
Ceklek...
Suara pintu di buka.
" Assalamualaikum " ucap nya.
" Temen kamu dateng untuk jenguk, nih... " ucap nya lagi.
" Bangun sayang. Jangan kayak gini, aku gak sanggup ngeliat kamu kayak gini " Daffa memeluk erat tubuh lemah Kania. Daffa melepaskan pelukan nya dan menatap dalam Kania.
Kiara maju beberapa langkah ke arah ranjang rumah sakit yang di gunakan oleh Kania " Kenapa harus lo lagi yang menderita Nia? Bangun Nia, lo kuat. Jangan tidur mulu. Gak capek lo tiduran di rumah sakit mulu " ucap Kiara menyemangati.
" Nia, udah lima bulan lo tidur, Nia. Lo lupa? Kita bakal kuliah bareng bareng. Mana janji lo? Lo pembohong, Nia. Ayo bangun Nia " ucap Indah. Tiba tiba air mata Indah keluar, ia tak lagi bisa menahan air mata nya. Dengan cepat Indah menghapus kembali air mata nya.
Setelah kejadian perpisahan lima bulan yang lalu, sampai saat ini tak ada tanda tanda kalau Kania akan tersadar. Kania di nyatakan koma oleh dokter yang merawat nya karena benturan yang sangat keras mengenai kepala nya dan itu yang mempengaruhi kesembuhan nya. Dokter belum bisa memastikan kapan Kania akan tersadar. Saat ini, untuk meneruskan hidup nya saja Kania harus selalu di pasang selang infus. Jika selang infus di lepas saat kondisi nya belum pulih, kemungkinan Kania tak bisa lagi melanjutkan hidup nya.
" Maaf Daffa " ucap Indah.
" Gak papa. Gua ngerti perasaan lo " balas Daffa dengan wajah yang sayu menatap ke arah Kania.
" Kemana Nesya sama Aina? Gak dateng?" Daffa mengalihkan pembicaraan.
" Mereka lagi ada jadwal mata kuliah hari ini, jadi gak bisa dateng. Mungkin besok " balas Kiara.
" Oh... "
Dreet!...
Suara ponsel berbunyi, menandakan ada seseorang yang menghubungi nya.
" Assalamualaikum. Ya, halo ma. Ada apa?" Kiara mengangkat telpon dari Mama nya.
".........."
" Oh iya. Waalaikumsalam " Kiara mematikan kembali panggilan di ponsel nya lalu memasukkan kembali ke dalam tas salempang mini yang ia kenakan.
" Gua harus pulang. Makasih ya, Daf udah ngebolehin gua buat jenguk Nia "
__ADS_1
" Makasih balik udah mau mampir dan jenguk Nia " balas Daffa.
" Gua duluan, Ndah. Assalamualaikum " pamit nya.
" Eh gua ikut. Makasih ya, Daf. Assalamualaikum " susul Indah.
" Waalaikumsalam " balas Daffa.
Daffa menatap pintu ruangan yang sudah di tutup oleh Indah. Mata Daffa kembali menatap Kania yang terbaring lemah.
" Besok aku akan bawa kamu ke Singapura untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik " Daffa memeluk erat tubuh Kania seolah olah takut Kania akan meninggalkan nya.
" Kau harus sembuh, Nia. Aku sangat sangat merindukan mu "
" Maafkan aku sayang, maafkan aku karena selalu membuat mu menderita. Jangan menghukum ku seberat ini, aku gak sanggup, Nia. Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh hukum aku, tapi jangan seberat ini, aku gak sanggup sayang. Aku mohon bangun lah. Aku akan melakukan apapun untuk mu " air mata Daffa menetes kembali. Terlalu banyak air mata yang ia keluarkan karena selalu menangisi Kania. Daffa menjadi pria lemah dan cengeng jika berada di hadapan Kania.
" Aku akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mu, sayang " Daffa mengecup singkat kening Kania lalu memeluk nya kembali dan mulai memejamkan mata menuju alam mimpi.
__________
Besok nya, sesuai dengan perkataan nya kemarin, Daffa membawa Kania pergi ke Singapura untuk melanjutkan perawatan Kania.
Daffa menatap wajah Kania yang masih saja pucat. Belum ada perubahan yang terjadi pada gadis itu.
" Bunda juga ikut nginap disini, ya? Sekalian gantian sama kamu kalau kamu capek" ucap Al-Fira memohon.
" Jangan Bunda. Bunda bisa kelelahan nanti nya. Biar Daffa aja. Gak papa kok, Bun " tolak Daffa.
" Bunda jaga bareng Mamah kamu kok, jadi gak bakal terlalu lelah nanti nya. Lagipula kamu juga harus kuliah, kan? "
" Iya, Mamah juga setuju kok kalau harus bergantian jaga Nia. Kalau kamu yang jaga terus, urusan kuliah dan kesehatan kamu akan berantakan. Gak papa, ya? " Kirana menyambung.
" Tapi Bun, Mah, Daffa... "
" Daffa, denger kata Mamah! " tegas Kirana.
" Oke " kalau sudah seperti ini Daffa tak bisa berkutik apapun selain mengiyakan permintaan Mamah nya.
__ADS_1
" Anak pintar " Kirana mengelus pelan puncak kepala Daffa. Al-Fira hanya tersenyum melihat kedua nya lalu berganti menatap wajah anak bungsu nya.
Perlahan Al-Fira mendekat ke arah Kania. "Nia anak yang pintar, kan? Anak pintar gak boleh bikin orang orang sedih. Nia harus bikin kita seneng, bikin kita bahagia, ya?"
" Anak Bunda itu cantik, tapi kalau Nia tidur terus cantik nya ilang. Gak mau kan kalo cantik nya ilang? Makannya cepet sadar dan sehat kembali, ya? Biar gak ilang cantik nya. Bunda kangen sama Nia, Bunda sayang Nia" lanjut Al-Fira dengan air mata yang sudah tak dapat di bendung lagi. Al-Fira mengelus pelan ujung kepala Kania yang tetap terbalut oleh hijab instan.
Meskipun Kania sampai di rawat seperti ini, hijab yang Kania kenakan tak pernah di lepas kecuali saat mengganti pakaian nya, itupun hanya sesama perempuan yang menggantinya. Al-Fira selalu berpesan kepada Daffa untuk tidak membiarkan seorang pun melihat rambut Kania kecuali sesama jenis dan juga mahrom nya. Daffa menuruti pesan dari Al-Fira.
Kirana dan Daffa secara bersamaan menatap Al-Fira yang sedang mengelus puncak kepala Kania seraya memandangi wajah pucat anak nya.
" Nia pasti kuat, mbak, Nia pasti sehat kembali. Mbak Fira harus yakin itu " ucap Kirana menyemangati besan nya.
" Pasti. Saya juga yakin kalau Nia akan segera cepat sadar. Makasih mbak Kirana sudah menyemangati saya " balas Al-Fira seraya menyapu bersih air mata nya yang jatuh dan setelah nya tersenyum ke arah Kirana.
" Iya, sama sama, mbak "
" Bunda, Mamah dan yang lain nya tenang saja, Daffa akan bertindak sangat cepat untuk kesembuhan Nia " Daffa meyakinkan mereka.
" Bunda percayakan pada mu, Daffa " ucap Al-Fira.
" Mamah juga. Mamah pegang ucapan mu, Daffa "
" Iya Mah. Daffa yakin tidak akan mengecewakan kalian "
" Aku sendiri gak mau kehilangan Nia. Aku akan tetap mempertahankan Nia " lanjut Daffa.
Daffa mendekat ke arah Kania dan memeluk nya erat walaupun tubuh Kania banyak terpasang selang infus " Aku kangen dengan senyum mu, sayang. Tolong bertahan lah demi aku. Setidaknya demi keluarga kita, bangun sayang " air mata Daffa jatuh kembali membasahi pakaian rumah sakit Kania.
" Kau juga harus yakin Nia akan sadar kembali, Daffa " ucap Kirana.
" Pasti Mah, pasti. Daffa tak sanggup jika harus kehilangan nya "
" Anak pintar " Kirana mengacak acak rambut Daffa. Lagi lagi Al-Fira hanya tersenyum melihat nya.
__________
Yg mau liat visual Daffa-Kania dan temen-temennya ada di IG aku ya. Pernah kirim ke platfrom ini tapi eps nya malah gk bisa lolos seharian. Jadi aku ganti post di IG. Satu persatu bakal aku post di IG aku. Terserah kalian mau liat atau gk visual mereka. Yg mau liat ada di IG aku ya😁
__ADS_1
Nama IG ku; araasyakilla__