
" Bagaimana keadaan nya, dok? " tanya Daffa.
" Dia mengalami trauma berat yang menyebabkan nya jadi tak terkendali. Dia akan sangat takut dan itu akan terus menghantui nya. Untuk sementara, saya harap, jauhkan dia dari benda yang di takuti nya. Jika tidak, dia akan melakukan apapun di luar kendali " balas dokter itu.
Sudah dua hari Kania kembali ke rumah mereka. Orang tua mereka pun pulang pergi untuk berganti menjaga Kania, walaupun Kania menolak, mereka tetap kekeh menjaga Kania dan Kania hanya bisa pasrah mengiyakan mereka.
Baru saja Daffa kembali dari kuliah nya setelah itu orang tua Daffa pulang ke rumah mereka kembali.
Kania berniat memutari halaman belakang rumah nya karena merasa bosan hanya di dalam rumah saja. Karena halaman belakang rumah nya harus melewati kolam renang, Kania jadi teringat sewaktu ia di dorong paksa hingga jatuh dan tenggelam.
Kania berteriak ketakukan. Ia melempari semua barang yang ada di sekitar nya ke arah kolam renang berharap kolam renang itu dapat berpindah tempat. Usaha nya tak membuahkan hasil, karena kolam renang itu sudah melekat di sana dan tidak dapat di pindah kan kembali. Semakin lama Kania melihat, semakin takut akan bayang bayang kejadian yang menimpa nya waktu itu.
Daffa dan Mbak Jum yang mendengar nya segera berlari menuju halaman belakang rumah. Mereka mendapati Kania yang sedang berjongkok memeluk kedua lutut nya dan menangis sekencang mungkin.
Saat Daffa dan Mbak Jum menghampiri nya, Kania terjatuh pingsan di atas rerumputan hijau halaman belakang. Daffa segera membopong Kania dan di bawa ke dalam kamar mereka.
" Baik, dok. Terima kasih " balas Daffa menatap sendu ke arah Kania.
" Jangan biarkan dia kelelahan karena itu dapat menyebabkan nya pingsan kembali. Bawa dia ke rumah sakit jika ia pingsan kembali, kamu akan merawat nya sampai ia benar benar sembuh kembali "
" Oh ya, bawa dia ke psikiater agar kondisi nya bisa seperti sebelum nya. Perlahan trauma nya akan menghilang dan akan bersikap biasa aja saat melihat barang itu kembali " perintah dokter itu.
" Iya, terima kasih, dok. Akan saya bawa Nia ke psikiater terbaik "
" Dan berikan obat ini kepada nya saat ia sudah sadar nanti. Dan obat ini juga di minum sehabis makan. Kedua nya harus di minum sampai habis " ucap dokter itu seraya memberikan obat yang harus di minum oleh Kania.
" Baik, dok. Akan saya berikan nanti "
" Bagus. Kalau gitu saya pamit pulang. Permisi " pamit nya.
" Iya, silahkan. Maaf saya tidak bisa mengantar anda keluar "
" Iya, tidak apa apa, saya lumayan hapal jalan keluar nya " ucap dokter itu sedikit bercanda. Daffa hanya tersenyum menanggapi dokter itu.
" Saya permisi, assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
__ADS_1
Dokter itu keluar dari dalam kamar Daffa-Kania. Daffa naik ke atas ranjang dan tidur sebelah Kania. Di usap pelan kepala Kania yang terbalut hijab instan.
" Maafkan aku, Nia. Coba aja aku gak ngajak kamu ketemuan waktu itu, kamu gak bakal kayak gini " ucap Daffa yang masih saja mengusap usap puncak kepala Kania setelah itu di cium puncak kepala nya dengan lembut.
__________
Daffa mengikuti apa yang di perintahkan oleh dokter keluarga nya waktu itu, ia rutin membawa Kania ke psikiater terbaik agar dapat mengembalikan Kania seperti semula. Ia juga sudah membicarakan nya kepada keluarga mereka agar mendapatkan persetujuan dari mereka.
Sudah seminggu Kania datang ke psikiater yang di temani oleh Daffa. Terlihat jelas perubahan yang di dapatkan oleh Kania seperti, ia sudah dapat melihat seperti biasa kolam renang tapi masih takut untuk di gunakan.
Sampai saat ini semua berjalan lancar, hanya satu yang Kania paling takuti, yaitu baling baling. Setiap ia melihat baling baling apapun itu, ia akan sangat ketakutan. Waktu ia koma, ia melihat sendiri cuplikan video yang menunjukkan tubuh nya yang tersayat sayat oleh baling baling kapal itu. Hal itu yang membuat Kania tak sanggup melihat baling baling, apalagi saat baling baling itu memutar seperti waktu baling baling kapal yang memutar dan menyayat tubuh nya.
" Mas, hari ini kita gak ke psikiater lagi? " tanya Kania karena biasa nya ia berdua selalu datang ke psikiater.
" Nggak, hari ini kamu istirahat di rumah aja, ya, jangan kemana mana pas aku nanti berangkat kuliah " suruh Daffa.
" Aku bosen, mas... " rengek Kania.
" Nanti kalau aku gak ada mata kuliah, aku ajak kamu jalan jalan, ya? " tawar Daffa.
" Aku juga mau kuliah, mas " pinta Kania.
" Lama... " Kania merengek lagi.
" Sabar, ya. Gimana selama itu kita ngurus anak? " tawar Daffa dengan senyum licik nya.
" Anak siapa? Maksud kamu aku di suruh jagain anak orang, gitu? Kan aku bukan baby sitter! " protes Kania.
Daffa menepuk kening nya. " Bukan itu maksud aku, sayang "
" Terus gimana? " tanya Kania dengan polos nya.
" Gini, nih... " Daffa langsung mencium bibir Kania dan mendorong pelan tubuh Kania.
Kania mengerti apa maksud Daffa sekarang. Mau menolak pun tak bisa, Daffa tak memberi nya celah sedikit pun. Kania hanya bisa pasrah.
Ting... Tong...
__ADS_1
Bel rumah mereka berbunyi. Daffa segera bangkit dan merapihkan kembali pakaian nya.
" Siapa, sih?! Ganggu banget! " gerutu Daffa seraya berjalan keluar kamar.
Kania tertawa kecil melihatnya.
" Alhamdulillah... " Kania bernafas lega karena tertolong.
Kania bangkit dari tidur nya dan merapihkan kerudung nya yang hampir di lepas oleh Daffa tadi nya.
Kania menyusul Daffa ke bawah. " Siapa
mas? "
" KANIA... " teriak teman teman nya seraya berhamburan ke arah Kania dan memeluknya.
Kania terkejut mendapatkan kejutan dari teman teman nya. Kania membalas pelukan mereka.
" Hiks... hiks... lu jahat Nia, kenapa gak kasih tau-in kita? Kita udah lama nunggu lu sadar. Hiks... " ucap Kiara yang masih memeluk erat tubuh Kania.
" Maaf "
Nesya melepaskan pelukan nya. " Bukan salah Nia, tapi suami nya yang gak kasih tau-in kita! " kesal Nesya.
" Dasar jailangkung. Datang gak di undang pulang gak di anter " gerutu Daffa kesal karena kesempatan emas nya jadi terbuang sia sia.
Daffa pergi kembali ke kamar dengan wajah yang kesal, meninggalkan Kania dengan teman teman nya di ruang tamu.
Kania tersenyum seraya menggelengkan kepala nya melihat tingkah Daffa.
" Mas kakak lu, napa sih? Sensi amat " protes Nesya.
" Maaf, ya. Mas Daffa lagi badmood, jadi kayak gitu deh... "
" Kenapa? " tanya Indah.
" Gak papa. Ayo sambil duduk lanjutin ngobrol nya. Gua ambil cemilan dulu, ya "
__ADS_1
" Iya "