Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 16 - Jemput Tn & Ny. Ardawijaya


__ADS_3

...~ Jemput Tn & Ny. Ardawijaya ~...


...___________________________________________...


Pagi-pagi sekali Revan sudah siap untuk berangkat ke kantor. Karena ada pertemuan dengan salah satu klien dari luar kota. Setelah itu Revan akan pergi ke bandara untuk menjemput ayah dan ibunya.


Pukul sepuluh ayah dan ibunya Revan mendarat. Berarti Revan harus sudah selesai dengan urusannya diantara jam delapan sampai jam setengah sepuluh.


Sekarang Revan sudah ada di perjalanan menuju ke kantor. Semoga saja cepat urusannya. Supaya tidak telat menjemput kedua orang tuanya di bandara.


Sesampainya di kantor. Revan langsung mempersiapkan berkas dan dokumen penting yang harus dibawa saat pertemuan. Dibantu juga dengan Sekretaris Zen tentunya.


Pertemuan itu dilakukan di ruang meeting perusahaan Ardawijaya. Sangat menguntungkan bagi Revan karena tidak perlu membuang-buang waktu lagi untuk keluar kantor.


Maka dari itu sebagai tuan rumahnya atau pemilik dari perusahaan harus datang lebih awal. Sebenarnya tidak hanya kali ini saja. Biasanya Revan juga tepat waktu.


Pertemuan dimulai pukul tujuh. Berharap tidak ada kendala apapun. Sehingga semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan.


"Baik, Tuan Revan pertemuan kita hari ini sudah cukup dan sudah mencapai tujuan kita. Semoga di pertemuan berikutnya bisa mencapai tahap finalnya." Ucap sang pimpinan perusahaan.


"Baik, terima kasih."


Revan berjabat tangan dengan pimpinan perusahaan. Lalu, mengantarkan pimpinan perusahaan bersama sekretarisnya ke lobby perusahaan.


"Sudah jam berapa sekarang Zen?" Revan menoleh ke arah Sekretaris Zen yang ada disampingnya.


"Jam sembilan lewat sepuluh menit tuan muda."


"Kalau begitu berangkat sekarang saja."


"Baik tuan."


Revan dan Sekretaris Zen langsung menuju dimana mobil mereka berada dan langsung tancap gas melaju ke bandara.


Lebih baik lebih awal datangnya daripada telat. Karena bisa-bisa ibunya langsung menyemprotkan dirinya dengan segala ocehannya.


Ibunya paling tidak suka menunggu. Karena membuang waktunya katanya. Revan hanya butuh kesabaran lebih saja saat menghadapi ibunya.


Walaupun begitu ibunya Revan berhati lembut dan tidak sombong. Hanya saja mulutnya yang seakan tidak bisa diatur.


"Masih jauh Zen?"


"Maaf tuan, masih."


Revan melihat keluar jendela mobilnya. Keadaan jalan ramai, padat dan macet. Tidak tahu jam berapa akan sampainya. Karena mobil belum bergerak juga.


"Sudah tiga puluh menit, bergeraknya pelan-pelan sekali."


"Maaf tuan, sepertinya ada kecelakaan di depan."


"Baiklah, berhati-hati saja."


Kalau sudah begini. Revan hanya bisa pasrah diomeli oleh ibunda tercintanya. Tidak apa. Yang penting menepati janjinya untuk menjemput kedua orang tuanya bukan?


Revan juga bukan peramal jalan yang bisa tahu kapan akan macet dan kapan akan lancar. Jadi, wajar saja. Tinggal menyesuaikan diri berangkatnya jam berapa.


Mungkin kalau Revan berangkat lebih awal lagi tidak akan seperti ini. Tapi, ya sudahlah. Sekarang perlu berhati-hati saja. Supaya sampai di bandara dengan selamat.


Dzzrt..., Dzzrt...


Ponsel Revan berdering. Revan menghela nafasnya berat. Yang melakukan panggilan adalah sang ibunda tercinta. Revan langsung mengangkatnya. 


__ADS_1


"Halo, nak." 


"Iya bu." 


"Kamu sudah sampai bandara belum?" 


"Belum bu, jalanannya macet." 


"Oh bagus deh. Ibu jadinya berangkat jam sepuluh ya. Mungkin sampai sana jam satu atau dua siang." 


"Kenapa begitu bu? Aku sudah dijalan. Kenapa tidak bilang dari tadi pagi atau semalam?" 


Revan seketika menjadi kesal kalau seperti ini. Adanya perubahan jam mendadak. Giliran telat dan harus menunggu. Ibunya mengoceh sepanjang jalan pulang. 


"Duh..., maaf ya nak. Ibu lupa kalau belum beli oleh-oleh buat adik kamu. Jadinya, ibu beli dulu tadi pagi. Jadinya, berubah deh jamnya. Tidak apa-apa ya, nak. Bagaimana kabar adikmu? Kalian tidak bertengkar kan?"


"Anak perempuan ibu sedang jalan-jalan bersama teman-temannya. Ibu tidak tanya aku?"


"Oh, iyakah? Kok dia tidak bilang sama ibu? Kemana dia pergi?" 


"Ke luar kota menggunakan mobil. Anak perempuan ibu kan memang keras kepala." 


"Heh, siapa yang keras kepala? Kamu kali itu." 


"Tentu saja semua anak ibu. Karena menurun dari ibu." 


"Enak saja! Dari ayahmu itu."


"Ibu!"


"Apa?"


"Sudahlah, aku bukan anak ibu. Ibu tidak bertanya tentang aku."


"Aku masih muda bu. Dua puluh lima masih muda."


"Itu sudah tua, Revan. Kamu kalau mau dimanja, cari istri. Terus minta istri kamu manjain kamu ya. Tapi, harus menikah dulu. Oke sayang. Ibu sudahi dulu ya. Bye anak ibu."



Panggilan pun dimatikan secara sepihak. Revan memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan kesal. Mendesah kesal karena ibunya tidak lagi memperhatikannya.


Apa-apa pasti menyangkutkannya dengan istri dan juga pernikahan. Revan menjadi kesal kalau begini terus. Kekurangan kasih sayang dan perhatian lama-lama.


"Zen, kembali saja ke kantor. Jemput mereka jam dua saja. Aku tidak peduli mau telat atau tidak. Sekarang kita kembali."


"Baik tuan."


Saat ini mobil masih terjebak macet. Jadi, belum bisa untuk memutar balik. Lagi-lagi harus sabar dengan hari ini.


...----------------...


"Maaf tuan, sudah jam satu lewat empat puluh lima menit. Apa tuan muda ingin berangkat sekarang untuk menjemput tuan dan nyonya besar di bandara?" Zen mengingatkan Revan yang masih berkutat dengan komputernya.


"Hm. Coba kau cek maps Zen. Jalanan masih macet atau tidak?" Perintah Revan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jalan terpantau ramai lancar tuan. Berita hari ini sudah disiarkan."


"Kalau begitu berangkat sekarang."


"Baik tuan."


Revan segera bersiap-siap. Berjalan lebih dulu dari pada Zen keluar dari ruangannya dan menuju mobil mereka berada kembali.

__ADS_1


Sekretaris Zen mencari jalan yang cepat saja. Supaya terhindar dari jalan rawan macet dan tidak telat sampai di bandara.


Walaupun Revan terlihat santai dan masa bodoh kalau telat menjemput kedua orang tuanya. Sekretaris Zen juga harus siap kena ocehan Nyonya besar Ardawijaya karena telat. Kenapa? Tentu saja karena Zen yang mengemudikan mobilnya. Kan bukan Revan yang mengemudikan mobilnya. Jadilah Revan terkesan lebih santai. Meskipun tetap akan mendapatkan ocehan gratis dari ibunya sendiri.


"Zen, apakah masih jauh?" 


"Tidak tuan, sudah dekat dengan bandara."


"Bagus, kelilingi saja dulu bandaranya. Biar ibuku menunggu sebentar."


"Maaf tuan, bahan bakar mobil akan habis. Mungkin akan tidak cukup untuk kembali ke rumah utama." 


"Ck, baiklah. Langsung saja parkir." 


Gagal. Revan berniat ingin ngerjain ibunya gagal. Mengerjai ibunya yang sebenarnya Revan sendiri yang akan terkena getahnya. Karena telat menjemput. 


Tapi, ternyata ibunya baru saja mendarat. Jadi, belum siap untuk turun dari pesawat. Sekarang menjadi Revan yang harus menunggu. Sabar saja menjadi Revan. 


Revan dan Sekretaris Zen menunggu di area khusus. Menunggu dua orang yang paling ditunggu datang. 


"Revan!" Teriak seorang wanita paruh baya seraya berlari ke arah yang dipanggil meninggalkan suaminya.


Mata Revan langsung terfokus ke arah sumber suara. Revan hanya menanggapinya dengan senyuman dan mengangguk pelan. Seakan tidak mengharapkan ibunya pulang.


"Heh! Ibunya peluk dulu dong, gimana sih! Kamu sayang ibu tidak?!" Kesal ibunya.


"Iya sayang ibu." Revan memeluk ibunya. Tapi, masih biasa saja. Karena menjaga imagenya.


"Menyebalkan sekali kamu! Kamu tidak niat menjemput ibu ya! Iya kan?! Jahat sekali kamu." 


"Iya, karena ibu." Revan menjawabnya dengan santai seraya melepaskan pelukan ibunya.


"Enak saja! Kenapa bisa gara-gara ibu?!" 


"Sudah sudah, baru pulang sudah bertengkar saja. Tidak baik begitu. Nanti tambah tua lho." Ledek Ayah Revan seraya bergantian memeluk anaknya.


"Sayang, kok kamu gitu. Kamu juga sendiri sudah tua. Banyak keriputnya!" Balik ejek ibunya Revan kepada suaminya.


"Tapi, isi dompet tidak keriput." Suaminya tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan, istrinya melengos kesal. Revan melihat itu ingin tertawa. Namun, menahannya. 


"Bagaimana kabarmu, nak?" Ayah Revan bertanya masih memeluk anaknya.


"Aku baik ayah." Jawab Revan lembut.


"Heh! Giliran sama ayah saja terlihat ikhlas. Sama ibu kok seperti tidak ikhlas."


"Sudah sayang, lebih baik kita pulang sekarang ya. Ayo, nak kita pulang." Ayah Revan melerai sambil mengajak pulang.


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2