Please Be Mine!

Please Be Mine!
EP. 12 - Tawaran Menjadi Sekretaris


__ADS_3

...~ Tawaran Menjadi Sekretaris ~...


...___________________________________________...


Revan dan Zea telah selesai dengan makan siang mereka masing-masing. Sekarang mereka sudah siap untuk bicara tentang satu sama lain di tempat dan ruangan yang sama.


Revan menatap Zea sebentar sebelum memulai bicara. Zea menegak air mineralnya dulu sebelum mengobrol bersama.


"Ze, bolehkan kalau aku bertanya mengenai hal pribadi?" Revan menatap Zea mencoba memperhatikan wajah Zea keberatan atau tidak.


"Silahkan, asal kamu juga tidak keberatan jika aku bertanya tentang hal pribadimu." Zea santai.


"Baik, tidak apa. Aku juga tidak masalah." Zea mengangguk.


"Tadi kamu dari mana saat kita bertemu di minimarket?"


"Hm..., aku baru saja selesai interview."


"Oh, iyakah? Bagaimana apa sudah ada hasilnya?" Revan penasaran.


"Belum, nanti dikabari kembali lewat email." Revan mengangguk mengerti. 


Mendengar jawaban Zea yang belum pasti diterima perusahaan. Melihat wajah wanita disampingnya yang kurang yakin juga dengan hasilnya. Revan menjadi terpikirkan sesuatu. 


"Ze, kamu sudah pernah bekerja di perusahaan juga sebelumnya?" Zea menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu sedang membutuhkan pekerjaan saat ini?" 


"Hm..., aku ada pekerjaan sih di cafe. Tapi, aku ingin lebih lagi. Namanya juga manusia tidak pernah merasa puas." 


"Baiklah." 


"Baiklah apa?" Zea mengernyitkan dahinya. Aneh dengan jawaban Revan.


"Bagaimana kalau..." Revan menghentikan perkataannya sejenak. Zea yang menunggu menjadi penasaran. 


"Bagaimana kalau apa?" Menyebalkan juga lama-lama orang di sebelahnya ini.


"Bagaimana kalau kamu menjadi sekretarisku saja?" Revan menatap penuh harap kepada Zea. 


Zea sebenarnya terkejut. Tapi, dia tahan. Zea berusaha berwajah biasa saja. Karena Zea tidak tahu harus berekspresi seperti ini. Secara Revan adalah orang yang baru dia kenal. Tapi, sudah memberikan peluang besar seperti ini kepada Zea. 


Zea terdiam sesaat. Rasanya seperti mimpi kalau ada seseorang yang menawarkan pekerjaan kepadanya secara langsung. Harus menjawabnya seperti apa ini. Zea sama sekali bingung. 


Revan sadar kalau dia terlalu cepat untuk membuat Zea selalu dekat dengannya. Sebenarnya apa tujuan aslinya untuk melakukan ini juga dia sendiri tidak tahu. 


Yang dia sadari saat ini hanyalah Zea bisa menjadi wanitanya untuk menghindari perjodohan orang tuanya dengan wanita lain. Selain itu Revan juga merasa nyaman dengan wanita seperti Zea. Jadi, tidak ada yang salah bukan. 

__ADS_1


"Ze?" Revan melambaikan tangan di depan wajah Zea yang melamun. 


"Eh, iya maaf." Zea tersenyum canggung jadinya.


"Hm..., bagaimana? Apa kamu mau? Kalau kamu butuh waktu untuk memikirkannya juga tidak apa. Aku kasih kamu waktu." 


"A-aku jujur saja tidak tahu harus bagaimana. Tapi, sepertinya aku ingin berusaha sendiri dahulu. Maaf ya." Zea menjadi tidak enak. Karena menolak tawaran Revan. 


Sebenarnya tawaran Revan lumayan. Dia bisa bekerja diperusahaan dengan mudah. Karena Revan sendiri yang menawarkan sekaligus mengajaknya. 


Hanya saja Zea cukup tahu diri. Revan adalah orang yang baru dikenalnya. Walaupun Revan baik. Tapi, Zea tidak bisa memanfaatkan kebaikannya begitu saja. Walaupun disebut peluang baginya sekalipun. 


"Baiklah tidak apa. Aku mengerti, jika kamu berubah pikiran. Kamu bisa menemuiku di sini." Revan tersenyum. 


Sebenarnya dia kecewa. Tapi, tidak diperlihatkan. Akan aneh kalau rasa kecewanya diperlihatkan. Masih banyak cara dan waktu untuk membuat Zea dekat dengannya. 


"Baik." Zea tersenyum canggung.


"Oh iya, boleh aku tahu siapa orang yang tadi?" Lanjut Zea yang teringat dengan seseorang yang dia anggap Asisten Revan.


Revan mengernyit. Siapa maksudnya? Zea paham kalau Revan tidak mengerti orang yang dimaksudnya. 


"Itu lho yang tadi mengemudikan mobil mu dan memanggilmu tuan juga. Apa dia asistenmu?" 


"Asisten? Oh, Zen. Dia Zen, Sekretaris ku. Bisa juga disebut Asisten ya merangkap seperti itu." 


"Memangnya kenapa dia?" Revan penasaran kenapa Zea bertanya mengenai Zen. 


"Hm..., tidak apa." 


Revan tersenyum melihat Zea yang seperti ragu ingin mengatakan sesuatu tentang Zen. Sekretarisnya memang berbeda dari sekretaris biasanya. 


"Katakan saja, ada sesuatu yang aneh darinya?" 


"Eh, kamu yang bilang dia aneh lho ya." Zea terkejut dengan Revan yang mengatai sekretarisnya sendiri aneh.


"Hahaha..., iya aku yang bilang. Kenapa dia memangnya?" 


"Hm..., bagaimana ya? Apa wajahnya memang seperti itu?" Zea berbicara setengah berbisik.


"Seperti itu bagaimana?" Revan mengikuti Zea yang setengah berbisik.


Padahal ruangan ini kedap suara. Sekretaris Zen tidak ada di ruangannya Revan. Sekretarisnya ada di dalam ruangannya sendiri. Maka tidak bisa tahu ataupun mendengar pembicaraan antara Revan dan Zea mengenai Zen. 


Tapi, Revan ingin mengikuti Zea saja. Tingkah Zea memang sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi wajahnya yang juga cantik dan bulu matanya yang lentik. 


Tentu walaupun terpesona dengan wajahnya. Revan tidak bisa untuk melihatnya lebih lama. Apalagi  menikmati kecantikan wajah Zea. Zea akan merasa tidak nyaman nantinya. Bersabar saja dulu untuk sekarang ini. 

__ADS_1


"Itu lho wajahnya, apa dia tidak pernah belajar berekspresi?" Bisik Zea lagi.


"Memangnya kenapa? Aku tidak tahu dia belajar atau tidak."


"Biasanya saat masuk playgroup itu ada bermain ekspresi. Tapi, dia hanya datar saja. Apa tidak pegal wajahnya? Sesekali tersenyum atau tertawa kan tidak masalah." 


Revan ingin tertawa. Zea hampir sama dengan ibunya tentang sifatnya. Sama-sama menyukai bergosip. Walaupun tidak separah ibunya yang sampai heboh.


"Oh iyakah? Mungkin karena tidak ada yang menarik makanya wajahnya seperti itu." 


"Mungkin. Tapi, aneh saja." 


"Hahaha..., Ze." Revan tidak kuat lagi untuk menahan tawanya. Zea mengernyitkan dahinya dengan mengangkat satu alisnya.


"Kenapa?" Zea menatap Revan yang tertawa bingung.


"Ruangan ini kedap suara Ze. Kalau kita tertawa kencang bersama saja tidak bisa didengar dari luar. Berarti pembicaraan kita juga tidak bisa didengar oleh Zen." Jelas Revan yang membuat Zea ber-oh ria. 


"Ish..., dasar tidak bilang." Zea memukul lengan Revan. 


Revan tersenyum. Menyenangkan sekali rasanya menjahili Zea. Zea berbeda dari tipe wanita biasanya. Sangat berbeda dari wanita yang pernah dipilihkan ibu dan ayahnya. 


Zea, apa kamu mau membantuku untuk menjadi wanitaku? Revan.


Revan dan Zea melanjutkan ngobrolnya sampai menjelang malam. Setelah mendekati makan malam. Akhirnya, mereka makan malam bersama kembali. Setelah itu Zea diantarkan pulang oleh Revan untuk yang kesekian kalinya. 


"Terima kasih untuk hari ini." Zea tersenyum sebelum turun dari mobil Revan.


"Terima kasih kembali. Istirahatlah dan siapkan hari esok dengan semangat." 


"Baik, hati-hati dijalan." Revan tersenyum dan mengangguk.


Zea pun turun dari mobil Revan. Masuk ke dalam rumahnya. Sebelum itu dia berbalik. Melihat mobil Revan yang mulai melaju. Zea tersenyum dan mulai masuk ke dalam rumahnya. 


Bersambung. 


Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻


Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku... 


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...


Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua... 


Kasih bunga juga boleh kok...hehe


Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak

__ADS_1


See u in the next episode 💕


__ADS_2