
Kania (POV)
Besok nya, aku berangkat menuju sekolah sendiri. Biasa nya, jika aku berangkat sekolah pasti di belakang mobil ku ada mobil mas Daffa. Aku merasa di jaga oleh nya. Tapi sekarang mas Daffa tidak pergi ke sekolah karena akibat kejadian kemarin, ia demam. Sebenarnya aku mau tak masuk sekolah untuk menjaga mas Daffa, tapi mas Daffa sendiri yang menolak ku. Padahal kan sudah tidak ada pelajaran lagi.
Aku takut saat nanti masuk sekolah, semua nya tau identitas ku dan mas Daffa yang sebenarnya. Aku takut jika aku di keluarkan dari sekolah. Aku takut itu terjadi, kalau benar itu akan terjadi aku tak tau harus apa lagi. Keberadaan ku di sekolah itu hanya sisa 3 minggu. Dan jika aku dan mas Daffa di keluarkan, ahh... positif thinking, Kania!.
Aku memasuki gerbang sekolah. Dengan sedikit takut, aku keluar dari dalam mobil. Sebelum aku benar benar keluar dari dalam mobil, aku berbicara.
" Bismillahirrahmanirrahim. Semangat untuk kamu, Kania! " ucapku menyemangati diri sendiri.
Aku membuka pintu mobil ku dan keluar. Aku mengunci mobil ku setelah keluar dari dalam sana. Aku berjalan menuju kelas. Sekolah seperti biasa, tak ada hal yang terjadi seperti yang aku pikirkan tadi. Ternyata bang Verrel menepati ucapan nya sendiri. Aku akan mengucapkan terima kasih kepada nya kalau aku bertemu dengan nya kembali. Tapi, kenapa dia bisa melakukan itu dengan mudah? pikir ku.
Aku berjalan sampai depan kelas ku. Aku masuk ke dalam kelas dengan perlahan dan aku menemukan sahabat ku yang sudah berkumpul di meja ku.
" Assalamualaikum " ucapku memberi salam.
" Waalaikumsalamm " balas Aina, Kiara dan Indah serempak.
" Waalaikumsalam, ketua kelas. Kenapa kemaren pulang duluan? " balas Nesya paling terakhir.
" Kan udah di bilang ada urusan mendadak " balasku kepada Nesya yang bertanya kepada ku.
" Masa sih? Bukan nya jalan sama ' mas ' nya, ya? " celetuk Indah.
" Nggak, beneran " balasku lagi.
" Iya deh, iya "
" Oh iya, kemaren waktu gua pulang, ada kejadian aneh gak, disini? " tanyaku mulai kepo.
" Gak ada. Kenapa emang nya? " Wina bertanya balik.
Aku menggeleng " Enggak papa kok " balasku berbohong.
__________
Istirahat.
Seperti biasa, aku dan teman teman ku berjalan menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
" Kania " Panggil orang dari belakang. Aku takut itu Rafka, jadi aku lebih memilih untuk terus berjalan tanpa menghiraukan orang yang memanggil ku.
" Nia, lu di panggil " ucap Kiara yang juga mendengarnya.
" Banyak kali yang nama nya Kania, bukan gua doang " balasku.
" Iya ya "
" Kania! Lo Kania, kan? " tanya orang itu yang langsung berlari dan menghalang jalan ku. Dia tak sendiri, dia bertiga bersama dua orang teman nya.
__ADS_1
" Ikut gue " ajak orang itu yang langsung menarik tangan ku.
Ku tepis tangan nya yang ada di tangan ku dan berkata " Ngapain? "
" Maaf. Lo ikut kita. Ada yang mau gue tanya ke lo " ucap nya dingin.
Aku menuruti apa kata nya. Aku tau betul, itu adalah sahabat nya mas Daffa. Sebenernya mereka mau apa sampai mengajak ku segala.
" Bentar ya. Duluan aja, nanti nyusul " pamit ku yang di angguki oleh teman teman ku.
Aku mengikuti sahabat nya mas Daffa dari belakang. Ada rasa takut yang menyelimuti ku saat ini. Cepat cepat ku tepis rasa takut ini dan bersikap senormal mungkin. Ternyata mereka mengajak ku menuju halaman belakang sekolah, mungkin ada hal penting yang mereka ingin bicarakan.
" Langsung aja, jelasin hubungan antara lo dan Daffa?! " tanya Kevin dengan nada dingin.
" Kenapa lo sering berdua sama dia " sambung Arga yang tak kalah dingin dari Kevin.
" Kenapa lo sama Daffa mulu? Kenapa gak sama gue aja? " sekarang Rendi yang ikut menimpali tapi sedikit bercanda.
" Gak lucu, Ren. Lo mending balik aja! " ketus Kevin.
" Ya udah sih, maap " balas Rendi.
Aku hanya diam melihat ketiga nya. Lalu aku memikirkan kata kata yang pas untuk ku gunakan agar bisa beralasan kepada mereka.
" Tolong di jawab " suruh Arga.
" Emm... " Aku bingung harus mulai dari mana.
" Janji? " tanya ketiga nya.
" Iya. Mau gak? " rawat ku.
" Iya " balas mereka hampir serempak
" Ya udah, langsung ke rumah kita aja " suruh ku.
" Kita? Maksudnya siapa? " tanya Rendi men-detil.
" Pokok nya kesana aja, disini gak bisa " suruh ku.
" Kenapa? " tanya Kevin.
" Kepo banget sih " ketus ku.
" Kalau mau tau, ya langsung ke rumah kita aja " Aku mengulang ucapan ku.
" Kita itu siapa? " tanya Arga.
" Ya, gua sama mas Daffa "
__ADS_1
" Lo tinggal serumah? "
" Iya "
" Astagfirullah " ucap Arga seraya mengelus pelan dada nya.
" Kenapa? " tanya ku tak mengerti.
" Lo itu keliatan cewek baik baik, jangan sampe harga diri lo jadi rendah, lo tuh harus bisa jaga kehormatan lo " Arga menceramahi. Benar, memang sangat benar. Tapi aku kan istri nya, mereka aja yang gak tau.
" Iya, biar kalian tau, makannya ke rumah. Disini gak bisa " ucapan menjelaskan.
" Ken... " ucap nya terpotong.
" Udah mending langsung aja kesana. Jangan tanya kenapa, kenapa mulu! " kesal ku karena mereka bertanya mulu.
" Nih alamat nya. Jangan kasih tau ke siapa pun selain kalian, oke. Kalau begitu gua tinggal. Assalamualaikum " ucap ku yang langsung pergi meninggalkan mereka tanpa mendengar jawaban mereka.
Aku langsung berjalan menuju kantin untuk menemui sahabat ku. Ku percepat langkah kaki ku agar waktu ku tidak terbuang sia sia.
Tapi ngomong ngomong, aku tak melihat Rafka hari ini. Kemana dia? Eh ngapain aku mikirin dia sih? Kan dia yang bikin mas Daffa tak masuk sekolah. Tapi jika di pikir pikir, aku yang sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Sebelumnya aku selalu memikirkan yang lain, tapi sekarang aku seperti menjadi egois, tidak berperasaan, sikap ku lebih kasar. Iya kan? Kenapa jadi begini sih? Ah sudahlah... Biarkan saja.
" Nia, mereka ngomong apa? " tanya Nesya yang mengagetkanku.
" Eh... Ngomong apa, Sya? " Aku bertanya balik karena aku tidak fokus sebelumnya.
" Ada masalah? " sekarang Aina yang bertanya.
" Nia, mereka ngomong apa? Mereka jahat? Bilang aja Nia " kini Indah yang juga ikut menimpali.
" Ngapain mereka? Tadi nanya apa? Nyakitin lu, nggak? " Kiara yang baru datang ikut menimbrung.
Aku tersenyum. Sangat perhatian sekali. Senang nya. Ah... Mereka adalah sahabat terbaik ku yang pernah aku punya.
" Nggak papa kok, makasih ya, kalian udah khawatir " balas ku seraya tersenyum.
" Beneran nih? " tanya Nesya meyakinkan.
" Iya Nesya, sayang... Makasih ya, udah di khawatirin " balas ku.
" Lu ngomong apa sih? Kita kan sahabat, udah semestinya kayak gitu " balas Indah dengan nada sedikit sewot.
" Iya iya, maaf, ya "
" Iya. Udah ayo di makan. Keburu dingin makanan nya " suruh Aina.
" Siap bos " balas kami serempak seraya menaruh tangan kanan di atas alis mata, membentuk gerakan hormat seperti saat upacara bendera.
Aku suka momen seperti ini. Semoga aku selalu bisa bersama mereka.
__ADS_1
Kania (POV END)