
Hai Hai Hai, Reader's!!
Ini bonus ya buat hari ini, satu bab aja ya...hehehe ..
Sebelum baca tarik nafas dulu, jangan shock ya!! Jantung masih aman? Emosi kendalikan yah!!!!
Happy Reading 😢😢
.
.
.
Malam hari mereka makan bersama-sama, mereka memasak mie rebus karena Ainsley sedang mengidam itu. Istrinya rindu dengan mie rebus instan asal Indonesia yang sudah dibeli di sini. Malam ini ruangan cukup dingin sampai kaca apartemen pun berembun. Di dalam ruangan pun mereka juga memakai jaket tebal.
"Ains, makan pelan-pelan!"
"Ini enak banget, mas."
"Kamu sama sekali tidak berubah, dulu kamu sampai kena marah Darren karena makan seperti ini."
Ainsley tetap menikmati mienya tidak memperdulikan ucapan sang suami. Ethan tetap memperhatikannya, dia adalah suami yang siaga untuk Ainsley sampai suatu ketika Ains malah tersedak mienya sendiri.
"Uhuk...."
Ethan langsung menepuk punggungnya, Ainsley sampai terbatuk-batuk dan hidungnya terasa panas karena terkena kuah mie pedasnya. Ethan dengan cepat mengambil tisu basah lalu mengusap hidung sang istri yang seperti.
"Sudah tidak apa-apa?" tanya Ethan.
"Hehe, maaf," jawab Ainsley.
Ainsley mengangguk dan melanjutkan memakan mienya seperti sedia kala. Dia memang bandel dan susah diberitahu, mereka lalu makan sampai habis tidak tersisa. Huh! Mie rebus kuah ayam bawang dipadukan dengan telur beserta sayuran dan dimakan saat cuaca dingin memang sangat mantap.
"Biar mas cuci mangkuknya. Kamu istirahat. Ibu hamil tidak boleh kelelahan."
Ainsley mengangguk, dia naik di atas ranjang lalu duduk sambil menyalakan televisi. Dia memakai parabola sehingga bisa menonton televisi di luar negeri terutama negara Korea. Ya, dia suka kisah percintaan negeri ginseng tersebut bahkan tidak akan pernah ketinggalan setiap episodenya.
"Ains, minum obatnya!" pinta Ethan sambil mencuci piring di wastafel.
Ains tidak menjawab dia tengah asyik menonton televisi. Ethan menghampirinya setelah sudah mencuci piring, dia lantas memberikan obat dan segelas air putih untuk Ainsley.
"Minum dulu vitaminnya!"
Ainsley mengangguk, dia mencoba menelan obat tersebut namun tidak bisa. Dia memang kesusahan dalam menelan obat maka dari itu dia malas untuk minum obat.
"Kenapa?" tanya Ethan.
"Sulit untuk menelan, obatnya besar sekali," jawab Ainsley sangat polos.
Ethan menghela nafas panjang, dia mengambil dua sendok lalu menggerusnya supaya menjadi bubuk dan selepas itu ia memberi air pada sendok tersebut.
"Segini bisa menelannya?" tanya Ethan.
Ains mengangguk senang, dia meminum obat pahit tersebut dan tidak lupa langsung minum. Untung saja dia punya suami yang pengertian serta perhatian, jika tidak pasti orang lain akan meninggalkannya karena sifat Ainsley yang beda dari yang lain.
"Oke, anak pintar. Huh! Mas capek sekali mau istirahat," ucap Ethan berbaring di sebelah Ainsley.
__ADS_1
Ainsley memandang wajah Ethan yang agak kusam, pasti di sana Ethan tidak tahan dengan suhu udaranya yang sangat panas.
"Oh ya, Elina hamil 3 bulan. Dia malah lebih dulu hamil dari pada kamu," ucap Ethan.
"Hamil anak siapa?" tanya Ainsley.
"Pacarnya namun tidak tanggung jawab. Entahlah, aku pusing. Biarkan dia memilih jalannya sendiri," jawab Ethan.
Ainsley ikut berbaring di sebelah Ethan, dia memainkan rambut Ethan yang lurus lalu turun ke hidung mancung pria tersebut. Ethan adalah cinta pertamanya yang sejak dulu dia kagumi namun Ains tak mau mengakui. Kedekatan Darren dan Ethan pasti sudah sangat dekat, mereka sama-sama dari Jakarta yang merantau sampai ke Moskow. Jika libur pun mereka selalu menghabiskan waktu bersama dan tentu saja mengajak Ainsley.
"Mas, aku ingin dibacakan buku cerita."
"Untuk apa?"
"Kata dokter sangat bagus membacakan buku cerita pada bayi pada kandungan."
Ethan menaikkan satu alisnya. "Itu jika sudah memasuki usia 7 bulan ke atas."
"Kelamaan, aku ingin sekarang."
Ethan mewujudkan keinginan Ains, dia membuka internet lalu membacakan Ainsley cerita dari sana. Istrinya mematikan televisi dan ikut mendengarnya. Dia menjadi rindu pada Darren karena jika ia tak bisa tidur maka sang kakak akan membacakan dongeng untuknya.
"Putri Aurora. Pada suatu hari...."
Setengah jam kemudian.
Ethan mendengar dengkuran halus dari Ains, ia melihat istrinya sudah tidur. Wajah cantik Ains-nya sudah membuatnya oleng, dia menciumnya sekilas dan menggesekan hidungnya pada hidung sang istri.
"Selamat malam Ains-ku sayang, mimpi yang indah."
Di Jakarta.
Waktu di Jakarta 4 jam lebih lambat dari Moskow dan saat ini masih jam 6 sore menjelang malam. Elina baru saja pulang dari pekerjaannya yang melelahkan lalu memutuskan untuk mencari makan dulu di pinggir jalan. Sesampainya di sana, dia merasa perutnya kram mungkin akibat kelelahan bekerja.
Elina menoleh. "Dokter Azam? Cari makan juga di sini?"
Azam mengangguk, dia mencari tempat duduk dan mengajak Elina untuk makan bersama. Mereka makan menu yang akan disantap dan sambil menunggu makanan mereka berbincang.
"Baru pulang?" tanya Azam.
"lya dok, ngurus klien perceraian agak berat," jawab Elina.
Elina merasakan perutnya mengeras lagi dan rasanya sakit. Azam melihat wajahnya dengan heran karena ia tahu jika Elina sedang sakit.
"Ada apa Bu Elina?"
Elina menggelengkan kepala dan tak berselang lama kemudian makanan pun datang. Mereka makan bersama-sama lalu Elina terus menahan rasa sakitnya sampai makanan itu habis, dia tak mau berlama-lama dan hendak pulang.
"Biar aku bayar sekalian saja," ucap Azam.
"Tak perlu, dok."
Azam tetap membayarnya lalu mereka keluar dari sana bersama-sama. Azam menyadari jika Elina tidak baik-baik saja apalagi terus memegang perutnya.
"Bu Elina, kamu naik motor? Mau saya antar dengan mobil saja? Motormu bisa tinggal di kos saya yang dekat sini," ucap Azam.
"Tak perlu, dok. Aku malah merepotkanmu terus sejak tadi," jawab Elina.
Elina naik ke atas motornya, nyeri perutnya semakin intens dan membuatnya tidak kuat. Azam mengajaknya turun dari motor lalu menuntunnya duduk di depan warung tersebut.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang kamu rasakan?" tanya Azam.
"Perutku nyeri dan sakit," jawab Elina.
"Kita ke rumah sakit saja, biar saya antar."
Elina menggelengkan kepalanya, dia berpikir jika ini hanyalah penyakit maghnya yang kambuh.
"Ini hanya magh biasa saja," ucap Elina.
"Kamu sedang hamil dan jika merasa sakit perut harus diperiksa," jawab Azam.
Elina semakin meringis kesakitan karena perutnya terasa ditusuk-tusuk. Azam dengan sigap menggendongnya masuk ke dalam mobil dan motor Elina dititipkan di sana.
Setelah masuk mobil, Azam menyetir mobil menuju rumah sakit.
Elina menjerit tatkala melihat melihat darah merembes di kakinya. Azam sudah menduga jika ini akan terjadi.
"Dok, keluar darahnya."
"Kamu tahan ya, sebentar lagi sampai di rumah sakit."
Elina menangis karena perutnya semakin sakit dan sialnya di depan ada kecelakaan sehingga membuat jalanan macet. Azam keluar dari mobil untuk meminta jalan namun mereka masih mengevakuasi korban. Azam masuk ke dalam mobilnya lagi dan melihat darah sudah banyak keluar.
"Sakit...." rintih Elina.
Mau tak mau Azam menggendong Elina menuju ke rumah sakit sambil berlari. Untung jaraknya sangat dekat dan sesampainya di sana Azam membawanya ke UGD supaya ditangani dokter yang berjaga.
"Dokter Azam?" tanya suster.
"Pasien ini mengalami pendarahan, usia kandungan 3 bulan. Segera tangani, ya!"
Azam menunggu di luar, ini bukan jam kerjanya jadi tak ada hak untuk ia tangani. Tangannya masih terdapat banyak darah, ia lantas mencucinya dan mendengar teriakan Elina memanggil namanya.
"Dokter Azam!"
Azam tak jadi ke kamar mandi, dia berlari dan menyibak tirai ruangan Elina. Elina sudah sangat kesakitan membuat Azam tidak sabar.
"Eli, tahan!"
"Sakit."
"Mana dokter yang piket? Lama sekali?" tanya Azam kesal karena yang datang baru beberapa suster.
"Dalam perjalanan ke sini."
Azam yang tak sabar menanganinya sendiri, dia sebelumnya meminta maaf dan membuka celana Elina.
Darah sudah mengalir banyak dan ia melihat gumpalan sudah keluar. Ya. Elina keguguran
"Dokter Azam? Apa yang kamu lakukan?" tanya seorang dokter yang lain datang.
"Kalian lambat sekali? Pasien sudah seperti ini. Segera tangani!" ucap Azam.
Azam hendak keluar namun Elina menghentikannya. Dia meminta ditemani apalagi selama ini dokter kandungannya adalah Azam.
"Temani aku Dokter Azam. Aku takut, sakit sekali." Elina menggenggam tangan Azam dengan erat.
...****************...
__ADS_1
Hayooooo!!!
Kaget ya? Kirain Ainsley, padahal kan Elina, ❤️😁