Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 63


__ADS_3

"Ku mohon selamatkan keduanya, dok" pinta Daffa setelah diberikan dua pilihan oleh dokter yang berada di depannya. Antara memilih menyelamatkan Kania atau anaknya.


"Maaf tuan, akan sangat sulit untuk kami menyelamatkan keduanya. Kandungan istri anda sangatlah lemah dan salah satu dari mereka harus dikorbankan" ucap sang dokter yang berada di depan Daffa.


"Ku mohon dokter .... Selamatkan keduanya" pinta Daffa memohon.


"Baiklah, akan kami usahakan. Tapi jika salah satu dari mereka tak bisa kami tolong, jangan salahkan kami. Saya permisi" ucap dokter tersebut meninggalkan Daffa dan kembali berjalan menuju ruang operasi.


Daffa melihat punggung dokter tersebut yang perlahan menghilang dari pandangannya. "Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk kalian" gumam Daffa.


Tiba-tiba Daffa teringat tentang masjid. "Sholat sunah dulu deh, biar lebih tenang" batin Daffa.


Daffa berjalan mencari masjid atau mushola terdekat.


Setelah sholat sunah Daffa berdoa, dia menceritakan keluh kesah kepada-Nya. Ia meminta petunjuk jalan keluar masalahnya kepada sang pencipta alam semesta beserta isinya.


Selesai menceritakan keluh kesahnya kepada Tuhannya, Daffa kembali berjalan menuju ruangan dimana Kania melakukan operasi.


Daffa menunggu berita baik tentang Kania dari luar ruangan. Ia duduk, tapi tetap saja ia merasa tak tenang.


Daffa langsung berdiri dari duduknya setelah melihat lampu yang berada di ruangan operasi Kania mati, menandakan operasi telah selesai.


"Bagaimana keadaan keduanya dok?" Tanya Daffa menggunakan bahasa Inggris saat dokter yang menangani Kania telah keluar dari dalam ruang operasi.


Dokter itu menarik nafas panjang, lalu hembuskan. "Keduanya selamat ...."


"Alhamdulillah ...." Belum sempat dokter itu melanjutkan ucapannya, sudah dipotong oleh keluarga Kania termasuk Daffa yang juga sangat senang mendengarnya.


"Maaf, saya belum selesai bicara" ucap dokter tersebut setelah berdehem.


Semua perhatian teralihkan kembali kepada dokter tersebut.


"Tolong katakan, dokter" pinta Al-Fira penuh kekhawatiran.


"Jadi begini, keduanya berhasil saya selamatkan tapi ..."


"Tapi apa, dok?" Tanya Daffa karena dokter tersebut menggantungkan ucapannya.


"Maaf sebelumnya, bayinya kritis. Sangat kecil kemungkinan untuknya bertahan hidup karena dia lahir secara prematur."


"Tapi, bukankah bayi yang lahir secara prematur bisa dimasukkan inkubator, dok?" tanya Dinda yang memang berpengalaman saat melahirkan Rena-anaknya.


"Memang bisa, tapi ini berbeda. Rahim ibunya sangat lemah karena umurnya yang terlalu muda jadi, itu juga yang mempengaruhi perkembangan bayinya"


"Mungkin keadaannya tak akan seburuk ini jika kelahirannya seperti bayi bayi normal lainnya" lanjut dokter tersebut.

__ADS_1


"Tolong lakukan yang terbaik dok" pinta Daffa.


"Tentu"


"Lalu keadaan putri saya gimana, dok?" Tanya Al-Fira.


"Mungkin beberapa jam lagi ia akan siuman, tunggu saja"


"Terima kasih, dok" balas Husein.


Dokter itu mengangguk. "Saya permisi" pamit dokter itu.


"Suster, tunggu!" Ucap Daffa menahan salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Iya, kenapa tuan?" Tanya perawat itu.


"Dimana anak saya?"


"Bayi anda masih di dalam ruang operasi, sedang di mandikan oleh perawat yang lain."


"Boleh saya masuk untuk melihatnya?" Tanya Daffa meminta izin.


"Untuk apa, tuan?"


"Saya ingin bertemu dengannya sebentar." Balas Daffa.


"Ini bayi anda. Tolong jangan terlalu lama karena kami akan segera memindahkannya ke dalam inkubator." Peringat perawat tersebut.


"Baik suster. Terima kasih." Perawat tersebut mengangguk. Ia mundur beberapa langkah untuk mengingatkan batas waktu kepada Daffa nantinya.


Daffa mematung melihatnya. Hatinya bergetar saat pertama kali melihat bayi mungil yang masih merah terpasang selang infus disekitar tubuhnya. Daffa miris melihatnya.


Perawat itu maju kembali. "Mau saya ambilkan?" Tawar perawat tersebut.


"Tolong" balas Daffa. Perawat itu mengangguk dan perlahan mengangkat tubuh mungil bayi itu dan menyerahkannya kepada Daffa, Daffa menerimanya.


"Assalamualaikum anak Ayah yang cantik" ucap Daffa kepada bayinya setelah perawat tersebut memberitahukan jenis kelaminnya.


Daffa mendekatkan telinga bayinya kearah mulutnya dan mulai melantunkan adzan di telinga kanan bayinya dan iqomah di telinga kiri bayinya dengan sangat merdu.


Cup ....


Daffa mengecup pipi tembem bayinya sebelum ia letakkan kembali di dalam inkubator.


"Cepat sehat ya anak Ayah. Ayah tinggal dulu, assalamualaikum" pamit Daffa sebelum keluar dari dalam ruangan bayi tersebut.

__ADS_1


Daffa keluar dari ruangan bayinya dan berniat melihat keadaan Kania yang sudah dipindahkan ke ruang rawat beberapa menit yang lalu.


Puk ....


Belum sampai di ruangan Kania, pundak Daffa ditepuk dari belakang. Daffa menghentikan langkahnya dan memutar tubunya mencari orang yang menepuknya.


"Saya mau bicara sama kamu" ucap Husein-orang yang menepuk bahu Daffa. Daffa mengangguk, mengurungkan niatnya dan segera mengikuti langkah Husein yang berjalan duluan di depannya.


"Kamu serius?" tanya Husein mendudukkan tubuhnya di kursi taman rumah sakit tersebut.


"Apa Yah?" Daffa bertanya balik karena tak paham.


"Buktikan kepada kami semua kalau kamu tak berniat melaksanakan tugas dari orang tua kamu" titah Husein.


"Saya bersumpah atas nama Tuhan, saya tak akan melakukan apa yang disuruh oleh Papah saya, Yah,"


"Papah saya tak akan melakukan hal itu kembali. Ia yang bilang kepada saya kalau dia yang akan meminta maaf langsung kepada keluarga kalian setelah saya memberikan kabar keberadaan keluarga kalian" lanjut Daffa. Husein diam, tak melanjutkan kembali interogasinya kepada Daffa dan lebih memilih meninggalkannya.


"Ayah harap yang kamu katakan barusan adalah kenyataan, Daffa" ucap Husein meninggalkan Daffa sendiri.


Daffa menatap punggung mertuanya yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Aku harus melakukan apa supaya kalian mempercayai ku kembali" gumam Daffa.


Daffa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Fahriz.


"Assalamualaikum. Halo, Pah"


"Waalaikumsalam. Gimana? Udah ketemu?" Tanya Fahriz dari balik telpon.


"Udah. Papah sama Mamah bisa langsung kesini. Daffa belum bisa balik kesana" usul Daffa.


"Kenapa? Mereka gak percaya sama kamu? Padahal Papah yang salah kepada mereka"


"Itu termasuk salah satunya"


"Maksudnya?"


"Kondisi Nia sama anakku belum stabil. Kita gak bisa balik, Pah"


"Anak? Maksud kamu apa? Jangan bikin Papah bingung!"


"Papah sama Mamah kesini aja, ntar Daffa jelasin. Daffa tutup ya, mau nengok Nia dulu. Assalamualaikum" tutup Daffa secara sepihak.


Daffa menghela nafasnya, bingung akan melakukan apa agar keluarga Kania memaafkan kesalahan Fahriz-Papahnya.

__ADS_1


__________


__ADS_2