
...~ Mencoba Berpacaran ~...
...___________________________________________...
"Revan?" Zea memanggil Revan yang sedari tadi diam. Revan tersadar dan kembali menatap Zea lekat.
Saatnya Revan mengatakan hal serius kepada Zea. Lagipula waktu terus berjalan. Kalau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sama saja membiarkan kesempatan miliknya menghilang begitu saja bukan? Jadi, harus dimanfaatkan dengan baik.
"Ze, maukah kamu menjalin hubungan denganku?" Revan mengutarakan maksudnya.
"Hah?" Zea mengernyitkan dahinya.
"Mungkin terkesan aneh dan tidak masuk akal. Maukah kamu menjalin hubungan denganku?" Tanya Revan lagi.
"Hm..., bagaimana ya? Kita baru kenal satu bulan yang lalu. Apa tidak terlalu cepat?" Tentu saja Zea mengerti maksud menjalin hubungan yang Revan katakan itu apa.
"Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Tapi, ada juga yang cepat-cepat akhirnya putus ataupun bercerai."
"Baiklah, aku paham. Bagaimana kalau kita mencoba untuk berpacaran dulu saat ini? Kalau memang tidak ada perasaan yang tumbuh di hati kamu dan kamu tidak memiliki rasa keyakinan terhadapku. Tidak apa, kita bisa bersahabat saja." Jelas Revan yang terlihat ragu dimata Zea.
Bagaimana ini? Gara kau bodoh sekali! Aku belum menyiapkan kata-kata yang bagus. Aku bingung sekarang. Ah..., menyebalkan kau Gara! Perasaan aku sendiri pun tidak tahu bagaimana kepada Zea. Lihat saja Gara, kau harus diberi pelajaran. Revan.
Zea dapat melihat keraguan di mata Revan. Jujur saja Zea belum pernah memiliki hubungan dengan siapapun. Tapi, menyukai seseorang Zea memang pernah mengalami itu. Untuk menjalin hubungan Zea belum pernah.
Revan menunggu jawaban Zea. Revan sudah bisa menebak kalau Zea pasti ada rasa tidak percaya ataupun keraguan kepadanya. Ya, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi juga. Hanya tinggal menunggu hasil didepan mata apa. Berharap Zea memberikannya kesempatan.
Sehingga Revan yang terlihat meragukan diawal oleh Zea bisa melakukan pembuktian hingga Zea dapat percaya sepenuhnya kepadanya. Tanpa ada rasa ragu lagi.
Aku harus menjawab apa ini? Zea.
"Zea, aku tahu kamu pasti ragu. Bolehkah kasih aku kesempatan?" Revan memohon.
"Tunggu, aku tidak tahu tujuan dari menjalin hubungan ini apa? Apakah ini karena memang kamu menyukai dan mencintaiku atau ada maksud lain?" Zea menatap Revan menyelidik.
Deg! Bagaimana bisa Zea berpikir tepat sasaran seperti itu. Benar, awalnya Revan berpikir bisa menggunakan Zea untuk menjadi wanitanya demi menghalangi berjalannya perjodohan ibunya.
Namun, sekarang Revan bingung. Saat bersama Zea memang terkesan berbeda dibanding wanita yang pernah di dekatkan oleh ibunya sendiri. Bahkan, wanita lainnya diluar sana.
"Baiklah, aku akan berikan satu kesempatan kepadamu. Aku tahu pasti ada maksud lain dari pembicaraan kamu ini. Aku harap maksud lain itu tidak merugikan satu pihak." Zea langsung memberikan jawaban sebelum Revan memberitahukan tujuannya.
Revan menatap Zea lekat. Dia sedikit terkejut dengan jawaban Zea. Revan pikir Zea akan menolaknya karena Zea tidak mempercayai dan meragukan dirinya. Ternyata Zea memberikannya kesempatan.
Sungguh keadaan ini semakin membuat Revan bingung. Tidak tahu harus apa. Memelukkah? Mencium Kah? Tertawakah? Tersenyum kah? Tidak tahu. Revan tidak tahu.
Ekspresi yang diperlihatkan Revan hanya wajah datar yang sebenarnya dalam hatinya terkejut dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Merasa keadaan semakin canggung dengan Zea. Revan mencoba mengusir kecanggungannya dengan meminum minuman pesanannya lebih dulu.
__ADS_1
"Ze, terima kasih." Revan menatap Zea lekat. Zea tersenyum dan mengangguk.
"Tapi, bolehkah aku tahu maksud lain itu apa?"
"Hm..., mungkin hanya satu kata yang membuat aku melakukan ini, perjodohan."
Zea mengangguk mengerti.
"Jadi, kamu menghindari perjodohan?" Tanya Zea lagi.
"Lebih tepatnya, ibuku memberikan aku waktu satu bulan untuk menemukan wanita pilihanku sendiri. Jika tidak, ya dijodohkan."
"Baiklah, aku paham."
Ze, bisakah aku mengartikan kenyaman ini sebagai tanda suka kepadamu? Aku bingung. Revan.
Seketika Zea yang tadinya tersenyum langsung redup senyumannya. Dia seperti baru ingat sesuatu. Namun, dia melupakan itu.
Zea mencoba mengingatnya pelan-pelan. Revan mengernyitkan dahinya saat melihat perubahan ekspresi pada Zea. Namun, terlihat lucu di matanya. Apalagi ketika memperhatikan wajah Zea yang seperti ini.
Cantik. Revan.
Satu kata yang muncul dibenaknya mengenai Zea. Dari mana asal munculnya pandangan seperti itu terhadap Zea. Revan pun tidak tahu. Cantik, baru itu saja yang Revan sadari. Ditambah lucu.
Eh, aku kan juga ada tantangan dari Meta. Dalam satu bulan harus punya pacar. Ahh..., aku sudah punya pacar sekarang. Baiklah, Ze ayo semangat. Besok tagih jam tangan merek mahal sama Meta! Zea.
"Ze?" Revan memanggil Zea. Yang dipanggil belum menyadari kalau dipanggil.
"Zea?"
"Zea?"
Ide licik Revan muncul begitu saja. Berpikir sekarang Zea adalah miliknya. Zea adalah wanitanya. Berarti, Revan dan Zea sudah mengurangi jarak diantara mereka bukan?
Jadi, tidak masalah jika Revan melancarkan ide licik miliknya kepada Zea sekarang. Entah Zea akan menyadari perbuatannya nanti atau tetap melamun dengan wajah datar seperti itu.
"Sayang, apa aku boleh mencium bibirmu?" Bisik Revan tepat ditelinga Zea dengan suara sensualnya.
Zea membulatkan matanya sempurna. Apa?!
Plak!
"Duh!" Revan mengusap pipinya yang ditampar oleh Zea.
"Ze..., aku hanya mengerjaimu saja. Kenapa jadi menamparku?" Revan menatap Zea heran.
"Eh? Maaf, aku reflek." Zea tersenyum merasa tidak enak.
"Sudahlah tidak apa, kenapa kamu melamun?"
__ADS_1
"Hm..., tidak apa-apa."
"Benar tidak apa-apa?"
"Iya benar, tidak apa-apa." Zea meyakinkan.
Tidak mungkin kan aku beritahu Revan kalau aku menjadikan dia untuk mendapatkan jam tangan merek mahal dari Meta. Zea
Zea dan Revan pun menggunakan waktu yang ada untuk mengobrol bersama. Apa saja yang mereka obrolkan pasti seru. Mulai dari tentang mereka masing-masing, pekerjaan, tentang email diterima kerja dari perusahaan yang ada nama Revan juga disana, terakhir tentang orang tua mereka masing-masing.
Saat itulah Revan pura-pura terkejut dengan Zea setelah mengatakan kalau kedua orang tuanya sudah meninggal. Tentu saja begitu. Karena Revan sudah pernah mencoba mencari tahu tentang Zea sebelumnya. Kalau bersikap sudah tahu. Pasti akan terlihat aneh sekali.
Setelah puas berbicara bersama panjang lebar. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang. Revan dan Zea sekarang adalah seorang sepasang kekasih. Meskipun sebenarnya masih belum jelas di hati mereka masing-masing. Tapi, tetap saja mereka sudah berpacaran sekarang.
Jadi, tidak ada salahnya kalau Revan mengantar Zea pulang. Karena sudah malam juga. Tidak baik wanita pulang malam-malam. Kalau kata Gara nanti diganggu om-om.
Sesampainya di depan rumah Zea. Zea berterima kasih kepada Revan dan hendak turun dari mobilnya. Namun, Revan menahannya.
"Ze, kita berpacaran kan sekarang?" Tanya Revan dengan menatap Zea lekat. Zea tersenyum dan mengangguk. Revan juga ikut tersenyum.
"Baikkah, kita berpacaran sekarang. Tapi, ada satu hal yang kita lewatkan."
"Apa?" Zea menaikkan alisnya.
"Kita sama-sama belum memiliki nomor telepon satu sama lain, Ze." Ungkap Revan.
"Oh iya? Apakah harus?"
"Tentu saja." Revan mengambil ponselnya dari saku jasnya. Lalu, memberikannya kepada Zea.
"Tolong masukkan nomor telepon mu."
"Baiklah."
Zea pun memasukkan nomor teleponnya di dalam ponsel Revan. Setelah itu, dikembalikan kembali ponselnya kepada Revan. Revan menerimanya.
Akhirnya, mereka pun menyudahi satu hal yang mereka lupakan itu. Zea masuk ke dalam rumahnya dan Revan langsung melajukan mobilnya kembali ke rumahnya sendiri.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
__ADS_1
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
See u in the next episode 💕