
Setelah memarkirkan mobil, Husein berlari menuju ruangan rawat anak Kania. Kania semakin yakin pasti terjadi sesuatu yang membuat wajah Ayahnya sangat cemas.
"Bagaimana kejadiannya, sus? Bagaimana bisa? Sekarang ia ada dimana?" Tanya Husein kepada suster yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Maaf, ruangan ini baru saja dibereskan kembali alat-alat medisnya. Pasien di dalam ruangan ini sudah dipindahkan-"
"Siapa yang anda maksud, suster?! Di dalam ada anak saya, kenapa dipindahkan?!" Tanya Kania membentak.
Husein menatap Kania. Menghampiri Kania dan menggenggam tangan Kania.
"Kamu harus bisa mengikhlaskannya, Nia." Ucap Husein.
"Siapa Ayah, siapa?! Aku harus ikhlaskan siapa?! Bicara yang jelas Ayah!" Kania melepaskan tangan yang dipegang oleh Husein.
"Jangan sedih ya, sekarang tubuh Shasha udah gak perlu dipasang alat medis lagi, Shasha udah gak merasakan sakit lagi," Husein menghentikan ucapannya sejenak. Air matanya tak bisa ia bendung lagi.
"Shasha lebih senang disana. Kalau disana dia gak bakal ngerasain sakit lagi." Lanjut Husein.
"Ayah, maksud Ayah apa?! Kenapa Ayah nangis?" Tanya Daffa mewakili Kania yang juga ikut cemas.
"Shasha udah gak bisa bersama kita," Husein menjeda ucapannya kembali.
"Kenapa Yah, kenapa?"
"Shasha udah tiada, Nia." Ucap Husein memperjelas ucapannya.
"Innalillahi ...." Terdengar gumaman yang keluar dari mulut masing-masing anggota keluarganya.
Deg ....
Tubuh Kania lemas seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini. Kania menjatuhkan dirinya, tak sanggup mendengarnya kenyataan yang mengatakan kalau anaknya telah tiada. Kania menutup wajahnya dan bergumam mengatakan bahwa anaknya masih hidup.
"Ayah, Ayah pasti bohong. Kemaren Sahsha gak kenapa napa." ucap Daffa tak percaya. Husein hanya diam, air mata sebagai jawaban atas pertanyaan Daffa.
"Daffa gak akan percaya sebelum Daffa liat sendiri." Ucap Daffa berlalu memasuki ruangan yang sebelumnya tempat dimana anaknya dirawat.
"Mas jangan bercanda, mas!" Jcap Al-Fira sedikit membentak.
"Buat apa mas bercanda, Bun?" Jawab Husein jujur.
Daffa keluar dari ruangan anaknya yang sudah kosong. "Katakan dimana anak saya, suster?!" Daffa membentak perawat yang membereskan alat alat medis yang sebelumnya dipakai anaknya.
__ADS_1
Perawat yang dibentak oleh Daffa menunduk takut." Mari ikut saya." Balas perawat itu yang tetap menundukkan kepalanya.
Daffa berjongkok mensejajarkan posisinya dengan Kania yang duduk di lantai rumah sakit. "Shasha kuat. Dia pasti gak akan pergi secepat ini. Aku akan memeriksanya langsung." ucap Daffa menyemangati Kania.
Daffa berdiri kembali dan mulai mengikutinya langkah perawat yang akan mengantarkannya ketempat dimana anaknya berada.
Kania mendongak menatap kepergian Daffa, Husein dan Akbar yang mengikuti langkah perawat di depannya.
"Apa kamu mau disini terus?" Tanya Al-Fira.
Kania menggeleng. "Shasha gak akan kemana mana. Nia sama mas Daffa yang akan merawatnya." balas Kania langsung berdiri dan mengikuti langkah Daffa yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
Al-Fira dan Anis saling bertatapan. "Apa yang harus kita lakukan, mba?" Tanya Anis khawatir.
"Aku juga gak tau, Nis. Kita ikuti mereka dulu. Aku takut Nia kenapa napa." balas Al-Fira yang diangguki oleh Anis.
__________
Daffa berhenti melangkah saat perawat yang tadi memberhentikan langkahnya didepan kamar jenazah.
Tubuh Daffa terasa kaku untuk digerakkan. Ia tak sanggup melihatnya. Anaknya yang selama dikandungan Ibunya tak pernah ia ketahui. Setelah lahir 'pun ia baru beberapa kali bertemu dengannya karena dokter yang menghalanginya. Sekarang ia sudah pergi untuk selamanya.
Perlahan Daffa menggerakkan kakinya menuju pintu masuk ruang jenazah tersebut.
Perlahan Daffa memutar knop pintu dan membuka pintunya yang tidak terkunci.
Terdapat ranjang rumah sakit yang atasnya terdapat kain putih yang menutupi sesuatu dibawahnya.
Daffa berjalan menuju ranjang itu. Perlahan membuka kain yang menutupi ranjang rumah sakit.
Air mata Daffa menetes begitu saja setelah melihat siapa yang berada dibalik kain putih tersebut. Tangannya terulur untuk mengangkat tubuh mungil yang sudah terbujur kaku diatas ranjang rumah sakit.
"Anak Ayah ...." Lirih Daffa. Daffa menggendong anaknya, memeluk erat tubuh kaku itu.
"Shasha, bangun sayang. Shasha kuat, Shasha gak boleh tinggalin Ayah." Tubuh Daffa bergetar kuat. Menangisi kepergian anaknya.
Kania baru saja datang langsung berhenti di ambang pintu. Langkahnya terkunci setelah Daffa mengatakan nama anak mereka.
"Mas, itu bukan Shasha. Kamu pasti salah. Shasha kita belum pergi, mas." Perlahan Kania menghampiri Daffa yang sedang memeluk tubuh mungil yang sudah pucat.
Daffa memutar tubuhnya melihat siapa yang datang. Daffa memberikan bayi itu kepada Kania yang sudah berada disampingnya.
__ADS_1
Kania menerima bayi itu. Hatinya berdesir setelah menggendong bayi itu.
"Shasha ...." Tangis Kania pecah setelah melihat wajah bayi yang sudah pucat pasi. Wajah yang biasanya ia lihat dari balik kaca jendela, kini ia melihatnya langsung dalam keadaan tak bernyawa.
"Shasha .... Shasha kenapa pergi tinggalin Bunda?" Kania terjatuh dan duduk dilantai rumah sakit. Kania memeluk dan menangisi anaknya yang sudah berpulang terlebih dahulu.
"Kenapa Shasha yang pergi? Kenapa bukan Bunda?" Tangis Kania semakin kencang.
"Maaf-in Bunda, sayang. Harusnya Shasha gak kayak gini. Harusnya Bunda yang pergi, bukan Shasha" Kania meraung makin kencang.
Daffa berjongkok memeluk Kania yang sedang menangis memeluk anak mereka.
"Itu bukan salah kamu, Nia."
"Terus salah siapa?! Harusnya aku yang pergi, bukan Shasha. Shasha masih kecil mas."
"Jangan salahkan diri kamu, Nia. Shasha pergi itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Jangan salahkan diri kamu atas kepergiannya." Al-Fira datang dan menghampiri Daffa Kania.
"Harusnya Nia yang pergi, Bunda ...." Lirih Kania.
"Huss .... Gak boleh ngomong kayak gitu. Kamu harus ikhlas, Nia." Suruh Al-Fira.
"Nia gak bisa maaf-in diri Nia sendiri, Bunda. Shasha pergi karena Nia. Nia egois Bunda," lirih Kania.
"Nia gak berhak bahagia setelah ini. Nia udah buat anak Nia sendiri meninggal, Bunda." Lanjut Kania.
"Sudah Bunda bilang, jangan salahkan diri kamu atas kejadian ini, Nia." Peringat Al-Fira.
"Permisi, jenazah harus segera dimandikan sebelum dikebumikan." Ucap perawat yang baru saja datang.
Kania mengangkat kepalanya, menatap tajam kearah perawat tersebut. "Gak ada yang akan dikebumikan!" Balas Kania tajam.
"Tapi-"
"Pergi! Kalian pergi! Gak ada yang boleh ambil anakku!" Usir Kania berteriak.
"Nia ka-"
"AKU BILANG PERGI KALIAN SEMUA!!!" Teriak Kania seperti orang kerasukan.
Al-Fira pergi untuk memberikan waktu kepada anaknya supaya lebih tenang. Perawat itu 'pun ikut keluar dan menutup pintu ruangan itu. Hanya Daffa yang tidak keluar. Ia masih setia menemani Kania yang terus menerus menyalahkan dirinya atas kepergian anaknya.
__ADS_1
__________