
...~ Makan Siang Berdua ~...
...___________________________________________...
Mobil hitam yang mengkilat karena selalu bersih dari kotoran ataupun debu telah sampai di parkiran perusahaan. Zea tampak bingung karena mobil yang dia naiki parkir pada lahan parkir khusus.
Bahkan, sudah tertera ada tandanya untuk tidak boleh dilewati dan tidak boleh parkir di parkiran khusus. Zea mulai menebak-nebak apa pekerjaan Revan di perusahaan besar ini.
Sebelumnya Zea pernah melamar di perusahaan ini juga. Hanya saja tidak ada pemberitahuan lanjutan dari pihak perusahaan. Mungkin saja belum rezekinya Zea untuk berada di perusahaan besar ini.
Tentu saja ada prosesnya. Tidak langsung berada di atas. Walaupun benar jika memang dia tidak diterima pun tidak masalah. Dia juga tidak berkecil hati.
Melihat Revan sudah turun dari mobil. Zea juga hendak turun dari mobil. Namun, pintunya sudah lebih dulu dibuka oleh Zen yang dianggap sebagai asisten Revan. Entah, Zea masih belum tahu siapa Zen sebenarnya.
"Ayo, ikut aku!" Ajak Revan yang terlihat senang dan semangat sekali.
"Iya." Zea mengangguk seraya berjalan mengikuti Revan di belakangnya.
Zea semakin bingung lagi saat lift yang mereka naiki merupakan lift khusus. Zea menoleh menatap Revan. Revan menoleh karena dirinya sedang ditatap aneh oleh Zea.
Revan bingung. Tidak tahu arti dari tatapan Zea satu ini. Kenapa terkesan aneh dan mencoba mencari tahu sesuatu dari dirinya melalui tatapan anehnya Zea.
"Ada apa?" Revan tidak bisa tidak bertanya.
"Maaf sebelumnya, kenapa kita menggunakan lift khusus bukan lift umum?"
"Memangnya kenapa?"
"Bukankah lift khusus digunakan untuk orang tertentu saja? Seperti pimpinan perusahaan."
"Iya benar seperti katamu. Lalu, ada apa dengan kita?"
"Hm..., apa kamu memiliki jabatan penting di perusahaan ini?"
"Tentu."
"Apa aku boleh tahu apa jabatanmu?"
"Tentu."
"Apa?"
Bersamaan dengan suara lift berbunyi. Pintu lift terbuka. Revan dengan senyuman di bibirnya berjalan keluar dari lift begitu saja. Zea masih terdiam karena belum mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Sekretaris Zen menghela nafasnya pelan. Lagi-lagi Zea harus melamun. Sudah keberapa kalinya Zen membuyarkan lamunan Zea termasuk yang ini.
"Silahkan nona." Sekretaris Zen mempersilahkan Zea keluar dari lift. Zea pun tersadar dan segera keluar dari lift.
Di lantai paling tinggi ini hanya ada beberapa staf saja. Zea memperhatikan sekelilingnya. Bahkan, ruangan Revan yang sudah dibuka pintunya oleh Sekretaris Zen untuk mempersilahkan Zea masuk.
Sebelum masuk Zea terperangah tidak percaya dengan tulisan ruangan yang ada di pintu. Zea menutup mulutnya dan menatap sekretaris Zen. Tangan Zea menunjuk tulisan pada pintu itu.
Sekretaris Zen yang tidak terkejut sama sekali hanya mengangguk pelan saja. Tentu saja tidak terkejut. Zen merupakan Sekretaris dari pemilik ruangan.
R. Presiden Direktur
President Director's room
"Dia presiden direktur perusahaan?" Zea berbisik kepada Sekretaris Zen. Yang ditanya mengangguk.
"Silahkan nona." Lagi-lagi Zen harus mengingatkan Zea untuk segera berjalan.
Setiap bersama Zea, Sekretaris Zen harus siap menunggu. Karena terkadang Zea akan berhenti berjalan karena memikirkan sesuatu atau karena terkejut.
Zea melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Perlahan tapi pasti. Memperhatikan ruangan sekitarnya yang memang sangat besar dan nyaman.
"Sini Ze." Panggil Revan dari arah sofa yang makanannya sudah tertata dengan rapi. Sudah pasti Revan yang menyiapkannya.
Revan memberikan sendok dan garpu miliknya. Zea menerimanya dan membalas dengan senyuman. Tidak tahu ingin menjawab apa. Suaranya seperti tidak mau keluar.
Dalam benaknya seperti tidak mungkin dan mustahil sekali bisa makan bersama presiden direkturnya suatu perusahaan besar. Apalagi sampai mencoba mengenal lebih dekat.
Andai saja Zea kemarin tidak meminta izin satu hari bekerja di cafe. Pasti ada alasan untuk cepat-cepat pergi dari tempat ini. Sehingga tidak terjebak dalam satu ruangan yang sama dengan seorang presiden direktur.
Tempatnya memang besar, mewah, elegan dan nyaman. Tapi, hal pentingnya adalah ruangan ini merupakan ruangan presiden direktur. Satu lagi di samping Zea ini adalah pemilik dari ruangan presiden direktur ini.
Tinggi sekali jabatan orang yang berada di samping Zea ini. Sudah pasti dia pemilik dari perusahaan ini. Jangan-jangan dia anak dari pemilik perusahaan Ardawijaya Group ini dan itu sudah pasti. Begitu pikiran Zea yang berseliweran.
"Ayo Ze, dimakan makananmu. Nanti dingin jadi tidak enak." Suara Revan menyadarkan Zea dari hanyutan pikirannya.
"Eh, iya tu-tuan." Zea tersenyum kaku.
"Tunggu, kenapa kamu jadi memanggil tuan?" Revan mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Hm..., i-itu." Zea menunjuk meja kerja Revan yang bertengger papan nama dengan tulisannya yang sangat jelas sekali.
Revan A. Ardawijaya
__ADS_1
Presiden Direktur
Revan tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Revan mulai paham sekarang dengan kebingungan Zea sejak awal. Revan pun menghadap ke Zea.
"Ze, aku memang seorang pimpinan di perusahaan ini. Apa itu keberatan untukmu menjadi dekat denganku?" Revan bertanya cukup dalam menatap manik mata Zea.
Zea menunduk sejenak. Menghela nafasnya pelan dan mengangkat kepalanya lagi.
"Bukan begitu, hanya saja perbedaan status kita terlalu tinggi."
"Hei, tidak! Aku tidak melihat seseorang dari statusnya."
"Status dan kedudukan bukankah itu sesuatu yang penting bagi orang kaya atau konglomerat sepertimu?" Zea bertanya serius.
"Bagiku tidak. Aku tidak peduli dengan kedudukan ataupun status. Aku hanya manusia biasa yang sama denganmu. Jika, aku bukan seorang presiden direktur, aku juga tidak akan dianggap tinggi oleh orang lain. Bahkan, belum tentu akan dihormati atau dihargai. Kita sama saja Ze." Jelas Revan berharap Zea mengerti dan tidak keberatan.
"Baiklah, semoga saja tidak ada masalah karena kita berteman dalam perbedaan status yang tinggi." Zea tersenyum paksa sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Tidak akan." Revan meyakinkan Zea.
Revan dan Zea pun akhirnya makan bersama setelah perdebatan mengenai status dan kedudukan. Revan memang berbeda dari orang kaya biasanya.
Dari orang kaya biasanya yang akan memperhatikan kedudukan dan status seseorang. Namun, tidak semuanya seperti itu. Jadi, tidak bisa disamaratakan. Sama seperti antara Revan dan Zea.
"Ze."
"Iya?" Zea menoleh di sela-sela makannya.
"Dua hari yang lalu, aku melihatmu di cafe. Apa kamu bekerja disana?" Basa-basi Revan mengajak ngobrol Zea.
"Iya."
"Menjadi apa?"
"Barista di cafe itu." Revan mengangguk mengerti.
"Memangnya kamu ada dimana saat di cafe? Duduk dimana maksudnya. Aku tidak melihatmu." Zea mengingat kejadian dimana dia bertemu dengan temannya Revan yang menyebalkan itu saat di cafe dua hari lalu.
"Aku melihatmu dengan Gara dari dekat toilet."
"Oh." Zea mengangguk.
"Kita makan dulu saja, nanti lanjut ngobrol ya." Zea mengangguk dan tersenyum. Mengiyakan saja sudah cukup sebagai jawaban.
__ADS_1
Bersambung.