Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 49


__ADS_3

"Jangan. Kalian mau apa?" Kania mundur perlahan karena para penggemar Daffa mendekatinya.


"Kita mau lo mati, Kania Fellyta!!" balasnya disertai tawa jahat mereka.


"Aaakhh ...." tubuh Kania didorong kasar oleh mereka.


Byuur...


"NIIIAAA!!!" teriak Daffa dan teman-teman Kania serempak saat baru sampai disana. Daffa berlari ke arah pembatas dinding kapal dan menjatuhkan kotak yang tadinya akan ia berikan kepada Kania. Teman Kania dan teman Daffa ikut berlari dibelakang Daffa.


"Daffa ...." para penggemar Daffa tersentak karena Daffa ada disana.


"Kalian, siapin perahu yang ada di lantai paling bawah kapal ini. Dan minta bantuan sama Om Reza! " suruh Daffa kepada temannya.


Byuur...


Tanpa pikir panjang, Daffa ikut menyelam untuk menyelamatkan Kania.


"DAFFA, G*B**K LO!!!" teriak temannya.


"CEPET!!!" Daffa teriak dari bawah. Temannya segera berlari ke tempat dimana kepala sekolah itu berada. Kepala sekolah? Ya, Om Reza yang ia maksud adalah kepala sekolah mereka.


"Pak, ayo ikut saya pak!" ajak Arga yang langsung menarik tangan kepala sekolahnya.


"Hei, lepas. Ada apa ini?" Reza menepis tangan Arga.


"Daffa dan Kania, keponakan Bapak tenggelam. Ia suruh kami untuk mengambil perahu yang berada dibawah kapal ini!" Kevin menjelaskan.


"Daffa dan Kania?" tanya Reza memastikan.


"Iya, pak!"


"Bagaimana bisa?!" Reza panik.


"Nanti kami cerita. Ayo, pak!!!"


"Baiklah" Reza dan lainnya berlari menuju bawah kapal untuk mengambil perahu yang diminta oleh Daffa.


Sebelum sampai dilantai paling bawah, Reza berbelok ke arah mesin pengemudi kapal tersebut. "Matikan mesinnya. Cepat!!" suruh Reza kepada nahkoda.


"Kenapa tuan?" tanya nahkoda itu heran.

__ADS_1


"Cepat! Saya bilang cepat! Apa kurang jelas?!!!" Reza memarahi nahkoda itu.


"Baik tuan." Mesin kapal mati sesuai arahan dari Reza.


Setelahnya Reza berlari kembali menuju lantai paling bawah. Dengan cepat ia mengeluarkan perahu penyelamatan. Reza menekan tombol yang ada disana dan setelahnya terbuka sebagian tembok penghalang itu. Reza dan lainnya segera mendorong perahu itu untuk menjatuhkannya diatas permukaan laut agar Daffa dan Kania dapat menggapainya.


"DAFFA!!!" teriak Reza.


"Aku disini, Om!" balas Daffa yang sedang membawa tubuh Kania dan meletakkannya diatas perahu tersebut setelahnya Daffa ikutan naik ke atas perahu itu.


"Alhamdulillah ...." Reza bernafas lega karena Daffa baik baik saja, tapi tidak dengan Kania yang tidak sadarkan diri.


"Cepat tarik talinya!" titah Reza. Arga, Kevin dan Rendi mengangguk lalu menarik tali tambang yang terhubung dengan perahu itu.


"Bawa dia ke ruang kesehatan!" titah Reza setelah perahu itu sudah bersebelahan dengan kapal mereka.


"Iya, Om" Daffa membopong tubuh Kania yang tak berdaya menuju ruang kesehatan yang ada di kapal itu.


Sementara itu, di lantai paling atas terjadi perkelahian antara murid perempuan.


"GILA LO!! KALAU SAMPE NIA KENAPA NAPA, SIAP-SIAP UNTUK BALASAN LO!!!" Nesya berteriak seraya menjambak rambut cewek yang paling depan mendorong tubuh Kania.


"GUE GAK TAKUT! LEPAS, RAMBUT GUE RUSAK, B*NG**T!!! " balasnya. Lalu dengan cepat, Nesya didorong kasar oleh semua temannya. Nesya terhuyung ke belakang tapi dengan cepat ditangkap oleh Indah dan Kiara.


Semua diam, tak ada yang maju karena takut. Tentunya mereka sangat kenal Nesya Alicia-sang juara bela diri. Mereka takut anggota tubuh mereka tak lagi bisa digunakan jika adu bela diri dengan Nesya.


"Cupu lo semua. Gak ada yang maju? Oke, gue yang mulai" Nesya sudah siap dengan kuda-kudanya yang kokoh dengan tangannya yang terkepal siap meninju siapa saja yang berada didepan nya.


"Stop Nesya!" intruksi dari Aina.


"Jangan kotori tangan lu untuk ngurus mereka! Lu lupa? Guru BK kita? Bu Rita yang akan ngurus mereka. Ya kan bu?" lanjut Aina yang baru saja datang bersama Bu Rita yang berada disampingnya.


"Tentu! Kalian semua ikut saya!" tegas Bu Rita. Aina, Indah, Kiara dan Nesya tersenyum penuh kemenangan.


"Kalian juga ikut Ibu, sebagai saksi mata! Panggil siapa saja orang yang melihat kejadian ini!!" suruh Bu Rita kepada Aina, Indah, Kiara dan juga Nesya.


"Baik bu"


__________


"Gimana keadaannya, dok?" tanya Daffa setelah Kania diperiksa oleh dokter itu.Fasilitas yang berada di kapal ini memang sangat lengkap, semua yang dibutuhkan pasti ada di dalam kapal ini.

__ADS_1


"Tak berbeda jauh dari sebelumnya."


"Kapan dia akan tersadar?" Reza ikut bertanya.


"Saya belum tau. Kemungkinan hari ini ia belum bisa sadar, akibat benturan kapal yang keras mengenai kepalanya membuatnya tak sadarkan diri. Dan lebih parahnya lagi, kepalanya yang terbentur tak mengeluarkan darah sedikit pun dan ini yang menyebabkan luka bagian dalam disekitar kepalanya"


"Juga tubuhnya yang hampir terluka parah akibat tersedot oleh baling-baling air di kapal ini. Untung dengan cepat mesin kapal dimatikan sehingga hanya beberapa bagian saja yang terluka, namun cukup dalam dan kemungkinan akan lama untuk lukanya mengering " tutur dokter itu.


"Setelah sadar, ada beberapa obat yang perlu ia minum dan habiskan. Untuk sementara ini, dia akan diberikan obat melalui selang infus ditangannya. Dan juga obat luar yang harus selalu diolesi dibagian lukanya agar lebih cepat mengering dan menutup kembali lukanya" dokter itu kembali menjelaskan seraya memberikan beberapa obat yang sudah ia siapkan.


"Terima kasih, dok" balas Reza sedangkan Daffa hanya menatap kosong ke arah Kania yang terbaring lemah.


"Iya, sama-sama tuan. Kalau ada perlu silahkan panggil saya melalui tombol tersebut. Saya akan segera kemari" ucap dokter itu seraya menunjuk tombol yang berada diujung ruangan.


"Iya, saya mengerti."


"Kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan saya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" balas Reza dan Daffa. Reza menutup kembali pintu ruangan itu.


Tok .... Tok .... Tok ....


Pintu ruangan yang baru saja ditutup, diketuk kembali dari luar.


Reza membuka nya "Ya, ada apa?" tanyanya.


"Maaf Pak, permisi. Saya disuruh oleh Bu Rita untuk memanggil saksi mata atas kejadian yang terjadi hari ini" balasnya sopan.


"Baiklah. Silahkan kembali"


"Iya Pak" Reza menutup kembali pintu itu.


"Kau dipanggil untuk saksi mata atas kejadian ini" ucap Reza menyampaikan.


"Baiklah. Om, tolong hubungi perawat untuk menjaga Nia. Dan Om akan ikut aku untuk membalas mereka. Aku butuh persetujuan dari Om" balas Daffa disertai dengan senyum jahatnya.


Kalau sudah begini, Reza tak bisa menolak sekalipun. "Hemm .... Oke." balas Reza menyetujui.


"Kalian bermain dengan orang yang salah. Akan ku balas permainan yang kalian mulai lebih dulu" ucap Daffa seraya berdiri dari duduknya.


"Tunggu aku, sayang. Aku akan membalas apa yang kau rasakan" ucap Daffa kepada Kania seraya mencium lembut keningnya.

__ADS_1


"Ayo, Om. Aku sudah sangat tak sabar akan hal ini" ucap Daffa seraya keluar lebih dahulu dari dalam ruangan Kania. Reza menurut dan mengikutinya dari belakang.


__ADS_2