
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Daffa kembali masuk ke dalam ruang inap Kania yang sebelumnya di jaga oleh Mamah dan juga mertua nya.
" Assalamualaikum " ucap Daffa seraya membuka pintu ruangan Kania.
" Waalaikumsalam " balas Al-Fira dan Kirana serempak.
Daffa menghampiri kedua nya setelah itu mencium punggung tangan kedua nya.
" Udah makan Mah, Bun? " tanya Daffa.
" Belum "
" Daffa mau keluar sekalian beli makan. Mamah sama Bunda mau makan apa? "
" Apa aja "
" Ya udah, Daffa keluar dulu, ya. Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam. Hati hati di jalan Daffa"
" Iya Mah, Bun. Makasih "
Daffa pergi keluar lagi untuk mencari makan malam mereka bertiga.
Tak lama, Daffa kembali setelah membeli makan malam mereka.
Daffa, Kirana dan Al-Fira makan bersama. Seperti biasa, Daffa tak pernah habis memakan makanan nya.
" Daffa, habiskan makan mu! " suruh Kirana.
" Nanti Daffa lanjutin lagi " balas Daffa seraya membersihkan makanan nya dan ia simpan di atas meja.
" Habiskan Daffa. Kamu baru sedikit makan nya. Kamu bisa sakit nanti " suruh Al-Fira dengan lembut.
" Daffa sudah kenyang, Bunda. Kalau Daffa lapar, Daffa makan lagi nanti " Daffa menjelaskan.
" Selera makan kamu menurun, Daffa. Kalau Nia sudah sadar, pasti dia bakal khawatir karena kamu " Kirana menjelaskan. Daffa memang agak kurus-an di bandingkan dengan sebelum Kania di nyatakan koma. Ia jadi tidak terlalu terurus, pola makan nya tidak teratur, jarang tidur dan sering kali menangis di depan Kania.
" Kalau Nia sudah sadar, Daffa akan melanjutkan makan nya kembali. Tapi sekarang Daffa gak ada mood untuk ngelanjutin makan, Mah... "
__ADS_1
Kirana dan Al-Fira diam, tak melanjutkan kembali pembicaraan mereka. Mereka tak tau harus apa, hanya Kania yang bisa mengembalikan Daffa seperti semula.
Daffa berjalan ke arah ranjang rumah sakit yang di gunakan oleh Kania.
" Mamah, Bunda, Nia kenapa?! " tanya Daffa khawatir karena melihat wajah Kania penuh dengan keringat.
" Kenapa Daffa? " kedua nya menghampiri ranjang rumah sakit yang di gunakan Kania.
" Ya Allah. Nia kenapa? " Al-Fira bertanya balik.
" Panggil dokter! " suruh Kirana.
Daffa segera berjalan menuju ujung ruangan dan memencet tombol yang ada disana untuk memanggil dokter.
Tak lama dokter datang dengan perawat di belakangnya. " Ada apa? " dokter itu bertanya.
" Tolong periksa dia, dok " suruh Daffa.
Dokter berjalan ke arah Kania. Ia mengecek apa penyebab Kania mengeluarkan keringat yang banyak walau di tempat ber-AC.
" Apa yang terjadi dok? " tanya Daffa saat dokter sudah selesai memeriksa keadaan Kania.
" Ma-maksudnya dok? " Kirana dan Al-Fira tak paham.
" Selamat, ia telah melewati masa koma nya. Mungkin dalam beberapa hari ini ia akan kembali tersadar " jelas dokter itu.
Senyum Daffa, Al-Fira dan Kirana mengembang. Setelah sekian lama mereka menunggu Kania tersadar dan ternyata usaha tak menghianati hasil.
Tubuh Daffa jatuh ke lantai. Daffa bersujud syukur di lantai rumah sakit.
" Terima kasih, Ya Allah. Doa ku telah di ijabah oleh mu. Terima kasih, Ya Allah " ucap Daffa dengan tangis haru di sela sela ucapan nya.
Al-Fira dan Kirana juga tak henti henti melafaskan Asma Allah. Mereka bersyukur akhirnya penantian yang panjang berbuah manis.
Daffa bangun dari sujud nya dan mengusap air mata nya.
" Tapi, kenapa ia mengeluarkan banyak keringat, dok? " Daffa bertanya.
" Itu terjadi karena ia mengalami trauma berat yang mengakibatkan ia sangat takut untuk membuka mata nya " dokter itu menjelaskan
__ADS_1
" Trauma? "
" Iya. Seperti nya trauma itu yang menyebabkan nya sampai koma. Ia enggan membuka mata nya karena takut akan kejadian itu terulang kembali "
" Tapi tenang saja, ia sudah melewati masa koma nya, tinggal tunggu sadar saja, mungkin beberapa hari atau beberapa jam lagi, saya tidak tau pasti. Tapi, jika ia sudah siuman, panggil kami kembali "
" Baik, dok "
" Kalau begitu saya permisi " pamit dokter itu.
" Iya silahkan "
Dokter beserta perawat itu keluar dari dalam ruangan Kania.
" Singapura adalah pilihan yang sangat tepat Daffa " puji Kirana. Daffa dan Al-Fira mengangguk setuju.
" Mbak Kirana, Daffa, terima kasih karena kalian sudah melakukan yang terbaik untuk Nia. Saya sangat berterima kasih kepada kalian " ucap Al-Fira.
" Kenapa harus berterima kasih, Bun? Nia sudah menjadi tanggung jawab Daffa. Apapun yang terjadi pada Nia, Daffa akan melakukan yang terbaik untuk nya "
" Iya mbak, kenapa mbak harus berterima kasih? Nia juga anak saya loh, mbak " balas Kirana.
" Maaf, saya terlalu senang sampai melupakan itu " ucap Al-Fira disertai dengan senyum nya.
" Gak papa, mbak. Santai aja, saya cuma bercanda. Saya juga sangat senang saat ini"
" Gak papa, Bun. Daffa juga sangat senang karena akhirnya kabar yang di tunggu datang juga " ucap Daffa. Al-Fira dan Kirana mengangguk.
" Iya, alhamdulillah... " ucap Al-Fira.
" Ya udah, kalo gitu kamu lanjutin lagi makan nya, ntar kalo Nia sadar dia bakal sedih liat suami nya kurus tak terawat " suruh Kirana.
" Iya, Mah " Daffa mengiyakan perkataan Mamah nya lalu ia mengambil kembali makanan nya yang belum habis.
" Kamu masih kayak anak kecil yang di kasih mainan baru mau makan " ledek Kirana. Al-Fira tertawa mendengar nya.
" Gak papa yang penting Nia gak sedih nanti nya pas liat Daffa " balas Daffa tak peduli.
Kirana dan Al-Fira tertawa seraya menggelengkan kepala nya, heran dengan tingkah Daffa yang tiba tiba seperti anak kecil kembali.
__ADS_1
__________