
" Bunda... Nia mau ketemu sama Mas Daffa, sekali aja " pinta Kania penuh harap.
" Maaf Nia, bukan Bunda mau menghancurkan pernikahan kalian, tapi mereka yang memulai nya. Bunda gak mau mereka melakukan itu kepada mu, maka sebelum mereka melakukan itu, Bunda yang lebih dulu mengambil kamu dari mereka agar kamu tidak terlalu sakit hati nanti nya. Maaf-in Bunda, Nia " balas Al-Fira.
Nia menunduk. " Boleh Nia pinjam hp Bunda? Sebentar aja. Nia mau liat sosial media nya Mas Daffa. Setidaknya liat muka nya bisa ngilangin rasa kangen Nia " pinta Kania sekali lagi.
Al-Fira menatap sendu anak nya. " Boleh" balas Al-Fira seraya menyerahkan ponsel nya kepada Kania. Dengan senang hati Kania menerima nya.
" Maaf-in Bunda, Nia " lanjut Al-Fira.
" Gak usah minta maaf mulu, Bunda. Bunda dan yang lain nya kayak gini karena peduli sama Nia. Nia sayang kalian. Makasih Bunda" balas Kania seraya memeluk tubuh Al-Fira dan Al-Fira pun membalas pelukan dari anak bungsu nya.
"Ya udah Bunda keluar dulu. Kalo udah selesai make hp nya taro aja di situ, ntar Bunda ambil" ucap Al-Fira seraya menunjuk atas nakas.
"Iya Bunda. Makasih" Al-Fira mengangguk setelah nya keluar dari dalam kamar Kania.
Kania membuka akun sosial Daffa lewat ponsel sang Bunda. " Mas Daffa udah gak aktif selama tiga hari? Kemana ya? Sekarang Mas Daffa lagi apa ya? Dia nyari aku gak ya?" ucap Kania bertanya pada diri nya sendiri.
__________
Indonesia.
"Mah... Bangun, ayo makan dulu"
"Aku gak mau makan, Mas. Bawa Daffa dan Nia kembali. Aku bakal makan nanti" lirih wanita itu.
"Jangan sebut anak itu! Anak gak tau diri dia! Dari kecil udah kita turuti semua kemauan nya, sekarang udah besar, malah ngelunjak! Gak tau terima kasih dengan orang tua! Ninggalin orang tua demi cewek!" balas pria itu emosi. Dia adalah Fahriz-Papahnya Daffa.
"Daffa gak salah, Mas! Kamu yang udah kelewatan. Apa yang Daffa lakukan adalah keputusan yang tepat" ucap Kirana.
"Kamu berniat ngancurin masa depan anak anak, Mas?!" lanjut Kirana.
"Apa yang aku lakukan salah?! Aku melakukan nya agar dapat warisan dari orang tuaku"
"Salah! Salah banget, Mas! Kamu bahkan menyembunyikan semua nya dari aku! "
"Aku hanya ingin Daffa memilih jodohnya sendiri. Kania hanya sebagai perantara warisan orang tuaku!" ucap Fahriz tegas.
"Kalau begitu aku gak mau makan. Lebih baik aku sakit lalu meninggal daripada harus melihat Mas seperti itu kepada anak dan menantu ku!" ucap Kirana seraya membelakangi Fahriz. Saat ini Kirana memang sedang berada di rumah sakit dan ia harus menjalani rawat inap karena kondisi nya yang lemah karena tidak makan selama dua hari.
"Makan, Ran!" ucap Fahriz kesal. Tak ada jawaban dari Kirana.
"Terserah! Aku mau keluar dulu!" ucap Fahriz seraya meninggalkan Kirana yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Fahriz seraya menjambak rambutnya.
"Aku sudah melakukan apa yang Papa dan Bunda mau, tapi mengapa keluarga ku tak suka dengan keputusan ku?! Mengapa Papa, Bunda?" Fahriz bertanya sendiri, ia frustasi saat ini.
Flashback.
Enam belas tahun yang lalu, di sore hari.
" Masya Allah Mbak Nina, Nia imut banget. Cantik juga kayak Bunda nya " ucap wanita paruh baya yang sedang menggendong seorang bayi juga.
" Terima kasih Mbak Hilda. Daffa juga Masya Allah cakep dan gantengnya " balas sang lawan bicara.
Mereka adalah Nina dan Hilda, nenek dari Daffa dan Kania. Nina adalah nenek dari Kania, sedangkan Hilda adalah nenek dari Daffa. Mereka berdua adalah tetangga satu komplek di perumahan mewah yang mereka tempati.
" Makasih Mbak " balas Hilda.
Mereka berdua, Nina dan Hilda sedang membawa cucu mereka masing masing jalan jalan sore keliling komplek dengan menggunakan stroller atau bisa juga disebut dengan kereta dorong.
" Saya jadi mau nikahin mereka deh " ucap Hilda tiba tiba.
Nina tertawa. " Mbak Hilda bisa aja " balas Nina disela sela tawanya.
" Ih bener deh, mbak " ucap Hilda bersungguh sungguh.
" Jodoh-mah, di tangan Tuhan, mbak. Gak ada yang tau " ucap Nina. Hilda hanya tersenyum mendengarnya.
Selanjutnya jalan sore mereka di isi dengan pembicaraan ringan hingga mereka berdua sama sama balik ke rumah masing masing.
Di kediaman orang tua Fahriz, di dalam kamar Hilda dan Adit-suami Hilda.
" Mas " panggil Hilda kepada sang suami yang sedang menyelesaikan pekerjaan nya di atas ranjang dengan menggunakan laptop yang di taruh di atas paha nya.
__ADS_1
" Hmm... " Adit-pria yang dipanggil oleh Hilda hanya berdehem membalas panggilan sang istri dan tatapannya yang tetap tertuju pada laptop nya.
" Boleh gak ya, aku pilih-in jodoh buat Daffa?"
Adit terkejut, ia langsung beralih menatap sang istri yang berbaring di sebelah nya. "Kamu ngomong apa, sih? Ada ada aja kamu. Daffa masih kecil, jangan main jodoh jodoh-an gitu, Mah" balas Adit menasehati.
"Tapi menurut aku cucu nya mbak Nina cocok sama Daffa" kekeh Hilda.
" Cucu mbak Nina? Istrinya Pak Ananta?" tanya Adit.
" Iya Mas "
" Aneh aneh aja kamu "
" Mas aku beneran loh... Aku jamin mas pasti setuju sama pilihan aku " ucap Hilda percaya diri.
Adit menggeleng melihatnya. " Terserah kamu dah" ucap Adit pasrah. Sedangkan Hilda tersenyum mendengar jawaban dari Adit.
Beberapa hari berlalu. Saat ini Fahriz, Kirana beserta Daffa kecil berkunjung kembali ke rumah orang tua Fahriz.
" Bunda mau bicara sama kamu, Fahriz" ucap Hilda seraya berjalan terlebih dahulu ke arah kamarnya.
Fahriz menatap Kirana, lalu Kirana mengangguk. " Sana, Bunda nunggu loh..." ucap Kirana.
" Iya " Fahriz berjalan menuju kamar kedua orang tuanya.
" Kenapa Bun? " tanya Fahriz saat sudah berada di dalam kamar kedua orang tuanya.
" Ada hal penting yang pengen Bunda bicarakan " balas Helda seraya berbalik badan menghadap Fahriz.
" Apa itu? Soal perusahaan? Bilang Bunda" tanya Fahriz khawatir.
" Lebih dari itu "
" Bunda berniat menjodohkan Daffa-anakmu dengan Kania-anak teman kamu " lanjut Hilda.
" Bunda apa apa-an sih? Daffa masih kecil Bun, main jodoh jodoh-in begitu, Fahriz gak setuju. Lagipula Fahriz tidak akan memaksa Daffa untuk menerima perjodohan ini. Daffa akan memilih jodohnya sendiri, Bun " tolak Fahriz mentah mentah.
" Kenapa? Daffa dan Kania menurut Bunda cocok " kekeh Hilda.
" Iya "
" Ya ampun Bun... Gak, Fahriz gak setuju pokoknya "
" Kenapa? " tanya Hilda kecewa.
" Maaf Bun, Fahriz gak mau Daffa harus menjalankan pernikahan karena terpaksa, Bun. Daffa masih kecil, baru dua tahun, tapi Bunda udah mikirin jodoh buat Daffa. Jangan Bunda, Fahriz gak mau " putus Fahriz seraya meninggalkan Hilda sendiri di dalam kamarnya. Hilda menatap punggung kekar anaknya yang perlahan tak terlihat dari ambang pintu dengan perasaan kecewa, padahal ia berbicara serius saat ini.
" Bunda ngomong apa sama 'mas? " tanya Kirana kepada Fahriz yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
" Bukan apa apa. Gak penting "
Delapan tahun setelah kejadian itu Hilda mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia meninggal. Sebelum meninggal ia sempat menyampaikan pesan kepada Fahriz.
" Tolong turuti permintaan terakhir Bunda, Fahira " dengan susah payah Hilda berbicara.
" Bunda... " ucap Adit menatap sendu ke arah sang istri yang terbaring lemah.
" Bunda jangan ngaco, Bunda gak bakal kemana mana " balas Fahriz hampir menangis.
" Fahriz, Bunda mohon. Ini permintaan terakhir Bunda. Bunda mau Daffa menikah dengan Kania. Bunda mohon " pinta Hilda.
" Bunda... Jangan kayak gini Bun, Fahriz mohon. Bunda gak bakal kemana mana, Bunda akan sama kita terus " ucap Fahriz.
" Hilda, apa apa-an kamu? Jangan bilang kalau kamu seakan akan bakal ninggalin aku. Kamu akan terus bersama aku, bersama keluarga kita, ingat itu Hilda " ucap Adit tak terima.
" Gak bisa. Bunda gak kuat. Maaf-in Bunda. Tolong kabulkan permintaan terakhir dari Bunda. Bunda mohon " ucap Hilda melemah.
" PERAWAT!!! DOKTER!! TOLONG!!! " teriak Adit.
Tak lama dokter beserta perawat datang dengan tergesa gesa karena teriakkan dari Adit.
" Ada apa pak?! "
" Sembuhkan istri saya kembali!!! SAYA MOHON DOK " ucap Adit berteriak.
__ADS_1
" Iya pak. Tolong tenangkan diri anda terlebih dahulu, ini tempat umum " ucap dokter tersebut seraya memasuki ruangan Hilda.
Adit dan Fahriz tak bisa tenang, menunggu kabar baik dari dokter yang menangani Hilda.
" Keadaan Bunda gimana, mas? Maaf aku terlambat, tadi aku ke sekolah Daffa dulu, kasih tau ke dia kalo kita gak ada di rumah" ucap Kirana yang baru saja datang.
" Tenang Ran, Bunda... "
" Gimana keadaan nya, dok? " tanya Adit yang melihat dokter keluar dari dalam ruangan Hilda.
" Maaf, Kami udah berusaha sebaik mungkin, tapi beliau sudah lebih dulu berpulang " balas dokter tersebut.
" DOKTER JANGAN BERCANDA SAMA SAYA!!! " ucap Adit tak terima.
" Pelankan suara anda, tuan! " ucap perawat itu memperingati.
" Maaf, tubuhnya melemah dan menolak untuk pasang selang infus. Kami tak bisa, maafkan kami " ucap dokter tersebut.
BRAAK...
" Papa!!! " Fahriz dan Kirana menghampiri Adit tiba tiba terjatuh pingsan.
Untuk sementara, Fahriz membawa Adit-sang Papa ke dalam ruang UGD.
" Ran, tolong jaga Papa dulu, aku mau ke Bunda " suruh Fahriz.
" Iya, Mas " balas Kirana menurut.
Fahriz berjalan meninggalkan Kirana berdua dengan sang Papa di UGD dan berjalan menuju ruangan Hilda-Bundanya.
Ceklek...
Fahriz membuka pintu ruangan dimana Hilda berada. Terdapat seorang perawat di dalamnya.
" Maaf apakah anda tuan Fahriz? " tanya perawat itu menghampiri Fahriz.
" Iya, saya " balas Fahriz menatap wajah pucat Hilda.
" Sebelum meninggal nyonya Hilda menitipkan pesan kepada anda, katanya beliau meminta anda untuk menjodohkan Daffa dengan Kania. Itu yang ia ucapkan sebelum meninggal " ucap perawat tersebut menyampaikan.
" Iya, terima kasih " balas Fahriz seraya berjalan menuju ranjang rumah sakit yang di gunakan oleh Hilda. Fahriz memeluk tubuh Hilda dan menangisi kepergian nya.
" Ikhlaskan nak, Tuhan sayang pada Bunda mu sehingga Bunda mu yang terlebih dahulu meninggalkan kita " ucap Adit dari ambang pintu yang di belakangnya juga terdapat Kirana.
Fahriz beralih memeluk tubuh Adit dan menangis di dalam pelukan nya. Adit mengusap pelan tubuh anaknya untuk menenangkan Fahriz.
" Permisi, pasien harus segera di mandi kan sebelum di kebumikan " ucap seorang perawat.
" Baiklah "
Tiga hari setelah Hilda di kebumikan, Adit memanggil Fahriz ke dalam kamarnya.
" Ada apa, Pa? " tanya Fahriz dari ambang pintu.
" Masuklah " titah Adit. Fahriz menurut.
" Papa harap kamu melakukan permintaan terakhir dari Bunda mu " ucap Adit to the point.
Fahriz terkejut, bagaimana bisa Papanya mengetahui permintaan terakhir dari Bunda nya " Gak bisa, Pah. Fahriz hanya ingin Daffa memilih jodohnya sendiri "
" Itu permintaan Bunda mu, nak. Apa kau tidak menyayanginya? "
" Aku sayang, sungguh sayang kepada Bunda, tapi, apa harus mengobarkan masa depan anak ku, Pa? Sampai kapan pun Fahriz tidak setuju " balas Fahriz hendak keluar kamar.
" Lakukan atau kau tak dapat warisan dari ku!" ancam Adit. Fahriz tertegun, bagaimana bisa dia tak dapat warisan dari Papanya sedangkan ia adalah pewaris tunggal dari Papanya.
" Papa harap kamu memilih yang tepat, anak ku " ucap Adit.
Fahriz kira ancaman dari Papanya hanya bercanda, namun nyatanya sampai Adit-sang Papa meninggal pun ia telah menyiapkan semuanya. Adit sudah meminta pada pengacara nya untuk memberikan warisan kepada anaknya setelah ia menjodohkan Kania dan Daffa lalu mendapatkan keturunan dari pernikahan kedua nya.
Saat Hilda meninggal keluarga mereka sudah pindah ke Bandung sehingga keluarga Kania tak ada yang tau. Tapi, 5 tahun yang lalu Fahriz sengaja menyuruh Kirana beserta Daffa untuk pindah ke Jakarta untuk menjalankan wasiat dari kedua orang tua nya.
Flashback Off.
" Aku sudah menuruti keinginan kalian, Bunda, Papa, tapi mengapa jadi begini? " gumam Fahriz.
__ADS_1