
"Haha... kamu gombal sekali. Belajar dari mana?" tanya Ethan.
"Apa itu gombal? Lap kotor?" tanya Ainsley polos.
Ethan tertawa kecil, dia mengecup kening Ainsley dengan lembut di bawah sinar rembulan. Dia berusaha tersenyum pada Ainsley walau sebenarnya ia masih bingung dengan perasaannya. Ainsley memang sudah berusaha merebut hatinya tapi Ethan masih menyangkal jika itu adalah rasa cinta.
"Ayo pulang! Sudah puas 'kan jalan-jalan malamnya atau ingin makan beli apa lagi?" tanya Ethan.
"Pulang aja yuk! Aku mengantuk."
Ethan mengangguk, mereka lalu menuju ke mobil mereka dan Ethan membukakan pintu untuk Ainsley serta melindungi kepala Ainsley supaya tidak terkantuk terkena atas pintu mobil. Setelah itu Ethan melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah.
Ainsley langsung merebahkan diri di atas ranjang dan disusul Ethan, Ainsley memandang wajah Ethan dengan lekat sambil tersenyum sendiri sementara Ethan berusaha mengontrol desiran hatinya.
"Mas Ethan besok berangkat bekerja?"
"Iya, mungkin ke depannya liburnya jarang tapi sebisa
mungkin aku akan mencari libur yang tepat untuk mengajakmu ke suatu tempat. Besok juga ada operasi jadi aku berangkatnya agak pagian, jika aku sudah tidak ada di sini berarti aku sudah berangkat."
Ainsley mengangguk paham, dia memeluk Ethan dari samping sambil menghirup aroma tubuhnya. Tubuh Ethan malah merinding dan menjadi tegang, ia adalah pria normal pada umumnya jika disentuh wanita akan terasa terbuai.
"Ains, jika kamu begini terus maka malam ini kamu tak akan selamat."
"Tak apa, aku suka."
Ethan memandang wajah Ainsley yang menggemaskan, tanpa berpikir panjang dia menarik dagu wanita itu dan menyesap bibirnya secara perlahan. Mereka berciuman lalu tak lupa memasukkan lidah mereka, Ainsley sudah makin pandai saja dan mampu mengimbangi Ethan. Tak berselang lama kemudian Ethan melepaskan ciumannya, mereka saling bertatapan wajah seolah membaca pikiran satu sama lain.
Ethan dengan sigap naik ke tubuh Ainsley, dia melanjutkan ciumannya tadi sampai benar-benar *******, tangan Ethan juga mulai nakal dan masuk ke dalam baju yang dikenakan Ainsley. Ainsley melepaskan ciumannya, ia memperhatikan gairah Ethan menyala hebat.
"1 ronde saja ya? Setelah ini kita tidur."
"Oke."
***
Keesokan harinya.
Ainsley bangun tatkala Ethan sudah mandi dan mengenakan pakaian rapinya, wanita itu lantas ingin membuatkan Ethan sarapan pagi namun Ethan tidak mau karena sudah buru-buru.
"Aku bisa makan di sana. Aku berangkat sekarang."
__ADS_1
Ainsley mengecup punggung tangan Ethan lalu mengantarnya sampai ke teras kos. Jarak rumah sakit dan tempat kos itu tak cukup jauh namun Ethan tidak mau sampai terlambat karena ia dokter baru di sana. Ainsley melambai pada mobil Ethan yang mulai berjalan ke luar halaman kos dan saat Ainsley membalikkan badan ia tak sengaja menabrak seorang pria.
Brak!
"Maaf," ucap Ainsley lalu membantu mengambilkan tas pria itu.
Ainsley melihat seorang pria tampan menggunakan kemeja rapi seolah juga terburu-buru.
"Sorry, aku yang salah."
Pria itu lantas mengambil tasnya yang dipegang Ainsley lalu pergi menghampiri mobilnya. Ainsley hendak kembali ke kamarnya namun menemukan kartu identitas pria itu yang ternyata seorang dokter juga di rumah sakit tempat suaminya bekerja. Ainsley tahu betapa pentingnya kartu identitas itu, ia ingin mengejarnya namun rupanya mobil itu sudah pergi dari halaman kos. Ainsley bingung, dia juga buru-buru ingin ke sekolah untuk melakukan wawancara bekerja.
"Nanti saja deh," ucap Ainsley sambil mengantongi kartu identitas itu.
Ainsley lalu mandi dan mengenakan pakaian rapi, ia juga sudah mempersiapkan berkas lamarannya. Semoga saja mereka cocok dengan Ainsley dan mau menerimanya bekerja di sana.
Setelah semuanya siap, Ainsley berangkat ke sekolahan itu naik bus dan tidak lupa membeli sarapan di jalan. Ains terus mengatur nafasnya supaya bisa jauh lebih tenang dan tidak grogi saat wawancara tadi.
Saat di dalam bus ia mencoba berbicara sendiri seolah sedang diwawancarai sementara orang-orang di sana merasa kasian karena cantik-cantik namun gila bahkan mereka terang-terangan menjauhi Ainsley.
Sesampainya di sekolah itu, Ainsley bertemu dengan satpam kemarin yang menghubunginya namun satpam itu meminta maaf karena sudah mendapat penggantinya. Ainsley tentu saja kesal karena seolah dipermainkan, dia protes padahal kemarin jelas-jelas ia diberi kesempatan untuk melamar.
"Ya tidak boleh begini dong. Pak satpam 'kan yang kemarin menelpon saya untuk melamar di sini?"
"Maaf, mbak. Pihak sekolah sudah mendapatkan yang lain."
Ainsley terhenti dari langkahnya lalu menatap langit yang cerah. "Aku tidak boleh menyerah!"
Ini adalah cara dia membangkitkan semangatnya sendiri supaya tidak down apalagi teringat senyuman Ethan yang tulus membuatnya semakin bersemangat.
Ainsley lalu memutuskan untuk menuju ke rumah sakit, dia ingin mengembalikan kartu identitas tersebut pada pria tadi. Ainsley naik bus untuk sampai sana dan sesampainya di sana ia mencari ruangan dokter spesialis kandungan. Ainsley mencarinya dan ia melihat nama ruangan yang mirip dengan nama dokter di kartu identitas tersebut.
"Oh ini ruangannya."
Ainsley langsung masuk begitu saja dan di sana ternyata dokter itu sedang memeriksa pasien.
"Bunda, silahkan antri dulu!" ucap suster.
Pria yang sedang memeriksa pasiennya itu melihat Ainsley, ia mengingat jika wanita itu yang ia tabrak tadi saat di kos.
"Aku ingin memberikan ini pada dokter itu," ucap Ainsley menyerahkan kartu identitas tersebut.
Dokter yang bernama Azam itu menghampiri Ainsley dan menerima kartu identitasnya, ia sangat berterima kasih sekali Ainsley yang sudah mau mengantarkan sampai ke sini dan kartu itu memang sangat penting sekali. Azam memberikan uang pada Ainsley sebagai imbalan, Ainsley tentu saja tidak mau menerimanya dan langsung berpamitan pergi.
Ainsley keluar dari ruangan bagi para ibu hamil tersebut
__ADS_1
dan dilihat oleh Stella, kebetulan ruangan Stella tak jauh dari sana dan ia menyimpulkan mungkin saja Ethan mau menikahi Ainsley karena sudah hamil duluan. Tak mungkin juga Ethan mau menikah dengan Ainsley jika tidak ada alasan lain.
Stella lalu masuk ke ruangan Azam, Azam menatapnya dengan kesal karena dokter satu ini selalu menyelonong masuk ke ruangannya tanpa permisi apalagi Stella juga akan menikah dengan kepala rumah sakit dalam waktu dekat jadi Azam tak mau bermasalah dengan wanita satu ini.
"Wanita muda tadi hamil berapa bulan?" tanya Stella.
Azam mengira jika yang ditanya adalah pasien yang baru saja memeriksakan kehamilannya dan bukan Ainsley.
"Kenapa kepo sekali dengan pasienku? Dokter Stella mending keluar saja, pasienku masih banyak yang mengantri di luar," ucap Azam.
"Wanita tadi temanku, aku hanya ingin tahu saja dia hamil berapa bulan. Soalnya dia gak jujur padaku jika sedang hamil," jawab Stella.
"4 bulan. Sudah cukup? Mohon maaf, kamu harus segera keluar."
Stella langsung keluar dari sana. 4 bulan? Dia tersenyum kecut karena mengira Ethan selingkuh di belakangnya saat di Rusia dan menghamili gadis autis sehingga harus menikahinya.
Jam istirahat makan pun tiba.
Ainsley sudah ada sejak tadi di kantin untuk menunggu suaminya namun Ethan belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Sampai Azam melihat Ainsley dan menghampirinya, ia ingin mentraktir Ainsley makan siang sebagai tanda ucapan terima kasih.
"Kamu yang tadi 'kan? Kok masih di sini? Boleh saya duduk di sini? Saya akan membelikanmu makan siang."
Ainsley menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh! Ini untuk Dokter Ethan."
Azam mengernyitkan dahinya, dia memang belum kenal Ethan karena Ethan merupakan dokter baru apalagi lantai ruangan mereka juga berbeda.
"Oke baiklah. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih.
Ethan menjauh dan bergabung dengan dokter yang lain. Dia masih memperhatikan Ainsley yang diam melamun tidak jelas dan terkadang tersenyum sendiri.
"Dokter Ethan itu siapa?" tanya Azam pada rekan sesama dokternya.
"Dokter Ethan itu dokter spesialis kanker yang masih baru di sini. Kenapa?"
Azam langsung menatap Ainsley, ia mengira jika Ainsley adalah pengidap kanker dan ingin bertemu dengan dokternya. Azam menjadi iba karena melihat Ainsley yang masih sangat muda.
Tak berselang lama kemudian Dokter Ethan datang, ia masih mengenakan baju operasinya dan kaget melihat Ainsley ada di sini.
"Ains, kenapa di sini?" tanya Ethan.
Ainsley mulai meneteskan air matanya. "Sekolahan itu mempermainkanku, setelah aku datang ke sana ternyata mereka sudah menemukan guru baru."
Ethan duduk di sampingnya lalu memperhatikan para pegawai lain yang melihat ke arah mereka karena tangisan Ainsley begitu nyaring di dengar.
"Ssst... sudahlah, Ains! Itu bukan rezeki kamu. Sudah jangan menangis! Kamu makan dulu dan setelah ini pulang, aku harus melanjutkan pekerjaanku lagi."
__ADS_1
...****************...