.


***


Keesokan harinya.


Nama Elina dipanggil oleh Azam, dia ingin memeriksakan kandungannya yang kira-kira seumuran dengan kandungan Ains. Dia datang sendirian tanpa seorang laki-laki yang mendampinginya. Elina duduk di depan Azam, mereka pun sama-sama kaget karena kemarin sempat bertemu di rumah.


"Ibu Elina adiknya Dokter Ethan?" tanya Azam sangat ramah.


"Iya," jawab Elina singkat.


"Suaminya tidak ikut datang?"


Elina menjawabnya sambil menunduk malu. "Saya tidak punya suami."


Ini bukan pertama kalinya Azam mendapat pasien yang tidak punya suami dan rata-rata memang masih muda. Dia lalu memeriksanya tanpa bertanya perihal tadi.


"Sebelumnya sudah pernah periksa di mana?" tanya Azam.


Elina menggeleng. "Ini pertama kalinya."


"Baiklah saya akan berikan bukunya."


"Dok, saya minta anda diam jika saya adiknya Kak Ethan. Saya takut nama Kak Ethan tercemar karena punya adik yang hamil tanpa suami."


Azam tersenyum, ini memang tugasnya untuk bungkam akan rahasia para pasiennya. "Iya, jangan khawatir! Relaks saja karena ini hanya pemeriksaan biasa."


Suster membantunya untuk mengecek tekanan darah Elina, Elina sebenarnya sangat malu mengakui hal tersebut namun mau bagaimana lagi karena ini memang adanya. Setelah tensi dan sebagainya di cek, Azam juga menghitung berapa usia kandungan pasiennya tersebut yang ternyata sudah 3 bulan.


"Usia kandungan Ibu Elina 12 minggu 3 hari atau 3 bulan lebih 3 hari. Mari kita lakukan USG!"


Elina semakin berdebar, ini pertama kalinya dia melihat USG bayinya sendiri. Dulu malah saat awal kehamilan ingin ia gugurkan namun ia tak sanggup melakukannya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan tak lupa Azam memberikan resep obat dan vitamin untuk wanita tersebut. Wajah Elina sedari tadi tidak mau menatap Azam karena mungkin saja malu.


"Saya sudah resepkan apa yang ibu perlukan. Bu Elina tidak perlu khawatir karena kandungan anda sehat-sehat saja."


Elina berterima kasih lalu keluar dari sana dengan perasaan lega dan berselang kemudian Ethan datang mencari adiknya. Ternyata dia terlambat lagi untuk datang seperti saat Ains pertama kali memeriksakan kehamilannya.


"Kenapa saya selalu sial?" tanya Ethan.


"Anda kurang beruntung. Oh ya, usia kandungannya sudah 3 bulan dan kandungannya sehat," ucap Azam.


Ethan senang mendengarnya, dia tak habis pikir dengan adiknya yang tidak bisa menjaga diri dengan baik.


"Maaf, jika aku bertanya lancang. Apa adikmu sudah bercerai dengan suaminya?" tanya Azam.


"Dia belum menikah dan pacarnya tidak tanggung jawab. Saya sebagai kakak juga tidak bisa membantu banyak karena posisi saya juga masih seperti ini," jawab Ethan.


Ethan lantas berpamitan keluar karena tidak enak malah menghentikan antrian pasien dan saat diluar dia bertemu dengan Elina.


"El? Aku pikir kamu sudah pulang. Nasibmu bagaimana ke depannya? Aku sudah membantu mencari pria itu namun belum juga ketemu. Aku juga harus pindah ke Rusia namun tetap saja tidak bisa mengabaikanmu begitu saja karena kamu adalah adikku," ucap Ethan.


"Kak, aku sudah besar. Jangan khawatirkan aku seperti anak kecil! Aku seorang pengacara dan tentunya bisa mengatasi masalahku sendiri. Aku akan menjaga anak ini dengan baik dan tidak peduli dengan ucapan orang lain. Kakak pikirkan rumah tangga kakak sendiri dengan Ainsley, dia jauh lebih kasian dariku karena tidak ada keluarga satupun yang menemaninya di sana," jelas Elina.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2