
...~ Hari Sial ~...
...___________________________________________...
Malam ini Revan dan keluarga makan malam bersama. Seperti malam biasanya. Sudah menjadi rutinitas dan kewajiban kalau kedua orang tuanya berada dirumah.
Karena kalau hari ini bisa makan malam bersama. Belum tentu hari esok bisa makan bersama lagi. Bisa jadi Revan atau adiknya meninggal, atau ayah dan ibu yang meninggal. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Begitu kata sang ayah tercinta atau Tuan besar Ardawijaya.
"Revan." Panggil Nyonya Ardawijaya yang tak lain adalah ibunya sendiri di sela-sela makannya.
"Hm." Revan berdehem saja karena sedang menikmati makanannya.
"Itu kapan kamu mau bawa ke rumah?" Tanya ibu dengan ekspresi senang.
"Apa?" Revan mengernyitkan dahinya.
"Itu lho itu." Ibu menaik turunkan alisnya.
"Dia bukan barang yang bisa kapan saja Revan bawa bu."
"Kalau begitu ajak dia makan bersama ke rumah dong." Ibu memberi saran. Revan mendesah sebal.
"Tidak bisa."
"Kenapa? Apa dia sibuk? Apa ibu boleh tahu dia bekerja apa?" Ibu semakin penasaran.
"Aku tidak yakin saat ibu dan ayah tahu pekerjaannya. Kalian akan menerimanya dengan baik."
"Eh, tentu saja menerimanya. Memangnya ibu dan ayah menilai seseorang dari pekerjaannya. Kan tidak."
"Benarkah tidak? Aku tidak yakin." Revan tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Hah? Kenapa begitu?" Ibu mengernyitkan dahinya.
"Tentu saja aku tidak percaya, semua wanita yang pernah ibu pasangkan untukku. Semuanya berasal dari kalangan atas yang memiliki kelebihan dari berbagai sisi. Mau itu ekonomi maupun pendidikan."
"Yah itu kan, karena memang kenalan teman ibu semua. Ibu tidak kenal dengan wanita di luar sana. Wajar dong. Kalau kamu mau cari sendiri ya silahkan saja. Ibu juga tidak melarang. Asal yang cepat."
"Bawa saja dia ke rumah, perkenalkan kepada ayah dan ibu. Asalkan dia baik dan benar mencintai kamu. Keluarga akan menerimanya dengan hangat." Ucap ayahnya.
"Dia seorang barista di cafe. Apa kalian tidak akan terkejut?" Revan tersenyum meremehkan.
"Wah, boleh tuh, ibu dan ayah ke cafenya. Apa nama cafenya? Biar ibu dan ayah menemuinya sendiri." Tanya ibunya dengan tatapan berbinar.
Revan menghela nafasnya. Bagaimana caranya mengerem mulut ibunya yang terus ingin memiliki menantu. Telinganya sudah overdosis rasanya.
"Ibu dan ayah tunggu saja dirumah. Satu bulan lagi Revan bawa dia untuk menemui ayah dan ibu."
__ADS_1
"Sudah bukan satu bulan lagi." Elak ibu.
"Lalu?" Revan mengangkat alisnya.
"Dua puluh tujuh hari lagi, oke." Ibu mengedipkan satu matanya.
Ayah terkekeh kecil melihat tingkah ibunya yang begitu mempercepat Revan untuk segera menikah. Istrinya itu memang sangat menginginkan cucu. Apalagi menantu yang bisa diajak bergosip atau jalan-jalan bersama. Pasti istrinya senang sekali.
Sebenarnya tidak hanya istrinya saja. Dia sendiri sebagai ayah juga ingin memiliki cucu. Apalagi di umurnya yang sudah kepala lima. Ayah hanya bisa mendukung istrinya di belakang. Kalau di depan dia akan terlihat tenang dan biasa saja.
Biarkan itu menjadi urusan istri dengan anaknya. Biar Revan tahu kalau ibunya kalau sudah menginginkan sesuatu harus segera ditepati. Kalau tidak akan terus diingatkan dan ditagih.
"Terserah ibu saja." Revan pasrah.
"Oh iya, ibu mau tahu dong namanya siapa?" Ibu menatap Revan lekat.
Revan menatap ibu dan ayahnya. Mereka terlihat menunggu jawaban Revan. Revan sengaja mendiamkan mereka sesaat. Mengulur waktu agar mereka penasaran.
Minum dulu, makan dulu sesuap. Lalu, mengunyahnya. Ibu sudah mengernyitkan dahinya, karena kelamaan menunggu. Seperti biasa ibu memang tidak suka menunggu. Apalagi menunggu yang tidak pasti.
Ayahnya masih sabar menunggu dengan tatapannya yang terus menatap ke arah anaknya. Sembari ikut makan juga pelan-pelan.
Revan tersenyum licik. Karena ibu dan ayahnya benar-benar menunggu jawaban darinya.
"Aduh..., aku lupa namanya siapa!" Revan menepuk dahinya sengaja dengan ekspresi wajah merasa bersalah.
"Revan!" Sentak ayah dan ibu yang merasa dipermainkan oleh anaknya sendiri.
...----------------...
Zea pagi hari ini akan melakukan olahraga pagi. Sebenarnya setiap paginya biasanya dilakukan di kampus. Karena sekarang sudah lulus. Semuanya terasa tidak beraturan.
Tidak tahu secara pasti juga ingin melakukan apa dan yang seru melakukan apa, Zea belum tahu.
Zea berlari pagi di sekeliling komplek rumahnya saja. Tidak jauh-jauh sampai ke area jalan. Selain untuk menyehatkan tubuh. Berguna juga untuk menurunkan berat badannya sedikit.
Hari ini Zea gajian. Maka dari itu Zea berniat olahraga untuk menyehatkan dan menurunkan berat badan. Supaya Zea bisa makan apa saja dengan bebas nanti. Tidak perlu memikirkan berat badannya. Meskipun mau makan seberapa banyak juga. Bentuk tubuhnya akan segitu-gitu juga.
Lari di pagi hari memang menyenangkan. Udaranya yang masih segar belum terkontaminasi dengan polusi dan juga sejuk. Karena masih pagi. Kalau sudah siang pasti panas dan tidak sesegar di pagi hari.
Mengelilingi komplek beberapa kali. Sampai akhirnya kakinya terasa pegal. Zea istirahat sebentar di taman. Sembari minum air mineral yang dia bawa dari rumah.
"Hai Nona cantik!"
Prrttt! Zea menyemburkan air yang belum sempat dia telan. Uhuk...! Uhuk...!, Zea tersedak karena perbuatan manusia kurang ajar yang mengganggu istirahatnya dan juga mengganggu tenggorokannya yang ingin menelan air mineral.
"Duh..., pelan-pelan dong Nona Cantik." Orang itu ikut duduk di sebelah Zea dan menepuk pelan punggung Zea supaya lebih baik.
__ADS_1
"Heh, jangan sentuh! Enak saja, main sentuh!" Larang Zea seraya menepis tangan orang itu.
"Kok gitu? Memangnya kenapa?" Orang itu menunjukkan ekspresi sedihnya.
"Heh! Manusia pencari gara-gara. Anda Gara kan namanya?! Saya pasti benar kan. Karena saya masih mengingat wajah dan nama anda dengan baik." Kesal Zea dengan tegas menunjuk wajah Gara.
"Benar sekali, Nona cantik." Gara tersenyum senang.
"Kalau begitu pergilah!" Usir Zea.
"Jangan..." Gara cemberut.
"Ih! Apa sih?! Cepat pergi sana!" Zea mendorong Gara dengan sekuat tenaga. Tapi, tetap saja Gara diam di tempatnya. Tidak pergi sama sekali.
"Pergi sana!" Usir Zea lagi semakin kesal.
Hidupnya seakan akan sial kalau ada Gara disampingnya. Tingkah dan perbuatan Gara di cafe masih teringat dengan jelas di pikiran Zea.
Kalau melihat wajahnya ingatan itu akan seperti berputar kembali di pikirannya dan itu sangat mengganggu. Karena sangat memalukan. Bahkan, Revan sampai melihatnya. Entah dia mendengarnya juga atau tidak karena katanya dia habis dari toilet.
"Baiklah, Nona cantik. Aku akan pergi, tapi ada syaratnya." Gara tersenyum ke arah Zea.
"Apa?" Ketus.
"Janganlah terlalu formal saat kita sedang bicara."
"Baik, asal anda segera pergi dari sini!" Tegas Zea mengusir.
"Oke, mana dulu coba, aku ingin dengar." Gara mendekatkan telinganya.
"Gara, aku minta kau pergilah sekarang!" Tegas Zea mengusir, tapi kata-katanya ya lumayanlah tidak terlalu formal.
"Hm..., bolehlah. Saya menjadi aku, no problem." Gara bangkit dari duduknya dan memberikan Zea sesuatu.
"Apa itu?" Zea mengernyitkan dahinya saat Gara memberikan sebuah undangan berbentuk kecil dan Zea menerimanya.
"Ini untukmu dari Revan. Ambilah dan jangan lupa datang." Ucap Gara mengedipkan sebelah matanya dan melenggang pergi.
Hahaha..., Revan nikmati bantuan kecilku ini ya. Tolong usahakan gunakan kesempatan yang ku berikan ini dengan baik. Kalau bisa langsung lamar saja Zea nanti. Selamat berjuang sahabat. Gara
Zea masih bingung dengan undangan berbentuk kecil yang diberikan Gara. Tapi, dari Revan untuk Zea.
Isinya Revan ingin bertemu dengan Zea menggunakan pakaian formal, pukul tujuh malam di restoran Dine Artsy. Namun, tertera tanggalnya masih dua minggu lagi.
Zea bingung sebenarnya tujuannya bertemu untuk apa. Tapi, memberikan undangannya juga kenapa harus melalui Gara.
Apalagi sekarang yang tambah kesalnya. Gara berani menemuinya di komplek perumahannya. Karena gara-gara saat Revan mengantarkan Zea pulang. Gara juga pernah ikut. Jadi, Gara tahu dimana letak rumah Zea.
__ADS_1
Masa bodohlah untuk apa. Zea tidak mau ambil pusing sekarang. Masih dua minggu lagi.
Bersambung.