
Tak berselang lama kemudian, keluarga Ethan yang lain menyusul dengan berbagai oleh-oleh yang dibawa untuk cucu pertamanya. Ainsley menyalami kedua mertuanya dan adik iparnya yang lain yaitu Sonia.
"Apartemennya ternyata besar," ucap ibu.
"Iya, bu. Peninggalan kakakku," jawab Ainsley.
Mereka lalu duduk di ruang keluarga dan Ainsley membawa baby Azza untuk menemui mereka. Ayah dan ibu sangat senang bisa melihat cucu pertamanya, ibu mencoba menggendong baby Azza sedangkan Ainsley membuatkan minuman.
Selepas membuatkan minuman, Ainsley memberikan pada mereka. Ainsley juga menjelaskan jika Ethan akan pulang sebentar lagi. Azza malah menangis digendong beliau, Ains lalu menggendongnya dan menenangkannya.
"Tidak mudah dekat dengan orang yang baru ditemui ya?" tanya ibu.
"Iya, bu," jawab Ainsley.
"Oh ya, Elina mana?" tanya ayah.
Ainsley menjelaskan jika Elina sedang pergi dengan Azam sejak tadi. Pasangan tersebut memang tidak habis untuk membucin. Ayah dan ibu percaya pada Azam jika pria itu bisa dipercaya untuk menjaga Elina. Sambil menunggu Ethan pulang, ayah dan ibu memberikan oleh-oleh pada Ainsley terutama untuk baby Azza. Cucu mereka sangat cantik sekali apalagi dengan bando di kepalanya.
"Wajahnya lebih dominan ke Ains," ucap ibu.
"Karena sama-sama cewek," jawab ayah.
Sonia dari tadi diam saja dan hanya memperhatikan karena kedinginan, Ainsley langsung paham lalu menyalakan penghangat ruangan.
"Bagaimana kota ini menurut kalian?" tanya Ains.
"Bagus sekali, besok kita bisa jalan-jalan keliling kota bagaimana?" tanya ayah.
Ibu memukul pundaknya. "Mana boleh, anak Ethan belum 40 hari tidak bisa keluar rumah."
Mereka berdebat kecil membuat Ainsley tersenyum sendiri, mungkin inilah gambaran saat ia masih mempunyai orang tua dan mereka punya cucu yang sangat disayangi. Andai saja orang tuanya masih ada maka Ainsley pasti akan bahagia.
Tak berselang lama kemudian Ethan datang, ia memeluk ayah dan ibunya lalu meminta maaf karena tidak bisa menjemput mereka. Mereka tak masalah karena jalan ke apartemen ini tak begitu jauh dari bandara dan mereka bertemu dengan sopir taksi yang baik.
__ADS_1
"Kamu ganti pakaian dulu dan jangan lupa mandi!" ucap ibu.
"Baik, aku mandi dulu," jawab Ethan.
Ethan juga mencium pipi Ainsley karena ia rindu tidak berjumpa sejak pagi dan saat hendak mencium baby Azza tiba-tiba Ainsley membawanya kabur.
"Jangan! Mas Ethan mandi dulu," ucap Ainsley.
Ethan mengangguk, dia suka sekali menggoda Ainsley yang polos. Setelah Ethan masuk ke dalam kamar, Ainsley membawa baby Azza untuk menyiapkan makanan. Ibu ingin menggendongnya namun malah Azza menangis.
"Coba suruh gendong ayah saja!" pinta ibu.
Ayah menggendongnya, benar saja Azza tidak menangis malah bisa tenang. Ains dan ibu menyiapkan makanan di dapur, ada banyak makanan yang ibu bawa dari rumah, untungnya tidak basi jadi masih bisa dimakan bersama-sama.
"Masih sering buat sambal? Ethan suka sekali makan sambal," tanya ibu.
"Jarang, bu. Kami juga tak sering makan di rumah," jawab Ainsley.
"Nanti ibu ajari cara membuat sambal yang bisa tahan lama dan jika ingin makan tinggal dikeluarin saja dari kulkas. Ethan suka sekali dengan sambal, walau tidak disuruh harus sediakan," pinta ibu.
"Akhirnya kita bisa berkumpul lagi setelah beberapa bulan tidak berjumpa," ucap Ethan.
"Iya, ibumu setiap malam menangis karena rindu padamu dan juga Ains. Kalian tak ingin tinggal di Jakarta ke depannya?" tanya ayah.
"Untuk sekarang ini kami masih ingin di sini," jawab Ethan.
Ainsley hanya mendengar obrolan mereka sampai suatu ketika pasangan bucin itu pulang. Siapa lagi jika bukan Azam dan Elina? Dingin-dingin begini mereka keluar apartemen untuk mencari udara segar.
"Ayah, ibu!" teriak Elina.
"Dari mana saja kalian?" tanya ayah.
"Beli buah. Di rumah ini tidak ada buah," jawab Elina.
Elina mengeluarkan semua belanjaannya, dia juga tadi mampir ke sebuah mall walau hanya melihat-lihat saja.
__ADS_1
"Nikahkan saja mereka secepatnya," ucap Ethan.
"Ini pun kami mau menikah kok," sahut Elina.
Mereka ikut duduk di depan meja makan sambil membagikan syal untuk masing-masing orang dan yang membeli adalah Azam. Beruntungnya Elina mendapat pria tampan, baik serta yang mau menerima apa adanya apalagi Elina mempunyai masa lalu yang tidak bagus.
"Jadi bagaimana, mau menikah kapan?" tanya Ethan pada Azam.
"Secepatnya tapi aku harus membawa Mela ke orang tuaku dulu," ucap Azam.
"Harusnya kamu bawa Elina ke orang tuamu sekarang bukan malah datang ke sini," jawab Ethan.
Elina sangat kesal pada kakaknya karena terlalu bawel sekali. "Tujuan kita 'kan memang untuk menjenguk istri dan anakmu, bukan menjenguk Kak Ethan."
Ethan melihat wajah adiknya cemberut karena selama ini sering dia ceramahi ini dan itu, tangan Ethan mencubitnya lalu mengatakan hanya bercanda saja, habisnya Elina sangat lucu sekali saat marah. Sedangkan Sonia anaknya lebih pendiam maka dari itu Ethan tidak bisa mengajaknya bercanda.
Selesai makan, keluarga itu melepaskan kerinduan yang mendalam bersama Ethan. Sedangkan Ains memilih untuk masuk ke dalam kamar menidurkan Azza, keluarga Ethan saat ini sudah baik padanya. Apa artinya ia sudah berhasil mengambil hati mereka? Ada senyuman pada bibir Ains, jika Darren tahu saat ini ia sudah bahagia pasti Darren akan ikut bahagia.
"Kakak, Ains rindu. Ains rindu suara Kak Darren," ucap Ainsley sambil meneteskan air matanya.
Ainsley meletakkan baby Azza di tengah tempat tidur lalu ia membuka video kebersamaannya dengan Darren. Ainsley menunjukkannya pada Azza, mata bulat bayi tersebut melihat layar ponselnya. Saat bersamaan Ethan masuk ke dalam kamar, dia kaget karena Ainsley malah menunjukkan ponsel pada Azza yang masih bayi.
"Ains, apa yang kamu lakukan?" tanya Ethan.
"Mas Ethan. Ains hanya menujukkan video Kak Darren pada Azza," jawab Ainsley sambil mengusap air matanya.
"Azza masih bayi, tak baik ditunjukkan layar ponsel. Sini cerita sama mas! Kamu rindu kakakmu?" tanya Ethan sambil merangkul Ains.
Mereka duduk bersebelahan di tepi tempat tidur lalu Ains-nya menceritakan kerinduannya pada sang kakak. Apapun kesedihan sang istri selalu ia luapkan pada Ethan bahkan Ethan sendiri pun selalu mendengarkan curahan hati istrinya yang rapuh.
"Ains beberapa hari ini mimpi Kak Darren tapi mimpinya tidak jelas. Ains rindu kakak tapi bingung bagaimana melampiaskan rindu pada kakak," ucap Ainsley sambil menangis sesegukan.
Ethan mengecup pucuk kening kepala Ainsley. "Ains, doakan kakakmu supaya tenang di sana. Aku tidak bisa memberi banyak saran jika itu masalah kerinduan. Aku juga rindu dengan Darren karena dia adalah sahabatku tapi sepertinya maksud mimpimu itu pasti karena Darren mau muncul di mimpimu saat kamu merindukannya."
...****************...
__ADS_1