Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 1 - Prolog


__ADS_3

...~ Prolog ~...


...___________________________________________...


Matahari pagi ini sudah mulai terbit. Cahayanya juga mulai menyinari kamar seorang gadis yang masih tertidur lelap dan hanyut dalam mimpinya. 


Ia adalah Zeandra Bunga Sienna. Seorang mahasiswi dua puluh dua tahun yang baru saja lulus sarjana dari jurusan manajemen di salah satu universitas di Jakarta. 


Pukul enam tepat, alarm ponsel Zea berbunyi. Ia mengerjapkan matanya juga meregangkan tubuhnya. Melihat keluar melalui jendela kamarnya yang memang sudah terang. 


Ia duduk di ranjangnya seraya meraih ponsel dengan satu tangannya. Alarm yang berbunyi itu pun dimatikan olehnya. 


"Hwahh..., sudah pagi. Ayo, semangat ze!" Zea menguap sekaligus menyemangati dirinya. 


Ia berdiri dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi. Zea mandi tidak perlu waktu lama. Sebentar saja sudah selesai. Ia keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. 


Hari ini akan menjadi hari perjuangannya untuk menjadi wanita karir dimulai.  Ia menatap dirinya melalui cermin dan tersenyum licik.


Zea bergegas mendudukan dirinya di depan meja rias. Lalu, ia mengeringkan rambutnya sekaligus merias wajahnya. Hanya natural saja tidak terlalu tebal. 


Membuka lemarinya untuk mengambil kemeja putih serta rok hitamnya. Ia memakainya dengan rapi. Untungnya sudah ia setrika semalam jadi, tidak ada kusut lagi. 


Setelah pakaiannya sudah rapih, Zea menyisirkan rambutnya dan ditata supaya tidak mengganggu wajahnya. 


Sepatu hitam miliknya ia pakai. Tidak lupa membawa dokumen-dokumen yang harus dibawa untuk melamar pekerjaan. 


Zea keluar dari kamarnya dan menghirup udara pagi yang segar di kota Jakarta ini. Masih pagi jadi udara belum terlalu terkontaminasi dengan polusi.


"Oke, Zea kamu bisa. Semoga ada perusahaan yang mau menerima kerja. Amin..., Huh, semangat kakak!" Gumamnya menyemangati dirinya lagi sebelum berjalan. 


Zea berangkat ke perusahaan pertama yang ia tuju dengan angkutan umum. Biayanya murah dan tidak terlalu ribet juga. 


Perusahaan Ardawijaya menjadi perusahaan pertama yang Zea tuju. Dengan sebuah alasan Zea mencoba melamar ke perusahaan ini. Karena yang ia tahu, Ardawijaya Group merupakan perusahaan besar di negara ini. 


Tanpa ragu Zea masuk ke dalam dan mencoba menghampiri satpam yang ada di lobby. 


"Maaf, permisi pak. Saya mau bertanya." 


"Iya, mau nanya apa?" 


"Perusahaan ini sedang menerima lowongan pekerjaan atau tidak ya, pak?" 


"Aduh..., setahu saya sedang tidak ada lowongan, mba. Coba masuk, tanya resepsionis di dalam." 


"Baik pak, terima kasih." 


Satpam itu memberikan arahan untuk bertanya ke resepsionis yang ada di dalam. Zea menemuinya dengan menunjukkan senyum terbaiknya. 


"Permisi mba, saya mau bertanya. Perusahaan ini sedang ada lowongan kerja atau tidak ya?" 

__ADS_1


"Baik, sebelumnya atas nama siapa?" 


"Saya Zeandra Bunga Sienna." 


"Baik, Ibu Zeandra, apa ada nomor yang bisa dihubungi?" 


"Ada mba, nol delapan satu tiga tujuh satu--" 


"Baik, terima kasih Ibu Zeandra. Mengenai lowongan pekerjaan, perusahaan kami memang sedang membuka lowongan pekerjaan seperti yang Ibu Zeandra harapkan. Untuk sistemnya, Ibu Zeandra bisa memberikan dokumen yang dibutuhkan kepada staff kami yang ada di ruangan khusus tamu tepat di sebelah area lift. Dari beberapa orang yang melamar nantinya akan dipilih dan dihubungi oleh pihak kami. Apakah sudah jelas Ibu Zeandra?" 


"Dokumennya apa saja ya, mba?" 


"Saat ini yang dibutuhkan hanya CV, surat lamaran beserta ijazah. Yang nantinya akan dipilih, lalu memasuki tahap selanjutnya."


"Tahap selanjutnya itu apa ya, mba?" 


"Ada beberapa tes yang akan dilaksanakan sebelum diterima dan tetap akan diseleksi kembali." 


"Oh iya baik mba,  kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih." 


"Baik, terima kasih kembali Ibu Zeandra."


Zea mengikuti arahan dari resepsionis tersebut. Ia menuju ke ruangan khusus yang ada di sebelah area lift. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam. 


Staff yang ada di dalam menyapa Zea dan langsung meminta dokumen yang dibutuhkan. Beruntungnya Zea sudah menyiapkan beberapa dokumen tersebut. Jadi, tinggal diberikan saja. 


Karena perusahaan Ardawijaya belum pasti. Masih harus menunggu pihak mereka menghubungi. Zea menuju ke perusahaan selanjutnya menggunakan angkutan umum juga. 


Tanpa berkecil hati. Zea masih tetap semangat menuju ke perusahaan selanjutnya, yaitu perusahaan Alfa Group. 


Setelah sampai Zea melakukan hal yang sama. Di perusahaan tersebut sedang membuka lowongan. Ia pun langsung mengikuti arahan yang diberikan untuk memberikan dokumen yang dibutuhkan. 


Setiap perusahaan pasti memiliki ketentuan yang berbeda. Untungnya Zea sudah menyiapkan semua dokumen yang sekiranya perusahaan butuhkan sesuai referensi di internet. 


Karena sama seperti perusahaan pertama yaitu masih belum pasti. Zea menuju ke perusahaan terakhir. Perusahaan Dwitara Group merupakan perusahaan terakhir yang ada di list miliknya. 


Sesampainya disana. Zea juga langsung melakukan hal yang sama. Bedanya di perusahaan ini cukup ramai mungkin banyak yang tahu kalau perusahaan ini sedang membuka lowongan. 


Zea memberikan dokumen yang dibutuhkan dan setelah itu ia beristirahat sebentar duduk di kursi milik pos satpam. 


"Yah, perut kenapa harus bunyi lagi. Belum sarapan juga sih. Makan dimana ya yang murah meriah." 


Mencoba melihat sekitarnya dan matanya menemui sebuah warteg yang tidak begitu ramai. Ia pun memutuskan untuk pergi kesana. 


Ia makan nasi dengan lauk pauk ayam dan terong balado ditambah kerupuk. Minumnya Es teh manis. Lengkap sudah sarapannya. Meskipun sudah siang juga. 


Seselesainya makan. Zea tidak sengaja melihat seorang ibu dan anaknya yang sedang meminta-minta. Mungkin mereka belum makan. Entah dari kapan. 


Hatinya yang memang baik hati dan tidak sombong. Zea memesan nasi dan ayam serta sayur yang tidak pedas untuk dibungkus dua buah. Setelahnya langsung dibayar. 

__ADS_1


Zea dengan gerak cepat keluar dari warteg tersebut. Ternyata ibu dan anak itu sudah menyebrang. Ia pun langsung menyebrang jalan. 


Namun, sebuah mobil hampir menabrak Zea. Untungnya mobil itu langsung berhenti mendadak dan Zea yang menyadari itu langsung lari untuk menghindar. 


"Weh, gila ya itu mobil! Bisa masuk rumah sakit yang ada tadi." Zea berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. 


Saat sudah lebih baik. Dia melihat kemana ibu dan anak itu. Ternyata mereka tidak terlalu jauh sekarang. Zea langsung mengejar ibu dan anak itu.  


"Ibu, ibu, adek..." Panggilnya sambil berlari. 


Ibu dan anaknya itu menoleh ke belakang. Melihat Zea dengan tatapan tanda tanya. 


"Kenapa, mba?" 


"Ini bu, saya ada makanan untuk ibu dan anaknya. Semoga suka dan berkah ya."


"Oh, iya. Terima kasih banyak ya mba. Terima kasih, terima kasih." 


"Eh, iya bu. Sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu ya." 


"Iya mba, hati-hati. Sekali lagi terima kasih."


"Iya bu, sama-sama." 


Zea pun jalan lagi sekaligus mencari angkutan umum untuk pulang. Namun, lengannya ditahan oleh seseorang. Reflek ia menoleh ke belakang. 


Seorang pria yang masih muda dan segar. Perawakannya sangat tinggi dan sangat tampan. Sedang menatap Zea dengan tatapan khawatir. Sayangnya, Zea tidak terpanah sama sekali dengan rupanya. Ia hanya bingung dengan pria itu. 


"Maaf ada apa ya? Anda siapa?" Zea menarik lengannya kembali. 


"Maaf, hm..., apa kau terluka?" 


Zea mengernyitkan dahinya. Terluka kenapa? 


"Maaf, anda siapa ya?" Zea bertanya lagi mengenai identitas pria itu. 


"Oh maaf, saya yang mengendarai mobil di sana. Kau melewati mobil saya dan hampir menabrak." Pria itu menunjuk mobilnya yang diparkir di pinggir jalan. 


"Ah yang tadi itu ya. Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih, saya tidak apa-apa." Zea tersenyum. 


"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Tapi, bagaimana kalau kau saya antar pulang? Sebagai tanda maaf. Supaya lebih enak saja di antara dua pihak." 


Zea tampak berpikir. Sepertinya tawarannya boleh juga. Tidak ingin munafik. Sekaligus untuk mengirit biaya juga lumayan. 


"Boleh, kalau begitu." 


"Baiklah, silahkan ikut saya." 


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju mobil pria itu diparkirkan. Tidak ada rasa canggung di keduanya. Karena hanya hal biasa dan sepele saja. 

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2