
...~ Meminta Izin~...
..._______________________________________...
Revan mengantarkan Zea pulang dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Suasana tengah malam yang hampir sepi terlihat mobil dan motor melintas.
"Zea, kamu benar tidak keberatan dengan semua permintaan mereka ?"
"Iya, aku tidak apa. Sama sekali tidak keberatan. Tapi, bolehkah aku minta satu hal padamu?"
"Apa?" Revan menoleh sejenak sebelum kembali melihat kedepan.
"Aku ingin minta izin sekaligus memberitahu kedua orang tuaku dan juga bolehkah pernikahannya jangan terlalu cepat?" Revan tersenyum mendengarnya.
"Sebelumnya kamu bilang minta satu hal, jadi ingin yang mana?" Revan melirik Zea dengan senyuman kecilnya.
"Hm..., dua-duanya. Revan, kalau dua minggu lagi kita menikah itu terlalu cepat. Aku tidak enak dengan ibumu yang ingin buru-buru kita menikah."
"Iya Ze, aku paham. Tenang saja nanti aku bicarakan lagi dengan ayah dan ibuku."
"Baiklah, beritahu aku bagaimana pendapat ibumu nanti."
"Iya, aku kabari kamu nanti."
Mobil Revan berhenti tepat di depan rumah Zea. Zea turun dengan kopernya dibantu oleh Revan dibawa ke dalam.
"Istirahat ya, maaf sudah membuatmu lelah."
"Tidak apa, aku senang juga kok bisa berlibur secara gratis. Terima kasih ya." Zea tersenyum. Revan terkekeh kecil mendengarnya. Reflek tangan Revan mengusap pucuk kepala Zea membuat Zea merasakan sesuatu yang tidak beres dengan jantungnya.
"Tidur yang nyenyak, besok kita ke makam kedua orang tuamu. Jam sepuluh aku jemput. Selamat istirahat." Revan berlalu pergi berjalan ke arah mobilnya berhenti.
Zea masih terdiam di tempat dengan tangannya yang memegang tepat dimana Revan menyentuh kepalanya tadi. Revan melambaikan tangannya melalui jendela kaca mobil. Zea membalasnya dengan wajah kikuk.
"Hah, kenapa berdebar ya?" Zea memegangi dadanya dengan kedua tangannya.
...----------------...
Hari selalu diawali oleh pagi yang cerah. Walaupun terkadang hujan seperti hari ini. Zea membuat dua teh hangat yang disiapkan dalam dua botol tahan panas.
Sebelum Revan datang, Zea menyempatkan untuk membuat sarapan lebih dulu. Dua box tempat makan kosong sudah siap di meja makan.
__ADS_1
Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi ditambah sosis yang hendak digoreng dan potongan timun serta wortel diatas talenan sedang dalam proses pembuatan.
"Wanginya..., icip dikit boleh kali ya. Hihi..."
"Wangi sudah oke, rasa juga sudah oke. Tinggal platingnya saja nih harus cantik."
Zea menyajikan nasi goreng buatannya ke dalam box makanan. Ditata rapi dan secantik mungkin. Karena pertama kalinya Zea menyiapkan sarapan untuk orang lain. Anggap saja latihan menyiapkan makanan untuk suami ketika sudah menikah nanti.
Pukul sepuluh kurang lima belas menit, mobil Revan sudah sampai tepat di depan rumah Zea. Zea yang sudah siap dengan segala perintilannya masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa karena rintik hujan sedang turun.
"Kamu sepertinya sedang bahagia sekali hari ini, kenapa?" Tanya Revan memperhatikan wajah Zea yang tersenyum dan sangat senang.
"Tentu saja, kita kan mau menemui kedua orang tuaku." Revan tersenyum dan mengangguk mendengarnya. Tidak ada guratan kesedihan yang terlihat dalam wajah Zea.
Kamu hebat Ze, bisa mengikhlaskan dan bahagia dengan hidupmu yang sekarang. Orang tua kamu pasti juga ikut tersenyum bahagia melihat anaknya bahagia seperti ini. Revan.
"Mau jalan sekarang?"
"Sebentar, aku bikin sarapan sama teh hangat untuk kita. Mau dimakan dulu atau nanti saja?"
"Sarapan?" Revan tersenyum licik dengan menatap Zea.
"I-iya sarapan. Kenapa?" Zea mengangkat alisnya.
"Heh!" Revan terkekeh kecil mendengarnya.
...----------------...
Di pemakaman ayah dan ibu Zea. Dimana mereka berada dalam pusara yang sama. Zea dan Revan berada di sisi mereka dengan beberapa ikat bunga di tangan mereka.
Dimasukkan bunga tersebut ke dalam wadah berisi air di tengah pusara. Ditata bunga-bunga yang sudah mereka beli ke dalamnya. Cantiknya bunga untuk kedua orang tua Zea membuat pusara mereka terlihat lebih indah dan rapi.
Ditambah tujuan mereka datang untuk menemui mereka. Karena tidak hanya ada Zea disana seperti biasanya. Namun, ada Revan juga kini yang ikut mendampingi.
"Ayah..."
"Ibu..."
"Zea datang lagi, tapi Zea tidak sendiri. Ada calon menantu ayah dan ibu juga di sini."
Zea tersenyum dan menoleh menatap Revan seakan kode untuk menyapa kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, ayah dan ibu Zea. Saya Revan Arseenka Ardawijaya. Maaf saya telah lancang untuk memiliki hubungan dengan Zea. Namun-"
Revan menatap Zea sejenak dan meraih tangannya untuk digenggam. Pandangannya kembali menatap pusara orang tua Zea dan menyentuh rerumputan hijaunya dengan tangan satunya.
"Hari ini saya tidak hanya ingin meminta maaf. Namun, tujuan saya ingin meminta izin untuk menikahi Zea. Saya menyayanginya dan saya mencintainya. Saya janji akan merawat dan menjaganya. Selama saya berada di dunia, saya akan selalu berada disisinya seumur hidup saya."
Tanpa disadari Zea mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya. Pertama kalinya Zea mendengar perkataan manis dari mulut seorang lelaki. Yang dimana dia pun adalah calon suaminya nanti.
"Saya harap ayah dan ibu Zea mengizinkan kami untuk menikah."
Revan menoleh. Melihat Zea menangis tanpa suara. Revan segera mendekapnya erat. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi mulusnya. Dikecup pucuk kepalanya. Tepat di hadapan pusara ayah dan ibu Zea.
Setidaknya mereka bisa melihat Zea akan menjadi seorang istri dari seseorang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya.
“Ada yang mau kamu ucapkan tidak ke ayah dan ibu kamu?”
“Hmm...” Zea melepaskan diri dari dekapan Revan dan Zea menghapus air matanya.
Muncul senyuman indah dari bibir Zea. Menghela nafasnya sejenak dan tangannya menyentuh batu nisan ayah dan ibunya.
“Ayah, ibu, Zizi sudah besar. Zizi sudah dewasa, Zizi harap ayah dan ibu merestui hubungan aku dengan Revan, Zizi akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Revan seperti ibu dengan ayah. Zizi-“
“Oh iya, Ayah dan Ibu juga jangan khawatir. Revan janji akan bawa cucu kalian yang lucu dan imut untuk bertemu kakek neneknya nanti.” Sela Revan.
“Heh, Ihh...” Zea mencubit pinggang Revan. Revan meringis sakit namun ditahan olehnya.
“Sakit sayang...” Revan merapatkan giginya. Zea tersenyum senang.
“Jangan bicara macam-macam makanya.” Zea tersenyum penuh ancaman.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
__ADS_1
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕