Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 41 Kabar Ainsley


__ADS_3


...nos actions inconscientes affectent tous ceux que nous connaissons...


......................


Hari ini Ethan mencoba mengirim pesan pada Ainsley namun tidak dibalas. Dia menunggu sembari istirahat makan siang di kantin, mata Ethan terus melihat ke arah ponselnya berharap pesan itu dibuka oleh Ains namun sayang hanya centang satu saja yang menandakan nomor Ainsley tidak aktif.


Ethan mencoba menelponnya namun sama saja tidak diangkat. Dia lekas menghabiskan makanannya dan kembali ke ruangannya. Siapa yang tidak kepikiran jika sang istri tidak membalas pesan sejak tadi pagi bahkan Ethan mencoba untuk menghubungi Jasmine namun tidak diangkat. Apa yang membuat istrinya menonaktifkan nomornya sampai selama itu?


Tak mau sampai membuatnya tidak berkonsentrasi dalam bekerja, dia menyimpan ponselnya dan mulai fokus.


Di sisi lain Ainsley sedang ada di suatu desa yang susah sinyal. Dia menemui teman kakaknya yang sudah dia anggap seperti kakaknya juga. Ains bosan berada di apartemen apalagi temannya sedang mengajar. Udara sangat dingin sekali membuat dia tak berani keluar dari rumah, ia hanya berbincang dengan teman kakaknya itu yang bernama Azura. Azura dulu sangat menyukai Darren tapi sayangnya sang kakak tidak bisa membalas perasaannya.


"Ku pikir kamu tidak akan kembali ke sini lagi," ucap Azura.


"Aku akan tetap kembali karena tidak ingin Kak


Darren kesepian," jawab Ainsley.


"Tapi Darren sudah meninggal," ucap Azura.


Ainsley mengangguk paham tapi sama saja dia tak ingin meninggalkan Darren di sini sendirian. Ada banyak kenangan bersama sang kakak sampai dia meninggalkan Ethan di Jakarta.


"Suamimu bagaimana? Apa kamu mencintainya?" tanya Azura.


"Sangat mencintainya. Mas Ethan adalah orang baik bahkan dia selalu mengatakan cinta padaku," jawab Ainsley.


"Lalu sekarang kamu kerja apa?"


Ainsley menggelengkan kepalanya. "Hanya di apartemen saja apalagi aku sedang hamil jadi tidak kuat untuk bekerja."


Azura menggenggam tangan Ainsley, dia sangat kasihan dengan Ainsley dan ingin membantunya jika wanita itu butuh bantuan. Ainsley adalah sosok yang tegar dalam menghadapi setiap situasi dan dia akan terus menunjukan senyuman seolah dia baik-baik saja.


"Jika ada apa-apa bilang saja padaku dan aku akan membantumu."


"Terima kasih Kak Azur."


Mereka melanjutkan makan bersama-sama sementara itu Ains melihat sinyal pada ponselnya tidak ada. Tentu saja dia takut jika sang suami mengirim pesan atau menelponnya. Jaringan di desa ini sangatlah jelek dan tidak bisa diandalkan sama sekali.


"Ains, aku akan ke dapur. Kamu bisa masuk ke dalam kamar jika kedinginan," ucap Azura seraya berdiri.


"Baik, terima kasih."


Ainsley masuk ke dalam kamar, hawa di kamar sangat hangat sekali dan membuatnya ingin rebahan. Matanya menatap ponsel yang sama sekali tidak ada sinyal.

__ADS_1


Dia tentu saja merindukan Ethan dan ingin berkirim pesan padanya.


Karena tadi malam dia tidak bisa tidur lantas malah ketiduran. Suasana pun sangat mendukung untuk tidur dan berharap dia bermimpi indah bertemu Ethan.


***


Sepulang dari bekerja, Ethan mengecek pesan yang ia kirimkan pada Ainsley namun sama sekali tidak ada perubahan. Dia semakin khawatir jika terjadi apa-apa dengan Ainsley lalu memutuskan menelpon Jasmine.


Lagi-lagi wanita itu tidak mengangkat ponselnya.


"Huh! Sabar, Ethan!" ucap Ethan menyabarkan dirinya sendiri.


Ethan lalu masuk ke dalam mobilnya dan melihat Stella. Dia tak menggubris sama sekali apalagi wanita itu sudah membuatnya terluka sangat parah.


Stella sudah tidak bekerja di sini lagi dan suaminya sudah turun jabatan. Benar saja jika Stella menghampiri mobil Ethan membuat pria itu sangat muak.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Ethan.


"Ethan, aku hanya ingin minta maaf setelah apa yang terjadi," ucap Stella.


"Aku sudah memaafkanmu namun aku tidak mau bertemu denganmu lagi apapun alasannya."


Stella paham atas apa yang dikatakan Ethan karena dia tahu pria itu sangat terluka karenanya.


"Maaf, aku harus pulang."


"Di mana Ains-ku sebenarnya?" tanya Ethan.


Ethan mencoba bertanya pada temannya yang ada di sana, dia meminta bantuan untuk mendatangi apartemen Ains. Hanya itu satu-satunya cara untuk tahu keadaan Ainsley.


Setelah itu dia kembali fokus menyetir mobil dan sesampainya di rumah dia melihat ayahnya datang. Beliau berbicara pada ibu secara baik-baik dan memberikan uang pada beliau.


Ayah terlihat mengeluarkan banyak air mata dan wajahnya sangat menyesal.


"Ayah kenapa lagi kesini?" tanya Ethan.


Ibu langsung menyuruh Ethan masuk kamar, dia tak keberatan jika Ayah datang ke sini dengan niat yang baik.


"Ayah sudah menghancurkan keluarga ini dan angkat tangan begitu saja," sambung Ethan.


"Ayah tidak lepas dari tanggung jawab. Ayah minta maaf pada kalian karena sudah acuh pada kalian selama ini. Ayah sayang pada keluarga ini."


Ethan berdecih, dia masuk ke dalam kamarnya karena sudah terlanjur benci dengan sang Ayah. Ethan melepaskan pakaiannya dan terus melihat nomor Ains. Dipikirannya malah Ains sedang bersama pria lain dan melupakanmya begitu saja.


Tok... tok...

__ADS_1


Elina membuka pintu kamar sang kakak, dia melihat Ethan tengah bertelanjang dada.


"Eh mau mandi ya?" tanya Elina.


"Iya, ada apa?"


"Aku mau kirim ini ke Ainsley. Bisa minta alamatnya?"


Ethan heran pada dua adiknya seolah tidak memilih nomor Ains yang merupakan kakak iparnya sendiri.


"Apa kamu tidak punya nomor Ains dan tidak bisa bertanya sendiri?" tanya Ethan.


Elina mengangguk merasa tidak enak, dia meminta maaf jika dulu pernah membuat Ainsley sakit hati dalam setiap ucapannya.


"Aku ingin minta maaf juga pada Ainsley dengan kata-kata pedasku yang selalu membuatnya sedih. Aku sadar selama ini aku sangat salah padanya dan aku ingin mencoba berdamai dengannya. Apa masih bisa?" tanya Elina.


Ethan menarik tangan Elina untuk duduk di sebelahnya. Dia senang jika pada adiknya sudah sadar dengan kesalahan mereka dulu pada Ainsley.


"Kakak akan kirimkan nomornya padamu namun saat ini Ainsley tidak bisa dihubungi. Seharian nomornya tidak aktif dan membuat kakak tidak tenang," jelas Ethan.


"Sudah menghubungi teman-temannya yang ada di sana?" tanya Elina.


Ethan mengangguk. "Sudah tapi juga sama saja tidak diangkat telpon dariku."


Elina melihat kekhawatiran sang kakak, Ethan berdiri lalu mengambil handuk, dia meminta Elina untuk keluar dari kamarnya karena dia akan mandi. Setelah Elina keluar, Ethan menghela nafas panjang dan terus mengirimkan pesan beruntun pada Ainsley.


Ethan : Sayang, kamu di mana? Kenapa tidak membalas pesanku sejak pagi?


Ethan : Jika kamu marah padaku, aku minta maaf tapi jangan abaikan aku!


Ethan : Sayang, balas pesanku!


Ethan : Ains sayang, apa kamu sudah bosan denganku sampai mengabaikanku? Tolong angkat teleponku! Aku mohon!


Ethan menghela nafas panjang, dia benar-benar panik dan merindukan Ains. Ibu datang ke kamarnya dan melihat putranya itu duduk di atas ranjang sambil memeluk kakinya sendiri.


"Ethan, kamu susullah istrimu!"


Ethan mendongak ke arah Ibu. "Sekarang ini tidak bisa karena aku masih tertahan kontrak dengan rumah sakit. Aku harus membayar pinalti yang cukup besar jika aku mendadak keluar."


"Bayar saja pinaltinya, Ayah memberikan Ibu uang dan kamu bisa pakai. Ibu dan Ayah juga tidak jadi bercerai. Kami sepakat untuk tetap bersama demi kalian."


Ethan kaget mendengarnya. "Ibu mau dipoligami?"


"Tidak, ayahmu yang memutuskan untuk berpisah dengan wanita itu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2