
...~ Hampir Melayang ~...
...___________________________________________...
Pagi hari ini Zea hendak berjalan-jalan menggunakan kaki saja. Tidak menggunakan angkutan umum. Perjalanannya sudah lumayan jauh dari rumah. Anggap saja olahraga di pagi hari. Sangat menyehatkan untuk tubuh bukan?
Saat matanya melihat seorang ibu dan anak yang sedang bergandengan tangan hendak menyeberang hati Zea seakan menjadi sakit melihatnya.
Sakit karena Zea sudah tidak memiliki seorang ibu lagi. Zea tidak bisa merasakan kehadiran dan genggaman tangan seorang ibu lagi. Tapi, Zea tahu kalau ibunya pasti akan selalu ada dihatinya.
Setiap jalan pasti ada saja seorang anak kecil yang bersama ibunya. Ditambah lagi saat melihat seorang anak kecil minta dibelikan balon kepada ibunya. Zea tersenyum karena mengingatkan akan masa kecilnya yang sangat bahagia telah dilewati bersama ibunya.
"Ibu, Zizi mau balon love itu." Tunjuk Zea kecil pada sebuah balon yang dipegang oleh badut beruang kuning.
"Zizi mau apa?" Ibunya Zea bertanya kembali karena suara Zea kecil masih terlalu imut dan terkalahkan dengan suara ramainya pengunjung di sebuah taman bermain.
"Zizi mau balon love yang dipegang badut itu." Tunjuk Zea kecil lagi.
Ibunya Zea tersenyum. Menggandeng tangan Zea yang kecil dengan erat untuk ikut bersamanya menemui badut beruang kuning itu.
"Halo, kakak! Zi mau balon lovenya boleh tidak?" Ibu Zea seraya menggendong Zea kecil agar tidak selalu mendongak ke atas karena terlalu tinggi baginya.
"Kakak..., Zi mau balon lovenya boleh?" Zea kecil yang sudah berani bertanya sendiri kepada badut beruang kuning.
Ibunya Zea tersenyum dan mencubit pelan hidung Zea kecil yang sangat imut dan menggemaskan. Apalagi tingkah Zea kecil yang lucu.
"Hai adik kecil! Kamu mau balon love ini ya? Kakak berikan tapi ada syaratnya ya..." Badut beruang kuning itu menjawab Zea seraya memberikan balon lovenya kepada Zea.
"Apa kakak...?" Zea tersenyum senang dan semangat menerima balon love yang dia inginkan.
"Adik kecil harus rajin belajar ya..."
"Oke kakak..., Zi janji."
Zea kecil tersenyum dan minta diturunkan oleh ibunya. Zea kecil dengan semangat memeluk kaki badut beruang kuning itu. Badut beruang kuning itu memeluk hanya dengan ujung tangan badutnya saja karena tidak sampai.
Zea tersenyum mengingat bagaimana tingkah masa kecilnya. Sampai ikut merasa bahagia juga bagaimana seorang anak tadi dibelikan sebuah balon oleh ibunya.
"Mbaa..., awas mba! Awas mba mobil!!!" Teriak seorang ibu-ibu kepada Zea. Zea menoleh ke arah sumber suara. Belum sepenuhnya menoleh. Zea melihat ke samping kanannya.
"Aaarghhh!!!" Zea segera menghindar saat tersadar dari lamunannya.
Zea lari ke pinggir jalan. Secara tidak sadar dia sedang menyebrang jalan. Tapi, kebetulan sedang lampu merah. Namun, mobil tadi tetap melaju dan hendak menabrak Zea.
Beruntung ada yang teriak hingga Zea tersadar dari lamunannya kembali dan segera menghindar dari jalanan.
__ADS_1
Zea mengatur nafasnya saat sudah berada di pinggir jalan. Ibu-ibu yang meneriaki Zea tadi menghampiri Zea.
"Mba, mba tidak apa-apa?" Salah satu ibu-ibu bertanya.
"Iya mba tidak apa-apa kan? Kalau ada yang sakit kita bawa ke rumah sakit."
"Mba ada yang luka tidak?"
"Mba kenapa melamun saat menyebrang?"
Zea berdiri dengan benar lagi sekarang. Nafasnya sudah mulai teratur dan sudah mulai tenang juga. Zea tersenyum kepada beberapa ibu-ibu yang mengkhawatirkannya.
"Ibu-ibu saya tidak apa-apa kok. Saya hanya terkejut saja. Terima kasih ya." Zea tersenyum seraya menatap semua ibu-ibu yang mengerubunginya menandakan dia baik-baik saja.
Tapi, memang Zea baik-baik saja. Tidak ada yang luka. Hanya saja hatinya kesal. Sebenarnya yang salah dan bodoh siapa. Antara memang dirinya yang salah karena melamun saat menyebrang atau mobil tadi yang tidak berhenti saat lampu merah.
Geram rasanya Zea. Tapi, dia menahannya. Bersyukur sekarang dia tidak apa-apa. Bagaimana kalau benar-benar tertabrak. Bisa-bisa Zea melayang ke langit. Kalau tidak sadar di rumah sakit.
"Syukur deh mba, saya pergi dulu ya. Hati-hati ya mba lain kali." Salah satu ibu-ibu disana pamit.
"Iya, hati-hati ya mba." Sahut yang lainnya.
Zea tersenyum dan mengangguk. Menjadi tidak enak rasanya dan malu sendiri karena menjadi bahan tontonan yang lainnya juga.
Segera Zea lanjut berjalan menghindar dari area hampir dimana Zea ditabrak mobil. Karena masih terpikirkan terus dan malu dengan dirinya sendiri yang mengaku sedikit ceroboh. Zea memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya.
...----------------...
Di kantor pusat Ardawijaya Group. Awalnya suasana sangat hening. Hanya terdengar suara kertas saja dan dokumen yang ditumpuk. Ditambah suara ketik pada keyboard.
Namun, semua itu berubah saat sang sahabat datang. Suasana dan perasaan hati yang sangat tenang berubah juga menjadi suram dan kesal.
Geram melihat sahabatnya yang main asal masuk saja. Karena pintu memang tidak dikunci. Hanya tersistem warna sensor pintu saja. Dengan mengandalkan etika seseorang untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Revan menatap sahabatnya tajam. Penuh dengan kekesalan. Tidak tahu pekerjaannya ini akan selesai cepat atau tidak. Karena sahabat sialannya ini datang.
"Ada apa kau kemari?" Revan bertanya dengan ketusnya dan menatap tajam sahabatnya.
"Tentu saja menemui sahabatku." Gara dengan santainya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Revan.
"Pergilah, aku sedang sibuk."
"Oh iya? Aku tidak percaya kau sedang sibuk."
"Apa kau buta?! Lihatlah meja ku penuh dengan kertas!"
__ADS_1
"Baiklah, akan aku perlihatkan kalau kau tidak sibuk."
Dengan kurang ajarnya Gara berdiri dan mendekati Revan. Melihat meja Revan yang memang dipenuhi oleh kertas. Gara menjadi kasihan.
Gara tersenyum. Dia ingin membuktikan kalau dirinya itu adalah seorang pemuda yang baik hati dan suka menolong. Maka dari itu dia membantu sahabatnya keluar dari kesibukannya.
"Hei sialan...! Apa yang kau lakukan?!"
Revan tidak menyangka dengan perbuatan sahabatnya yang semakin lama semakin kurang ajar itu. Revan menatap Gara tajam. Tapi, yang ditatap tetap santai seperti biasanya.
"Kenapa? Aku kan sedang membantumu. Sekarang kau tidak lagi sibuk kan. Ayo, temani aku ke cafe." Ajak Gara dengan santainya.
"Wah kau..." Revan tidak bisa berkata-kata lagi.
Melihat sekelilingnya. Semua kertas akan dokumen, berkas, proposal, laporan penting. Semuanya berceceran di lantai. Dihamburkan semua ke lantai oleh Gara sialan itu.
Kecuali komputer dan perangkat keras lainnya yang tetap berada di meja dengan baik. Tidak ada yang dilempar ke lantai juga. Mungkin Gara cukup tahu diri. Kalau dilempar ke lantai juga. Sama saja Gara mencari mati dengan santainya.
"Aaahhh!!! Kau gila ya!" Revan mengacak-acak rambutnya.
Tingkah Gara membuat Revan frustasi saja. Karena akan membuang waktu kalau begini. Belum mengambilnya dan belum juga menyusun kembali satu-satu dengan benar. Bisa-bisa dia akan lembur malam ini.
"Ayolah, kita ke cafe." Ajak Gara dengan tidak tahu dirinya.
"Sialan kau! Memang benar ucapan Zea. Dasar tukang pencari gara-gara!" Ejek Revan dengan kesalnya.
Benar-benar kesal Revan dengan Gara. Sangat bahkan. Melihat perbuatannya membuat Revan ingin sekali berteriak kencang. Tapi, Revan masih sayang dengan pita suaranya.
Akhirnya, Revan menggunakan telepon kabel yang ada di mejanya untuk memanggil seseorang.
"Zen, keruanganku sekarang." Perintah Revan dengan suara beratnya.
Sedangkan, Gara dengan santainya duduk di sofa sembari melihat Revan yang menyuruh Sekretaris Zen yang baru saja datang untuk mengambil kertas yang berhamburan di lantai. Revan juga ikut membantunya.
Gara tertawa kecil melihatnya. Menyebalkan sekali sebenarnya. Tapi, karena melihat sahabatnya sedang memunguti kertasnya satu persatu menjadi kasihan.
"Baiklah, karena aku masih waras. Aku akan bantu kalian berdua."
"Tidak perlu!" Revan melarangnya.
"Kenapa sahabat?" Gara menunjukkan wajah penuh rasa ibanya.
"Dasar bodoh! Ah..., sialan! Kalau kau manusia bantulah. Tapi, jangan diberantakin lagi!"
"Siap!"
__ADS_1
Bersambung.