Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 44


__ADS_3

Sisa 2 minggu lagi semua kelas 12 akan berada di sekolah. Dan minggu depan nya di sekolah mereka akan mengadakan perpisahan untuk semua kelas 12, baik IPA maupun IPS.


Minggu ini, kelas 12 bebas. Mereka boleh tidak masuk sekolah karena sudah tidak ada tugas yang harus di kumpulkan. Waktu terakhir mengumpulkan tugas adalah minggu kemarin, jadi bagi yang belum tuntas tugas nya mau tidak mau di anggap tidak mengerjakan tugas.


Seperti kebanyakan murid yang lain, Daffa dan Kania juga ikut meliburkan diri. Lagipula jika mereka masuk sekolah, mereka tidak akan melakukan apapun disana alias free class.


Tok... Tok... Tok...


" Honey... " Daffa mengetuk pintu kamar Kania.


" Sebentar, mas... " balas Kania dari dalam kamar.


Ceklek...


Pintu kamar di buka oleh Kania dari dalam kamar.


" Kamu lupa? Mamah sama Papah bilang apa? " tanya Daffa yang masih di depan pintu masuk kamar Kania.


" Apaan? " tanya Kania tak mengingat


" Pindah kamar " ucap Daffa mengingatkan


" Sekarang? " tanya Kania malas.


" Iya lah... Kamu ngulur ngulur waktu mulu. Jangan lupa permintaan nya papah waktu


itu " ucap Daffa.


" Kita kan belum lulus, mas "


" Sebentar lagi lulus, sayang "


" Udah, ayo. Mending kamu ambil barang barang kamu, terus pindah ke kamar kita " lanjut Daffa seraya masuk ke dalam kamar Kania dan mengambil barang barang nya.


" Tap... " Kania ingin memberi alasan tapi dengan cepat Daffa memotong.


" Kata papah, niat baik gak boleh di tunda, honey " potong Daffa.


" Iya aku nyerah " Kania mengalah.


Minggu lalu, sewaktu orang tua Daffa datang, mereka sedikit marah karena Daffa dan Kania pisah kamar. Mereka menyuruh Daffa dan Kania agar kembali tidur di kamar yang sama. Dengan sedikit ragu, Kania mengiayakan perintah kedua mertua nya, sedangkan Daffa sangat senang akhirnya mereka di satu kamar kembali.


Flashback on


" Daffa " panggil Kirana.


" Iya mah? " sahut Daffa.


" Kamu sendiri disini? " tanya Kirana.


" Iya. Emang kenapa, mah? "


Kirana terkejut " Nia? "


" Kamar sebelah " balas nya polos.


" Astagfirullah " Kirana mengusap pelan dada nya.


" Selama ini kamu sama Nia gak satu kamar? "


" Ee...enggak " balas Daffa seadanya.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


Pintu kamar Daffa di ketuk dari luar.


" Maaf, mah, mas. Makanan sudah siap, ayo kita makan siang bersama " ajak Kania dari luar tanpa membuka pintu kamar Daffa.


" Iya Nia... Mamah dan Daffa akan turun sebentar lagi. Kamu duluan aja, ya " balas Kirana.


" Iya mah "


" Ayo turun. Mumpung ada papah mu. Mamah akan bicara dengan nya tentang kalian " ucap Kirana yang turun terlebih dahulu dari atas ranjang Daffa.


Kirana terlebih dahulu keluar dari dalam kamar Daffa, menyisakan Daffa yang masih duduk di atas ranjang.


" Ahh... Gimana, nih? " Daffa bertanya pada dirinya sendiri seraya menjambak rambut nya.


" Ya udah, itu terserah mereka. Pasti mereka memarahiku dan Nia. Setelah nya mereka menyuruh aku dan Nia untuk tidur di dalam satu kamar. Paling juga disuruh begitu doang " ucap Daffa dengan yakin.


Daffa beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka nya setelah itu keluar dari dalam kamar nya. Menuruni anak tangga satu persatu dengan santai nya. Ia tak takut jika di marahi oleh kedua orang tua nya, karena setelah nya Daffa akan bisa tidur dengan Kania.


Sesampainya di meja makan, Daffa menarik bangku dan mendudukkan bokong nya disana.


Kania mulai berdiri dan melayani semua nya. Mulai dari Fahriz, lalu Kirana dan yang terakhir Daffa baru setelah nya ia menuangkan nasi untuk dirinya sendiri.


Mereka memulai makan dengan di iringi oleh keheningan. Semua fokus pada makanan masing masing sampai Kirana lah yang memulai pembicaraan.


" Daffa, Kania, kenapa tidur terpisah? Kalian harus tidur bersama, bukan terpisah " tanya Kirana mulai menginterogasi kedua nya.


Uhuk... uhuk...


Kania di buat tersedak oleh pertanyaan yang terlontarkan begitu saja dari mulut mamah mertua nya.


Kania memukul mukul dada nya yang terasa perih karena tersedak. Daffa langsung menyodorkan segelas air kepada Kania " Di minum dulu " suruh Daffa. Kania menerima nya dan langsung meminum nya.


" Kamu gak papa, Nia? Maafkan mamah. Mamah akan bertanya setelah makan " Kirana pun tampak khawatir.


" Iya mah, nanti aja setelah selesai makan, baru setelah nya mamah bebas bertanya kepada mereka. Oke " ucap Fahriz.


" Iya mas. Ya udah, kalian lanjut makan aja dulu " suruh Kirana.


Mereka melanjutkan makan mereka kembali yang sempat tertunda. Suasana nya menjadi hening, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang berada di atas piring.


Setelah selesai, Kania berdiri dari duduk nya untuk merapihkan meja makan.


" Kita bicarakan di ruang keluarga aja, ya " suruh Fahriz kepada yang lain.


" Iya. Lebih nyaman di sana " ucap Kirana.


" Iya, pah " balas Daffa dan Kania serempak.


Kania dan Kirana merapihkan meja makan. Kirana hendak mencuci piring, tapi di tahan oleh Kania.


" Mah, kan ada Nia. Nia aja yang cuci piring nya. Mamah duluan aja " ucap Kania menahan Kirana yang hendak mencuci piring.


" Gak papa? "


" Gak papa, mah. Mamah duluan aja. Ini dikit kok, cuma sebentar "


" Ya udah, mamah duluan, ya. Mamah dan yang lain tunggu di ruang keluarga "


" Iya, mah "


Kania mencuci piring balas mereka makan siang tadi. Setelah selesai, Kania segera bergegas menuju ruang keluarga karena sudah di tunggu oleh yang lain.


" Maaf sudah membuat kalian menunggu " ucap Kania saat baru masuk ke dalam ruang keluarga.

__ADS_1


" Gak papa, Nia " balas mereka hampir serempak.


Kania berjalan mendekati sofa yang ada di sana. Kania duduk bersebelahan dengan Daffa.


" Mamah langsung aja ya. Kenapa kalian tidak tidur satu kamar? " tanya Kirana to the point.


" Mereka gak satu kamar, mah? " tanya Fahriz terkejut.


" Nggak pah " Kania yang menjawab.


" Kenapa? " tanya Fahriz.


" Em... Soalnya... " balas Daffa terpotong.


" Kalian gak niat ngasih papan dan mamah kabar baik? " tanya Fahriz kembali.


" Kabar baik, apa? " dengan polosnya Kania bertanya balik.


" Papah mau? " tanya Daffa yang mengerti apa yang di maksud oleh Papah nya.


" Tentu saja papah mau. Siapa yang gak mau punya keturunan? " tanya Fahriz.


Kania sekarang mengerti arah pembicaraan yang mereka maksud. Kania menundukkan kepala nya. Ia malu untuk membicarakan hal itu.


" Mas kok ngomong nya ngelantur sih? " ucap Kirana sedikit kesal.


" Kenapa mah? Emang mas salah ngomong ya? Emang yang mamah mau omongin apaan? " tanya Fahriz di buat bingung oleh nya.


" Maksud mamah... Kalian tuh pasangan halal, udah jadi suami istri, tapi kenapa tidur nya masih terpisah. Gak baik tau kalau suami istri tidur terpisah walau satu atap " tutur Kirana menjelaskan.


" Maaf mah " ucap Daffa dan Kania hampir serempak.


" Ya udah. Sekarang kalian pindah kamar. Barang barang Nia pindahin ke kamar utama, ya " suruh Kirana.


" Kalau hari libur sekolah, boleh ga? " tanya Kania.


" Kenapa memangnya? " Kirana bertanya balik.


" Kan masih sekolah, besoknya pasti capek " Kania beralasan.


" Ya udah. Tapi beneran pindah, ya? "


" Iya, mah "


" Tapi, lebih bagus kalau niat baik di segerakan " ucap Fahriz.


" Pindah kamar? " tanya Daffa.


" Kasih cucu buat mamah, papah " balas Fahriz.


" Di tunggu, pah " balas Daffa dengan senyum nya. Kania hanya menunduk. Ia semakin malu untuk membahas itu.


__________


**HARI INI UDH UPDATE 2X LOHH


JANGAN LUPA TINGGAL JEJAK, YA...


VOTE NYA JUGA BOLEHHH😉


BESOK UPDATE LAGI KOK, DI TUNGGU


YA**...

__ADS_1


__ADS_2