Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 36 - Meluluhkan Revan


__ADS_3

...~ Meluluhkan Revan ~...


..._______________________________________...


“Heh..., kalau begini ceritanya lebih baik jangan buat dia kesal tadi.” Zea menggerutu sembari merapikan barang-barangnya ke dalam koper lagi. 


Seandainya Zea tidak membuat Revan kesal dan menjadi diam kepadanya mungkin tidak akan ada kejadian seperti tadi. Kalau saja Zea tidak merasa bersalah mungkin juga dia tidak akan melakukan hal yang baru saja berlalu. 


Dimana Zea dan Revan masih dalam restoran untuk makan malam. Revan diam saja seraya terus menghabiskan makan malamnya. Sedangkan, Zea yang awalnya tidak merasa bersalah menjadi merasa bersalah karena Revan tidak lagi mengajak bicara dirinya. 


“Revan.” Panggil Zea. 


“Revan, kamu kenapa?” Tanya Zea. 


“Hei, Revan. Kamu itu kenapa diam saja?” Zea mencoba menaikkan nadanya. 


“Tidak tahu.” Jawab Revan acuh. 


“Hei!” Kesal Zea lama-lama. 


Sampai makanan mereka berdua habis. Revan juga masih tidak mengajak Zea berbicara. Sampai kembali ke villa pun. Akhirnya, dengan terpaksa dan berat hati Zea membutuhkan bantuan dari manusia pencari gara-gara. 


“Gara.” Panggil Zea kepada Gara yang sedang duduk santai di ruang tamu. 


Gara menoleh dan tersenyum kecil melihatnya. Dia menepuk pelan sisi sebelahnya yang kosong di sofa.


“Ayo, cantik. Aku dukung kamu kalau mau selingkuh denganku dari Revan disini.” 


“Heh, sadar!” Zea menoyor kepala Gara.


“Dari tadi juga aku sadar Nona cantik. Ada apa memangnya?” 


“Revan lagi kesal ya?” Tanya Zea pelan-pelan.


“Lah, tunggu? Dari tadi kan Revan bersamamu. Dari tadi juga kalian berdua. Mana aku tahu. Dari tadi aku malah seperti menghomo bersama Sekretarisnya pacarmu itu.” 


“Iya sih.” 


“Nah, nona cantik baru sadar.”


“Enak saja. Oh iya, tahu Revan suka makanan apa tidak?” 


“Tidak, nona cantik.” 


“Hah? Kau kan sahabatnya.” 


“Iya mana aku tahu nona cantik. Dia itu omnivora, segalanya dia bisa makan. Setahu aku dia begitu. Hanya saja dia lebih terbiasa makanan sehat.” 


Zea membulatkan mulutnya dan mengangguk. Sepertinya akan susah kalau mau membuat Revan luluh dari perbuatan minta maafnya. Padahal hanya ingin menjahilinya saja. Ternyata sampai seperti ini. Kalau tahu begini. Zea tidak akan melakukannya tadi. 


“Coba saja buat salad sayur terus kasih salmon diatasnya. Pasti dia mau. Apalagi sebelum tidur, dia biasanya suka makan buah dulu.” Saran dari Gara. 


“Hah?” Zea tidak mengerti.


“Kenapa Hah menjadi jawabannya, nona cantik? Coba saja dulu. Sebelum aku bersedia menjadi selingkuhanmu dengan Revan.” 


“Eh, Revan suka makan buah sebelum tidur. Kenapa disuruh buat salad sayur? Aneh.”


“Supaya berbeda saja Nona cantikku. Apalagi ini buatanmu sendiri. Pasti dia langsung mau makan salad itu dan tersenyum lagi.” Gara tersenyum yang terlihat menjijikkan di mata Zea. 

__ADS_1


"Jangan senyum-senyum." 


"Terus kenapa nona cantik masih disini?" Gara masih dengan senyumannya. 


"Heh, sudahlah." 


Zea langsung melenggang pergi ke dapur. Di dapur Zea mencari sayur yang cocok untuk dibuat menjadi salad. Untungnya di kulkas ada banyak sayur segar yang bisa dibuat jadi salad. Ada salmon yang sudah dipotong pula di dalamnya. Sehingga memudahkan Zea, supaya tidak terlalu lama menyiapkannya. 


Karena salad yang dibuat ala Zea. Zea menggunakan saus  yang biasanya digunakan untuk salad. Tidak menggunakan racikan saus sehat yang biasanya disiapkan oleh pelayan restoran ataupun yang biasanya mungkin Revan makan. 


Sudah siap dua mangkuk salad di tangan Zea. Saat hendak ingin menaruh mangkuk di meja dekat pintu kamar Revan untuk mengetuk pintu. Ternyata pintu sudah lebih dulu terbuka. 


Revan keluar dengan piyama tidurnya. Revan menatap Zea datar. Zea menghela nafasnya dan terdiam sejenak. 


"Revan, ayo kita bicara sebentar ya." Ajak Zea dengan senyuman manisnya. 


"Bicara atau makan?" Tanya balik Revan. 


"Y-ya dua-duanya. Mau ya? Di dalam kamarmu saja. Ini bawa mangkuknya ke dalam, aku mau ambil sendok dulu." 


Belum Revan menjawab mau atau tidaknya. Zea langsung memberikan kedua mangkuk itu kepada Revan dan kembali ke dapur untuk mengambil sendok untuk memakan salad mereka. 


Revan pun menerima saja kedua mangkuk itu tanpa berekspresi. Revan masuk ke dalam kamarnya dan menunggu Zea di dalam. Entah apa yang Revan rasakan sekarang di dalam hatinya dan entah apa yang Revan bicarakan dalam benaknya. 


Zea masuk ke dalam kamar Revan dengan membawa dua sendok. Lalu, duduk di sofa tepat sebelah Revan duduk. 


"Ayo, kita ngobrol sambil makan saladnya ya." 


"Hm." Jawab singkat Revan. 


Zea tersenyum pahit mendengarnya. Kesal, kesal geli rasanya. Harus membujuk Revan supaya tidak kesal atau tidak mendiamkannya terus. Rasanya tidak nyaman dan tidak tenang.


"Revan." Panggil Zea. 


"Hm." Jawabnya di sela-sela makannya. 


"Kamu marah ya?"


"Tidak."


"Kamu kesal ya?"


"Tidak."


"Kamu kecewa?"


"Tidak."


"Kamu cemburu?" 


"Tidak."


"Lalu? Kenapa kamu berubah sikapnya?"


"Tidak tahu."


"Ihh..., Revan! Kamu itu kenapa? Aku minta maaf kalau ada salah."


"Begitu saja ya?"

__ADS_1


"Begitu apa?" Zea tidak mengerti.


"Cara meminta maafmu begitu?" 


Revan menghentikan makannya dan meletakkan mangkoknya di atas meja sofa. Matanya menatap lekat mata Zea. 


Zea terpaksa berhenti makan dan rasanya mulutnya tidak bisa bergerak untuk mengunyah. Matanya terkunci oleh tatapan Revan.


“Kamu mengomentari cara maafku, berarti aku benar ada salah denganmu kan?” 


“Ah, tidak ada. Kamu tidak punya salah denganku Ze.”


Zea diam sejenak. Melihat Revan yang berubah menjadi acuh setelah perbincangan saat makan malam mungkin ada kaitannya saat berbicara tentang Kak Vano yang lebih tampan. 


Menghela nafas pelan. Pasti karena masalah itu. Zea yakin sekarang. Revan terbawa perasaan, dia cemburu. 


Mangkuk salad yang dipegang Zea taruh di atas meja dan Zea juga mengambil alih mangkuk salad Revan untuk ditaruh atas meja juga. 


Zea meraih salah satu tangan Revan dan menggenggamnya. Zea tersenyum menatap kedua mata pacarnya yang tetap dengan wajah datarnya.


“Maaf aku hanya bercanda. Aku sengaja bilang dia lebih tampan dari kamu. Aku cuma ingin lihat kamu kesal saja.” Jelasnya.


“Oh, begitukah?” 


Ingin rasanya Zea melenyapkan senyuman manis miliknya yang sedang dia tunjukan sekarang. Tapi, demi kebaikan harus dilakukan.


“Serius, aku cuma berkata bohong tadi. Tidak mungkin wajah dia yang seperti perangkap tikus lebih tampan dari pacarku ini. Tubuhnya juga seperti tulang ikan tidak sebagus dirimu yang seperti...” 


“Seperti apa?” Revan menunggu kelanjutan perkataan Zea.


Zea tampak berpikir. Entah seperti apa tubuh Revan, Zea tidak tahu. Tentu saja tidak tahu. Karena Zea belum pernah lihat pesona tubuh milik pacarnya itu.


“Kasihan aku melihat pacarku berpikir keras membayangkan tubuh pacarnya sendiri. Karena aku baik dan sudah tidak marah lagi. Akan aku tunjukkan padamu sekarang tanpa bayaran apapun.”


Revan melepas genggaman tangan Zea. Dia berdiri tepat di depan Zea duduk. Revan membuka pakaian atasnya seraya tersenyum licik.


Entah ini hari keberuntungannya atau memang keberuntungan akan jodohnya bisa memiliki pria yang bertubuh atletis. Zea menelan salivanya sulit karena fokus dengan pemandangan indah yang ada tepat di depan matanya.


“Bagaimana sayang? Sudah tahu tubuhku ini seperti apa?” Suara sensual Revan berbisik tepat di sebelah telinga Zea.


“Revaaannn!!!” 


Zea mendorong tubuh Revan dan lari keluar dari kamarnya. Zea duduk di ranjang miliknya dengan nafas terengah-engah. Memegangi dadanya yang terasa berdebar jantungnya.


Dia beneran jodoh aku? Revan? Zea.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak

__ADS_1


See u in the next episode 💕


__ADS_2