Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 58


__ADS_3

" Kamu udah mendingan, Nia? " tanya Al-Fira-sang Bunda yang melihat anak nya dari pagi muntah dan mengeluh pusing.


" Nia gak papa, Bun. Nia cuma masuk angin mungkin. Nia kan gak bisa capek capek. Kemaren baru sampe rumah Mas Revan langsung pindah tempat lagi " balas Kania seraya duduk di pinggir ranjang nya.


Saat ini Kania beserta seluruh keluarga nya sudah pindah dan menetap di negara asing, yaitu Belanda. Dengan pengawasan yang di jaga ketat dan sulit di lacak oleh siapapun berkat tante Anis-istri dari om Akbar, adik kandung dari Husein-sang Ayah.


Anis-seorang mualaf asli Belanda yang dinikahi oleh Akbar-adik kandung Husein. Nama asli nya ialah Henzie Theresia Defras. Setelah ia memilih memeluk agama Islam nama nya ia ganti menjadi Henzie Annisa Defras.


Anis sangat ahli dalam menghilangkan dan mencari jejak keberadaan seseorang. Baginya hal itu adalah hobi nya sejak masuk Islam. Dirinya di jadikan buronan oleh keluarga nya sendiri karena keluarga nya tidak memperbolehkan nya memeluk agama Islam. Maka dari itu ia menghapus jejak nya agar tidak tertangkap oleh orang suruhan keluarga nya. Sampai akhirnya Akbar datang menjadi pahlawan yang membela nya di depan keluarga nya. Karena Akbar, keluarga nya juga memperbolehkan bahkan sampai ikut memeluk agama Islam.


" Beneran gak papa? " tanya Al-Fira yang masih sangat khawatir.


" Iya, Bunda "


" Ya udah kamu makan, ya? Bunda udah bikinin kamu bubur " suruh Al-Fira.


" Nggak mau " balas Kania disertai gelengan kepala.


" Terus mau nya apa? "


Kania tersenyum. " Nia mau makan martabak manis " pinta Kania yang berhasil membuat Al-Fira merasa kaget sekaligus heran.


" Martabak manis? Mau beli dimana, Nia? Gak ada yang jual disini "


Wajah Kania berubah menjadi sedih kembali. " Hiks... Nia mau nya martabak manis... Nia mau balik ke Indonesia, mau makan martabak manis, tapi yang buat mas Daffa " pinta Kania.


Al-Fira tersentak di buat nya, karena sebelumnya Kania sudah di bujuk baik baik untuk menyetujui kepergian nya, tapi sekarang ia seperti menyesali nya.


" Kamu kenapa, Nia? "


" Nia kangen mas Daffa. Nia mau di bikinin martabak manis sama Mas Daffa " rengek Kania.


" Kamu sering mu-mual? " tanya Al-Fira ragu.


" Akhir akhir ini sering 'sih tapi cuma pagi hari kayak tadi. Bunda gak usah khawatir, Nia gak papa, kok. Nia cuma pengen martabak manis sekarang " Kania menjelaskan.


" Ka-kamu, ngidam? " Al-Fira bertanya kembali dengan ragu.


" Hah?! Coba di ulang Bunda? Nia salah denger kayak nya " pinta Kania.


" Ka-kamu ngidam? Kamu ha-hamil, Nia? " ulang Al-Fira was was.


" Ha-hamil? Nggak, Nia gak hamil " elak Kania.

__ADS_1


" Berapa minggu kamu belum menstruasi?!" tanya Al-Fira cepat.


" Gak tau, Nia lupa, gak Nia hitungin. Ta-tapi Nia me-merasa belum mens-truasi bu-bulan ini " balas Kania takut takut.


" Bunda harus hubungi dokter " ucap Al-Fira.


" Bu-buat apa, Bunda? Nia gak ha-hamil, kok. Gak mungkin secepat ini. Nia cuma ke capek-an doang, makanya telat menstruasi " bantah Kania.


" Kita harus mengecek nya " ucap Al-Fira seraya pergi dari dalam kamar Kania.


" Anis... " terdengar sayup sayup Al-Fira memanggil adik ipar nya.


Kania mematung setelah nya menunduk ke bawah. " Apa kamu benar sudah ada disana?" tanya Kania dengan tangan yang terulur di atas perut rata nya.


__________


" Bagaimana hasil nya, dok? " tanya Anis dengan menggunakan bahasa Belanda.


Dokter itu menjelaskan keadaan Kania dengan menggunakan bahasa Belanda dan hanya Anis yang mengetahui apa yang di katakan oleh dokter itu.


Anis mengucapkan terima kasih kepada dokter itu sebelum dokter pamit dan kembali ke rumah sakit tempat ia bekerja.


" A-apa yang dokter itu bilang, tante? " tanya Kania kepada Anis dengan ragu.


" Ma-maksud tante? " tanya Kania.


" Anis ku mohon jelaskan dengan benar " pinta Al-Fira.


" Nia, kamu... Kamu sedang mengandung anak Daffa saat ini. Semua keputusan ada di tangan Kamu, tante gak bakal ikut campur" ucap Anis. Semua yang berada di dalam kamar itu terkejut termasuk Kania.


" Mah, Kayla, Iqbal, ayo kita keluar. Mereka yang akan menyelesaikan nya " suruh Akbar.


" Iya mas. Ayo keluar anak anak " ajak Anis seraya keluar dari dalam kamar Kania.


" Iya Mah " balas Kayla dan Iqbal serempak. Akbar, Anis, Kayla dan Iqbal keluar dari dalam kamar Kania.


" Makasih Akbar, Anis " ucap Husein sebelum menutup pintu kamar.


" Iya bang " balas Akbar-sang adik.


" Bunda, Nia mohon jangan apa apa-in anak Nia. Nia mau mengurus nya " pinta Kania penuh harap.


" Tapi dek, jadi orang tua itu tidak mudah, apalagi single parent. Mas takut kamu gak sanggup " ucap Revan penuh perhatian.

__ADS_1


" Nia akan berusaha yang terbaik Mas. Nia mohon " ucap Kania.


" Yang di katakan oleh Revan benar, Nia. Kamu masih muda, masa depan mu masih panjang, kamu masih bisa mengejar cita cita mu, jangan sampai masa muda mu terlewatkan sia sia hanya karena mengurus anak " ucap Al-Fira.


" Tapi Bun, Nia gak papa " kekeh Kania.


" Nia, Ayah mau kamu gugur kan anak itu! Ayah gak mau mereka datang dan mengambil hak asuh anak itu dan meninggalkan kamu, karena yang mereka inginkan hanya seorang keturunan mereka dari kamu. Lagipula kamu masih bisa hamil lagi setelah nya " suruh Husein.


Kania memandang semua dengan tatapan marah bercampur kecewa. " Ayah, Bunda, Mas Revan. Bagaimana bisa kalian para orang tua berfikir seperti itu. Apa kalian mau anak kalian di bunuh? "


" Tentu tidak, Nia " balas Al-Fira cepat.


" Nia-pun seperti itu, Bunda! Nia gak mau anak Nia juga di bawa bawa dalam masalah ini. Nia juga mau merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua, Bunda "


" Kalau kalian tidak mengizinkan Nia bersama dengan Mas Daffa, setidaknya kalian mengizinkan anak ini untuk hidup bersama ibu nya. Nia mohon " pinta Kania penuh harap seraya menyeka air mata nya yang turun begitu saja.


" Nia... " panggil Al-Fira pelan.


" Nia mohon Bunda, Nia mohon. Ayah, Mas Revan, Nia mohon. Kak Dinda, kak Dinda dukung Nia 'kan? "


" Ayah, Bunda, Mas Revan, tolong berikan Nia kesempatan untuk merawat dan membesarkan anak juga, Dinda rasa tidak ada salah nya. Dinda yakin Nia bisa melakukan nya " ucap Dinda mendukung Kania yang dari tadi hanya diam dan melihat saja.


" Makasih, Kak Dinda. Bunda, Ayah, Mas Revan, denger 'kan apa yang di katakan kak Dinda? Nia mohon... " pinta Kania penuh harap.


Husein, Al-Fira dan Revan saling memandang satu persatu. " Baiklah. Rawat dan besarkan anak mu baik baik " ucap Husein mewakili yang lain nya.


Senyum Kania seketika mengembang. "Makasih Ayah. Nia sayang semua nya" ucap Kania kegirangan seraya meloncat loncat di atas ranjang nya.


" Nia jangan kayak gitu! " peringat Al-Fira dan Dinda yang ngilu melihat nya. Nia menurut dan kembali duduk.


" Maaf "


" Ya udah kamu istirahat, Bunda bikinin martabak manis, nanti " suruh Al-Fira.


" Makasih Bunda " balas Kania. Yang lain keluar dan menutup pintu kamar Kania, menyisakan Kania sendiri di dalam kamar.


" Kamu baik baik di dalam ya, sayang. Jika Ayah mu tidak ada untuk menemani Bunda, setidak nya kamu ada untuk hidup Bunda. Bunda sayang kamu " batin Kania seraya mengusap pelan perut datar nya.


__________


**MAMPIR KE NOVEL BARU AKU YUK, JUDUL NYA "My Love Defense" TINGGAL KLIK PROVIL AKUN AKU NTAR ADA KOK NOVEL NYA.


MAKASIH**.

__ADS_1


__ADS_2