Pernikahan Dini Dengan Musuhku

Pernikahan Dini Dengan Musuhku
bab 69


__ADS_3

Sesampainya di kediaman keluarga Kania, mereka langsung berjalan masuk menuju rumah. Saat Daffa membuka pintu, mereka disambut hangat oleh semua keluarga Kania.


"Selamat datang kembali dan juga untuk anggota keluarga baru kita, Shasha Sherly Arian." Sapa Husein dan Al-Fira hampir membuat Shasha menangis karena terkejut, namun dengan cepat Kania mengusap pelan wajahnya agar tertidur kembali.


"Maaf Shasha." Cicit Husein juga Al-Fira serempak. Mereka mencubit dan mencium gemas pipi gembul Shasha.


Kania menoleh kebelakang mencari keberadaan kedua mertuanya yang tidak berada di belakangnya.


"Mah, Pah?" panggil Kania pelan.


"Siapa Nia?" Al-Fira bertanya, sedikit takut seseorang yang dalam pikirannya ada di hadapannya.


"Mamah sama Papah." Balas Kania jujur.


"Orang tua aku Bun, Yah." Ucap Daffa yang mengerti tatapan Husein dan Al-Fira.


Revan menghampiri Daffa dan Kania yang berada di dekat pintu masuk.


"Mamah, Papah, ayo masuk." panggil Kania kembali.


Kirana dan Fahriz memasuki kediaman keluarga Kania sesuai dengan perintah dari Kania.


"Buat apa kau datang kemari, Fahriz?!!" Tanya Husein emosi.


Revan menggenggam pergelangan tangan Kania dan menariknya menjauhi Daffa. "Apa rencana kamu, Daffa?" Tanya Revan dingin.


"Mas, mereka-"


"Dinda, tolong ajak Nia dan lainnya untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing." Potong Revan cepat.


Dinda mengangguk. "Ayo dek?" Ajak Dinda pelan.


Kania menggeleng, menolak ajakan Dinda. "Nggak kak, Nia gak mau,"


"Mas, mereka gak ada niat jahat ke aku, mas. Papah gak kayak sebelumnya." Ucap Kania kepada Revan, mencoba meyakinkan.


"Kamu terlalu baik ke mereka, dek." Balas Revan.


"Nggak mas. Aku tau Papah gak akan kayak gitu lagi." Kekeh Kania.


"Biarkan Nia disini juga, Revan." Suruh Husein tegas.


Revan menatap Kania. "Berikan Shasha kepada Dinda, Nia." Suruh Revan.


"Dinda, tolong bawa Rena dan Shasha kedalam kamar kita." Suruh Revan kepada istrinya.

__ADS_1


Lagi-lagi Dinda mengangguk. "Sini dek. Kakak bawa Shasha ke dalam kamar. Biar gak ke ganggu tidurnya." pinta Dinda.


"Makasih, kak" ucap Kania tak enak. Dinda mengangguk setelahnya tersenyum, mengerti tatapan tak enak hati dari Kania.


Dinda membawa Rena dan Shasha masuk kedalam kamarnya. Setelahnya Iqbal dan Kayla juga masuk ke dalam kamar masing-masing setelah mendapatkan isyarat dari kedua orang tuanya.


"Maafkan aku, Husein," ucap Fahriz setelah keheningan melanda ruang tamu.


"Aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Aku sadar kesalahan ku berdampak buruk pada banyak orang."


"Apa buktinya jika kau tidak akan mengulangi hal yang sama?!" Tanya Husein sinis.


"Tentu aku sangat menginginkan bukti dari kamu. Aku tak akan membiarkan anak dan cucuku akan terjebak dalam rencana kalian kembali." Lanjut Husein.


"Aku akan melakukan apapun agar kalian percaya kembali kepadaku." Balas Fahriz mantap.


"Termasuk memenjarakan dirimu atas pencurian uang yang hampir menyebabkan perusahaan keluarga ku hancur?" Tanya Husein sinis.


Fahriz, Kirana, Daffa dan Kania tersentak mendengarnya. Daffa menoleh kearah Husein yang tersenyum sinis kepada Fahriz.


Setelah terdiam beberapa lama akhirnya Husein bersuara kembali. "Sudah ku duga-"


"Ya, aku siap, asal anak dan istriku tidak menderita kembali karena ulah ku." Potong Fahriz mantap.


"Yah, aku udah bilang kalau Papah itu bersungguh-sungguh dengan permintaan maafnya. Kenapa Ayah seperti itu?" Tanya Kania tak terima keputusan Ayahnya.


"Bukankah ucapan harus dibuktikan juga dengan perbuatan?" Husein bertanya balik kepada Kania.


"Tapi kenapa harus penjara, Yah?" Tanya Kania kembali.


"Karena orang suruhannya telah mencuri dana yang ada di perusahaan keluarga kita, Nia." balas Husein.


"Tapi bukankah Papah sudah mengembalikannya saat pernikahan ku dan mas Daffa kembali?" tanya Kania mencoba membatalkan keputusan Husein.


"Terima kasih sudah membela Papah, Nia. Ini memang kesalahan Papah, Papah pantas mendapatkannya." Balas Fahriz.


Daffa hanya terdiam. Ia bingung antara harus memilih keluarganya atau keluarga istrinya. Namun, jika ia membela keluarganya, apa yang harus dibela? 'Toh memang itu sudah menjadi kesalahan Papahnya dan pantas mendapatkan hukuman. Tapi ia juga tak ingin membuat Kirana bersedih. Ia tak tega jika itu menyangkut tentang Ibunya. Jika ia membela keluarga istrinya, ia tak mau Ibunya marah kepadanya, bagaimanapun anak lelaki masih menjadi milik keluarganya walaupun ia sudah menikah. Jadinya Daffa dilanda kegundahan saat ini dan lebih memilih untuk berdiam.


"Papah mertuamu 'pun sudah mengakui kesalahannya, bukan?" Ucap Husein.


"Iya, aku setuju dengan keputusanmu." Balas Fahriz.


"Kita balik ke Indonesia saat ini juga." Suruh Husein kepada seluruh anggota keluarganya.


"Yah ...." Lirih Kania.

__ADS_1


"Yah, apakah tak ada hukuman selain penjara untuk Papahku?" Tanya Daffa menahan pergelangan tangan Husein yang hendak pergi memasuki kamarnya.


"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Husein menaikkan satu alis matanya.


"Jujur aku sebagai anaknya merasa keberatan, Yah. Apakah memang tak ada kata maaf dari Ayah untuk Papahku?" tanya Daffa meminta keringanan.


"Ada, setelah ia mendapatkan hukumannya." Balas Husein melepaskan tangannya yang digenggam oleh Daffa dan berlalu meninggalkan keluarga Daffa. Juga di ikuti oleh Al-Fira, Akbar dan Anis.


Kania ingin menghampiri Daffa, namun ditahan oleh Revan. "Kamu juga bersiaplah." Suruh Revan.


"Setelah aku berbicara dengan keluarga suamiku, mas. Kalian duluan aja." Balas Kania.


"Mas akan menunggumu sampai selesai berbicara dengan mereka."


"Mas Revan ...." Kania menatap Revan penuh harap.


"Hanya sebentar saja." balas Revan berlalu meninggalkan Kania. Kania berterima kasih setelahnya tersenyum kepada kakak satu-satunya.


Kania melanjutkan kembali berjalan menuju Daffa yang sempat ditahan oleh Revan.


"Tolong maafkan keluargaku Pah, Mah." Ucap Kania mewakili keluarganya.


"Tidak perlu, Nia. Yang mereka lakukan sudah benar" balas Fahriz.


"Kita akan kembali ke apartemen dekat sini untuk bersiap juga." Pamit Fahriz.


Kania mengangguk. "Akan aku usahakan untuk membujuk mereka agar tidak melakukan hal demikian. Tapi ku mohon jangan mengecewakan aku dan keluargaku kembali." Pinta Kania.


"Pasti, Nia." Balas Kirana.


"Kami pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


Kania menghadap kearah Daffa. "Maafkan keluarga aku, mas." Ucap Kania kepada Daffa.


"Terima kasih untuk tadi. Kamu membela keluargaku yang jelas jelas bersalah pada keluarga kalian." Balas Daffa.


"Tolong jangan berterima kasih kepadaku, mas. Karena mereka juga keluargaku, mas." Balas Kania tersenyum.


Daffa tersenyum. Mengecup sekilas puncak kepala Kania. "Terima kasih." ucapnya.


"Ayo kita bersiap." Ajak Daffa.


__________

__ADS_1


__ADS_2