Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 35 Perpisahan


__ADS_3


POV Ainsley


Semuanya sudah selesai dipersiapkan dan mungkin ini adalah yang terbaik untukku saat ini. Mungkin aku adalah orang yang egois yang tidak bisa mengerti perasaan Mas Ethan namun aku sendiri pun merasakan tekanan yang luar biasa dari keluarganya.


Menurut saran dari Jasmine aku harus pindah dari rumah itu dan menjauh dari keluarga itu demi kewarasanku dan keselamatan buah hatiku.


Seminggu dua minggu diperlakukan tidak baik dan aku pun masih bisa bersabar namun sampai detik ini mereka masih sama memperlakukanku tidak baik terutama ibu. Aku harap Mas Ethan paham apa yang aku inginkan dan ikut pindah bersamaku ke Rusia menjalani rumah tangga di sana tapi Mas Ethan tidak bisa pergi ke sana karena sudah melanjutkan kontrak dengan rumah sakit tempat dia bekerja.


Mas Ethan juga tidak ingin tinggal di Rusia dan ia ingin tinggal di Jakarta saja karena itu adalah rumahnya sementara aku lebih nyaman tinggal berada di Rusia bersama teman-temanku yang lain.


Kutarik koperku dengan sejuta harapan yang cerah sementara Mas Ethan terus menggenggam tanganku dengan erat dan membawakan satu koperku yang lainnya. Satu koperku yang lainnya berisi bahan makanan mentah yang sudah disiapkan oleh Mas Ethan sedemikian rupa, melihat hal itu aku yakin Mas Ethan sangat sayang padaku namun keadaan yang terpaksa membuat kita seperti ini.


"Koper yang satu Mas bawakan saja," ucap Ethan.


"Tak perlu, Mas. Ains bisa membawa sendiri," jawabku.


Dari belakang ada tangan yang menepuk pundakku dan aku langsung menoleh ke belakang. Rupanya itu adalah Ayah dengan air mata di sudut matanya. Aku yakin dia adalah orang yang baik sehingga tak kuasa untuk mengikhlaskan kepergianku ke Rusia.


"Ains, ayah harap kamu berubah pikiran dan tetap mau berada di sini. Ethan masih down dan membutuhkan kamu," ucap Ayah.


Aku menggelengkan kepala. "Maaf Ayah, aku harus tinggal di sana untuk sementara waktu dan aku butuh sebuah ketenangan."


"Ayah harap kamu cepat pulang ke sini."


Sementara itu ibu juga memelukku dengan erat, dia memintaku untuk menjaga diri dengan baik selama aku di sana sendirian. Aku tidak tahu pelukannya tulus atau tidak namun yang jelas aku sangat menghargainya dan dua iparku tidak ikut mengantarku ke bandara karena mereka punya pekerjaan masing-masing namun mereka sudah memberikan kado untukku dan aku akan membukanya sesampainya di Rusia.


"Jika butuh apa-apa kamu bisa bilang pada ibu. Ibu akan mengirimkan apapun yang kamu mau," ucap ibu.


"Terima kasih, ibu. Ains tidak butuh apa-apa," jawab Ainsley.

__ADS_1


Aku harus segera boarding supaya tidak ketinggalan pesawat dengan berberat hati aku berpamitan dengan Mas Ethan yang penuh air mata. Dia memelukku dengan erat sembari terus mengecup pucuk kepalaku. Pada akhirnya air mataku pun jatuh dan hatiku merasakan sesak.


"Jangan lupa terus aktifkan ponselmu! Balas chat atau telponku secepat mungkin supaya aku tidak khawatir padamu," pinta Mas Ethan.


Aku mengiyakan ucapan Mas Ethan yang selalu aku tanamkan baik-baik di pikiranku. Setelah itu aku memutuskan untuk boarding meninggalkan tanah air tercinta ini. Aku sudah terlanjur nyaman di Rusia sehingga rasa nyamanku di sini seolah mati rasa. Terlalu banyak orang yang menyakitiku apalagi itu adalah keluarga Mas Ethan membuatku seolah jahat dengan negara asalku.


Aku melambai pada mereka terutama untuk Mas Ethan, Kulihat dia tak hentinya menangis seolah tak bisa mengikhlaskan aku pergi untuk sementara waktu.


Aku terus menguatkan kaki untuk melangkah dan menahan untuk tidak kembali berjalan ke arah mereka karena pasti akan membuat Mas Ethan semakin berat untuk melepaskanku.


Bye Mas Ethan. Sampai jumpa di lain waktu, aku berjanji akan bahagia di sana dengan caraku sendiri dan menjaga anak kita dengan baik.


***


Belasan jam berada di pesawat membuat pinggangku terasa nyeri dan pada akhirnya aku sudah sampai di Moskow, Rusia. Hatiku terasa sumringah karena bisa merasakan dinginnya kota Moskow saat ini bahkan lelehan salju seolah turun menyambutku keluar dari bandara.


Aku dijemput oleh Jasmine menggunakan mobilnya dan aku diantar menuju ke apartemen yang disewa Kak Darren saat itu. Barang-barang kami memang belum semuanya dipindah karena masa kontrak apartemen itu masih 6 bulan lagi dan aku bisa menempatinya.


"Ains, akhirnya kamu pulang," ucap Jasmine memelukku dengan erat.


Aku melepaskan pelukannya dan menarik dua koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Jasmine berteriak supaya aku tidak mengangkat barang-barang berat sendirian dan pada akhirnya dua koper itu diangkat oleh Jasmine sendiri.


"Kamu sedang hamil dan jangan mengangkat benda-benda berat dulu. Nanti aku bisa dimarahi suamimu, aku sudah dibayar olehnya untuk menjagamu," ucap Jasmine.


"Mas Ethan membayarmu?"


Jasmine mengangguk. "Tentu saja. Aku akan menjadi temanmu di apartemen selama 24 jam. Aku dibayar suamimu dan ini tidak gratis."


"Ains pikir kita teman." Aku merengut sedih mendengar semua itu.


"Hahahaha... bercanda sayang. Haduh gemesnya Ains ini. Kamu seperti tidak kenal aku saja. Hahaha... sudahlah! Ayo masuk! Mau makan apa biar mampir sekalian untuk membelinya."

__ADS_1


Aku masuk ke dalam mobil, sahabatku ini memang suka sekali bercanda. Kami memutuskan untuk datang ke restoran favorit kami. Dalam perjalanan aku pun bercerita tentang masalah yang aku hadapi selama di Jakarta. Sambil menyetir mobil satu tangan Jasmine menggenggam tanganku, dia sudah merasa jika Ethan tak bisa membahagiakanku sejak aku dibawa pulang Mas Ethan ke Jakarta.


"Ethan mendekatimu karena ingin membalas dendam pada mantannya. Dia sama seperti pria lain," ucap Jasmine.


"Mas Ethan tidak seperti itu. Hanya saja ibu dan adik-adiknya yang tidak suka pada Ainsley."


"Ains, kamu di sini saja selamanya dan mencari pria sini. Ceraikan Ethan dan itu lebih baik."


Aku menggelengkan kepala, aku datang ke sini bukan untuk berpisah dengan Mas Ethan namun untuk menenangkan diri dan suatu saat aku akan pulang ke sana lagi. Aku sudah berjanji pada Mas Ethan jika aku tak boleh meminta cerai. Apapun situasinya kami akan membicarakannya secara baik-baik.


Kami sudah sampai di restoran dan makan bersama-sama. Sungguh aku merindukan makanan khas daerah ini. Aku memakannya dengan lahap seolah sangat kelaparan dan Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya karena saking herannya padamu.


"Tapi sungguh kamu bertambah kurus saja. Nah, makan yang banyak!" kata Jasmine.


Saat bersamaan ponselku berbunyi, aku melihatnya yang ternyata adalah pesan dari Mas Ethan yang menanyakan apa aku sudah sampai apa belum. Saat aku hendak membalas pesannya tiba-tiba Dokter Azam menelponku. Aku terdiam sejenak berusaha menimbang apakah harus mengangkat telpon itu. Ah... aku harus mengangkatnya karena siapa tahu sangat penting.


"Halo, Dokter Azam?"


"Kamu benar sudah pergi ke Rusia lagi? Kenapa tidak berpamitan denganku?" tanya Dokter Azam dan terdengar suaranya sangat panik sekali.


"Maaf, ini mendadak. Aku juga belum berpamitan dengan Dokter Reena juga. Maaf, sekali lagi maaf jika tidak sopan."


"Berikan alamatmu! Jika aku cuti bisa menyusulmu di sana. Buku catatan ibu dan anak milikmu tertinggal padaku. Ini sangat penting untukmu."


Aku menggaruk kepala karena bingung. Bukannya sudah berbeda bahasa?


"Tak perlu Dokter Azam, aku pindah negara dan bukan pindah kota, jadi buku itu tidak diperlukan di sini."


"Yasudah, berikan alamatmu saja! Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja selama di sana."


...****************...

__ADS_1


Gimana Reader's? Masih aman? Hahaha, Jangan lupa follow akun penulis, like, vote, hadiah, dan komentar serta favorit ya!!!


😘😘


__ADS_2