Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 27 - Jangan Sushi!


__ADS_3

...~ Jangan Sushi! ~...


...___________________________________________...


Kembali ke hari biasa dimana Zea akan bekerja seperti biasanya bersama tim di kantor. Sangat nyaman rasanya bekerja bersama teman yang saling mendukung satu sama lain.


Setelah melewati hari yang panjang, penuh kebahagiaan dan sangat puas rasanya. Karena dia bisa mendapatkan beberapa barang baru dan makanan murah tapi enak. Bukan Zea sendiri yang beli. Tapi, dibelikan oleh teman kerja laknatnya.


Jarang-jarang Zea seperti ini. Jadi, Meta yang ditetapkan sebagai korban permintaan Zea kemarin harus memakluminya. Walaupun sedikit kesal.


Tapi, sebenarnya di akhir. Meta merasa diuntungkan. Bukan Zea. Zea diuntungkan sesaat. Setelah melihat wajah Meta yang sebentar lagi dompetnya kritis. Zea menjadi ingin tertawa tapi, dalam hatinya tidak tega.


Jadilah Zea bertanya kepada Meta mengenai sesuatu yang belum dibayar oleh Zea. Awalnya Meta tidak mau bilang. Tapi, akhirnya Meta bilang dan dibantu membayarkannya setengah dari jumlah biaya aslinya.


Masih pertengahan bulan jadi harus jaga pengeluaran. Karena gajian masih sekitar dua mingguan. Jadi, harus baik-baik isi dompet.


Setelah melewati hari tersebut. Kembali lagi ke awal pekan. Bertemu dengan teman kerjanya yang memang sifat dari setiap anggota tim yang tidak terlalu mendominasi pada satu sisi, sehingga membuat timnya berjalan dengan baik. Apalagi ketua tim yang dikenal baik dan juga tampan. Karena ketua timnya laki-laki.


"Nanti makan siang mau makan di mall dekat kantor tidak?" Tanya Shera kepada yang lain.


"Boleh saja. Tinggal jalan kaki sebentar sudah sampai." Sahut Kevin.


"Kita makan apa disana?" Tanya Rika.


"Apa ya?" Zea tampak berpikir.


"Makan yang seru saja." Saran Dehian.


"Apa?" Tanya Rika.


"Tidak tahu. Aku kan bilang makan yang seru saja. Aku tidak tahu apa." Jawab Dehian.


"Yah!" Sontak semuanya kecewa. Mereka kira Dehian tahu.


"Lah, apa sih? Kenapa semuanya jadi 'Yah', aneh." Dehian Heran.


"Makan sushi saja bagaimana? Aku yang traktir." Ucap Adrian sang ketua tim.


"Jangan sushi!" Sentak mereka semua menolak sushi.


"Hah? Kenapa?" Adrian menatap mereka semua.


"Kau itu orang lokal. Jadi, makan saja yang lokal-lokal. Lidah kami lidah lokal!" Seru Kevin.


"Heh! Tapi, kan tidak boleh menghina makanan luar juga." Adrian mengingatkan.


"Iya bener, menurutku sushi enak juga lho." Sahut Zea.


Serentak mereka semua menatap Zea dengan tatapan kesal seakan tidak terima. Kecuali Adrian yang akhirnya senang merasa ada yang satu pilihan dengannya.


Tapi, ternyata kesenangan itu hanya sesaat. Setelah Zea dengan senyuman hangatnya melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, lebih enak dan lebih maknyus itu adalah makanan lokal. Lebih murah juga. Katanya ketua tim paling suka irit. Kok belinya makanan mahal." Cibir Zea.


"Itu kan tidak mahal." Elak Adrian.


"Sushi satu piring panjang saja bisa sampai seratus ribu. Padahal isinya cuma enam biji. Mana kenyang? Kau mau mentraktir satu piring sushi. Lalu, kita masing-masing hanya satu biji sushi begitu?" Seru Kevin.


"Y-ya tidak juga." Adrian menggaruk tengkuknya.


"Kita makan bubur goreng di pinggir jalan saja kalau begitu." Kesal Adrian.


"Tidak mau!" Tolak yang lainnya juga.

__ADS_1


"Sudah-sudah kita makan di foodcourt mall saja. Harganya lebih murah. Bagaimana?" Saran Shera.


"Boleh tuh, tumben saran si bucin ada benarnya." Ejek Rika.


"Heh! Nanti kalian juga kalau sudah bucin akan merasakannya." Ucap Shera.


Jam sudah memasuki istirahat kantor. Mereka pun bergegas menuju ke mall yang dekat kantor. Tidak menggunakan transportasi. Karena memang jaraknya dekat.


Fasilitas yang ada di dekat kantornya Zea memang sangat mumpuni. Enak sekali bekerja di tempat yang dekat banyak fasilitas di sekitarnya pasti mendukung banget. 


Zea juga sangat nyaman bekerja disana. Sepertinya pemilik perusahaan sangat tepat menempatkan perusahaannya. Hingga tidak salah pilih lokasi strategis bisnisnya.


Saat Zea sedang berjalan bersama teman-temannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Zea pun mengambil ponselnya dari dalam tasnya. 


Dilihatnya nomor asing yang meneleponnya. Tidak tahu siapa itu. Zea penasaran dan tidak ingat juga kalau pernah memberikan nomor kepada siapa.


Lalu, menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. Zea sedikit menjauh dari teman-temannya. Karena tidak enak jika didengar juga oleh yang lain pembicaraannya. 


☎ 


"Halo?" Zea.


"Halo, Ze." Suara seseorang dari seberang sana.


"Iya, siapa ya ini?" 


"Hei, kamu tidak mengenali suara siapa ini?" 


"Hah?" 


Zea berpikir sejenak mencoba mengingat suara siapa yang sedang menelponnya ini. Tidak lama Zea mengingatnya. Karena suara di telepon dengan suara asli sedikit berbeda. 


"Revan?" 


"Aku lagi mau makan siang. Ada apa?" 


"Apakah harus ada tujuan penting lebih dulu untuk menelepon pacarnya sendiri?" 


"Eh, tidak juga sih." 


"Kalau begitu kita makan siang bersama ya?" 


"Tidak bisa, aku akan makan bersama teman-temanku."


"Siapa?" 


"Teman satu tim kerjaku."


"Ada prianya?" 


"Ada."


"Jangan!" 


"Kenapa?" 


"Kamu ingin berdekatan dengan pria lain?! Aku tahu hubungan kita belum seperti orang lain yang pacarannya sudah sangat dekat dan bisa romantis bahkan mesra-mesraan bersama. Tapi, bolehkah aku meminta untuk menjaga diri dan hatimu untuk diriku?" 


"Hah?"


"Zea, jangan ya..." 


"Hanya makan siang saja, ada teman wanitaku juga kok. Berenam kita. Tidak berdua seperti yang kamu pikirkan." 

__ADS_1


"Zea..."


"Apa?"


"Baiklah, untuk terakhir kalinya ya, besok jangan lagi ya?" 


"Kenapa?" 


"Makan siangnya harus bersama ku!"


"Hah, kenapa?" 


"Zea, jangan tanya kenapa-kenapa, kita kan pacaran!"


"Iya aku tahu. Lalu, kenapa kalau kita pacaran?" 


"Jangan dekat-dekat dengan pria lain."


"Tidak kok."


"Itu kamu makan bersama teman priamu..."


"Revan, astaga! Ada teman wanitaku juga. Kita berenam lho. Jadi, tenang saja ya. Aduh..., aku ketinggalan nih. Aku sudahi dulu ya. Sampai nanti!" 


"Ze--" 



Belum selesai Revan mengatakan sesuatu sudah lebih dulu Zea mematikannya secara sepihak. Zea merasa geli sendiri dengan cara Revan yang entah kenapa menjadi posesif kepadanya.


Padahal baru kenal kurang lebih satu bulan. Lalu, pacaran juga baru satu hari. Bertemu juga jarang. Karena sama-sama sibuk. Tapi, Revan yang paling sibuk. 


Entah kenapa ya? Ada apa dengan Revan? Kenapa bisa seperti itu dengan tiba-tiba. Mungkin baru saja terjadi sesuatu dengan kepalanya hingga menyebabkan sedikit bermasalah pada otaknya. 


Tidak lupa Zea menyimpan nomor Revan agar tersimpan. Supaya nomor Revan tidak tertera sebagai nomor asing lagi. 


Melihat Zea yang tertinggal jauh. Zea sedikit berlari mendekati teman-temannya. Karena memang Zea sempat mengatakan kepada teman-temannya untuk duluan saja. Karena Zea akan menerima panggilan dari seseorang.


Bahkan, tanpa teman-teman mereka ketahui. Bahwa Zea menerima panggilan dari presiden direktur perusahaan mereka sendiri. Karena Dwitara Group masih satu naungan dengan Ardawijaya Group. 


Bukan karena urusan pekerjaan. Melainkan urusan hati. Urusan pacar dan pacaran. Hebat sekali Zea! Pacaran dengan atasan dari atasan nya atasan mereka, ya pokoknya begitu lah ya.


Segera Zea buru-buru masuk ke dalam mall. Saat teman-temannya sudah masuk ke dalam. Ponselnya Zea matikan daya dan dimasukkan ke dalam tas. 


Sekarang saatnya Zea santai dengan waktu istirahat kantornya dengan makan bersama di mall bersama teman-temannya. 


Tanpa ada gangguan dari siapapun. Maupun itu sahabatnya, temannya, pacarnya. Tidak peduli Revan meneleponnya lagi. Karena ponselnya sudah dimatikan. 


Memang belum terbiasa Zea. Mungkin nanti dia akan terbiasa dengan sifat dan sikap Revan yang bisa saja berubah secara perlahan. 


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak

__ADS_1


See u in the next episode 💕


__ADS_2