Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 68


__ADS_3

Kania yang sedang menangisi kepergian anaknya itu tiba-tiba berhenti menangis. Ia merasakan anaknya bergerak menggeliat dalam dekapannya. Kania langsung menatap anaknya, berharap yang ia rasakan bukan khayalan dirinya semata.


Senyum Kania mengembang setelah ia memastikan bahwa anaknya bergerak untuk yang kesekian kalinya.


"Mas, Shasha kita gak kenapa napa, mas. Shasha kita masih hidup." Ucap Kania berbinar. Daffa menatap tak percaya kearah Kania lalu beralih melihat anaknya yang baru saja menguap.


Daffa menangis bahagia, mengucap syukur kepada Tuhan yang masih memperbolehkan anaknya tinggal bersama mereka didunia.


"Aku panggil dokter dulu." Pamit Daffa yang langsung melenggang pergi keluar ruangan tersebut.


"Terima kasih, Ya Allah ...." Kania terus menerus bergumam mengucapkan syukur.


"Bunda sayang Shasha." Kania memeluk bayinya, takut akan kehilangannya kembali.


Tak lama Daffa datang bersama dengan dokter dibelakangnya dan juga keluarganya yang nampak terkejut atas berita yang baru saja mereka dapatkan dari Daffa.


"Tolong taruh bayi itu diatas ranjang, saya akan memeriksanya terlebih dahulu." Pinta dokter tersebut. Kania mengangguk dan langsung melakukan apa yang disuruh dokter itu kepadanya.


"Kondisinya sudah normal, tapi ia harus tinggal beberapa hari lagi untuk kondisinya yang baru saja sadar kembali." Tutur dokter itu menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik, dokter." Balas Daffa yakin.


Dokter itu mengangguk. "Perawat, tolong bawa ia kembali kedalam ruangannya." Perintah dokter kepada perawat yang berada di belakangnya. Perawat tersebut mengiyakan dan langsung membawa Shasha atas persetujuan Kania.


Al-Fira menghampiri Kania dan memeluknya disusul dengan Anis yang juga ikut terharu atas kejadian ini.


"Shasha gak akan tinggalin aku, Bunda, Tante. Shasha anak pintar, dia gak mau orang-orang akan sedih karena kepergiannya." Ucap Kania dengan air mata bahagianya.


"Iya sayang, Bunda tau."


"Tante ikut bahagia, Nia."


Ketiganya berpelukan erat setelah itu bersujud syukur kepada-Nya.


__________


"Bagaimana, dok?"


"Sungguh keajaiban yang luar biasa. Tubuhnya sudah sangat stabil, esok pagi ia bisa dibawa pulang kerumah kalian." balas sang dokter terkagum kagum.


"Alhamdulillah ...." Semua yang disana berucap syukur. Daffa sampai dibuat nangis kembali saking terharunya dengan berita bahagia yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada mereka.


Kania memeluk Daffa dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Daffa. "Allah sangat baik sama kita, mas." Lirih Kania terharu.


Daffa membalas pelukan dari Kania dan mengangguk. "Kita harus lebih banyak-banyak bersyukur kepada-Nya" suruh Daffa. Kania mengangguk dengan kepala yang ia dongakkan menatap Daffa yang tersenyum kepadanya.


"Terima kasih, Ya Allah." Gumam Kania terus menerus.


___________


Pagi ini Kania dan Daffa langsung berangkat menuju rumah sakit tempat Shasha dirawat. Mereka dikabarkan oleh pihak rumah sakit untuk segera menjemput Shasha karena kondisinya yang sudah stabil. Tentu semua orang bahagia mendengarnya.


Hanya Daffa dan Kania beserta bodyguard Daffa yang pergi menuju rumah sakit tempat Shasha dirawat. Sementara yang lainnya menunggu dirumah atas saran Daffa.


Semua keluarga sudah menerima Daffa kembali. Karena ketulusan dan kesungguhan Daffa yang sangat berpengaruh bagi keluarga Kania. Seakan mereka lupa dengan kejadian waktu itu yang membuat Daffa dan Kania terpisah. Tak ada satu 'pun yang membahas masalah itu kembali.


Karena jarak yang tidak terlalu jauh, mobil yang dikendarai oleh salah satu bodyguard Daffa sudah terparkir di area rumah sakit itu.


Segera Daffa dan Kania berjalan menuju ruangan Shasha yang diikuti oleh bodyguard dibelakang mereka.


Kania membuka perlahan pintu ruangan dan mendekati ranjang bayi anaknya. Hatinya begitu berdebar hebat setelah ia melihat wajah anaknya yang sudah tidak pucat seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan dan nyonya Arian." Sapa dokter yang baru datang dengan ramah.


"Pagi dok." Balas Daffa dan Kania serempak.


"Keadaannya sudah normal. Peralatan medis 'pun sudah terlepas dari tubuhnya," ucap dokter tersebut.


"Dan tentu sudah diperbolehkan untung pulang 'kan dok?" Potong Kania cepat. Ia begitu antusias saat ini. Dokter itu tersenyum lalu setelahnya mengangguk membenarkan ucapan Kania.


"Terima kasih, dokter" ucap Daffa dan Kania hampir serempak.


__________


Di perjalanan pulang Kania terus menerus mengecup singkat pipi gembul Shasha yang membuat Kania sangat gemas melihatnya.


Kania terus menunduk menatap Shasha yang berada diatas pangkuannya. Saat Kania mendongak Kania baru sadar kalau mereka tidak sedang berjalan menuju kediaman keluarga Kania.


Kania menatap Daffa penuh tanya. "Kita mau kemana mas?" Tanya Kania heran. Daffa menoleh sekilas lalu memberikan senyuman terbaiknya kepada Kania tanpa membalas ucapannya.


Kania semakin dibuat heran saat mobil yang dikendarai menuju tempat yang sepi, padahal biasanya di negara ini banyak orang yang berlalu lalang berjalan hingga memenuhi jalanan sekitar.


Tak lama mobil yang mereka naiki berhenti disebuah taman yang indah, namun sayangnya sepi, tak ada orang disana.


"Ayo turun." Ajak Daffa menarik pelan pergelangan tangan Kania.


Kania menepis. "Mau kemana?" Tanya Kania takut.


"Jangan takut, kan ada aku" ucap Daffa meyakinkan.


"Shasha?"


"Ikut kita."


"Jangan takut, sayang." Daffa meyakinkan Kania kembali. Kania akhirnya pasrah mengikuti langkah Daffa yang mengajaknya memasuki taman yang sangat sepi itu.


Daffa tak menjawab pertanyaan Kania. Ia berhenti ditengah tengah taman yang paling indah.


"Kenapa berenti, mas?"


"Kita tunggu disini sebentar, ya?" pinta Daffa. Kania hanya mengangguk menuruti ucapan Daffa.


Tak lama Kania disuruh berbalik badan oleh Daffa. "Coba balik-an badan kamu" pinta Daffa. Tanpa menjawab Kania langsung menuruti perintah Daffa kembali.


Kania terkejut sekaligus takut. Ia memeluk erat tubuh Shasha yang berada dalam dekapannya.


"Pa-Papah, Mamah ...." Lirih Kania takut. Ia perlahan mundur kebelakang.


Daffa menahan tangan Kania. "Ada yang ingin mereka bicarakan, Nia. Tunggulah sebentar." Ucap Daffa lembut.


Kania beralih menatap mertuanya yang berada beberapa langkah di depannya. "Jangan ambil Shasha, Pah, Mah." Kania takut mereka akan mengambil paksa Shasha darinya.


"Nia ...." Fahriz maju selangkah mendekati Kania, namun Kania malah semakin menjauh.


"Oke, Papah akan bicara dari sini." Putus Fahriz. Fahriz berganti menatap Shasha yang tertidur pulas di dalam dekapan Kania.


Melihat arah tatapan Fahriz, Kania semakin memeluk Shasha, tak membiarkan siapapun mengambilnya.


Fahriz menatap Kania penuh penyesalan "Maaf." satu kata keluar dari bibir Fahriz.


"Maaf-in Papah, Nia," ulang Fahriz bersungguh sungguh.


"Papah tau, Papah salah. Papah yang membuat kalian bersatu dan Papah juga yang membuat kalian berpisah,"

__ADS_1


"Papah sungguh menyesal. Tak seharusnya Papah bersikap demikian. Papah sudah dibutakan oleh harta, sampai tega berniat memisahkan kalian,"


"Papah adalah orang tua yang bodoh-"


"Mas ...." Potong Kirana.


Fahriz beralih menatap Kirana. "Memang benar seperti itu kenyataannya, Mah." ucap Fahriz bersedih.


Kania hanya menatap tanpa membalas ucapan Fahriz. Ia ingin memaafkan namun ia takut itu hanya sandiwara seperti yang Fahriz lakukan selama ini.


Fahriz menatap Kania kembali. "Papah gak akan mengulangi hal bodoh seperti itu lagi, Papah berjanji."


Fahriz berjalan kearah Kania lalu menjatuhkan lututnya dengan kedua telapak tangan disatukan, ia meminta maaf sebesar besarnya.


Tentu Kania terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mertuanya. Sungguh tak sopan dirinya membiarkan orang tua memohon maaf kepadanya dengan cara seperti itu.


"Papah jangan seperti ini. Berdirilah ...." Pinta Kania tak tega. Kania ikut berlutut seperti Fahriz.


"Lakukan apapun supaya kamu dapat memaafkan Papah, Nia." Ucap Fahriz.


Kania menurunkan tangan Fahriz yang meminta maaf kepadanya. "Gak perlu Papah, Nia yakin Papah bersungguh-sungguh dengan ucapan Papah barusan,"


"Nia percaya dengan kalian." Ucap Kania dengan senyumnya yang mengembang.


Fahriz mengangkat kepalanya menatap Kania berharap pendengarannya tak salah. "Benarkah?" Tanya Fahriz dengan wajah berbinar. Kania mengangguk sebagai jawaban.


"Terima kasih, Nia"


Kirana ikut menghampiri mereka. "Tolong maafkan Mamah juga, Nia. Mamah gak tau tentang rencana ini, Nia." Kirana ikut meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi.


"Ku mohon jangan membuatku menjadi menantu durhaka, Pah, Mah. Aku merasa jahat kepada kalian." Ucap Kania sedikit bercanda.


"Aku memaafkan kalian Pah, Mah." balas Kania bersungguh-sungguh.


"Terima kasih Kania." Kirana memeluk Kania dengan erat sampai pelukan mereka terlepas karena tangisan kencang dari Shasha.


Kirana langsung melepas pelukannya dan menatap kebawah. "Maaf sayang. Cup, cup, cup. Jangan nangis ya ...." Ucap Kirana mengelus pelan pipi Shasha.


"Kamu 'sih, Mah." Ucap Fahriz menyalahkan.


"Iya aku tau."


"Kita pulang yuk. Cuacanya dingin, kasian Shasha." ucap Kania kepada Daffa. Daffa mengangguk.


"Halo Shasha sayang, ini nenek." Sapa Kirana kepada Shasha.


"Halo nenek." Balas Kania menirukan suara anak kecil. Setelahnya keduanya tertawa bersama.


Mereka pulang bersama dalam satu mobil, sedangkan kedua bodyguard-nya mengikuti mereka dari belakang.


"Apa keluarga kamu akan memaafkan Papah?" Tanya Fahriz ditengah perjalanan mereka.


"Aku akan meyakinkan mereka, Pah." Balas Kania yakin.


__________


Udh sesuai blm sama keinginan kalian?


Padahal aku mau ngilangin tokoh Shasha, tapi kalian minta dihidupin balik😅


gpp deh .... Buat kalian aku kasih, eyyaa😂

__ADS_1


Jgn lupa tinggal jejaknya ya 🙏😉


**Makasih😊**


__ADS_2