
Happy Reading Sayang!!!
.
.
.
Setelah pulang dari rumah sakit, Ethan dan Ainsley merawat baby Azza hanya berdua saja. Seperti biasa Ethan akan begadang untuk mengasuh putrinya yang sering bangun tengah malam. Jahitan pada perut Ains-nya belum sembuh membuatnya tidak bisa bergerak banyak tapi sang istri akan sebisa mungkin membantu Ethan dalam mengurus putrinya.
Jam 2 pagi baby Azza terbangun, Ethan menggendongnya sementara Ainsley memompa susunya yang melimpah bahkan sampai merembes keluar.
"Mas, biar baby Azza aku susui dulu," ucap Ainsley.
"Taruh dot saja, nanti mas akan berikan susunya pada baby Azza," jawab Ethan.
"Kenapa gak langsung di susuku?"
"Besok pagi saja, pasti kamu ngantuk. Kamu tidurlah! Besok pagi biar segar dan tidak mengantuk."
Suaminya sangat perhatian sekali sampai Ains tidak berhenti bersyukur setelah mendapatkan Ethan. Setelah memompa dan mendapat satu botol Ains memberikan pada Ethan, Ethan memberikan pada baby Azza. Ketakutan Ainsley saat akan tidur adalah jika putrinya seperti dirinya, ia tidak ingin baby Azza seperti dirinya yang autis dan mendapat hinaan dari orang.
"Mas, Ains takut jika Azza autis. Azza akan mengalami hidup yang berat jika seperti itu," ucap Ainsley.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Baby kita baik-baik saja. Kamu itu bukan sebuah penyakit yang akan menurun pada anak. Pikirkan yang baik-baik saja. Sudah tidurlah!" jawab Ethan.
Ainsley memejamkan mata sementara Ethan masih memberikan susu pada baby Azza, tadi putrinya sempat rewel dan ternyata popoknya penuh. Ethan belajar mengasuh anak dari internet dan untung saja di sana semuanya lengkap. Tak berselang lama kemudian baby Azza tidur, Ethan menimangnya sebentar dan setelah itu menaruhnya di atas boxnya.
Ethan menghela nafas panjang, hampir satu jam dia menggendong. Sepertinya dia butuh ayunan karena saat baby Azza diayun bisa cepat tidur. Ya, esok dia akan membelikan ayunan untuk putrinya.
Keesokan harinya.
Ainsley bangun pagi-pagi dan melihat dua orang kesayangannya masih tertidur. Mereka sepertinya lelah karena tadi malam begadang, Ainsley menuju ke dapur lalu memasak sebentar. Kemarin malam dia sudah menyediakan bahannya dan saat ini bisa langsung dimasak.
Kling...
Pesan masuk dari seseorang di ponselnya, salah temannya di sebuah taman kanak-kanak memberitahukan ini menjenguk baby Azza siang nanti sepulang sekolah. Ainsley sangat senang dan mempersilahkan mereka untuk datang. Walau Ainsley sudah lama tidak bekerja di sana tapi ia masih berkomunikasi dengan mereka.
"Kenapa senyum sendiri?" tanya Ethan dari belakang mengagetkannya.
Ainsley memukul dada Ethan, hampir saja dia terkena serangan jantung.
"Huh! Ngagetin saja! Teman-teman Ains mau datang ke sini."
"Temanku juga akan ke sini. Mas akan beli camilan dulu, tidak enak saat ada tamu jika tidak ada apa-apa di rumah."
Ainsley mengangguk, dia lalu melanjutkan memasak namun malah dicegah Ethan. Sang suami tidak memperbolehkan banyak aktivitas terlebih dahulu dan untuk makan mereka bisa beli lewat aplikasi. Zaman sekarang sangat modern, tidak sempat memasak saja bisa memesan di aplikasi lalu tinggal makan saja.
"Mas sudah pesan makanan untuk kita, lebih baik kamu mandi saja supaya wangi," ucap Ethan.
"Aku bau, ya?" tanya Ainsley.
"Tidak, biar segar saja," jawab Ethan.
Ainsley memeluk suaminya dengan erat, entah ia bermimpi apa sampai mendapatkan Ethan yang serba pengertian. Ethan menerima pelukan itu dan ikut memeluk Ainsley dengan baik. Istrinya itu adalah semangat hidupnya sampai detik ini, kenyamanan Ains-nya adalah kenyamanannya juga.
Ainsley sedang mandi lalu Ethan menyiapkan air teh untuk mereka berdua, cutinya tinggal 2 hari saja dan ia berpikir apakah Ains bisa merawat baby Azza saat dia bekerja? Ethan harus mencari jasa babysitter supaya membantu merawat baby Azza.
__ADS_1
"Oeee..."
Baru menyalakan kompor tiba-tiba baby Azza bangun, Ethan mematikan kompor itu lagi lalu menggendong sang buah hati. Putri cantiknya menangis karena mungkin saja ditinggal orang tuanya keluar dari kamar. Matanya terbuka dengan mulut yang terbuka, sepertinya ia haus.
"Sebentar ya, nak. Mama kamu sedang mandi."
Ethan terus menimangnya sampai Ains-nya benar-benar selesai mandi, Ainsley hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya dan langsung menyusui baby Azza. Sebagai pria tentu saja Ethan menelan ludahnya kasar, dia punya hasrat dan menjadi tegang. Ainsley adalah sosok yang polos dan belum paham apa yang dimaksud kebutuhan seksualitas. Dia pun dengan santai menyusui baby Azza hanya memakai handuk di depan sang suami.
"Ains, mas mau ke dapur dulu. Jika ada apa-apa panggil mas saja."
"Iya," jawab Ainsley.
Ethan menelan ludahnya kasar lalu berlari kecil ke dapur, apa yang dia pikirkan? Istrinya baru saja melahirkan dan dia harus bersabar sampai 3-4 minggu ke depan. Ethan meminum air putih banyak-banyak supaya rasa dahaganya menghilang padahal itu bukan dahaga melainkan sisi lainnya yang menginginkan hal itu.
"Mas?"
Ethan terkejut sampai tersedak air putih yang dia minum.
"Uhuk... uhuk..."
"Mas tidak apa-apa? Kenapa Mas aneh begini?"
Ethan menggelengkan kepalanya. "Tak apa, mas haus saja. Azza mana?"
"Di atas tempat tidur, sepertinya dia tidak cocok dengan ****** susuku? Dia tidak betah meminumnya."
Ainsley menurunkan handuknya dan menyuruh suaminya melihat ****** susunya. Godaan apalagi ini? Ains malah semakin memancingnya. Ainsley benar-benar sangat polos sekali.
"Putingnya tidak keluar malah masuk ke dalam, mungkin saja Azza tidak nyaman karena tidak bisa puas menyedotnya," jelas Ainsley.
"Yasudah, pompa saja. Memang tidak panjang bentuk itumu," jawab Ethan.
Ethan merasa kesal pada Jasmine, wanita itu selalu mengajarkan sang istri yang tidak-tidak apalagi Ainsley sangat polos sekali.
"Memang punyamu seperti itu, mana bisa ditarik langsung mulur. Ada-ada saja kamu ini." Ethan membalikkan badan karena airnya sudah mendidih padahal dia menghindari Ains-nya yang masih menunjukan dadanya yang padat. "Ains, pakai baju gih! Dingin."
Ainsley malah memeluknya dari belakang membuat Ethan semakin panas dingin. "Mas, Ains tidak bisa memberikan jatah sampai sebulan ke depan lalu Mas Ethan bagaimana?"
Ethan melepaskan pelukan Ainsley. "Itu wajar karena semua pria akan melewati fase itu dan tergantung orang itu saja bagaimana cara menuntaskannya. Yang penting adalah kesembuhanmu dulu."
"Tapi Ains kasian pada Mas Ethan."
"Ains, itu tidak penting. Mas bisa menahannya dan lagi pula sebulan itu waktu yang singkat."
"Benarkah?"
Ethan mengangguk padahal faktanya tidak seperti itu, beberapa hari tidak melakukannya saja rasa tubuhnya menjadi pegal-pegal dan tidak karuan.
"Yasudah, dari kemarin Ains terus memikirkan ini. Jika Mas Ethan bisa menahannya maka Ains bisa lega. Semangat ya, Mas!"
Ethan mengangguk padahal hatinya meringis, Ainsley berjalan kembali ke kamar dan Ethan masih memperhatikannya sampai baru melangkah tiba-tiba handuknya melorot, Ethan langsung menelan ludahnya kasar. Karena Ainsley masih belum bisa berjongkok maka dari itu meminta Ethan mengambilkan handuknya.
"Mas, tolong ambilkan! Perutku sakit jika berjongkok."
Ethan mengambil handuk itu dan memasangkan pada tubuh Ainsley, lagi-lagi dia hanya bisa menelan ludah dan menyabarkan diri. Semangat Ethan! Hanya sebulan saja. Ingatlah jika kamu pernah jomblo selama bertahun-tahun lamanya.
Siang hari.
Teman-teman Ains datang membawa banyak hadiah untuknya, Ains sangat antusias sekali karena mereka terakhir bertemu beberapa bulan yang lalu. Ethan juga sudah menyediakan minuman dan berbagai camilan untuk mereka.
__ADS_1
"Namanya siapa, Ains?"
"Aurelle Azza Crystalline, panggilannya baby Azza."
"Lucunya, lihat wajahnya sangat mirip kamu."
Ainsley tersenyum senang karena dipuji oleh mereka sampai salah satu dari temannya menyeletuk tidak jelas.
"Kecil sekali bayinya? Berapa kilo?"
"Saat lahir 2,8 Kg," jawab Ainsley.
"Kamu saat hamil pasti kurang minum vitamin jadinya bayimu kecil. Dulu anakku bisa 3,6 Kg bahkan dianggap bayi jumbo."
Temannya yang lain menyenggol karena sangat tidak baik membandingkan bayi seseorang. Ainsley tersenyum dan tidak marah karena bobot putrinya memang segitu.
Ainsley lalu memberikan dot pada baby Azza dan lagi-lagi temannya yang tadi nyinyir lalu nyinyir kembali seolah tidak kapok.
"Tidak langsung asi?"
"Ini air asi tapi ****** Ainsley kecil jadi baby Azza tidak puas makanya Ains sedot pakai pompa asi," jelas Ainsley.
"Kasian masih bayi sudah pakai dot, nanti bentuk rahangnya tidak bagus dan bisa buat gigi menjadi maju."
Ainsley hanya diam saja, ia malah menjadi kepikiran. Temannya yang lain tentu saja memarahi si tukang nyinyir tersebut. Ethan tidak ada di sana dan ada di dapur namun setelah kembali ke ruang tamu ia melihat wajah Ainsley murung sedih.
"Ains, anakku dulu juga pakai dot kok tapi giginya bagus-bagus saja. Sudah jangan dipikirkan! Kamu tahu sendiri 'kan jika si Santi memang julid orangnya," bisik salah satu temannya.
Ains mengangguk. "Dia tak salah kok. Ains yang merasa menjadi ibu yang kurang baik. Ains tidak bisa menyusui baby Azza secara langsung dan malah memberinya dot."
"Maaf jika aku menyela. Ada aturan yang harus dilakukan saat menjenguk seorang wanita yang baru saja melahirkan. Pertama, jangan sampai menanyakan berat badan karena itu sensitif. Kedua, jangan memandingkan pengalaman kalian dengan pengalaman wanita yang sedang kalian jenguk karena pasti itu berbeda. Ketiga, jangan berbicara hal buruk pada wanita yang baru saja melahirkan karena sangat berpengaruh pada psikisnya. Psikis wanita yang baru saja melahirkan sangat berbeda dan gampang terbawa suasana. Tolong! Kalian sesama perempuan jangan saling menjatuhkan," ucap Ethan.
Ainsley malah tidak enak pada teman-temannya karena Ethan mengatakan hal seperti itu.
"Mas, tak apa kok. Mereka hanya berbagi pengalaman," ucap Ainsley.
"Wajahmu sedih Ains. Kamu jangan merasa tidak enak pada mereka dan menjaga perasaan mereka padahal mereka sama sekali tidak menjaga perasaanmu," jawab Ethan.
Si tukang nyinyir tadi langsung berpamitan pulang ketika disindir Ethan sementara teman-teman yang lain meminta maaf karena sudah membuat suasana runyam. Mereka juga ikut pulang setelah puas melihat Azza.
"Maafkan ucapan suamiku," ucap Ainsley.
"Ains, kami tidak apa-apa. Suamimu hebat sekali bisa paham perasaan istrinya. Aku saja kesal dengan mulut si Santi. Dia langsung kalah saat Ethan menyindirnya."
"Tapi Ains tidak enak. Apa Ains perlu minta maaf?"
Mereka menggelengkan kepalanya. "Justru dia yang harus meminta maaf. Kamu harus berterima kasih pada suaminya yang membelamu habis-habisan. Kamu beruntung sekali mendapat suami seperti Ethan. Dia sangat peka dan tidak ingin istrinya sedih."
Selepas mereka pulang, keadaan apartemen Ains sepi kembali dan hanya ada kado dari mereka. Ethan menunggu baby Azza yang masih bangun dengan mata bulat besarnya.
"Mas lain kali jangan ikut campur, Ainsley tidak enak pada mereka karena mereka satu-satunya teman sang istri," ucap Ainsley.
"Teman itu tidak akan menjatuhkan temannya," jawab Ethan.
"Jika mereka tidak mau berteman dengan Ains lagi bagaimana?" tanya Ainsley.
Ethan menghela nafas panjang. "Ada mas, ada baby Azza juga. Kita ini keluarga dan kamu tak akan merasa sendiri lagi."
...****************...
__ADS_1