Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 53


__ADS_3

Kania (POV)


Dimana aku? Kenapa semua tempat sangat lah gelap? Tak ada cahaya satu pun yang ku temukan. Aku berteriak memanggil siapapun, tapi nihil, tidak ada yang membalas panggilan ku. Seperti tidak ada kehidupan di tempat ini.


Aku berjalan terus berjalan mencari cahaya tapi tetap tidak aku temukan. Aku seperti di kurung dalam kegelapan. Tempat yang gelap, sunyi dan lembab, aku gak suka keadaan ini. Siapapun tolong aku!!!


Lama aku berjalan mencari cahaya. Mungkin sudah sehari? Seminggu? Sebulan? Atau Setahun? Entahlah aku tak tau sudah berapa lama aku berada disini. Bosan, tentunya aku sangat bosan dengan keadaan ini, dengan tempat ini.


Aku ingin kembali ke tempat seharusnya aku berada. Kembali bersama orang orang terdekat ku, dengan sahabatku, orang tuaku dan tentu nya dengan Daffa-suamiku. Dimana kalian semua berada? Tolong aku, aku gak mau di tempat ini terus menerus.


Setelah lama ku mencari cahaya tanpa arah yang jelas, akhirnya ku menemukan cahaya itu. Segera ku berlari ke arah cahaya itu. Silau. Ku pejamkan mata ku saat berada di tempat bercahaya itu karena itu adalah cahaya pertama selama aku berada di tempat ini. Perlahan lahan ku buka kembali mata ku. Dimana ini? Apa semua ini? Aku seperti berada di tempat sebelum nya yang tidak ada kehidupan. Apa memang benar hanya aku yang berada di tempat yang sunyi ini? Kalau memang benar, aku tak mau berada di tempat ini sendiri. Tolong aku, ku mohon!!!


Aku melanjutkan perjalanan ku kembali. Seperti sebelumnya, hanya aku seorang diri yang berada di tempat ini.


Aku berjalan sampai akhirnya aku menemukan pintu yang sangat besar menghalangi jalan ku. Aku pikir mungkin pintu itu adalah akhir dari semua tempat ini. Ku dorong perlahan pintu itu. Berat, pintu itu sangat berat untuk aku yang tak sebanding dengan pintu itu. Ku keluarkan semua tenaga ku untuk mendorong pintu itu. Berhasil, aku berhasil membuka pintu besar yang sangat berat itu.


Perlahan aku masuk ke dalam nya. Ku lihat ada beberapa potongan gambar yang tak asing menurut ku. Aku mendekati potongan gambar itu. Di dalam potongan gambar itu, ada diriku di dalam nya dan segerombolan orang memojokkan ku.


Ingat, aku ingat. Mereka yang mendorong ku hingga terjatuh ke dalam laut.


Potongan gambar itu tiba tiba bergerak seperti video yang sedang di setel. Aku melihat diriku di dorong paksa oleh mereka hingga aku terjatuh ke dalam laut. Kepala ku terbentur bagian kapal yang sangat keras. Perlahan kesadaran ku akan hilang tapi sebelum itu, tubuhku tertarik oleh baling baling air kapal itu.


AAKKHHH!!! Aku takut melihat nya. Tubuhku tersayat sayat oleh baling baling kapal itu. Banyak darah yang keluar dari tubuh ku.


" TOLONG AKU. SIAPAPUN TOLONG AKU!!! KELUARKAN AKU DARI DALAM SINI, KU MOHON!!! " aku berteriak meraung raung setelah melihat cuplikan video itu. Aku memejamkan mata ku tak sanggup untuk melihat ulang video itu. Aku menjatuhkan diriku, memeluk erat lutut ku, aku memasukkan kepala ku ke dalam lutut ku. Aku menangis sekencang mungkin menumpahkan rasa takut ku.


Setelah lama aku menangis akhirnya aku berhenti. Aku mengangkat kepala ku perlahan. Potongan gambar itu semakin banyak mengelilingi ku, berulang ulang video itu diputar, aku semakin takut melihat nya.


" PERGI!!! PERGI!!! SINGKIRKAN VIDEO ITU DARI HADAPAN KU!!! KU MOHON " berulang kali aku berteriak untuk meminta agar potongan video itu pergi dari hadapan ku.


Aku menutup kembali mata dan telinga ku agar tidak melihat video itu. Takut, sungguh aku takut saat ini. Aku butuh seseorang untuk membantu ku keluar dari keadaan ini.


Ku buka mata ku kembali saat merasakan hawa yang sangat mencekam. Potongan video itu terus menghantui ku. Ku edarkan pandangan ku menatap sekeliling ku. Gumpalan titik hitam perlahan menutupi cahaya tempat ini.


Apa lagi ini? Aku mencoba melawan keadaan ini. Aku mencoba bangkit tapi tak bisa, ketakutan ku lebih banyak di bandingkan dengan keberanian ku.

__ADS_1


Siapapun tolong bawa aku pergi dari tempat ini!!! Bawa aku pergi kemana saja. Tangis ku makin kencang saat titik hitam itu hampir menutupi cahaya yang ada.


Di sela sela tangis ku, samar samar aku mendengar suara orang memanggil ku. Perlahan aku mengecilkan suara tangis ku untuk mendengar jelas siapa yang memanggil ku.


" Nia, kamu kenapa nangis? " itu lah suara yang memanggil ku.


Ku edarkan pandangan ku ke seluruh tempat itu, tapi tetap aja aku tak menemukan siapapun. Ku berlari mencari orang itu. Dimana dia? Kenapa hanya suara nya yang aku dengar?


" Nia sadarlah. Kau bisa mendengar ku? " aku mendengar suara nya lagi. Tunggu, sepertinya aku kenal dengan pemilik suara itu. Benar, itu adalah suara yang ku rindukan selama ini, suara itu milik mas Daffa. Tapi dimana dia? Kenapa hanya suara nya yang aku dengar?


Berulang kali aku mendengar suara mas Daffa memanggil nama ku. Ku ikuti asal suara itu, semakin kencang semakin dekat pula aku dengan suara mas Daffa. Aku menemukan lubang yang mengeluarkan cahaya dari atas. Aku juga mendengar suara mas Daffa dengan jelas dari lubang itu. Dengan perlahan aku mendekat ke arah lubang itu. Aku merasa tubuh ku seperti di tarik kencang dari arah lubang itu. Aku tak bisa menolak, mata ku terpejam takut di depan sana terjadi sesuatu.


Tak lama aku merasa tubuh ku seperti semula, tapi mata ku masih terpejam. Perlahan aku membuka mata ku. Sinar yang sangat terang menusuk penglihatan ku.


Aku berada dimana sekarang? Ruang apa ini? Pikir ku.


" Nia... "


Greep!...


Tubuh ku di peluk sangat erat.


Mas Daffa? Kenapa dia menangis? Aku masih tak mengerti.


" Ma-as Daffa ke-napa na-ngis? " ucap ku terbata bata. Kenapa sangat sulit untuk ku menggerakkan bibir ku untuk berbicara?


" Aku akan panggil kan dokter " ucap nya segera pergi ke pojok ruangan.


Dokter? Kenapa? Apa ini rumah sakit? Kenapa aku berada di rumah sakit? Pikir ku menerka nerka.


Tak lama seorang dokter wanita datang menghampiri ku beserta perawat di belakang nya. Dokter itu memeriksa diri ku yang aku sendiri tidak tau kenapa aku berada di sini.


" Selamat, kondisi istri anda sudah stabil, tinggal beberapa hari lagi untuk pemulihan kondisi nya " ucap dokter wanita itu.


" Terima kasih, dok " balas mas Daffa.

__ADS_1


Lalu dokter itu pamit keluar ruangan dengan perawat di belakang nya.


" Ma-as, ken-apa aku di sini? " tanya ku. Bibir ini kelu untuk di gunakan berbicara.


" Mas telpon keluarga kita dulu untuk memberikan kabar tentang kondisi mu " bukan nya menjawab, mas Daffa segera mengambil ponsel nya dan menelpon beberapa orang keluarga ku.


" Akh... Ke-napa su-sah sekali? " ucap ku mengeluh. Aku mencoba untuk bangun dan duduk tapi badan ku terasa sangat kaku semua.


Mas Daffa meraih tangan ku dan membantu ku untuk duduk. " Kalau mau apa apa bilang sama aku, Nia " ucap nya.


" Ma-af "


" Kau tau? Aku sangat bahagia karena akhirnya kamu sudah sadar " ucap nya memeluk ku kembali.


Sadar? Memangnya sudah berapa lama aku gak sadar? Pikir ku.


" Em-mang aku u-dah bera-pa lama gak sa-dar? " tanya ku. Ah... Kenapa sangat susah untuk berbicara?


" Sangat lama. Sudah lima bulan kau terbaring di ranjang rumah sakit " balas nya.


" Lima bu-lan? " aku terkejut mendengar nya. Selama itu? Pantas saja seluruh tubuh ku sangat kaku untuk di gerakkan.


" Kenapa? " tanya ku.


" Kamu gak inget? " tanya nya. Aku menggeleng sebagai jawaban.


" Kalau kondisi kamu benar benar sudah pulih kembali aku akan menceritakan nya. Sekarang kamu istirahat kembali, ya " suruh nya. Aku hanya mengangguk karena lidah dan bibir ku sangat sulit untuk di gerakkan.


Mas Daffa tersenyum. Ia meraih puncak kepala ku dan mencium nya dengan lembut.


" Istirahat lah yang cukup, sayang " tubuh ku merasa mendidih mendengar nya. Bahagia sekali aku mendengar nya.


Aku menuruti nya untuk kembali tidur walau aku tak mau tertidur kembali, aku takut akan terbawa ke dalam ruangan sepi itu kembali.


Walau aku tak sepenuhnya mengerti, aku lebih memilih untuk memejamkan mata ku. Mungkin saat aku terbangun kembali, aku akan mengingat semua nya.

__ADS_1


Aku merasa benda kenyal menempel kembali di pipi ku, aku yakin mas Daffa sedang mencium ku saat ini.


" Terima kasih, honey " ucap nya di telinga ku. Sekujur tubuh ku merinding mendengar nya. Lalu ku sungging kan senyum ku walau mata ku masih terpejam. Aku merasa bahagia mendengar nya.


__ADS_2