Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 52 Gatal?


__ADS_3


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu," ucap Elina lalu mencoba untuk terlelap.


Elina bukanlah orang yang mudah tidur di tempat baru, dia tidak bisa tidak bisa tidur di tempat baru walau senyaman ini. Dia mencoba untuk terlelap walau tidak bisa, ia hanya membolak-balikkan badannya saja. Azam yang tidur di bawah bisa mendengar suara Elina membolak balikkan badannya.


"Eli, ada apa?"


"Kak Azam, mungkin tak apa kamu tidur di sebelahku. Kita juga tak akan melakukan apa-apa. Kak Ethan tak mungkin masuk ke dalam sini. Aku tidak bisa tidur di suasana yang baru."


Azam duduk, dia memandang Elina yang ada di tempat tidur. Azam tetap tidak enak pada Ethan karena mereka belum menikah.


"Kamu tungguin aku sampai tidur lalu setelah aku tidur bisa pindah ke bawah lagi," ucap Elina.


"Baiklah." Azam langsung naik ke atas tempat tidur.


Elina sangat senang sekali karena ia bisa satu tempat tidur dengan Azam, mereka bercerita ke sana kemari sampai benar-benar puas dan membuat mengantuk. Herannya Azam yang lebih dulu terlelap dibanding Elina, Elina pun membiarkan saja dan ikut tidur di sampingnya.


Ethan mengintip kamar mereka, dia benar-benar takut jika adiknya melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Ethan berdehem ketika melihat mereka tidur dalam satu ranjang. Elina yang masih berusaha untuk tidur langsung duduk menatap kakaknya.


"Kalian memang tidak bisa dipercaya," ucap Ethan.


"Kak, biarkan dia tidur di sini, kasian di bawah sana keras dan lagi pula Kak Azam sudah tidur, kasian jika dibangunkan," ucap Elina.


"Kamu gak kapok saat itu hamil? Ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sudahlah! Kamu tidur dengan Ainsley saja, jika baby Azza bangun tengah malam kami bisa membangunkanku di sini," jawab Ethan.


Elina menghela nafas kasar, kakaknya ini memang overprotektif, mungkin saja trauma pada kejadian yang dialami Elina dulu. Elina pindah ke kamar sebelah dengan kakak iparnya, Ainsley sudah terlelap dengan Azza berada di dalam box.


Keesokan harinya.


Malam tadi Azza tidak terbangun sehingga mereka bisa tidur dengan lelap, Ains bangun pagi-pagi supaya bisa memasak sarapan untuk mereka sedangkan Ethan membantu memberikan susu pada baby Azza.


"Selamat pagi," ucap Azam yang juga bangun lebih awal.


Karena Azam merasa menjadi tamu maka dari itu ia juga harus bangun awal.


"Kok sudah bangun?" tanya Ethan.


"Iya memang sudah biasa bangun pagi. Elina belum bangun?"


Ethan mengangguk. "Dia kebiasaan bangun siang. Semoga saja saat sudah menjadi istrimu kebiasaannya bisa berubah."

__ADS_1


Azam lalu menggendong baby Azza dan Ethan bisa pergi ke kamar mandi, Ainsley datang dengan sarapannya dan tentunya ada nasi di sana supaya stamina mereka bertambah.


"Dokter Azam, bagaimana dengan bayiku? Cantik 'kan ?" tanya Ainsley.


"Iya, dia cantik sepertimu," puji Azam.


Mereka mengobrol sejenak terutama Ainsley bercerita saat hamil Azza ada saja yang terjadi, dia sering mengalami pendarahan, mual sampai umur kandungan tua serta kebiaaan menghirup aroma bekas sepatu suaminya.


"Pokoknya aneh-aneh sekali saat hami besar yang dirasakan Ains," jelas Ainsley sambil tersenyum sendiri membayangkannya.


"Tapi semua itu akan kamu rindukan saat Azza sudah keluar dari dalam perutmu," ucap Azam.


"Tidak juga, itu semua sangat menyiksa," jawab Ainsley.


Ethan keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Azam berbincang dengan sang istri saja ia sangat cemburu. Ada-ada saja perasaan aneh ini padahal Azam adalah calon adik iparnya dan sepatutnya dia tidak cemburu.


"Ains sayang, sudah siapkan sarapan?" tanya Ethan.


"Sudah Mas sana ajak Dokter Azam makan juga" ucap Ainsley.


"Mas, harus berangkat bekerja sekarang karena ada operasi. Mas bawa saja makanannya."


Ainsley mengangguk, dia lantas membawakan Ethan bekal dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Selepas itu Ethan memutuskan untuk mandi air hangat, ada Azam dan Elina membuatnya lega karena Ainsley ada yang menemani.


"Azza?" Ainsley berlari dari meja makan lalu menggendongnya.


"Mungkin popoknya penuh?" tanya Azam.


"Sepertinya iya."


Ainsley lekas masuk ke dalam kamar, dia mengecek popok putrinya dan benar saja penuh bahkan buang air besar.


Ainsley membersihkannya sebersih mungkin menggunakan handuk yang basah serta setelah itu memakai tisu basah.


Elina terbangun, dia melirik kakak iparnya memiliki keterbatasan bisa mengurus anaknya dengan baik sedangkan dia yang normal malah tidak becus.


Ainsley melirik Elina, ia tersenyum padanya dan menyuruh untuk tidur lagi jika memang masih mengantuk.


"Tidur lagi tak apa," ucap Ainsley.


"Gak enak sama Kak Ethan. Dia pasti bakal tahu jika

__ADS_1


adiknya memang pemalas," jawab Elina.


"Tak apa, mumpung masih single. Ains dulu juga gitu kalo libur kerja sukanya bangun siang. Kapan lagi bisa seperti itu? Sekarang Ains harus bangun pagi-pagi dan lebih pagi untuk mereka," ucap Ainsley.


Elina terduduk sambil memeluk kedua tangannya. Dia kagum dengan Ainsley walau tak punya orang tua atau keluarga tapi didikannya luar biasa. Mungkin karena terbiasa sendiri jadi saat menjadi seorang ibu dan istri tak kaget.


"Maaf sekali jika dulu aku jahat padamu," ucap Elina.


Ainsley tersenyum kecil. "Gak jahat kok hanya saja belum terlalu kenal. Tak perlu dipikirkan, yang berlalu biarlah berlalu apalagi kamu adiknya Mas Ethan. Mas Ethan sayang kamu dan aku pasti sayang kamu juga."


Elina memeluk Ains dengan erat, Ainsley meminta dilepaskan karena dia masih membersihkan kotoran putri.


"Huh! Kok membersihkan pupnya di atas tempat tidur sih?" tanya Elina baru sadar.


"Maaf Eli, tempat tidurnya juga aku kasih karpet khusus kok jadi tidak akan terkena kotorannya," ucap Ainsley.


"Bersihkan di kamar mandi dong."


Ainsley menatap Elina. "Aku belum bisa berjongkok. Jahitan di perut Ains masih sakit. Maaf ya buat kamu gak nyaman?"


Ethan keluar dari dalam kamar mandi, dia tentu saja mendengarnya.


"Apa sih El?" tanya Ethan.


"Hehe... gakpapa. Maaf, aku belum paham. Lanjutkan bersihkan pupnya," jawab Elina.


"Bangun lalu cuci muka sana! Kasian calon suamimu, setidaknya kamu harus menunjukkan jika bisa menjadi istri yang baik dengan cara membuatkannya roti dan minuman hangat," ucap Ethan.


Elina menguap, justru malah dia tidur lagi sambil menarik selimut sampai ke kepalanya. Ethan yang kesal membuka selimut itu lagi dan menyuruh keluar dari kamar.


"Bangun! Sana keluar! Ini kamar pribadi kakak."


"Huh! Males sama Kak Ethan."


Ainsley hanya tersenyum kecil pada interaksi kakak adik itu sampai ia mengingat sering dimarahi juga oleh Darren yang bawel seperti Ethan.


Setelah Elina keluar dari kamar, Ethan membantu memakaikan popok pada baby Azza sedangkan Ainsley menggaruk bekas jahitannya yang gatal.


"Ada apa Ains?" tanya Ethan.


"Gatal, Mas. Mumpung Dokter Azam di sini aku tanyakan saja ya padanya dan sekalian di periksa. Gatal sekali," ucap Ainsley.

__ADS_1


Ethan langsung melotot tajam ke arahnya.


...****************...


__ADS_2