Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 62


__ADS_3

Setelah delapan belas jam lebih perjalanan Daffa dari Indonesia menuju Amsterdam-Belanda, akhirnya malam ini Daffa sudah mendarat dengan selamat di tempat tujuannya. Setelah mendarat, Daffa langsung diarahkan oleh beberapa bodyguard Papahnya menuju hotel yang sebelumnya sudah dipesan oleh Papahnya.


Pagi hari Daffa langsung membuka halaman pencarian dan membuka website perusahaan yang dibilang oleh Arga bahwa itu adalah perusahaan yang sama dengan perusahaan milik keluarga Kania.


Daffa menyuruh beberapa orang untuk melacak keberadaan perusahaan tersebut di Amsterdam.


"Kami sudah menemukan titik asli perusahaan yang anda minta, tuan" ucap orang suruhan Daffa dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Benarkah? Secepat itu?" tanya Daffa antusias.


"Iya tuan."


"Dimana? Cepat katakan?!" Pinta Daffa tak sabar.


"Titik aslinya berada disebuah komplek perumahan mewah yang berada dekat dari sini. Mereka memanipulasi titik asli perusahaan tersebut, tuan" ucapnya.


"Dimana alamatnya?" tanya Daffa. Orang suruhan itu mengajak Daffa untuk menunjukkan letak perumahan itu.


"Terima kasih. Ini bayaran mu" ucap Daffa saat mereka sudah berada di depan rumah mewah tersebut. Orang itu menerimanya dan mengucapkan terima kasih, setelahnya ia pamit undur diri.


"Tolong tunggu disini, saya mau masuk ke dalam tanpa kalian" suruh Daffa pada bodyguard nya.


"Baik tuan muda."


Daffa berjalan perlahan. Ia sangat gugup saat ini karena akan ada dua kemungkinan. Yang pertama dia bisa jadi salah alamat, dan yang kedua ia gugup karena ini akan jadi pertemuan pertama mereka setelah tujuh bulan lamanya.


Ting .... Tong ....


Daffa menekan bel rumah yang terletak di sebelah kanan pintu masuk.


Ting .... Tong ….


Karena bel pertama tak ada yang menjawab, Daffa memutuskan menekan bel kembali.


"Ja, een ogenblik." (Iya, sebentar) sayup-sayup terdengar sampai luar suara teriakkan orang dari dalam rumah tersebut.


Daffa yang mendengarnya tak sadar jika ia sedang menangis saat ini. Memang bahasa yang orang itu gunakan bukanlah bahasa Indonesia, tapi ia tau dengan sangat jelas suara kekasih halalnya itu-Kania.


Ceklek ....


Pintu dibuka dari dalam dan menampakkan wanita cantik yang terbalut dengan gamis longgar berwarna baby pink dengan kerudung senada yang ia gunakan.


"Mas Daffa ...." cicitnya pelan. Kania-orang yang membukakan pintu masuk untuk Daffa itu sangat terkejut. Saat ini perasaan Kania campur aduk antara senang karena orang yang selama ini ia rindukan ada di hadapannya, dengan takut karena ia akan mengambil paksa calon anaknya.


"Nia ...." dengan cepat Daffa memeluk erat tubuh Kania yang terlihat semakin besar.


Kania mematung. Ia tak membalas pelukan dari Daffa.


Daffa merasa ada yang janggal dari Kania. Daffa melepaskan pelukannya dan beralih menatap bawah Kania. Daffa terbelalak kaget melihatnya.

__ADS_1


"Ka-kamu .... Kamu ha-mil? Udah berapa bulan?" Tanya Daffa berbinar.


Kania tersadar. " I-iya. U-dah tu-tujuh bulan, dua minggu" balas Kania menunduk takut-takut.


Daffa tersenyum bahagia. Tapi tak lama raut wajahnya berubah, ia merasa kasihan kepada Kania. Itu semua karena ulah Fahriz-Papahnya.


"Kamu tau dari mana tempat ini, mas?"


"Ku mohon, mas. Jangan, jangan ambil anakku. Biarkan dia tumbuh sama aku, mas. Jangan ambil dia dari Nia, mas. Nia mohon. Terserah kamu mau apa, tapi tolong jangan pisahkan aku dengan dia, mas" ucap Kania memohon mohon dengan air mata yang tak dapat ia bendung lagi. Perlahan ia memundurkan tubuhnya dari ambang pintu.


Daffa mengerti sekarang. Kania takut kalau dirinya akan mengambil anak mereka secara paksa, padahal dirinya datang untuk menjemput Kania untuk kembali pulang bersama. Daffa menarik tangan Kania "Apa yang ...." ucap Daffa terpotong saat Kania yang langsung menepis tangannya.


"Maaf mas. Mas sebaiknya balik ke Indonesia. Mas jangan ambil dia, mas .... Ayah, Bunda, Mas Revan, kak Dinda ...." Panggil Kania berteriak.


"Om Akbar …. Tante Anis .... Tolong Nia" lagi-lagi Kania berteriak takut.


Daffa mengambil tangan Kania "Nia, sayang, dengerin Mas. Mas gak bakal ngapa ngapain kalian, mas ...." Ucap Daffa terpotong.


"Mas, Nia mohon sama kamu, tolong pergi dari sini"


"Gak, aku gak bakal pergi!" Bantah Daffa.


"PERGI MAS, PERGI!!!"


"PERGI!!! Akh ...." Kania merasakan sakit yang amat sangat dibagian bawah perutnya.


"Nia ...." Ucap Daffa khawatir.


"Akh .... Sa-kit" racau Kania yang memegangi perutnya.


"Kenapa Nia?" dari ujung tangga keluarganya Kania terlihat.


Mendengar suara Kania yang merintih kesakitan dengan cepat Revan berlari dari tangga menuju tempat Kania berdiri dan disusul pula oleh Dinda beserta yang lainnya di belakang Revan.


"Kamu kenapa Nia?!" tanya Daffa cemas. Beralih Daffa melihat ke bawah. Lagi lagi Daffa terkejut di buatnya. Di lihatnya dari bawah gamis Kania terdapat air yang bercampur dengan darah segar yang mengalir disana.


"Dek kamu .... Astagfirullah .... Nia!!" Ucap Revan yang juga terkejut melihatnya.


"Ayo" ajak Daffa.


"Aku gak mau ikut kamu, mas" tolak Kania kekeh. Daffa tak peduli, dia langsung menggendong tubuh Kania ala bridal style dan membawanya menuju mobil yang ia bawa.


"Turunin aku. Akh .... Turunin, ma-as" suruh Kania memukul dada bidang Daffa.


"Daffa!!! Kembalikkan Nia!!!" Teriak Revan yang tak terima adiknya dibawa pergi oleh Daffa.


"Buka-kan pintu nya, cepat!!!" ucap Daffa menyuruh bodyguard nya. Daffa tak peduli dengan ucapan yang Kania suruh dan panggilan Revan, yang ia cemasi saat ini adalah kondisi Kania.


Bodyguard yang di suruh 'pun mengangguk dan langsung membuka-kan pintu mobil untuk tuan muda nya.

__ADS_1


"Ke rumah sakit terdekat. Cepat!" Suruh Daffa setelah memasukkan Kania ke dalam mobilnya.


"Akh .... Gak ku-kuat. Akh ...." Kania terus merintih kesakitan yang mana membuat Daffa semakin panik.


"Bertahan-lah, ku mohon" pinta Daffa mengecup tangan Kania.


Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai oleh bodyguard nya telah sampai di rumah sakit terdekat. Dengan cepat Daffa mengeluarkan Kania dan menaruh nya di atas brankar.


"Se-lamatkan sa-ja anak ku. Jangan pedulikan a-ku. Ku mohon" pinta Kania.


"Kamu ngomong apa, Nia?!! Jangan bodoh, Nia. Aku tak akan mengorbankan kamu, ingat itu!"


"Ni-a mohon" ucap Kania sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruang bersalin.


"Gak, kamu gak boleh pergi, Nia. Aku gak bisa harus jauhan lagi sama kamu" racau Daffa membolak balikkan tubuhnya, tak tenang.


Tak lama semua keluarga Kania datang dengan rasa cemas menyelimuti semuanya.


"Semua gara gara kamu!!!" Bentak Revan menarik kerah baju Daffa dengan tangan mengepal siap untuk memukulnya. Dengan sigap beberapa bodyguard Fahriz menahan gerakkan Revan.


"Tenangkan diri mu, Revan!" Titah Husein.


Revan menurut. "Apa kau tau kalau kandungan Nia sangatlah lemah? Seharusnya kandungannya harus segera digugurkan karena umurnya yang masih muda untuk hamil, tapi ia memaksa kami sekeluarga untuk memperbolehkan ia mengandung dan merawatnya" Revan menjambak rambutnya, ia frustasi.


"Kami semua telah berusaha agar Kania tidak banyak pikiran dan stres, tapi kamu dengan gampangnya dateng dan buat Nia pendarahan. Kamu buat Nia stres, kamu buat Nia banyak pikiran. Seharusnya kamu gak perlu dateng kesini! Kamu lebih baik pergi sekarang!" Lanjut Revan kesal.


"Gak, aku gak bakal pergi. Aku akan menemani Nia sampai kapanpun!!" Bantah Daffa.


"Hah!! Tentu, karena kamu dateng kesini hanya untuk mengambil anak kamu lalu menceraikan Kania. Tapi tenang, itu gak akan terjadi karena kami tentu akan bertindak juga, Daffa!!" Ucap Revan.


"Nggak, itu gak akan terjadi. Semua itu rencana Papah dan aku tak paham apapun. Jadi ...."


"Jadi kau dateng kesini untuk menjalankan perintah Papahmu, saya tau rencana kamu!!!" Ucap Revan memotong pembicaraan Daffa.


"Tidak..."


"STOP! SUDAH! SAAT INI NIA SEDANG BERJUANG DI DALAM, TAPI KALIAN MALAH BERDEBAT?!! Ayah mohon diam!!" Titah Husein. Daffa dan Revan terdiam seketika.


"Permisi, maaf, suami pasien yang mana?" Tanya seorang perawat menggunakan bahasa Belanda.


"Kami keluarganya. Ada apa?" Balas Anis mewakili.


"Maaf, yang kami butuh suami pasien" pinta perawat itu.


"Baiklah. Dia suaminya. Tolong gunakan bahasa Inggris padanya" balas Anis menunjuk Daffa.


"Baiklah. Terima kasih" balas sang perawat.


"Permisi, tolong ikut kami ke ruangan dokter, tuan" pinta sang perawat kepada Daffa. Daffa mengangguk dan mengikuti langkah perawat di belakangnya.

__ADS_1


"Apa yang perawat itu bicarakan, Anis?" Tanya Al-Fira.


"Entahlah .... Dia hanya mencari Daffa " balas Anis seadanya.


__ADS_2