Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 42


__ADS_3

" Apa jangan jangan, mereka mau... " ucap Daffa terkejut mengingat perkataan mereka waktu itu.


" Mau apa mas? " Kania tampak khawatir.


" Ah, jangan menduga duga dulu, lebih baik langsung di pastikan " batin Daffa


" Gak apa apa. Ayo masuk! " ajak Daffa. Kania mengangguk mengiyakan.


Daffa dan Kania tak langsung masuk ke rumah melainkan berjalan menuju pos satpam dimana disana ada mang Redo dan mang Edi yang berjaga berdua.


" Mang " panggil Daffa dan dua dua nya pun menoleh karena mereka berdua di panggil ' mang ' oleh pemilik rumah ini.


" Iya den? " tanya mang Redo dan mang Edi serempak seraya berdiri dari duduk nya.


" Siapa yang lagi berjaga, mang? " tanya Kania mewakili Daffa karena Kania tau Daffa kesulitan untuk berbicara banyak.


" Saya neng " ucap mang Redo. Kania memanggut mengerti.


" Kalau gitu mang Edi, saya boleh minta tolong gak? " tanya Kania sopan.


" Boleh non, bilang aja "


Kania menyerahkan kunci mobil nya " Mang, tolong bawa mobil Nia yang ketinggalan di sekolah, ya. Boleh gak? " tanya Kania.


" Boleh non " balas mang Edi seraya mengambil kunci mobil yang ada di tangan Kania.


" Mang Edi tau, kan, dimana sekolah nya Nia? " Kania memastikan, takut nyasar.


" Tau non "


" Tau plat mobil Nia, gak? " tanya Daffa


" Tau kok, non "


" Ya udah, kalau gitu Nia minta tolong, ya, mang " ucap Kania.


" Iya non "


" Maaf ya, mang " ucap Kania seraya menautkan kedua tangan nya di depan dada.


" Gak apa apa, kok, neng. Ya udah, kalau gitu, mang berangkat ke sekolah, ya. Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam. Hati hati mang " Kania mengingatkan. Mang Edi mengangguk.


" Mang, kita pamit masuk ke dalem, ya " pamit Kania kepada mang Redo.

__ADS_1


" Iya non, silahkan "


Daffa dan Kania berjalan beriringan menuju pintu masuk rumah mereka. Di depan pintu, Kania perlahan membuka pintu agar tidak menimbulkan suara dan nampak-lah ruang tamu sepi. Kania langsung sedikit berlari menuju kamar nya untuk mengambil kotak P3K sedangkan Daffa masuk ke dalam rumah dengan mengendap-ngendap seperti maling, padahal di rumah sendiri.


Tepat saat Daffa hendak naik ke lantai 2, ada orang yang menegur dari belakang nya. " Kamu udah pulang Daffa? "


Daffa menghentikan langkah kaki nya, tapi badan nya masih membelakangi orang yang menegurnya. Daffa tau betul siapa yang menegurnya.


" Daffa, mana Nia? Mamah tak melihat nya? " tanya nya. Ya, orang itu adalah Kirana.


" Nia udah di atas mah " balas Daffa tanpa menoleh ke arah mamah nya.


" Daffa, siapa yang ngajarin kamu kayak gitu? Gak sopan tau! Ayo, ngomong nya sambil natap mamah " suruh Kirana.


" Iya mah " balas Daffa takut takut. Daffa perlahan memutar badan nya.


Kirana terperanjat kaget " Astagfirullah. Kamu kenapa Daffa? " tanya Kirana sedikit berteriak.


" Nia... Nia... " panggil Kirana.


Kania menuruni anak tangga dengan sedikit tergesa gesa seraya memegang kotak P3K di tangan nya.


" Iya mah "


" Daffa kenapa, Nia?! Kok muka nya lebam gitu? Siapa yang gituin? " tanya Kirana histeris sehingga membuat Fahriz dan Verrel datang dari arah ruang keluarga.


" Astagfirullah, kamu kenapa Daffa? " tanya Fahriz yang baru saja menatap wajah anak nya.


" Lo kenapa Fa? " Verrel ikut melihat wajah Daffa yang lebam.


" Aku gak apa apa, kok, Mah, Pah. Iya kan honey? " ucap Daffa.


" Gak apa apa, gimana? Muka kamu luka begini! " ucap Kirana.


" Nanti Nia jelasin. Mas Daffa nya di obatin dulu ya " ucap Kania menenangkan mereka.


" Iya-iya. Lebih baik obatin dulu " setuju Kirana yang langsung menarik lengan Daffa menuju ruang keluarga. Kania dan Fahriz mengikuti nya dari belakang.


" Wow, keren juga si Daffa. Dah ada sedikit perubahan. Dari yang tadi nya panggil nama, terus berubah jadi kakak sama adek, eh sekarang berubah lagi jadi Mas sama honey. Gua sebagai jomblo sungguh jijik tapi iri, tau gak?!! " kesal Verrel.


" Bodo ah... ikutin mereka aja " ucap nya mengikuti langkah yang lain yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan nya.


Setelah memberikan obat pada luka lebam di wajah Daffa, Kirana bertanya " Apa perlu ke rumah sakit, Daffa? " tanya Kirana penuh perhatian.


" Nggak perlu, Mah. Cuma sedikit kok " tolak Daffa.

__ADS_1


" Tetep aja kamu luka " ucap Kirana tak terima.


" Nia, tolong ceritakan ke Mamah, siapa yang buat Daffa jadi kayak gini? " pinta Kirana.


Kania mengangguk lalu setelah nya ia menceritakan semua kejadian nya tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Kirana dan Fahriz yang mendengar pun sangat kesal kepada Rafka yang berlaku semena mena.


" Verrel, tolong lakukan sesuatu " suruh Kirana.


Verrel mengangguk " Siap, tan. Kalau itu, mah gampang " Verrel dengan bangga nya menjawab perintah dari Kirana seraya menyisir rambut nya ke samping menggunakan jari nya.


Kania mengerutkan kening nya, bingung dengan apa yang di maksud oleh Kirana dan Verrel. Dengan memberanikan diri, Kania bertanya " Bang Verrel mau ngapain? " tanya Kania yang melihat Verrel yang bersiap siap untuk pergi.


Merasa di panggil, Verrel segera membalikkan badan nya " Kenapa? " tanya Verrel.


" Gue mau ngurus si bocah ' Rafka ' itu " balas Verrel dengan senyum licik nya.


" Maksudnya mau di apain? "


" Yang ringan aja sih. Gue mau ngeluarin tuh orang dari sekolahan sama buat dia bungkam "


" Jangan di keluarin. Kita sekolah cuma sisa 3 minggu lagi, kalau di keluarin gak bakal ada sekolah yang mau nerima dia kecuali mengulang nya tahun depan " jelas Kania.


" Bagus, dong "


" Jangan, Rel. Ikutin aja apa kata Nia " suruh Daffa.


Verrel melihat Kirana dan Fahriz yang mengangguk pun jadi terpaksa menuruti nya. Padahal diri nya ingin sekali mengeluarkan bocah sok jagoan itu, tapi akhirnya ia urungkan niatan nya itu.


" Oke " balas Verrel seraya menyalimi Kirana dan Fahriz setelah nya ia berjalan menuju pintu keluar untuk menyelesaikan tugas yang baru di berikan kepada nya.


Kania sendiri bingung, kenapa Verrel berniat meengeluarkan Rafka dari sekolah. Bagaimana bisa ia akan melakukan nya? Itu yang di pikirkan Kania saat ini.


" Sudahlah, gak penting mikirin itu " batin Kania seraya menggelengkan kepala nya.


" Daffa, ayo ke kamar kamu " ajak Kirana. Daffa mengangguk lalu ia berdiri. Dengan sigap Kirana berdiri dan langsung memegang lengan Daffa agar Daffa tidak terjatuh.


" Mah... Aku bukan anak kecil lagi " ucap Daffa merajuk.


" Biarin. bagi Mamah, kamu masih anak kecil Mamah seperti dulu " balas Kirana kekeh dan tetap menuntun Daffa seperti anak kecil.


Kania tertawa kecil melihat nya dan sedangkan Fahriz hanya menggelengkan kepala nya melihat kedua nya.


__________


**MAAFIN AUTHOR KARENA GAK UPDATE SELAMA SEMINGGU🙏😓

__ADS_1


KALIAN TAU KAN, DI BAB SEBELUMNYA AUTHOR BILANG AKAN UPDATE SETELAH UJIAN SELESAI. TAPI KALIAN KOMEN UNTUK AUTHOR UPDATE, AUTHOR SEPERTI DIKEJAR2 UNTUK SEGERA UPDATE, JADI NYA AUTHOR KURANG FOKUS MENGERJAKAN NYA.


Tolong mengerti author🙏 author juga manusia yang punya real life dan tak bisa untuk update sesuai keinginan kalian. Sekali lagi maafin author ya🙏😓**


__ADS_2