Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 36 Keluarga Ethan


__ADS_3


Satu minggu Ethan sudah menjalani hubungan jarak jauh dengan istrinya—Ainsley, dia terus berkomunikasi dengan istrinya tersebut dan selalu memastikan jika Ainsley baik-baik saja. Tentu saja di sana Ains baik-baik saja karena tidak ada orang yang mengganggunya dan semua orang sayang padanya.


Ethan keluar dari kamarnya setelah siap untuk berangkat bekerja, dia tinggal di rumah orang tuanya untuk sementara ini. Ibu melamun tidak jelas di ruang tamu, Ethan belum membahas masalah Ains dan tentu saja ia mencari waktu yang terbaik untuk membicarakannya.


"Ibu, aku berangkat bekerja dulu," ucap Ethan.


"Tidak sarapan dulu?" tanya Ibu.


Ethan menggelengkan kepalanya. "Aku ingin sarapan di sana."


Ethan menatap ibunya lagi, ibunya tidak seperti biasanya, beliau menjadi pemurung bahkan juga semakin kurus.


"Ada apa, bu?" tanya Ethan.


Ethan duduk di samping ibunya, walau dia kesal pada sang ibu karena jahat pada Ainsley namun ia tetap saja tidak tega jika ibunya sedih atau punya masalah.


"Entahlah Ethan, ibu capek, bunga hutang semakin menumpuk, para pembantu pun juga sudah ibu berhentikan karena tak sanggup membayar mereka. Ayah kamu juga tidak berpenghasilan, berpenghasilan pun tidak diberikan pada ibu," jelas ibu.


"Hutang apa sampai sebanyak itu?"


Ibu menjelaskan jika hutang tersebut adalah ia pakai untuk menyekolahkan dua anak perempuannya lalu juga hutang di bank untuk keperluan lain yang tidak bisa diterangkan.


"Elina juga disekolahkan tinggi-tinggi lalu jadi pengacara malah hamil duluan dan pacarnya hilang entah kemana," ucap ibu membuat Ethan kaget.


Pantas saja ibu sering emosi dan melampiaskan kekesalannya pada Ainsley tapi tetap saja itu tidak dibenarkan karena Ains tidak tahu apa-apa. Ibu menangis karena sudah lelah akan semua ini sementara Ethan bingung harus membantu apa karena dia sendiri masih bermasalah dengan keuangan dan tak mungkin juga rumah yang selama ini dia bangun dengan uangnya sendiri ia jual untuk melunasi hutang orang tuanya.


"Harapanku cuman Sonia tapi dia juga masih lama lulus kuliahnya, ibu juga tak bisa berharap padamu karena kamu juga sudah berkeluarga. Ibu harus bagaimana? Elina hamil dan pasti akan mencemarkan nama baik keluarga kita," ucap ibu sambil menangis.


Ethan memeluknya dengan erat, ia berjanji akan membantu sebisanya dan jika bisa ia akan mencari pacar Elina yang menghilang entah kemana perginya. Ethan lantas menghampiri Elina yang ada di dalam kamar, ia melihat adiknya itu meringkuk di atas tempat tidur.

__ADS_1


"El, di mana Bayu? Pria itu yang harus bertanggung jawab 'kan?" tanya Ethan.


Elina tidak menjawab, dia seolah malu pada kakaknya tersebut.


"Kamu harusnya berpikir dampaknya seperti apa sebelum melakukan. Berikan nomornya pada kakak!"


Elina masih saja diam membisu, dia bahkan menutup wajahnya menggunakan selimut karena saking malunya.


"Apa yang kamu sedihkan? Semuanya sudah terjadi. Kamu tetap harus bekerja untuk membiayai anakmu kelak. Jika ayahnya tidak bertanggung jawab maka kamu harus bertanggung jawab," ucap Ethan lagi.


Elina terduduk, air matanya sudah pecah sejak tadi, betapa malunya dengan Ethan. Sang kakak adalah panutannya sejak dulu dalam meraih cita-cita dan dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan sang kakak.


"Sudah jangan menangis! Kamu harus kuat demi bayimu nanti tapi kakak akan tetap bantu mencari Bayu supaya ikut bertanggung jawab," jelas Ethan sambil memeluk adiknya.


Setelah itu Ethan keluar dari dalam kamar, semua anggota keluarga punya masalah masing-masing. Ethan tidak bisa membantu banyak karena rumah tangganya saat ini saja entah mau di bawa ke mana karena sang istri memilih pergi jauh dari sini.


Suara mobil ayahnya terdengar, Ethan melihatnya dari dalam rumah, sang Ayah pergi setiap pagi namun pulang tidak pernah membawa uang. Ethan sangat curiga dengan beliau, beliau juga seolah acuh pada hutang yang dipikul Ibu sendirian.


Ethan langsung menghampirinya dan membuat ayahnya sangat kaget sekali, ternyata Ethan mengikutinya sampai di sini.


"Ethan?"


Wanita itu juga sangat kaget.


"Siapa wanita ini dan anak laki-laki ini?" tanya Ethan meredam emosinya.


"Ayah bisa jelaskan tapi jangan bilang pada ibu," jawab Ayah.


"Ibu setiap hari marah, emosi bahkan terjerat hutang yang sangat banyak namun Ayah malah seperti ini dibelakangnya? Sejak kapan kalian ada hubungan? Jika dilihat dari anak ini pasti sudah lama. Apa ibu tidak pernah curiga?" tanya Ethan bertubi-tubi.


Ayah mengajaknya untuk keluar namun Ethan tidak mau, dia menatap wanita itu dengan geram. "Ayahku sudah berkeluarga bahkan ku pikir kita seumuran, jika kamu seorang wanita pasti tak akan tega menganggu rumah tangga orang lain."

__ADS_1


"Ethan, ini salah ayah dan bukan salahnya. Kita bisa bicarakan di rumah saja."


"Bicarakan saja di pengadilan. Ibuku tak pantas bersamamu lagi."


Ethan pergi dari sana dengan hati yang hancur lebur, keluarganya menjadi seperti ini dan satu persatu hancur. Sambil menyetir mobil dia menelpon Ainsley, dia menceritakan apa yang sedang terjadi. Ainsley selalu menjadi pendengar yang baik untuk suaminya bahkan tak segan untuk memberi saran pada Ethan.


"Mas Ethan butuh uang berapa? Ibu hutangnya berapa? Aku akan berikan uang Mas Darren untuk melunasi hutang," ucap Ainsley dari telepon.


"Tidak, ini bukan tanggung jawabmu dan lagi pula itu uang jerih payah yang dikumpulkan kakakmu. Oh ya, kamu sudah makan? Di sini masih pagi dan aku sedang perjalanan ke rumah sakit."


"Di sini masih pukul 4 pagi dan Ains merasa sangat mual."


Ethan menghela nafas panjang, dia tak bisa disamping Ains saat istrinya tengah hamil. Ethan juga berencana hendak menjual rumahnya untuk melunasi hutang keluarganya dan setelah itu Ethan akan menyusul Ains di Rusia lalu membangun rumah tangga di sana setelah masalah di keluarganya selesai.


"Mas mau ke sini? Tinggal di sini?" tanya Ainsley.


"Iya, setelah semuanya beres. Kamu yang sabar ya, Mas akan lekas menyusulmu. Mas juga akan bekerja di rumah sakit itu lagi dan sudah bilang pada kepala rumah sakitnya, mereka masih membuka pintu jika mas ingin bekerja lagi di sana," jawab Ethan.


Ainsley sangat senang sekali pada akhirnya Ethan—sang suami mau tinggal di Moskow bersamanya namun tentu saja dia juga sedih karena masalah keluarga Ethan adalah masalahnya juga.


"Mas, Ainsley akan kirim uang untuk melunasi hutang ibu. Mas Darren pernah bilang jika uangnya boleh digunakan dalam hal apapun asal untuk yang positif dan kebaikan. Ini adalah kebaikan karena ingin membantu ibu," jelas Ains.


"Tak perlu, Ains sayang. Mas akan cari solusinya sendiri, Mas tidak mau merepotkan kamu lagi. Kamu hanya perlu memikirkan bayi kita saja dan kesehatan kamu juga. Sudah ya, sebentar lagi Mas sampai di rumah sakit. Love you."


"Love you too."


Ainsley terdiam, dia kasian dengan Ethan karena mendapat masalah yang bertubi-tubi. Ains hanya bisa berdoa untuk kebaikan sang suami saja dan semoga semuanya terselesaikan dengan baik.


"Nak, doakan papamu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik dan bisa cepat menyusul kita di sini," ucap Ainsley sambil mengelus perutnya sendiri.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2