Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 60


__ADS_3

Sudah hampir lima bulan Daffa memutuskan kontak dengan keluarganya dan selama itu pula ia tinggal di rumah sederhana miliknya. Dari kecil Daffa sudah di ajarkan menabung sehingga uang yang ia miliki lebih dari cukup untuk tinggal selama beberapa tahun. Sebenarnya bisa saja Daffa membeli rumah mewah seperti yang ia miliki dari pemberian Papahnya, tapi lebih baik uangnya ia simpan untuk berjaga jaga dan mencari Kania.


"Gimana? Udah ketemu?" Tanya Daffa kepada orang suruhannya untuk melacak keberadaan Kania.


"Maaf tuan, orang yang anda cari tidak bisa kami temukan. Di negara asing pun kami tak bisa menemukannya. Mereka sangat hebat menghapuskan jejak kepergian mereka sehingga kami sangat sulit menemukannya" balas orang suruhannya.


"Baiklah, biar saya yang mencari keberadaannya sendiri. Ini bayaran kalian, terima kasih atas bantuannya" ucap Daffa.


"Terima kasih, tuan. Kami permisi"


"Silahkan" ucap Daffa mengizinkan. Orang orang suruhannya pergi dari dalam rumah Daffa.


"Sebenernya kamu dimana, sayang? Kau tau, ini ulah Papahku, bukan salahku. Aku tak akan melakukan apa yang Papah suruh, aku tidak akan meninggalkan mu, aku janji pada diriku sendiri" ucap Daffa frustrasi.


"Apa kamu ada di London, sayang?" Ucap Daffa tiba-tiba karena teringat kalau Kania pernah bercerita tentang Revan di London.


"Oh ya, aku akan mengecek website perusahaannya. Dari sana aku dapat melihat negara dan dimana tempat teraktif perusahaan itu berjalan" ucap Daffa kembali.


Daffa mengambil laptopnya dan mulai membuka halaman pencarian. Daffa membuka website perusahaan keluarga Kania dan mulai mengecek beberapa cabang di dalam dan luar negeri perusahaan keluarga Kania.


"Kenapa perusahaan ini sudah lama tidak aktif?" Daffa bertanya pada dirinya sendiri.


Kring ....


Pesan masuk ke dalam ponsel milik Daffa. Daffa membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Pak Wahyu: Daffa tolong kirimkan berkas yang akan kita bahas bersama klien kita untuk besok hari senin.


Itulah pesan yang diterima oleh Daffa. Daffa tidak pengangguran, dia tetap bekerja tapi di perusahaan lain. Jabatan yang ia dapat cukup tinggi untuknya yang baru pemula karena pemilik perusahaannya kenal dengan Daffa yang keluarganya juga mempunyai perusahaan yang cukup terkenal.


Daffa: Baik pak


Daffa menghentikan pencariannya mengenai Kania dan beralih membuka folder tentang perusahaan tempat ia bekerja.


Esoknya hari senin pagi Daffa sudah rapi dan siap berangkat menuju perusahaan tempat ia bekerja.


Tok .... Tok .... Tok ....


Daffa mengetuk pintu ruangan atasannya.

__ADS_1


"Masuk!" Titah dari dalam.


Daffa masuk. "Permisi Pak, ini berkas tambahan untuk meeting bersama klien nanti siang" ucap Daffa memberikan beberapa berkasnya kepada Pak Wahyu-atasannya.


"Baik, terima kasih Daffa. Kau boleh keluar" balas Pak Wahyu. Daffa mengangguk.


"Daffa tunggu" panggil Pak Wahyu.


"Iya pak, kenapa?"


"Kamu ada jadwal mata kuliah hari ini?" tanya Daffa.


"Ada, nanti sore seperti biasa" balas Daffa.


"Bisa kau ikut saya nanti siang?" Tanya Pak Wahyu.


"Kemana Pak?"


"Jam makan siang nanti saya akan membawa anda bertemu dengan klien. Saya ingin melihat kebolehan kamu" suruh Pak Wahyu.


"Baik Pak. Kalau gitu saya balik bekerja kembali. Permisi"


"Iya, silahkan."


__________


"Dimana orang yang akan kita temui, Pak?" Tanya Daffa saat sudah sampai ditujuan dan tidak menemukan siapapun di dalam ruang VIP tersebut.


"Kita tunggu sebentar, karena mereka adalah perusahaan terkenal yang akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kita" balas Pak Wahyu.


"Baik Pak" balas Daffa menurut dan lebih memilih berdiam diri.


Tak lama kemudian seorang yang sangat amat Daffa kenal datang bersama sekretaris dan beberapa bodyguard di belakangnya. Daffa tersentak, bagaimana ini? Ia harus kemana saat ini? Pikir Daffa kacau saat ini karena orang yang datang adalah Fahriz-Papahnya.


"Maaf Pak, saya mau buang air kecil dulu" pamit Daffa.


"Baiklah. Jangan lama lama" balas Pak Wahyu.


"Terima kasih Pak" dengan segera Daffa pergi dari tempat itu. Tapi sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan VIP tersebut, Daffa lebih dulu di tahan oleh beberapa bodyguard Papahnya.

__ADS_1


"Daffa, pulang lah" titah Fahriz dengan nada penuh permohonan.


"Gak, Daffa gak mau pulang lagi. Daffa gak mau disuruh suruh sama Papah lagi" tolak Daffa.


"Maaf Pak, ada apa ini? Apa dia melakukan kesalahan? Tolong maafkan dia, Pak" ucap Pak Wahyu yang melihat Daffa ditahan oleh orang berpakaian serba hitam.


Fahriz melirik ke arah Bian-sekretarisnya, untuk menjelaskan tentang pertemuan nya hari ini.


Bian mengangguk patuh. "Maaf Pak, pertemuan hari ini akan kami undur. Sekali lagi maafkan kami atas ketidaknyamanan anda" ucap Bian penuh hormat.


"Ta-tapi mengapa Pak? Apa kerjasama ini dibatalkan? Kalau iya, tolong maafkan saya dan anak ini jika kami berbuat kesalahan, tapi tolong jangan batalkan kerjasama ini, saya mohon" ucap Pak Wahyu.


"Tidak Pak, kerjasama kita akan terus berjalan. Kami hanya sedang ada urusan keluarga, jadi tolong dimengerti, Pak."


"Si-siapa?"


"Tuan muda Daffa Arian adalah anak tunggal dari tuan Fahriz, dan kami sedang ada urusan dengannya."


Pak Wahyu terkejut, ternyata Daffa adalah anak dari pemilik perusahaan yang pemiliknya sangat ia kagumi. "A-apa? Ba-baiklah kalau begitu, saya permisi" ucap Pak Wahyu pamit.


"Silahkan" Pak Wahyu pergi sendiri meninggalkan Daffa yang masih ditahan oleh beberapa bodyguard Fahriz.


"Pah, udah Daffa bilang, Daffa gak mau balik lagi. Daffa akan usaha sendiri dan akan mencari keberadaan Kania dimanapun ia berada. Daffa gak bakal biarin Papah menyentuh bahkan menemukan Kania kembali. Ingat itu, Pah" ucap Daffa kesal.


"Terserah kamu akan melakukan apapun, Papah gak akan memaksakan kehendak kamu lagi. Tapi Papah mohon kepada kamu, sejak kamu pergi Mamah mu sakit dan di rawat di rumah sakit, bahkan sampai sekarang Mamah mu masih harus di rawat karena kondisinya yang semakin menurun. Ia sangat sulit untuk disuruh makan, dia hanya ingin melihat kamu dan Nia, setelahnya ia akan makan kembali"


"Tolong maaf-in Papah yang sangat rakus akan harta. Pulanglah .... Setidaknya demi orang yang melahirkan kamu ke dunia ini, Papah mohon. Setelahnya kamu bebas melakukan apapun yang kamu inginkan. Papah juga gak bakal paksa kamu untuk menceraikan Kania. Papah gak akan maksa kamu lagi, Papah janji" ucap Fahriz bersungguh-sungguh.


Setelah kondisi Kirana semakin menurun dan selalu menyebutkan nama Daffa beserta Kania, Fahriz merasa bersalah karena itu semua gara-gara ulahnya. Fahriz sudah berjanji pada Kirana kalau ia akan membawa Daffa dan Kania kembali tapi sebagai gantinya Kirana harus pulih kembali, minimal ia harus menerima asupan makanan yang cukup.


"Apa Papah beneran? Papah lagi gak bohong-in aku 'kan?" tanya Daffa memastikan.


"Tidak. Papah tidak berbohong. Jika Papah melanggar janji yang Papah bikin sendiri, kamu boleh hukum Papah sepuas mungkin"


"Papah mohon ...." Lanjut Fahriz.


"Baiklah Pah" ucap Daffa akhir sebelum memutuskan akan menjenguk Mamahnya.


__________

__ADS_1


Mampir juga yuk, di novel baru aku judulnya "My Love Defense" berlatar belakang Turki dan Indonesia, dijamin juga seru, deh ....


Makasih.


__ADS_2