Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 4 - Ulang Tahun Zea


__ADS_3

...~ Ulang Tahun Zea ~...


...___________________________________________...


Di Cafe Zea sudah bisa menebaknya. Teman kerjanya pasti sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh Zea. Karena sudah pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. 


Setiap tahunnya pasti berbeda. Ide yang dimiliki oleh temannya itu terlalu kreatif sampai membuat Zea kesal sendiri dengan temannya. Bisa-bisanya pada ulang tahun Zea sebelumnya. Meta meminta tolong kepada pelanggan untuk memberikan hadiah darinya kepada Zea. 


Lalu, pernah juga menjahili Zea dengan mengajak kerja sama dengan pelanggan untuk melamar Zea. Tapi, bukannya memberikan cincin lamaran melainkan hadiah dari Meta untuk Zea. Selalu seperti itu, namun setiap tahun berbeda caranya. 


Kecuali Zea, setiap Meta ulang tahun, Zea hanya bertanya 'Kamu lagi butuh apa ta?' Barulah Zea akan membelikannya. Jika, mampu akan dibelikan. Kalau tidak, Meta harus tahu diri. 


Kali ini Zea harus menambah kesabarannya saja terhadap teman kerjanya itu. Karena tidak tahu kali ini ide untuk memberikan hadiah kepadanya seperti apa. 


Bisa saja Meta bekerja sama dengan seluruh pelanggan untuk membuat yel-yel ulang tahun khusus buat Zea. Tiba-tiba Meta muncul dengan memberikan hadiah. Hal paling gila yang pernah Zea bayangkan. Karena sangat memalukan bukan menyenangkan. 


"Selamat ulang tahun Zea!" 


Meta langsung memeluk Zea ketika baru masuk ke dalam ruang khusus pekerja di cafe. Zea diam saja dan tersenyum tertekan. Karena malu dilihat oleh pekerja lainnya. 


Punggung Meta ditepuk oleh Zea beberapa kali untuk segera melepaskan pelukannya. Meta melepaskan pelukannya tapi menatap Zea penuh arti. 


"Tatapan matamu membuatku takut ta." Zea mengatakan itu sambil tersenyum terpaksa. 


"Hahaha..., tenang saja Ze. Aku tidak akan membuatmu kesal lagi kok tahun ini. Ulang tahun itu harus bahagia. Tidak boleh kesal kesal." 


"Iya ucapanmu benar sekali. Tapi, sepertinya itu hanya omong kosong." Zea tersenyum penuh arti. 


"Nah, kamu kan sudah tahu Ze. Berarti siapkan dirimu ya." Meta menepuk bahu Zea. Lalu, segera berlalu pergi.


Ya tuhan, kali ini ide buruk apalagi yang disiapkan oleh teman kerja laknatku itu. Zea.


Zea sudah siap untuk bekerja menjadi barista hari ini dengan perasaan campur aduk. Melayani satu pelanggan, dua pelanggan, tiga, empat, lima sampai dua puluh pelanggan. Belum ada tanda-tanda ide buruk Meta dimulai. 


Rasa was-wasnya mulai sedikit dikurangi oleh Zea. Karena sedikit terganggu konsentrasinya untuk bekerja kalau semakin memikirkan ide buruk Meta. Satu harapan yang ingin terwujud kali ini. Janganlah Meta merencanakan ide memalukan untuknya. 


"Ze, boleh minta tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor sebelas?" 

__ADS_1


Salah satu teman kerjanya yang lain pada bagian pelayan meminta tolong kepadanya. Zea awalnya tampak bingung. Namun, pada akhirnya Zea tidak masalah untuk menolongnya. 


"Ke meja nomor berapa tadi?" Zea bertanya lagi untuk memastikan.


"Nomor sebelas Ze." 


"Oke, aku antarkan sekarang ya." Zea tersenyum ikhlas.


"Terima kasih ya Ze." 


"Sama-sama." Zea tersenyum dan mengangguk. 


Kemungkinan ini awal dari rencana ide buruk teman kerjanya yang sangat akrab itu. Ikuti saja permainannya. Semoga tidak ada hal memalukan setelah ini. 


Menggerutu dalam hati pun tidak ada gunanya. Pasti ujung-ujungnya Zea luluh dengan apa yang diberikan oleh Meta. Walaupun diawali dengan rasa kesal. 


"Permisi, ini matcha latte dan cappucino nya ya." Zea menaruh satu persatu pesanan pelanggan di meja nomor sebelas ini. Lalu, memeriksa kembali struk pembelian pelanggan itu. "Pesanannya sudah semua ya. Apa ada tambahan lagi?" Zea menatap pelanggannya. 


"Ada nona." Pelanggannya itu berdiri dan menatap Zea. 


"Baik, bisa dilihat kembali menu yang ada di meja. Mau pesan apa?" Zea menatap balik pelanggannya yang berdiri itu. 


Zea terdiam dengan wajah datar setelah mendengar pesanan pelanggannya. Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Karena sudah pasti ini bagian dari rencana Meta. 


Pelanggan lain yang sedang menikmati pesanannya di meja lain menjadi melihat ke arah sumber suara. Zea cukup malu sebenarnya. 


Karena yang benar saja. Meta sudah gila ya. Apa dia benar-benar sudah tidak waras. Meminta pelanggannya untuk meminta Zea mencium orang lain. Tidak akan pernah Zea lakukan itu. 


"Halo, nona mana ciuman untukku?" Suara pelanggannya lagi yang memang seorang pria dengan suara keras memintanya. "Aku jadi sedih nih. Mana ciuman untukku?" Pinta pelanggan pria itu lagi. Dengan wajah cemberut menunjuk pipinya untuk dicium.


Zea tersenyum kecil mendengarnya. Tidak terlalu menganggap serius permintaan pelanggan itu. Putuskan saja urat malunya supaya tidak merasa malu. 


"Sebelum itu, berikan hadiah ulang tahun saya." Zea memberikan tangan kosongnya ke hadapan pelanggan prianya itu. Masa bodoh dengan pelanggan lain yang melihat ke arahnya. Memang teman kerjanya butuh dikasih pelajaran nanti. "Mana hadiahnya? Langsung saja berikan pada saya. Tidak perlu berlama-lama lagi." Zea tersenyum licik dengan tangannya yang sudah siap menerima hadiah miliknya dari Meta. 


Pelanggan prianya itu terlihat bingung dengan perkataan Zea. Pria itu mengernyitkan dahinya seraya menggaruk tengkuknya. 


"Ayo, mana hadiah saya? Kenapa tidak langsung diberikan saja." Zea menunggu dengan kesal. Tangannya sudah pegal menunggu.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak mengerti dengan hadiah maksudmu. Aku bahkan tidak tahu kapan ulang tahunmu. Untuk apa juga aku bawa hadiah." 


Perkataan pria itu sesaat membuat Zea mengernyitkan dahi dan menurunkan tangannya. Zea melipat kedua tangannya depan dada. Menatap tajam pria didepannya. Tidak dapat dipercaya sekali pria didepannya ini begitu pikirnya. 


"Hah? Sudahlah, tidak perlu pura-pura." Zea tersenyum kembali dan mengedepankan tangannya lagi dengan semangat.  "Pasti anda sudah bekerja sama dengan teman saya yang bernama Meta kan? Dia menitipkan hadiah saya kepada anda kan? Jadi, sekarang ayo langsung berikan saja pada saya. Tidak perlu pakai cium-cium segala." 


Zea dengan percaya dirinya langsung saja berkata seperti itu. Melelahkan menunggu. Apalagi dilihat oleh pelanggan lain. Lebih baik gerak cepat saja dari rencana yang sudah diatur oleh teman kerjanya. 


Pria itu semakin bingung dengan situasi yang ada. Tidak mengerti dengan maksud akan hadiah yang dikatakan oleh Zea sama sekali. Apalagi dengan perkataan Zea yang semakin terkesan memaksa.  


"Hm..., maaf sebelumnya. Saya disini Meta yang dimaksud oleh teman saya ini. Sebelumnya saya sangat minta maaf karena ada kesalahpahaman." Meta datang dengan wajah cemasnya. Namun, tetap tersenyum di depan pelanggannya yang tadi meminta ciuman kepada Zea. "Silahkan dinikmati pesanannya ya. Kami permisi dulu." Meta langsung menarik pergelangan tangan Zea. 


Zea ikut-ikut saja dan pasrah ditarik oleh Meta ke ruang khusus pekerja cafe. Karena sepertinya ada yang salah juga dengan situasi sebelumnya. Kenapa pelanggannya yang tadi tidak mengerti maksudnya. 


Apa pelanggan tadi pura-pura tidak mengerti. Apa rencana Meta dilupakan oleh pelanggan yang tadi sehingga terjadi kesalahpahaman. Zea menjadi bingung total sekarang. 


"Aduh..., Ze. Kamu sedang apa tadi? Kenapa sampai membuat seisi cafe menonton kalian?" 


Meta bertanya kepada Zea yang tentu saja Zea sendiri pun juga tidak mengerti. Bukankah ini bagian dari rencana temannya ini. Begitukah? Atau...


"Memangnya pelanggan tadi bukan pelanggan yang sudah kamu ajak kerja sama ta?" Terka Zea yang jawabannya sangat menyebalkan kalau sampai Meta jawab bukan. 


Meta menautkan jari telunjuknya seraya menatap Zea seperti merasa bersalah dan menggelengkan kepalanya. Meta langsung saja memberikan hadiah yang masih disimpan di dalam tasnya kepada Zea. 


"Ini?" Zea mengernyitkan dahinya saat menerima hadiah dari Meta.


"Ze, sumpah ya. Aku tidak berbohong sama sekali padamu kalau aku belum menjalankan rencanaku. Karena, tadi banyak pesanan. Jadi, aku sedikit ulur waktu. Pelanggan yang tadi pun ya hanya pelanggan biasa." Jelas Meta yang sama sekali belum bisa Zea percaya.


"Tapi, tadi dia meminta aku untuk menciumnya. Pasti itu rencanamu kan?" Zea menatap penuh menyelidik.


"Bukan Ze. Sumpah aku tidak berbohong. Mungkin pelanggan tadi memang sifatnya seperti itu." 


Jawaban Meta sungguh membuat Zea merasa malu. Zea mendekap hadiahnya dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. 


"Aku ingin mati saja ta. Aku malu sekali." 


"Maaf ya Ze." Meta memeluk Zea yang menahan rasa malu. 

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2