
Daffa membawa Kania keluar ruang rawatnya menuju tempat dimana bayinya berada. Tepat saat Daffa dan Kania berada di pintu masuk menuju ruang bayinya, saat itu pula dokter keluar dari dalam.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya sang dokter.
"Kita ingin menemuinya" balas Daffa. Yang dimaksud Daffa adalah bayi mereka.
"Saya sudah pernah mengatakan sebelumnya bukan? Tidak ada yang boleh menemuinya karena itu akan mempengaruhi perkembangan kesembuhan bayi itu." Jelas sang dokter.
Ruangan bayi yang dipakai adalah ruangan VIP sehingga tak sembarang orang dapat masuk. Hanya dokter dan perawat saja yang diperbolehkan.
"Saya mohon dok," pinta Kania setelah ia diturunkan oleh Daffa.
"Saya mau ketemu anak saya. Sekali ini saja, saya mohon. Saya gak bakal apa apa-in dia." Lanjut Kania.
"Maaf nyonya, ini akan mempengaruhi kesembuhannya. Ia akan merasa terganggu nanti." Ucap dokter tersebut yang tetap menjelaskannya.
"Tapi saya Ibunya, dok" kekeh Kania.
"Maaf" lagi, dokter itu tetap tidak memperbolehkan Kania masuk ke dalamnya.
Tentu Kania kecewa mendengarnya. Ia pun tak ingin ambil resiko berbahaya yang nantinya akan semakin mempengaruhi kesembuhan anaknya.
Kania beralih menatap kaca jendela yang berada di sebelah pintu masuk. Kania melangkahkan kakinya menuju jendela kaca tersebut.
Deg ....
Hatinya terenyuh melihat keadaan anaknya dari balik kaca jendela. Tubuh mungil yang terpasang banyak sekali selang infus untuk alat bantu hidupnya saat ini.
"Sayangnya Bunda ...." Lirih Kania tak sanggup melihatnya. Perlahan air matanya turun membasahi pipinya.
Daffa menarik Kania dalam pelukannya dan mengusap pelan punggungnya yang bergetar karena menangis.
"Menangislah sepuasmu bila itu dapat mengurangi rasa sakit mu" ucap Daffa mengeratkan pelukannya.
"Ayo kita balik, mas. Nia gak sanggup ngeliatnya. Nia gak tega mas ...."
"Hati Nia sakit ngeliat Shasha kayak gitu, mas. Nia gak tega." Kania melonggarkan pelukannya dan memukuli dadanya yang terasa sangat sesak melihat anaknya. Ia merasa menjadi Ibu yang tak berguna saat ini.
Shasha, nama pemberian Kania yang sudah lama ia siapkan semenjak chek-up bulanan dan mengetahui jenis kelaminnya.
Daffa menahan pergelangan tangan Kania yang ia gunakan untuk memukuli dirinya sendiri. "Jangan gitu, Nia. Jangan kamu sakitin diri kamu sendiri." ucap Daffa yang ikut sakit melihatnya.
"Nia gak berguna mas ...." racau Kania.
__ADS_1
"Ayo kita balik." Ajak Daffa.
"Permisi, dok" Daffa pamit kepada dokter untuk balik ke ruangan rawat Kania. Daffa mengangkat kembali tubuh Kania. Dokter itu mengangguk mengiyakan sebelum Daffa pergi membawa Kania.
__________
Empat hari berlalu. Kania sudah diperbolehkan untuk kembali pulang, tapi tidak dengan anaknya yang masih harus tetap melakukan perawatan khusus.
Awalnya Kania menolak untuk pulang kembali ke rumah. Ia hanya ingin berada didekat anaknya. Tapi akhirnya Kania menurut setelah banyak bujukan dari keluarganya.
Kondisi Kania telah stabil, tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang selalu mengkhawatirkan keadaan anaknya. Setiap ia terbangun dan membuka hari baru, hal pertama yang ia tanya adalah keadaan anaknya. Dan jawaban selalu membuat Kania kecewa, yaitu tak ada perkembangan dari kondisi anaknya.
"Nia ayo makan dulu ...." Perintah Daffa yang telah berulang kali diabaikan oleh Kania.
"Kalau gak mau makan ntar gak boleh ketemu Shasha, ya?" Ancam Daffa yang berhasil membuat Kania menoleh langsung kepadanya. Ancaman yang berhubungan dengan Shasha-anaknya selalu berhasil membuat Kania menurut dan langsung melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Kita ketemu Shasha ya, kalo makannya udah abis?" Tanya Kania disela-sela makannya.
"Kalau lagi makan 'tuh diem, jangan banyak ngomong" suruh Daffa. Setelah Daffa berbicara demikian, Kania menurut dan tak berbicara sama sekali sampai makanan yang ia makan telah habis.
"Ayo kita jenguk Shasha." Ajak Kania bersemangat.
"Izin sama Bunda dulu." Suruh Daffa.
Tok .... Tok .... Tok ....
Kania mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya yang terkunci dari dalam.
Ceklek ....
Pintu kamar dibuka oleh Al-Fira.
"Bun, Nia mau ketemu Shasha, ya?" Izin Kania berharap Ibunya mengizinkannya untuk kembali kerumah sakit.
"Kamu baru sampe, sayang. Besok aja, ya?" Alibi Al-Fira.
"Nia gak capek 'kok. Shasha udah nunggu Nia. Shasha sendiri disana, kasian." Pinta Kania kembali berharap.
"Besok aja ya sayang? Pagi-pagi abis sarapan kamu boleh kesana. Daffa juga pasti gak izinin kamu, iya kan?" Tebak Al-Fira.
"Mas Daffa gak bilang gitu."
"Terus bilang apa?"
__ADS_1
Kania diam. Ia memang belum mendapatkan persetujuan dari Daffa, tapi ia juga tak mendapatkan penolakan darinya.
"Kenapa diam? Daffa bilang apa?"
"Mas Daffa gak bilang apa apa 'sih ...." balas Kania jujur.
"Berarti gak boleh. Besok pagi aja, ya?" Bujuk Al-Fira kembali.
"Tapi mas Daffa gak bilang gitu 'kok, Bun." Kekeh Kania.
"Nia, kamu juga masih perlu istirahat yang banyak, sayang,"
"Bukan Bunda berniat buat halang halangin kamu ketemu anak kamu, tapi Bunda juga khawatir sama keadaan kamu, sayang. Kamu juga baru pulang. Kamu istirahat dulu, besok kesananya." Al-Fira memberi pengertian kepada Kania.
"Iya Bunda." putus Kania yang langsung berbalik menuju kamarnya kembali.
Al-Fira menatap sedih kearah Kania yang berjalan dengan perlahan karena tak bersemangat. Ia merasa kasian kepada anak bungsunya, tapi ia harus melakukan ini juga demi kebaikannya.
"Maaf-in Bunda, Nia" gumam Al-Fira.
__________
"Bagaimana bisa?! Bukankah hingga kemarin keadaannya tak ada yang berubah?!" Bentak seorang dari balik teleponnya yang menyebabkan penghuni rumah kaget dan menghampiri sumber suara.
"Kenapa Bang?" Adiknya lebih dulu menghampiri kakaknya yang keadaannya tak baik saat ini.
"Kenapa Mas?" Disusul oleh sang istri yang baru datang dan ada beberapa orang juga di belakangnya.
Yang ditanya hanya diam setelah memutuskan telepon secara sepihak, ia bingung bagaimana menjelaskan kepada semua orang tentang berita ini.
"Kenapa mas, bilang?" Ulang sang istri khawatir karena pertanyaannya tak dibalas.
"Kita kerumah sakit sekarang!" Bukannya menjawab, Husein-yang menerima telepon barusan langsung mengajak seluruh keluarganya menuju rumah sakit.
Kania yang baru turun 'pun langsung menghampiri Ayahnya setelah mendengar kata 'rumah sakit' dari Ayahnya.
"Kenapa, Yah? Ayah mau kerumah sakit?" Tanya Kania cemas.
"Akbar, Daffa kau juga ikut." Husein menyuruh adiknya untuk ikut pergi bersamanya.
"Aku ikut, Yah." Pinta Kania cepat. Perasaannya tak tenang setelah mendengar kata rumah sakit. Awalnya Husein nampak ragu menjawab ucapan Kania, tapi pada akhirnya Kania juga diperbolehkan untuk ikut bersama mereka. Al-Fira dan juga Anis ikut atas perintah Husein. Dan sisanya disuruh untuk menjaga rumah.
__________
__ADS_1