Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 34 - Bertemu Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

...~ Bertemu Seseorang Dari Masa Lalu ~...


..._______________________________________...


"Bagaimana kalau apa?" 


Revan mengangkat kepalanya dan menoleh menatap Zea dalam. Menunggu kelanjutan perkataan Zea. 


Duh! Ya kali aku yang ajak duluan. Zea.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita saja?" Zea tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. "Dan juga..., karena itu." Zea menunjuk ke arah papan lalu lintas yang berbentuk P di silang menandakan tidak boleh parkir di pinggir jalan. 


Revan mengikuti arah tangan Zea. Revan menghela nafasnya kasar. Untung saja Zea sadar dengan keberadaan papan lalu lintas itu kalau tidak mungkin jika ada polisi yang sedang bertugas, mobil Revan akan ditilang polisi.


Langsung saja Revan melajukan mobilnya kembali menuju tujuan awal mereka. Kembali memanfaatkan situasi yang ada. Karena Gara dan Sekretaris Zen tidak ikut dengan mereka.


"Ayo turun, sudah sampai." 


Revan turun dari mobil lebih dulu untuk membukakan pintu Zea. Zea melihat sekitarnya yang terlihat sangat indah dan unik sekali. Karena bangunannya seperti bangunan tua tetapi terawat. Bangunannya ada arsitektur patung-patung dan  hiasan lainnya. Zea mengikuti Revan yang berjalan di sampingnya. Mengikut saja, karena dari awal Zea memang hanya ikut dengan Revan. Tidak memiliki rencana sendiri. 


Revan memesan tiket untuk berdua. Revan memberikan tiketnya kepada Zea. Zea menerima dan menyimpannya tanpa bertanya. Mereka berdua masuk ke dalam. 


Zea sangat kagum dengan isi yang ada di dalam bangunan tersebut. Arsitekturnya terkesan tua, tapi sangat cocok untuk isinya. Lukisan-lukisan yang dipajang ditambah ornamen lain dalam bangunan yang menunjukkan kalau tempat yang sedang mereka kunjungi ini adalah sebuah museum. 


"Museum ini dikenal banget di Bali, kamu pernah datang kesini sebelumnya?" Revan bertanya sembari melihat-lihat di lukisan sekitarnya. Berjalan pelan-pelan di sebelah Zea. 


"Belum, biasanya kalau ke Bali, aku ke pantai." Zea menoleh menatap Revan yang juga tengah menatapnya sesaat. 


"Kamu suka lukisan?" Revan bertanya sambil tetap berjalan. "Aku tidak bisa membuat suatu seni apalagi lukisan, tapi aku sangat suka dengan lukisan yang dibuat orang lain. Terlihat sangat indah dan bernilai." Lanjutnya. 


"Hm..., aku tidak terlalu suka lukisan. Tapi, kalau ada orang lain yang membuatnya. Aku merasa mereka keren sekali bisa membuat lukisan." 


"Berarti kamu tidak suka kalau aku ajak kemari?" Revan menghentikan langkahnya tiba-tiba. Menghadap ke arah Zea dan menatapnya lekat. "Maaf, aku tidak bertanya kepada mu dulu sebelumnya."


"Eh?" Zea tidak percaya kalau Revan akan meminta maaf kepadanya. "Tidak kok, tidak apa-apa. Aku suka kalau diajak ke tempat-tempat seperti ini. Walaupun aku tidak suka lukisan, tapi aku bisa mengambil maknanya dan aku suka untuk tahu mengenai sesuatu yang belum aku tahu sebelumnya. Terima kasih ya." Zea tersenyum tulus. 


Tidak semata-mata untuk membuat Revan tidak merasa bersalah karena dirinya yang tidak suka lukisan. Tetapi, memang benar adanya, Zea tidak suka dengan lukisan, tapi makna dari suatu seni, apapun itu, Zea pasti menyukai dan mengapresiasinya.


"Sama-sama." Revan tersenyum dan lanjut berjalan lagi. 


Mengelilingi setiap koridor bangunan, dari lantai bawah sampai lantai atas, lalu turun lagi ke bawah yang terdapat juga seni patung dan beberapa alat musik yang sudah lama namun dipajang dengan rapi dan terlihat terawat. 


Sesekali Zea meminta Revan untuk dijadikan tukang foto gratisnya di beberapa patung besar yang sangat unik dan keren menurutnya. Ada beberapa foto yang diambil bersama juga. Salah satunya diambil melalui ponsel Revan dan diam-diam dijadikan wallpaper ponselnya. 

__ADS_1


Puas kurang lebih dua jam berkeliling disertai makna setiap seni yang dijelaskan oleh guidenya. Sekarang Revan dan Zea memutuskan untuk pergi makan siang. Karena sudah semua mereka kelilingi bagian museumnya jadi dirasa sudah cukup.


...----------------...


"Ada tempat makan yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Revan di sela-sela menyetirnya. 


"Sepertinya tidak ada, aku ikut denganmu saja." Zea tidak tahu juga ada tempat makan menarik apa saja di Bali. 


"Baiklah, kita makan siang dimana ya?" 


"Yang biasa saja juga tidak apa-apa atau tempat makan cepat saji juga banyak di sekitar jalan." Saran Zea. "Tempat makan cepat saji kan banyak, jadi mudah ditemui."


"Ze, kurangi makanan seperti itu ya. Walaupun sedang berhemat juga. Jangan terlalu sering, itu tidak sehat." Revan menoleh sejenak dan kembali melihat ke depan.


"Ah, baiklah. Aku paham, tidak selalu juga kok. Tapi, sering." Zea mengecilkan suaranya diakhir kalimat. 


Revan tersenyum kecil mendengarnya. Meskipun suaranya dikecilkan. Suaranya tetap terdengar. 


"Baiklah, aku saja yang menentukan tempat makannya ya." Ucap Revan yang kurang setuju dengan saran Zea. "Bagaimana mau?" Minta persetujuan Zea. 


"Boleh." Zea tersenyum menyetujui. 


Iya! Benar! Lebih baik begitu, aku tidak tahu juga mau makan apa. Makanan cepat saji saja kamu tidak mau Van. Mana aku tahu juga kan, makanan apa yang kamu mau? Zea.


...----------------...


Zea tersenyum kecil menatap Revan. Makanannya terlihat sangat enak dan menggugah selera. Terbukti dari setiap pelayan restoran yang kesana-kemari mengantarkan makanan ke pengunjung lain. Masalahnya  harga dari setiap makanan itu terlalu wah untuk Zea. Mungkin kalau masih ada sang ayah. Zea bisa leluasa untuk makan seperti ini. Namun sekarang kondisinya berbeda. 


“Aku..., aku ikut denganmu saja.” 


“Yakin? Tidak ingin makanan yang lain?” Revan gemas sendiri dengan tingkah wanita di depannya. “Tenang saja, lupakan masalah harga. Aku tidak akan menganggapnya hutang kepadaku Ze.” 


Eh, tapi kan harga diriku bisa hancur di depanmu Van. Seperti memanfaatkan keadaan memesan makanan yang mahal di restoran mewah. Tidak memperdulikan harga karena dibayarkan olehmu. Aneh sekali rasanya. Zea. 


“Kamu bisa makan daging?” Tanya Revan membantu Zea yang semakin kebingungan. 


“Hm..., bisa.”


“Aku pesankan steak saja ya. Aku jamin rasanya enak. Kamu harus coba.”


“Eh, tapi?”


“Tidak apa Ze.” Revan tersenyum. 

__ADS_1


“Baiklah.” 


Hatimu baik dan lembut sekali Ze. Sepertinya akan cocok kalau kamu bertemu dengan Ibu. Revan.


Tidak perlu menunggu lama makanan pun sampai di meja mereka. Zea dan Revan menyantap makanan mereka masing-masing. Sesekali Revan mencuri pandang ke arah Zea. Zea makan begitu tenang dan serius. 


“Zeandra?” 


Zea mendongakan kepala untuk melihat siapa yang menyebut namanya. Bukan Revan, karena berbeda suara dan Revan memanggilnya tidak seperti itu. 


Mata Zea membulat melihat siapa yang menyebut namanya. Jantungnya berdegup kencang melihat wajahnya yang mengingatkannya akan suatu waktu. 


“Kak Vano?” Zea berdiri dan menatap wajah orang tersebut lekat.


Orang tersebut yang dipanggil Kak Vano oleh Zea tersenyum senang karena Zea masih mengingatnya. Bahkan, menyebut namanya.


“Kak Vano? Bukannya dulu kamu memanggilku Vano? Hanya Vano. Tidak ada Kak didepannya. Bahkan, sempat ada kata sayang. Tapi, karena...” 


“Maaf aku memotong perkataanmu kak. Waktu cepat berlalu. Dulu dan sekarang sudah berbeda keadaannya. Mohon lupakan saja kejadian lalu.” 


“Kenapa, bukankah itu kenangan terindah diantara kita?” Vano menatap Zea sendu. Seakan kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Zea. 


“Maaf kak, aku minta lupakan saja.” Zea mengulangi perkataannya. 


“Iya, tapi kenapa? Perasaanku padamu sepertinya muncul kembali. Tidakkah kamu ingin berjuang kembali supaya kita bisa bersama. Seperti dulu di hadapan kedua orang tuamu yang menolak hubungan kita. Aku dengar kedua orang tuamu sudah tidak ada. Ayo, menikah denganku. Sudah tidak ada penghalang sekarang.” Jelas Vano menatap Zea serius. 


Zea menatap tidak percaya dengan perkataan Vano tadi. Tangannya terkepal erat. Tidak percaya kalau Kak Vano yang dia kenal akan memanfaatkan kedua orang tuanya yang telah meninggal untuk mengajak menikah. Demi melanjutkan hubungan yang memang tidak direstui oleh kedua orang tua Zea.


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2