
"Ayah sudah berpisah dengan wanita itu? Ibu percaya begitu saja setelah apa yang dia perbuat pada keluarga kita?" ucap Ethan sangat tidak percaya dengan keputusan ibunya.
Ethan sangat kesal sekali sementara Ibu tak ada pilihan selain menerima suaminya lagi karena ia masih sangat mencintainya dan tidak mau kehilangannya.
"Ibu memberikan satu kesempatan lagi karena Ibu pikir beliau seperti itu akibat ulah Ibu juga. Ibu sering tak patuh pada setiap ucapannya dan bahkan selalu membuat beliau marah," jelas Ibu.
"Tak masuk akal penjelasan Ibu. Aku harap kalian memang bercerai dan Ibu memulai hidup Ibu sendiri dari pada menerima orang pengecut seperti Ayah," ucap Ethan.
Ethan keluar menghampiri ayahnya, dia mengusir beliau dari rumah ini karena beliau sudah tidak dibutuhkan lagi di sini. Terjadi adu mulut sampai tetangga melerai pertengkaran keluarga mereka, Ibu meminta Ethan menghentikan semua ini dan menerima ayahnya lagi tapi tak semudah itu bagi Ethan menerima ayahnya.
"Dia ini selingkuh dan mereka sudah mempunyai anak, bertahun-tahun mereka menyembunyikan semua ini dan Ayah bersikap tidak ada sesuatu hal yang terjadi tapi Tuhan tidak tidur, semua rahasia Ayah terbongkar dan aku tak akan membiarkan ibuku disakiti lagi oleh pria kurang ajar ini," ucap Ethan dengan nada menggebu-gebu.
"Ethan, anak itu bukan anak kandung Ayah. Wanita itu menipu Ayah dan menjebak Ayah sampai ayah berpikiran buntu untuk menikahinya," jelas Ayah.
"Pintu tidak akan terbuka jika tidak ada yang mengetuk. Tahu 'kan artinya? Ayah yang sudah mengetuk pintu dulu pada wanita itu sampai wanita itu berani memanfaatkan Ayah. Sekalinya selingkuh tetaplah selingkuh."
Ethan masuk ke dalam rumah, jika ayahnya tidak pergi dari rumah ini maka dia yang akan pergi dari rumah ini, dia membawa semua barang-barangnya lalu berniat pergi entah ke mana. Ibu meminta maaf pada Ethan karena malah memberi kesempatan pada Ayah karena ia yakin jika Ayah memang dijebak oleh wanita itu. Dua adik Ethan mencegah Ethan untuk pergi karena ia masih butuh sang kakak ketimbang ayahnya yang sudah membuatnya sakit hati segitu parahnya.
Ethan masuk ke dalam mobil, dia sengaja pergi untuk menenangkan dirinya. Dirinya yang sedang lelah karena baru saja pulang kerja tak tahu mau kemana dan terus melajukan mobilnya begitu saja. Sampai suatu ketika ia mengarah ke kos yang dulu sempat dia tempati dengan Ainsley dan satu lagi yaitu Azam. Mungkin saja pria itu mau memberinya izin untuk menginap nanti malam.
Sesampainya di sana, Azam rupanya belum pulang dari rumah sakit dan membuat Ethan harus menunggu di depan kos. Dia duduk sambil memandang langit yang sudah berwarna oranye, ia juga terus mengecek ponselnya dan tidak ada tanda-tanda Ains membalas pesannya.
Apa yang terjadi pada dirinya sampai ia merasa seperti ini? Masalah pada keluarganya lalu sang istri juga pergi jauh ke negara lain. Dia menikah namun seolah tidak pernah menikah dan terasa mengambang begitu saja.
Lelehan air mata pun tiba-tiba keluar dari matanya, ia lalu mengusapnya karena tidak ingin ketahuan oleh orang lain. Andai saja mereka tahu jika ia tak setegar itu pasti tak akan tega padanya. Berpura-pura kuat itu memang sangat melelahkan dan membuatnya semakin rapuh.
Tangan Ethan melihat ke arah ponselnya lagi, dia mencoba menelpon sang istri namun nomor tersebut tidak aktif. Ethan semakin tidak karuan dan ingin menghampiri Ainsley sekarang juga untuk memastikan bagaimana keadaannya di sana. Ains sedang hamil 2 bulan serta dia tak seperti orang pada umumnya sehingga membuat Ethan merasa bersalah mengizinkannya untuk tinggal di luar negeri sendirian.
"Dokter Ethan?"
Ethan menoleh, dia melihat Azam yang baru saja datang.
"Dokter Azam, bisakah saya menginap malam ini saja di kosmu?"
__ADS_1
Azam berpikir sejenak. "Mari masuk!"
Ethan sangat senang sekali, mereka lalu masuk ke dalam kos milik Azam. Azam berpamitan untuk mandi lebih dahulu supaya tubuhnya bisa segar dan Ethan menunggu di ruang televisi. Sebagai pria single memang
Azam termasuk orang yang rajin dalam hal kebersihan. Bisa dilihat kamar kosnya sangat bersih dan tertata rapi seperti ini.
Sambil menunggu Azam selesai mandi, Ethan mencoba melihat-lihat foto-foto di dalam pigura yang ada di tembok. Azam bisa dilihat adalah anak dari orang berada apalagi dengan pendidikan yang bagus. Sampai suatu ketika Ethan melihat sebuah foto anak perempuan bersebelahan dengan Azam yang wajahnya mirip dengan Ainsley.
Ethan memperhatikannya dengan lekat sampai Azam keluar dari kamar mandi, Ethan kaget karena Azam mandi secepat itu.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Ethan.
"Iya, aku tak suka berlama-lama," jawab Azam.
Azam mengambilkan minuman di kulkas mininya dan dia berikan pada Ethan. Mereka minum bersama-sama dan Azam memperhatikan wajah Ethan yang sedih serta murung.
"Ada apa?" tanya Azam.
"Kita ngomongnya pakai bahasa santai saja ya karena ini di luar tempat kerja," ucap Ethan.
"Entahlah, aku tidak paham dengan masalah hidupku. Banyak sekali masalah datang secara bergantian dan aku tidak mampu untuk menghadapinya."
"Aku tidak tahu masalah apa saja yang membuatmu merasa lemah seperti ini namun aku berharap masalah itu cepat terselesaikan."
Ethan melihat Azam, dia tahu jika pria di depannya itu adalah orang yang baik bahkan mereka tak sedekat itu pun Azam memperbolehkan Ethan menginap di sini.
"Masalah terbesarnya adalah Ains tidak membalas pesan dan telponku sejak pagi. Nomornya tidak aktif dan tidak bisa dihubungi," jelas Ethan.
"Benarkah? Biar aku telpon."
Azam lalu mencoba menelpon Ains namun tidak diangkat sama sekali bahkan nomornya sudah tidak aktif. Dia mengirim pesan pada Ains namun hanya centang satu saja.
"Sejak tadi pagi seperti ini?" tanya Azam.
"lya."
__ADS_1
"Apa ini yang membuatmu sangat sedih?" tanya Azam.
"Jantung keluarga itu terletak pada istri. Jika istri sedih atau menghilang seperti ini pasti keluarga tersebut tak akan tenang dan harmonis. Aku bisa bilang begitu karena ibuku mengalaminya sendiri. Ayahku berselingkuh dan punya wanita lain."
Air mata Ethan menetes lagi, Azam memberinya sapu tangan pada Ethan. Ethan mengusap air matanya dengan sapu tangan tersebut lalu ia merasa gagal menjadi penolong bagi Ibu dan istrinya.
"Dokter Ethan, kamu adalah pria yang hebat yang bisa mengkhawatirkan istri dan ibumu. Semoga saja Ains lekas memberi kabar sementara ibumu mendapat kekuatan untuk menghadapinya," ucap Azam.
"Terima kasih Azam."
Mereka lalu memutuskan untuk makan bersama di warung makan seberang kos. Baru kali ini mereka menjadi dekat padahal dulu Ethan seolah memberi jarak padanya. Mereka makan bersama-sama dan saling bertukar cerita bahkan Ethan baru tahu jika Azam sedikit lebih tua darinya.
"Harusnya aku memanggilmu dengan sebutan kak," ucap Ethan.
"Tak perlu, kita hampir sama usianya dan aku juga belum menikah," jawab Azam.
"Kamu tampan dan mapan, pasti banyak wanita yang mengantrimu."
Azam tersenyum kecil, dia tidak fokus untuk membicarakan wanita untuk saat ini karena tujuannya merantau adalah untuk mencari uang yang banyak dan ia bisa kirimkan kepada orang tuanya setiap bulan.
"Aku heran kenapa saat itu kamu jauh-jauh ke Rusia hanya demi melihat Ainsley? Apa kamu suka padanya?" tanya Ethan.
"Tidak mungkin aku menyukai istri orang. Aku melihat Ainsley memiliki kesamaan dengan adikku dan hanya itu saja alasanku menghampirinya," jelas Azam.
"Ainsley adalah wanitaku dan aku sangat mencintainya. Jangan sampai kamu merebutnya dariku! Sehari saja tak mendapat kabar darinya sudah membuatku gila apalagi jika aku harus berpisah selamanya dengan Ainsley," ucap Ethan.
Ethan kembali memakan makananya dan terus melihat ke arah ponsel. Azam sangat kasian sekali pada Ethan karena pria itu juga baru mendapat masalah dengan mantan kekasihnya sendiri.
"Waktu itu Ainsley cerita padaku jika suaminya adalah orang yang baik serta sabar dalam menghadapinya. Ainsley juga bilang jika dia sangat mencintaimu, jadi tak ada alasan untukku merebutnya darimu," ucap Azam.
...****************...
Bagaimana kabarnya, Reader's?
Jangan lupa tinggalkan jejak dan ranting, nih!!!
__ADS_1