
Kania terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu dengan suara yang berisik dari luar ruangannya.
Kania penasaran dengan apa yang terjadi diluar ruangannya. Dengan perlahan Kania mencoba bangun dari tidurnya.
"Bismillah ...." Gumam Kania mencoba bangun sendiri.
Kania tersenyum ketika ia berhasil bangun sendiri tanpa bantuan siapapun. "Alhamdulillah ...." Ucap Kania.
Saat pandangannya tertuju pada pintu masuk, saat itu Kania baru sadar kalau Daffa sudah tak ada di atas sofa itu lagi. Kania beralih menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Mas Daffa kemana, ya?" Gumam Kania bertanya pada dirinya sendiri.
Kania menurunkan kakinya keatas lantai dan mengambil tiang selang infus yang terhubung dengan infus di tangannya.
"Ssh ...." Kania berjalan perlahan seraya meringis menahan sakit di perutnya karena bekas operasi caesarnya.
Saat Kania hendak menggapai knop pintu, ia dapat mendengar jelas apa yang dibicarakan oleh orang orang yang berada dibalik pintu tersebut. "....Terus kita akan mengatakan apa kepada Nia nanti?" Itu suara Al-Fira dengan nada cemasnya.
Kania mengurungkan niatnya untuk membuka pintu setelah mendengar ucapan Al-Fira. Kania penasaran apa yang dibicarakan oleh orang orang dibalik pintu itu. Ia menempelkan telinganya dipintu, siap mendengar apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Aku gak tau" balas Husein dengan nada bicara yang lemas.
"Abang bilang apa ke Nia?" Tanya Akbar.
"Menjanjikannya bertemu dengan anaknya jika ia mau makan" balas Husein.
"Tapi jika ia bertemu dengan anaknya kemungkinan kata dokter ia akan nge-drop 'kan, Bang ...." ucap Anis menimpali.
Drop? Memangnya apa hubungannya jika bertemu dengan anaknya? Pikir Kania.
"Iya. Memang itu yang dokter katakan." Balas Al-Fira.
"Terus kita bilang apa nanti, Yah?" Tanya Revan.
"Ayah gak tau. Yang terpenting, jangan kasih tau ke Nia dulu" pinta Husein.
"Sampai kapan kita sembunyi-in masalah ini ke Nia, Yah?" Tanya Dinda merasa kasian kepada adik iparnya.
"Sampai keadaannya benar benar pulih untuk mengetahui keadaan anaknya yang kritis, Dinda" balas Husein.
Deg ....
Tubuh Kania lemas seketika mendengar ucapan Ayahnya.
"Kritis? Anak siapa yang sedang kritis? Gak mungkin bayi aku 'kan?" Batin Kania.
Ia menutup mulutnya rapat rapat menggunakan tangannya agar tangisnya tidak terdengar oleh siapapun. Perlahan ia mundur dari ujung pintu.
"Jangan bilang itu bayi aku?" Batin Kania menepis pikiran negatifnya.
__ADS_1
"Sangat kecil kemungkinan bayinya Nia dan Daffa untuk sembuh" lanjut Husein.
"Apa? Bener? Tapi kenapa ia bisa kritis?" Kania membatin kembali.
Dirinya tak sanggup menerima kenyataan pahit itu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis saat ini.
Disela-sela tangisnya, Kania merasa kepalanya berputar, tubuhnya sangat lemas untuk menopang berat badannya sendiri. Perlahan pandangannya mulai kabur, ia tak bisa fokus untuk melihat.
Brug ....
Tubuh Kania ambruk seketika setelah mencoba menghilangkan rasa sakit yang berdenyut kencang di kepalanya. Rasa sakit itu semakin besar ia rasakan, dan terjatuh ketika ia tak sanggup lagi untuk berdiri.
"Apa itu?!" Tanya Revan was-was.
"Nia ....!" Teriak Daffa yang langsung berlari menghampiri Kania. Ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah beberapa waktu yang lalu membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Teriakan Daffa terdengar hingga keluar dan seketika seluruh keluarganya yang berada diluar ruangan 'pun ikut masuk ke dalam ruangan Kania.
"Apa yang kamu lakukan, Daffa?!" Teriak Revan yang melihat Kania banyak mengeluarkan darah dari tangannya karena selang infus yang terpasang menjadi lepas akibat tertarik saat Kania terjatuh.
"Aku gak ngapa-ngapain. Aku keluar dari dalam kamar mandi, Kania udah jatuh" balas Daffa seadanya. Ia mengangkat tubuh Kania dan memindahkannya kembali keatas brankar.
"Cepat panggilkan dokter!" Suruh Al-Fira cemas. Anis mengangguk dan segera menekan tombol yang terhubung langsung keruang dokter.
Tak lama dokter datang dan memasuki ruangan Kania bersama dengan seorang perawat di belakangnya. "Ya ampun .... Tolong menyingkir semua, saya akan memeriksa pasiennya" ucap dokter tersebut. Ia terkejut saat memasuki ruangan pasiennya yang dipenuhi oleh banyak orang.
"Mundur" titah Anis mengerti bahasa yang digunakan oleh dokter tersebut. Semua mengangguk menurut kecuali Daffa yang hanya berpindah tempat kearah ujung brankar.
"Apa? Kami gak ngomong apa apa. Gak tau dengan Daffa" balas Revan.
"Aku juga gak ngomong apa apa" balas Daffa.
"Kalian bisa tanya langsung kepadanya saat ia sudah siuman nanti. Yang jelas, apa yang kalian ucapkan berpengaruh besar pada kesehatannya" peringat dokter tersebut.
"Saya permisi." Pamit dokter tersebut.
"Iya. Terima kasih, dok"
__________
Perlahan Kania membuka matanya dan menatap atap ruangan rumah sakit yang ia tempati. Kania beralih menatap kearah samping kanannya dan melihat Daffa yang tertidur di atas bangku dan kepalanya bertopang pada kedua tangannya yang ia letakkan diatas brankar Kania. Lalu Kania beralih menatap orang orang yang berada dibelakang Daffa, tepatnya yang sedang duduk dan tertidur diatas sofa. Disana ada Ayah dan Bundanya beserta Revan-sang kakak. Sedangkan Dinda, Anis dan Akbar telah lebih dulu pulang kerumah karena Rena menangis mencari Ibunya.
Kania masih belum ingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia mengerutkan keningnya mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Netra Kania terbuka lebar. Ia ingat mengapa dirinya bisa pingsan. Ucapan keluarganya-lah yang mengucapkan bahwa anaknya kritis membuatnya terjatuh dan pingsan.
Kania menangis kembali ketika mengingat ucapan keluarganya yang mengatakan tentang kondisi anaknya.
Kania mencoba bangun dan duduk. Ia berhasil walaupun harus merasakan sakit disekitar perutnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Daffa yang merasakan pergerakan Kania 'pun terbangun. Ia menatap Kania yang sedang duduk dan menangis. Daffa membenarkan posisi duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Daffa yang melihat Kania bersiap untuk turun dari brankarnya.
Kania menoleh kearah Daffa sambil menangis. "Aku mau ketemu anak aku ...." Lirih Kania.
"Kamu belum makan. Makan dulu, ya?" Bujuk Daffa.
"Nggak mas, aku gak mau. Aku mau ketemu anak aku dulu, mas. Aku mau masti-in keadaannya baik baik aja" tolak Kania.
Deg ....
Detak jantung Daffa bekerja dua kali lipat lebih cepat seperti habis lari marathon setelah mendengar ucapan dari Kania. Bagaimana nanti jika Kania tau kalau kondisi anak mereka sedang kritis saat ini.
"Makan dulu, ya ...." Bujuk Daffa kembali.
"Nggak mas .... Lepasin aku, aku mau ketemu anak aku" Kania menolak kembali.
"Makan dulu ya. Sedikit aja" Daffa tetap membujuk Kania.
"Nggak mas, gak mau! Aku mau ketemu anak aku! Kenapa 'sih dihalang halangin terus?!" bentak Kania menepis tangan Daffa yang mencoba menahannya untuk tetap berada di dalam ruangan tersebut.
Ucapan Kania berhasil membuat Husein, Al-Fira dan Revan terbangun dari tidurnya dan menatap kepada dua orang di hadapan mereka.
"Kenapa Nia?" tanya Al-Fira yang melihat Kania menangis.
"Aku mau liat anak aku, Bun ...." adu Kania merengek.
"Kenapa? Kamu belum makan, Nia" balas Husein.
"Kenapa setiap aku mau ketemu sama anak aku selalu dihalang halangi oleh kalian?!" Tanya Kania.
"Bukan dihalangi, dek. Kamu harus kuat untuk ketemu anak kamu nanti?" Ucap Revan mencoba memberi pengertian.
"Kenapa?! Jadi yang kalian bicarakan itu benar?! Anak aku kritis. Iya?!!"
Ucapan yang keluar dari mulut Kania berhasil membuat semua orang mematung. Bagaimana bisa Kania mengetahui tentang keadaan anaknya? Pikir mereka.
"Kenapa diam?! Bener?" Tanya Kania.
"Nggak dek. Maksud mas, kamu tuh harus kuat untuk merawat anak kamu. Kalau kamu aja masih kayak begitu, gimana ngurus anak kamu nanti?!" Ralat Revan.
"Mas pikir aku percaya gitu aja? Aku udah besar, mas, gak kayak anak kecil yang dengan gampangnya ditipu." Balas Kania. Semua diam, tak ada yang membalas ucapan dari Kania.
"Aku akan mengecek langsung keadaan anak aku" ucap Kania menuruni brankarnya.
"Tunggu sayang ...." ucap Daffa menahan pergelangan tangan Kania.
"Apa lagi?!" Tanya Kania dengan tatapan tajam darinya.
__ADS_1
"Aku ikut" lanjut Daffa yang langsung menggendong tubuh Kania dan keluar dari ruangan rawatnya. Kali ini Kania hanya diam menuruti ucapan Daffa.