Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 47 Honeymoon


__ADS_3


Saat sudah terlelap Ethan terbangun lagi karena mendapat kabar jika Elina mengalami keguguran dan pendarahan hebat. Tentu saja dia kaget dan ia ikut sedih namun tidak bisa berada di sana. Ayah dan ibu sudah mengurus semuanya jadi Ethan tidak perlu khawatir.


Setelah bertelepon, Ethan merenung sejenak, keguguran adalah hal yang paling ditakutkan apalagi istrinya juga sedang hamil. Ethan melirik Ains-nya yang ada di sampingnya lalu mengusap pipinya dengan lembut. Jika itu sampai terjadi pada Ainsley maka dia tidak akan memaafkan diri sendiri.


Di sisi lain.


Azam ikut menunggu Elina, ini bukan jam kerjanya jadi dia tidak bisa membantu banyak. Elina melakukan pembersihkan setelah mengalami keguguran bahkan tangisan Elina masih menggema di telinga Azam. Entah apa yang terjadi pada perasaannya sampai sangat khawatir seperti ini, biasanya saat mengurus pasiennya yang lain dia akan setenang mungkin namun kali ini beda, dia seolah menunggu istrinya sendiri.


"Dokter Azam, terima kasih sudah membantu banyak ke Elina. Jika tidak ada anda maka tidak akan tahu Elina akan seperti apa," ucap Ayah.


"Sama-sama, pak. Kebetulan saat kejadian Elina bersama saya dan untung saja tak jauh dari rumah sakit," jawab Azam.


"Sekali lagi terima kasih banyak. Dokter tidak pulang? Elina bisa kami jaga," ucap Ayah.


Azam melihat jam yang menunjukan jam 8 malam. Ya, dia juga harus pulang karena pagi-pagi juga harus bekerja. Esok dia bisa merawat Elina dengan baik karena itu adalah jam kerjanya. Azam lantas berpamitan untuk pulang ke kosnya.


Sesampainya di kos, Azam langsung mandi. Di dalam mandi dia terus memikirkan wajah Elina yang terus kesakitan dan menggenggam tangannya erat. Dia memang sudah terbiasa menangani berbagai keluhan pasien yang sedang hamil namun baru kali ini sampai terbawa perasaan. Perasaan macam apa ini? Tak mungkin dia tertarik dengan Elina, dia bisa dikatai dokter mesum jika begitu karena diam-diam menyukai pasiennya sendiri.


Azam menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyiram dengan air dingin. Otaknya sepertinya sudah tidak waras karena memiliki rasa pada Elina. Walau bagaimanapun Elina tetap milik orang lain dan pernah hamil dengan orang lain.


Sesudah mandi, Azam duduk di tepi ranjangnya. Dia terus memikirkan Elina yang tidak ada seorang pria yang menguatkannya. Ada apa ini? Apa Azam benar-benar menyukainya? Saat bersamaan Ethan menelpon, pria itu bertanya tentang keadaan Elina dan berterima kasih sudah membantu adiknya.


"Terima kasih, aku berhutang banyak denganmu," ucap Ethan lewat panggilan telepon.


"Sama-sama, memang kebetulan saat itu kami baru saja makan bersama," jawab Azam.


"Berdua? Kok bisa?"


Azam kaget mendengar pertanyaan Ethan, dia tidak ingin temannya itu sangka padanya dan membuatnya berpikiran negatif.


"Kita bertemu di warung makan dekat kos dan kami sama-sama pulang dari tempat kerja," jelas Azam.


Ethan malah tertawa, dia bercanda atas pertanyaan anehnya. Intinya Ethan sangat berterima kasih lalu mengakhiri telponnya. Azam memutuskan tidur supaya esok bisa bertemu lagi dengan Elina, eh maksudnya bekerja.


***


Keesokan harinya.


Azam berangkat bekerja dengan semangat, entah apa yang dia pikirkan sampai semangat seperti ini. Dia masuk ke ruangannya lalu mengambil jas putihnya, pagi ini Azam ingin mengecek pasien yang melakukan rawat inap. Langkahnya sangat besar menuju ke ruangan demi ke ruangan dan sampainya di ruangan Elina berada.


Elina sudah sadar, wajahnya sangat pucat serta semangat yang tipis. Dia baru saja kehilangan buah hatinya karena kelalaiannya sendiri. Elina bekerja sangat keras sampai kurang istirahat dan merenggut nyawa buah hatinya yang masih ada di dalam kandungan.


"Dokter Azam?" ucap Elina dengan suara yang serak.


"Apa yang anda rasakan, Bu Elina? Sudah membaik dari sebelumnya? Maaf, kemarin saya harus pulang karena bukan jam kerja saya," jelas Azam sambil memakai stetoskopnya.


"Tak apa, bantuanmu kemarin lebih dari cukup," ucap Elina.


Azam memeriksa keadaan Elina, Elina malah menggenggam tangannya dan memperhatikan wajah pria itu sangat lekat.


"Maaf, Bu Elina. Tak seharusnya seperti ini," ucap Azam sangat sopan lalu melepaskan tangan Elina dari tangannya.


Elina meneteskan air mata karena wajah Azam hampir mirip dengan mantan kekasihnya yang sudah meninggalkannya dan tidak bertanggung jawab. Azam terdiam memandang Elina, ia tahu saat ini pasti Elina sangat syok.


"Sudah Bu Elina, tak baik jika terus bersedih seperti ini. Kesehatan anda juga penting."


"Dokter Azam mirip dengan mantan pacarku, setiap melihatmu menjadi teringat dengannya yang jahat dan bajingan. Aku bingung dan menjadi tidak suka melihat wajahmu. Maaf, jika aku berpikiran seperti itu," jawab Elina sambil menangis.


DEG!

__ADS_1


Azam hancur berkeping-keping saat mendengar semua itu. Jika dia senang bertemu dengan Elina justru bagi Elina malah sebaliknya, wanita itu tidak suka bertemu dengan Azam yang mirip dengan mantan kekasihnya.


"Baiklah, saya akan periksa anda dulu lalu setelah itu akan cepat keluar dari sini. Maaf malah membuat anda teringat dengan masa lalu anda."


Setelah memeriksa keadaan Elina, Azam keluar dari dari sana. Hatinya berdenyut sangat sakit dan harapannya hancur berkeping-keping. Ya, dia mengakui menyukai Elina tapi sepertinya ia tak ada kesempatan lagi.


"Pikiranmu sudah gila, Azam!" gumam Azam merutuki dirinya sendiri.


Di sisi lain.


Ethan sedang mengikat rambut Ainsley menjadi dua, ia senang mendadani sang istri seimut mungkin,


"Kayak anak kecil," ucap Ainsley sambil bercermin.


"Bagus kok, kamu imut begini, wajahmu itu kayak orang-orang China jadi terlihat menggemaskan," jawab Ethan.


Ainsley sangat suka mendengar semua ini, dia memang sangat cantik walau dengan keterbatasannya. Setelah semuanya selesai, mereka lantas berangkat berbulan madu. Ya, ceritanya ini mereka sedang berbulan madu walau hanya di tempat dekat-dekat saja. Karena tidak ada mobil, mereka memakai bus. Tak masalah asalkan sampai ke tujuan dengan selamat.


Ethan juga tak lupa memasang syal pada Ainsley karena cuaca begitu dingin, harusnya mereka ada di apartemen saja namun Ains-nya tiba-tiba ingin berbulan madu ala pengantin baru.


Mereka berjalan ke terminal terdekat sambil bergandengan tangan, mereka mungkin saja pasangan yang paling bahagia di hari ini menurut mereka sendiri.


"Kita jalan-jalan ke yang paling dekat saja ya?" ucap Ainsley .


"Baiklah, aku juga tidak mau kelelahan," jawab Ethan.


Ethan juga sudah memesan hotel mewah untuk menyempurnakan bulan madu kali ini, tentunya dengan harga yang sangat mahal. Tak apalah, untuk semalam saja dan membuat bulan madu ini tak akan terlupakan.


Setelah sampai di terminal, mereka membeli tiket dan menunggu bus selanjutnya datang, tangan mereka masih tertaut dan tidak bisa terlepas semudah itu.


"Dulu aku dan Kak Darren pernah tersesat naik bus. Kami malah sampai ke kota sebelah dan untungnya Kak Darren menyadari hal itu," ucap Ainsley.


"Benarkah? Bisa pulang lagi ke rumah?" tanya Ainsley.


"Pokoknya menyenangkan sekali dengan Kak Darren tapi sayangnya saat Kak Darren sakit malah tidak pernah bercerita padaku, dia menahannya sendiri dan baru ketahuan saat dia pingsan di tempat kerja," ucap Ainsley sambil meneteskan air matanya.


"Niat kakakmu baik supaya kamu tidak sedih karenanya, aku juga ikut menyembunyikan ini supaya kamu tidak ikut sedih," jawab Ethan.


Ethan memeluk Ains dengan erat, mereka tidak peduli dengan orang lain yang melihat mereka. Untung saja mereka saling memiliki dan bisa menguatkan satu sama lain, Ains sangat bersyukur akan hal itu.


***


Di kamar hotel.


Ainsley tertawa terbahak-bahak saat melihat foto-foto saat diambil di tempat-tempat yang sudah dikunjungi tadi. Banyak foto konyol yang mereka ambil dengan pose aneh.


"Mas Ethan lucu banget sih," ucap Ainsley.


"Benarkah?" jawab Ethan.


"Ainsley akan cetak foto ini dan akan pajang foto ini di pigura."


Ethan tersenyum, dia lantas memandang dada Ainsley yang tidak memakai bra. Mereka baru saja mandi dan Ains-nya hanya memakai kaos tipis saja, ia sebenarnya tidak suka memakai bra apalagi seket at itu.


"Mas, yang ini lucu juga 'kan?" tanya Ainsley.


Ethan langsung menempelkan wajahnya pada dada Ainsley, Ainsley sangat terkejut dan refleks mendorongnya apalagi sangat membuatnya kegelian.


"Apa sih?" tanya Ainsley.


Ethan tidak menjawab, dia menempelkan wajahnya lagi pada dada Ainsley. Sangat empuk, kenyal serta membuat gairahnya membesar. Ainsley paham jika Ethan menginginkannya namun gadis itu tetap fokus pada layar ponselnya sementara Ethan fokus pada mainannya.

__ADS_1


"Hahaha... aduh geli...," ucap Ainsley.


Ethan masih tidak peduli, dia memijat dengan pelan dan memberikan kelembutan yang nikmat.


"Udah!" pinta Ains-nya.


Ethan menggelengkan kepalanya, dia ingin terus melanjutkan sampai keinginannya terwujud. Tangannya lantas menyenggol ponsel Ains-nya sampai terjatuh lalu mendorong tubuh Ainsley sampai tiduran di ranjang. Ainsley masih tertawa terbahak-bahak karena geli akan ulah nakal Ethan. Jika wanita lain akan mendesah maka Ains-nya malah tertawa.


"Hahahaha... aduh! Geli..."


Ethan menaikkan kaos Ains-nya ke atas, matanya sangat liar sekali dan penuh dengan gairah. Ainsley masih memperhatikan wajah Ethan sampai pria itu kembali memainkan miliknya.


"Hahahha... hahahahha...buahaaahhahaha..."


Ethan menarik wajahnya dan melihat wajah Ainsley yang memerah karena tertawa, ia bingung dengan reaksi Ains-nya yang aneh.


"Kenapa malah tertawa?" tanya Ethan.


"Geli," jawab Ainsley polos.


"Jangan tertawa! Tidak enak di dengar."


Ainsley mengernyitkan dahinya, dia bingung harus melakukannya apa dan Ethan mengajarinya suara yang harus dikeluarkan ketika melakukan hubungan suami istri. Ains mendengarnya secara baik-baik lalu paham. Ethan melakukannya lagi dengan beringas tapi Ains-nya malah tertawa lagi.


"Ains, kenapa malah tertawa?"


Ainsley mengangguk. "Ah... ah... ah..."


Ethan hanya menunjukkan reaksi datar saja. "Ini belum diapa-apain. Kenapa kamu tidak paham-paham?"


"Geli Mas Ethan," ucap Ainsley.


Ethan mengusap wajahnya kasar, tidak enak sekali jika dia memuaskan Ains-nya namun malah tertawa terbahak-bahak dan membuat nafsunya hilang.


"Mas Ethan marah?" tanya Ainsley.


"Kamu ngeselin!" jawab Ethan.


Ethan lalu membaringkan diri di samping Ainsley sampai menaikkan selimut ke kepalanya. Ethan jika marah sangat lucu dan susah untuk dibujuk. Ainsley menggoyangkan tubuh Ethan supaya bangun tapi pria itu sudah terlanjur marah padanya.


"Mas, maaf."


"Sudahlah, mas capek mau tidur."


"Ah... ah... ah.... ah... Ainsley bisa kok. Ah... ah... ah..."


Ethan membuka selimutnya dan melihat Ainsley yang polos.


"Ah... ah... ah...," ucap Ainsley lagi.


Ethan menatapnya datar. "Tidak iklhas, tidak tulus dan tidak enak di dengar karena tidak alami."


Ainsley bingung dan mencoba lagi. "Ah... ah... ah..."


Ethan tertawa karena sudah mengerjai Ainsley, dia duduk dan menangkup wajah Ainsley yang sangat polos natural.


"Kamu ngapain? Menyanyi seperti Jasmine?" tanya Ethan.


"Oh iya, microphonenya mana ya? Kata Jasmine jika pakai itu bisa menyanyi dengan lancar," ucap Ainsley.


"Huh! Kamu segitu polosnya, mas tidak segan untuk meminta 3 ronde malam ini," jawab Ethan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2