Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 64


__ADS_3

"Sayang, makan ya?" Bujuk Daffa karena dari pagi hari saat Kania terbangun belum juga makan hingga kini yang akan menjelang sore hari.


"Dimana anak aku, mas?" Lirih Kania berharap Daffa memberitahu keberadaan anaknya. Daffa dan yang lainnya memang belum memberitahu keadaan anaknya Kania karena usul dokter yang dapat menyebabkan kondisi Kania stres dan nge-drop.


"Anak kita, Nia. Dia anak aku juga" ucap Daffa mengoreksi ucapan Kania. Kania diam, tak membalas ucapan Daffa.


"Dimana dia, mas? Dia gak kenapa napa 'kan?" Tanya Kania kembali lirih.


Ceklek ....


Pintu ruangan dibuka, Al-Fira dan Husein masuk kedalam ruang inap Kania.


"Assalamualaikum ...." ucap keduanya.


"Waalaikumsalam" Daffa berdiri dari duduknya mempersilahkan keduanya menemui Kania.


"Bunda, Ayah ...." Ucap Kania bergantian memeluk salah satunya.


"Anak Nia dimana, Bun? Yah? Mas Daffa gak mau kasih tau ke Nia" tanya Kania berharap keduanya memberitahukan dimana keberadaan anaknya.


Al-Fira tersenyum miris mendengar pertanyaan dari Kania. "Anak kamu cantik, Nia. Mukanya kayak kamu waktu bayi, tapi matanya lebih kearah Daffa" lirih Al-Fira seadanya setelah ia mengunjungi inkubator bayi Kania.


Kania tersenyum mendengarnya. "Nia mau liat, Bun" rengek Kania.


"Nanti, ya? Kamu belum sembuh" ucap Husein memberi pengertian.


"Nia gak sakit, Yah ...."


"Kalau begitu kamu harus makan yang banyak dulu. Nanti Ayah akan tunjukkan dimana anak kamu" suruh Husein.


"Tapi bener, ya?" Husein mengangguk mengiyakan pertanyaan Kania.


Senyum Kania mengembang lagi. "Mas, kesini-in makanan Nia, Nia mau makan" ucap Kania seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan oleh orang tuanya.


Daffa mengangguk dan tersenyum lalu menghampiri Kania dan mulai menyendokkan makanan Kania. Kania menerima suap demi suapan makanan yang Daffa berikan tanpa protes sedikit 'pun.


"Udah, Nia udah kenyang. Sekarang Nia mau ketemu sama anak Nia" ucap Kania begitu antusias.


"Waktu kunjungannya udah habis, Nia. Besok pagi aja, ya?" Tawar Husein berbohong.


"Nggak, Nia mau sekarang. Ayah udah bilang sama Nia tadi!" Kekeh Kania tak terima.


"Tapi Nia, jam segini udah gak boleh kesana. Besok pagi aja, ya? Abis kamu sarapan?" Bujuk Al-Fira.


"Nia mau sekarang, Bun" rengek Kania.


"Sayang, kasian waktu istirahat dia ke ganggu nanti, jadi besok aja, ya?" Bujuk Daffa yang juga memberi pengertian kepada Kania.


Tampak dari mimik wajah Kania yang berubah menjadi murung kembali. "Ya udah" balas Kania pasrah dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi ketiganya.

__ADS_1


Daffa, Husein dan Al-Fira hanya bisa menghela nafas melihatnya. Kania seperti anak kecil yang merajuk tak dapat mainannya.


__________


Kania bangun dari tidurnya karena tenggorokannya kering dan juga ia ingin buang air kecil. Keadaan sekitarnya gelap karena dimatikan lampunya.


Kania mengedarkan pandangannya mencari keberadaan orang disekitarnya. Ia melihat Daffa yang sedang tertidur di atas sofa yang letaknya bersebelahan dengan pintu masuk ruangan tersebut.


Kania melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul dua dini hari.


Kania mencoba bangun dan mendudukkan dirinya. Tapi belum juga ia berhasil bangun ia sudah merasa sakit di perutnya karena bekas operasi caesarnya.


"Astagfirullah .... Sakit banget" ringis Kania pelan seraya memegangi perutnya yang sakit.


Daffa yang tak sengaja mendengarnya 'pun terbangun. Daffa melihat kearah Kania yang sedang meringis sambil memegangi perutnya. Ia bangun dari tidurnya dan langsung menghampiri Kania.


"Kenapa? Bagian mana yang sakit?" Tanya Daffa khawatir.


"Aku udah gak papa, gak terlalu sakit kayak tadi" balas Kania seadanya.


"Bener?" Tanya Daffa memastikan. Kania mengangguk membalas pertanyaan dari Daffa.


"Kamu mau apa? Biar aku yang ambil" tawar Daffa.


"Aku mau minum, tenggorokan aku kering rasanya" balas Kania. Daffa mengangguk dan mengambil gelas berisikan air mineral yang berada di atas nakas dan memberikannya kepada Kania.


"Aku gak bisa minum sambil tiduran, mas" rengek Kania.


"Pelan pelan, mas. Sakit tau!" peringat Kania.


"Iya"


"Nih. Ayo minum" ucap Daffa memberikan lagi gelas yang berisikan air mineral setelah Kania sudah berada diposisi duduknya.


Kania menerima gelasnya dan mulai meminumnya. "Makasih, mas" ucap Kania setelah meminum airnya.


Daffa mengangguk dan menaruh kembali gelas air mineralnya diatas nakas. "Dah, kamu tidur lagi. Masih kepagian" suruh Daffa.


"Aku mau buang air kecil dulu" ucap Kania seraya menurunkan kakinya dari atas brankar rumah sakit.


"Sini aku bantu" tawar Daffa yang langsung membawa Kania dalam gendongannya. Kania reflek mengikatkan tangannya dileher Daffa dan satu lagi memegang tiang selang infusnya.


"Aku bisa jalan, mas. Dituntun aja" ucap Kania memberitau.


"Gak usah, ntar lama, nanti keburu ngompol di tempat" tolak Daffa.


"Auw ...." Ringis Daffa setelah mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya dari Kania.


"Sakit gak? Mau lagi?"

__ADS_1


"Maaf deh ...." ucap Daffa menurunkan Kania di depan closet.


"Makasih. Mas tunggu diluar aja, ntar kalo udah selesai aku panggil kamu" suruh Kania.


"Kenapa? Aku disini aja" tolak Daffa.


"Ih, mas kesana dulu. Aku kan mau buang air kecil" usir Kania.


"Gak papa kali"


"Ya udah kamu madep belakang," suruh Kania.


"Cepat, mas. Aku udah kebelet banget" lanjut Kania.


"Iya" Daffa menurut dan membelakangi Kania.


"Udah belum?" Tanya Daffa.


"Belum. Sebentar lagi" balas Kania.


"Udah belum?" Tanya Daffa kembali.


"Belum"


"Udah belum?" Daffa bertanya terus menerus kepada Kania.


"Belum mas, belum" kesal Kania. Daffa diam setelahnya. Tak lama Daffa bertanya lagi.


"Dah belum?" Tanya Daffa kembali.


"Udah" balas Kania berdiri memegangi tiang selang infusnya.


"Sini"


" Gak usah, aku bisa jalan 'kok" tolak Kania. Tapi Daffa tak peduli dan tetap menggendong tubuh Kania kembali.


"Aku bisa jalan, mas"


"Gak papa." Balas Daffa dan setelahnya menurunkan tubuh Kania kembali diatas brankar.


"Kamu agak beratan ya?" Ledek Daffa.


Plak ....


Kania memukul kencang lengan Daffa yang membuat siempunya meringis.


"Biarin, siapa suruh gendong aku? Lagian aku baru aja melahirkan" ucap Kania membela dirinya.


"Nggak kok, aku cuma bercanda. Kamu sama kayak dulu 'kok" ucap Daffa jujur.

__ADS_1


"Gak lucu!" Balas Kania membelakangi Daffa. Daffa tersenyum melihatnya.


__ADS_2