Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 41 - Harus Bagaimana?


__ADS_3

...~ Harus Bagaimana? ~...


..._______________________________________...


Dengan perasaan tak menentu. Terkejut iya, sedih iya, sakit hati iya, bimbang juga iya. Percaya dan tidak percaya Revan seperti itu. Sebenarnya bisa saja Zea percaya karena Zea sudah mengenal Vano lebih dulu dibanding Revan. 


Aku harus bagaimana sekarang? Zea.


Di Depan cafe Zea melihat taksi yang akan melintas. Dengan cepat Zea memberhentikan taksi itu untuk ditumpanginya menuju rumah. 


Dzzrt..., Dzzrt..., 


Revan 


Senyuman kecil muncul di bibir merah Zea. Namun, bukan karena senang sang kekasih meneleponnya. Melainkan merasa ragu untuk mengangkatnya atau tidak. 


Kembali teringat perkataan Revan pada rekaman suara yang diputar melalui ponsel Vano. 


"Pak, tolong ubah rute perjalanan ke alamat rumah teman saya ya pak, di daerah  batu cetar jl. Kemayu." Ujar Zea kepada sopir taksi yang sebelumnya sudah diperintahkan Zea mengantarkan dirinya ke alamat rumahnya.


"Baik mba." Jawab Sopir taksi itu dengan sopan. 


...----------------...


"Meta..." Zea memanggil seraya mengetuk pintu rumah temannya. 


"Meta..., kamu ada dirumah tidak?" 


"Met..." 


Baru saja Zea hendak memanggil nama temannya lagi dan mengetuk pintu. Tapi, pintu sudah terbuka lebar untuknya dengan seorang gadis muda dengan tangannya yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. 


"Iya..., iya..., sabar Ze. Aku baru selesai mandi ya ampun. Besok-besok sabar sedikit ya cantik..." Meta memperlihatkan senyumnya yang sebenarnya merasa kesal setengah mati. Karena tidak bisa mandi dengan tenang dan santai. 


Setelah mendengar ocehan teman baiknya itu. Tanpa membalas ocehannya, Zea langsung memeluk Meta dengan erat. Meta yang dipeluk menjadi bingung. Tangannya berhenti mengeringkan rambutnya dan menaruh handuknya di sembarang tempat. 

__ADS_1


"Ze? Kamu kenapa?" Meta mengusap punggung Zea pelan. 


"Ta..." Zea mengeratkan pelukannya. 


Meta membawa Zea duduk di sofanya yang empuk. Diusapnya punggung Zea pelan untuk menenangkan temannya yang mungkin sedang ada masalah. Pikirnya. 


"Ze, Zea..., baju aku rasanya seperti basah ya. Kamu menangis ya Ze?" Tanya Meta hendak melepaskan pelukannya.


"Maaf, sebentar saja ta..." Ucap Zea lirih.


"Heh, baiklah..., cukup air mata ya jangan ingus." 


"Ta..." Zea melepaskan pelukannya dan memukul paha meta kesal. 


"Bercanda, bercanda..., lagi kamu ini kenapa Ze? Tiba-tiba menangis. Ada masalah? Ada apa?" 


"Aku mau cerita, kamu ada waktu?" Tanya Zea seraya mengambil tisu sendiri yang ada di meja dekat sofa. 


"Ya tidak usah ditanya lagi Ze, aku ada waktu atau tidak. Kamu kan sudah datang kemari jadi ya langsung cerita saja." Ucap Meta bingung dengan temannya ini. 


"Eh?"


"Calon suami, bagaima--"


"APA?" Meta menutup mulutnya dengan satu tangannya dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. 


Zea menganggukkan kepalanya sebagai tanda keseriusannya bahwa dia tidak sedang berbohong sekarang. Benar-benar memiliki calon suami bukan hanya candaan.


"Hah? Zea beneran? Kok bisa?" Meta menatap Zea tidak percaya. 


Zea menghela nafasnya sejenak dan menceritakan semuanya dari awal kepada Meta. Sebab Meta juga tidak tahu menahu soal Revan. Sekarang waktunya Meta tahu. Dimana semuanya sedang berada di atas kebimbangan. 


...----------------...


"Zea..., Zea. Bangun Ze. Ayo makan siang." Meta menepuk pipi mulus Zea yang tertidur di sofa ruang tamu. 

__ADS_1


"Zea..., ayo bangun. Aku sudah beli makanan untuk makan siang." Meta berusaha membangunkan Zea yang masih tertidur pulas. 


"Enghh..." Zea mengerjapkan matanya. Mengusap matanya yang masih mengantuk. 


"Tuh kan Zea..., matanya jadi kaya gitu. Abis nangis langsung tidur sih. Makanya lihat cowok jangan dari uangnya. Lihat cowok dari itunya." Ujar Meta menarik Zea menuju meja makan. 


"Apa sih! Sudah ku bilang aku tidak melihat dia dari uangnya. Kau juga pikirannya kotor. Cuci otak dulu sana!" Kesal Zea.


"Enak saja! Sudah ini makan dulu. Baru abis itu lebih baik kamu blokir nomor si Revan itu. Coba tenangkan diri dulu. Terus baru ketemu sama orangnya, bicara baik-baik. Kamu tanya sama dia, benar atau tidaknya. Mudah kan?" Ujar Meta dengan lancarnya.


"Wah Meta..., kamu juga sama bodohnya ya. Aku dibilang cantik-cantik bodoh. Ternyata kamu juga. Bicara itu mudah Meta! Tapi, melakukannya itu yang susah." Ucap Zea heran dengan saran Meta. 


"Ya coba saja dulu Zea. Kamu lupa aku pakar cinta?" Meta menaik turunkan alisnya. 


"Ihh..., pakar cinta tapi sering putus cinta juga." Ejek Zea. 


"Namanya cari pengalaman itu. Ah, masih cupu sih. Belum tahu apa-apa. Belajar Ze, belajar. Sudah sana makan!" 


Zea komat-kamit mengejek Meta. Bukannya menghibur temannya yang sedang sakit hati dan juga memberikan saran yang benar karena sedang bimbang malah diejek. Benar-benar teman yang baik ya Meta.


Bersambung.


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak


See u in the next episode 💕

__ADS_1


__ADS_2