
"Ains? Kenapa diam saja?"
Ainsley menggelengkan kepalanya, dia duduk di tepi ranjang sembari menurunkan arah matanya ke bawah. Betapa tampan sekali pria itu bahkan Ainsley menyadari ketampanan Ethan sejak sebelum menikah.
"Semua kemeja ini bagus, aku menyukainya dan bisa aku pakai untuk bekerja. Terima kasih, aku mau melanjutkan mandi dulu sedangkan tugasmu panasi semua makanan yang sudah aku belikan," ucap Ethan.
Ethan masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Ainsley memanasi semua sayur yang sudah dibeli Ethan. Entah apa yang ia rasakan pada dadanya namun ia sangat berdebar sekali.
Semua lauk ia panasi di atas wajan lalu ia pindah ke dalam mangkuk satu persatu, Ethan datang sudah mengenakan pakaian tidur. Rambut basahnya membuat Ainsley salah tingkah karena membuat ketampanan dokter itu benar-benar sempurna.
"Sudah dipanasi? Ayo makan! Aku sangat lapar sekali," ucap Ethan membantu membawa mangkuk itu masuk ke dalam kamar.
Mereka makan malam di atas lantai yang dingin karena AC, Ethan memberikan paha ayam yang besar pada Ainsley. Ainsley menggigitnya namun ternyata sangat keras.
"Kenapa?" tanya Ethan.
"Keras," jawab Ainsley.
Wajah Ethan maju ke depan lalu menggigit ayam tersebut yang ternyata Ainsley menggorengnya cukup lama. Ainsley malah terpatung karena jarak wajah pria itu hanya beberapa senti saja dari wajahnya.
"Kamu terlalu lama menggorengnya, sini biar aku makan saja!" ucap Ethan merebut paha ayam itu lalu menggantinya dengan dua buah telur dadar.
Ainsley tersenyum kecil, suaminya sangat perhatian sekali padanya dan lagi-lagi jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaan macam apa ini atau dia jangan-jangan terkena serangan jantung. Gadis autis itu panik sambil memukul-mukul dadanya sendiri membuat Ethan kaget.
"Ada apa?" tanya Ethan.
"Jantungku berdegup dengan kencang. Apa aku terkena serangan jantung?" tanya Ainsley.
Ethan memeriksa detak jantung Ainsley menggunakan tangannya, Ainsley malah semakin salah tingkah karena tangan pria itu begitu hangat. Ethan mengernyitkan dahi lalu melepaskan tangannya dari dada wanita itu.
"Kamu mengagetkanku saja. Jantungku berdetak normal. Sudahlah ayo makan! Aku juga ingin beristirahat," ucap Ethan.
__ADS_1
Setelah itu mereka makan tanpa berbicara satu patah pun, Ainsley pun juga masih curi pandang pada Ethan. Dia merasa nyaman di dekat pria itu walau siang tadi sempat membuatnya kecewa. Acara makan bersama pun selesai, Ainsley membawa semua piring dan mangkuk untuk ia cuci di wastafel sedangkan Ethan langsung naik ke atas ranjangnya.
Ethan bermain ponselnya untuk melihat-lihat berbagai postingan orang lain, sampai ia menemukan postingan Ainsley yang menunjukan gambar kedua kakinya sendiri di sebuah trotoar. Postingan gadis autis itu memang unik-unik, dia punya gambaran tersendiri untuk mengekspresikan semua. Ethan kembali menurunkan berandanya lalu melihat foto cantik Stella, tangan Ethan seolah kaku untuk menurunkan berandanya kembali bahkan matanya terpaku menatap foto Stella.
Ainsley sudah kembali dari cuci piringnya dan ia naik ke atas ranjang, ia melihat Ethan diam memandangi foto cantik mantan kekasihnya sampai tidak berkedip dan entah apa yang ia pikirkan. Dada Ainsley terasa perih sekali, memilih berbaring membelakangi Ethan dan membuat pria itu langsung tersadar dari melamunnya.
"Ains?"
"Hem."
"Besok aku mau ke rumah Ayah dan Ibu, mau ikut?"
"Hem."
Ethan merasa jika Ainsley aneh sekali.
"Ains, kamu ditanya oleh suamimu jawabanmu seperti itu? Siapa yang mengajarimu?"
Ainsley tetap diam sambil memeluk gulingnya, Ethan lalu menarik selimut, ia tak mau ambil pusing karena ia sendiri pun sangat lelah. Tak lama berselang terdengar dengkuran halus dari Ethan, Ainsley menoleh ke arahnya bahkan Ethan sama sekali tidak membujuknya.
***
Keesokan harinya.
Ethan mengajak Ainsley ke rumah orang tuanya karena hari ini orang tua Stella dan Stella sendiri akan mengembalikan seserahan lamaran. Ainsley membantu menyapu dan mengepel lantai namun Ibu mertuanya malah melakukan itu lagi karena menganggap kurang bersih.
"Huh! Begini kok mau punya rumah sendiri, menyapu saja tidak bersih."
Ainsley hanya diam saja, dia masih berpikiran positif karena mungkin memang kurang bersih. Dia pun lantas membantu yang lain seperti mengelap gelas tapi ibu mertuanya tetap menyuruh pembantu membersihkan ulang sebersih mungkin.
"Ibu, kok Ainsley serba salah ya?" tanya Ainsley pada ibu mertuanya.
"Kamu tidak pandai bersih-bersih. Aku membayangkan jika kalian sudah pindah ke rumah Ethan pasti rumah bagus itu menjadi kotor karena istrinya malas," jawab ibu.
__ADS_1
Ains diam tidak menjawab sedangkan Ayah mengusap bahu Ainsley. "Ains duduk saja! Sudah ada pembantu di sini."
Ains mengangguk, dia duduk di ruang tamu dan tak berselang lama kemudian keluarga Stella datang membawa banyak barang pemberian dari Ethan. Ethan sudah mengenakan pakaian rapi serta ia memakai parfum sedikit membuat Ainsley merasa aneh padahal Ethan mengaku tidak suka memakai parfum.
"Silahkan duduk!" pinta Ayah pada mereka.
Mereka duduk bersebrangan sementara orang tua Stella melihat Ainsley begitu lekat, mata Ainsley memang tidak bisa diam seolah melihat ke kanan, ke kiri lalu ke atas dan ke bawah.
"Oke, saya mulai saja mengingat putra dan putri kita tidak berjodoh, kami meminta maaf sebesar-besarnya lalu dengan rasa kekeluargaan kami ingin mengembalikan semua uang bahkan barang-barang lamaran yang diberikan pada kami saat itu," ucap Papa Stella.
"Tunggu! Kalian tiba-tiba membatalkan pertunangan ini secara mendadak, hati Ethan sangat hancur seolah dikhianati," jawab Ibu Ethan.
"Maaf, ini memang salah kami. Kami meminta maaf sebesar-besarnya."
Ibu tak menjawab lagi karena saking kesalnya sementara Ayah mulai mengobrol lagi dengan mereka secara baik-baik dan kekeluargaan. Ethan dan Stella sendiri sudah memutuskan berpisah secara baik-baik tanpa ada rasa dendam bahkan mereka juga sudah menemukan jodohnya masing-masing.
Setelah berbincang selama setengah jam, keluarga Stella menyerahkan barang-barang lamaran dari Ethan. Mereka sepakat untuk tidak menyinggung masalah ini lagi dan tetap menjadi kerabat dekat. Stella dan Ethan juga saling bersalaman seolah mereka sudah menjadi teman saja.
"Baiklah, sekiranya begini saja, kami memutuskan untuk pulang," ucap papa Stella.
"Jangan pulang dulu! Mari makan! Kami sudah menyiapkan berbagai makanan," jawab Ayah.
Mereka diarahkan menuju ke ruang makan dan mereka makan bersama-sama. Ainsley pun membantu menyiapkan sendok dan sebagainya dari dapur namun ia melihat Ethan sedang mengobrol asyik dengan Stella. Mereka tertawa bersama-sama seolah bertukar cerita.
"Ains, mana sendoknya?" tanya Ibu.
Ainsley tersadar dari lamunannya, ia lalu memberikan sendok itu pada ibu. Wajah Ainsley sedih. Ia lalu menarik Ethan supaya menjauh dari Stella.
"Sini!"
"Ains, ada apa denganmu?" tanya Ethan.
"Kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa. Jadi harus jaga jarak!"
__ADS_1
...****************...