
...~ Halo, Aku Raga! ~...
...___________________________________________...
Zea merasa tidak nyaman duduk di depan bersama Revan berdua. Tidak masalah jika memang hanya berdua saja didalam mobil. Berdua ya berdua. Tapi, kalau ada satu makhluk hidup yang ikut juga di belakang. Seperti akan ada pengganggu di antara mereka.
Apalagi sahabat Revan itu mencoba mencari perhatian kepada Zea dengan mencolek bahu Zea yang tertutupi oleh baju dari belakang. Tidak jelas sekali tingkahnya. Benar kata Revan. Sahabatnya itu gila tingkah mungkin.
"Nona cantik, sepertinya kamu sudah mengenal sahabat tampanku ini ya. Tapi, aku belum mengenal namamu. Tadi aku mendengar namamu fea ya?"
Sahabat Revan mulai lagi dengan tingkahnya yang baru mencoba saling mengenal. Berhenti dengan tingkah tangannya yang jahil. Berganti dengan mulutnya sekarang.
"Zea!" Zea dengan ketusnya tidak niat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya Revan itu.
Tapi, karena namanya adalah pemberian orang tua. Jadi, tidak boleh ada yang sampai salah sebut namanya yang cantik dan indah itu.
"Oh, Zea. Hai, nona Zea!" Sapa sahabat Revan yang tidak ada habis-habisnya menyebut nama Zea ditambah kata nona.
"Bisa tidak kata nona tidak perlu ikut saat anda menyebut nama saya?"
"Tidak tuh. Nona Zea kan akan menjadi nona mudanya keluarga AW nanti."
Perkataan sembarangan sahabat Revan itu membuat Zea naik pitam. Kesal sekali lama-lama keluar api dari kepala Zea. Kesabarannya ada batasnya juga kali.
Kalau seperti ini terus sampai tiba di rumahnya nanti. Yang ada Zea tinggal nama karena kebakar karena api yang keluar dari kepalanya.
"Anda bisa diam tidak?" Zea menatap tajam dengan gigi rapat melalui kaca yang ada di mobil untuk melihat sahabat Revan yang menyebalkan.
"Tidak juga tuh." Sahabat Revan nyengir tanpa merasa bersalah.
Zea menghela nafasnya pelan. Mencoba bersabar. Karena dia berada di dalam mobil orang lain. Orang lain itu juga bukanlah seseorang yang sudah Zea kenal lama.
Jadi, kesopanan sangat penting. Jangan sampai etika Zea di cap jelek dimata orang lain karena sikap Zea terhadap sahabat Revan yang menyebalkan ini.
"Zea, mohon maafkan dia. Jika, kamu terganggu. Anggap saja tidak ada." Revan sangat paham situasi. Sampai merasa tidak enak dengan Zea. Karena keberadaan Sahabat gilanya.
Zea menjadi tidak enak juga terhadap Revan. Karena menjadi merepotkan Revan juga. Apalagi sudah kedua kalinya Revan mengantarkan dirinya pulang.
"Tidak, tidak apa-apa Revan." Zea menjadi canggung kepada Revan.
Sahabat Revan yang duduk di belakang memperhatikan dan menyimak setiap interaksi yang terjadi di depan matanya.
Dia tersenyum licik yang tidak disadari oleh dua insan di hadapan mereka. Entah apa maksud dari senyuman itu. Hanya dirinya seorang dengan tuhan yang tahu.
Akan aku buat kalian berjodoh. Revan kau harus berterima kasih padaku ya nanti. Karena aku, kau bisa menikah muda dengan Zea nanti. Hahaha..., eh, tapi kalian bisa saling kenal dari mana?
Setengah perjalanan menuju rumah Zea sudah dilewati. Sahabat Revan sudah tidak terlalu banyak tingkah lagi. Mungkin sudah semakin malam jadi nyawanya hampir tidak berkumpul lagi.
"Nona cantik, kamu tidak mau tahu namaku? Aku sudah tahu namamu. Jadi, kamu juga harus tahu namaku nona cantik." Sahabat Revan mulai lagi.
__ADS_1
Zea menghela nafasnya saja. Dia memilih diam daripada meladeni salah satu ciptaan makhluk tuhan yang sangat menyebalkan tiada tara.
"Halo, aku Raga!" Sahabat Revan memperkenalkan namanya kepada Zea.
Zea tersenyum paksa dan mengangguk saja. Tidak terlalu penasaran dengan nama dari sahabat Revan. Tidak peduli lebih tepatnya.
"Gara, Zea." Revan menimpalinya.
"Gara?" Zea mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Shegara itu nama dia. Panggil saja Gara." Jelas Revan yang tahu Zea tidak paham.
"Oh, Shegara nama sahabat anda ya. Pantas saja Shegara, suka mencari gara-gara. Cocok, terimakasih kepada orang tuanya yang sudah memberikan nama kepada si suka mencari gara-gara."
Zea tersenyum penuh kemenangan menatap Gara. Sedangkan, Gara menatap tajam dan penuh kekesalan kepada Revan.
Namun, Revan sama sekali tidak menanggapi tatapan Gara. Dia hanya biasa dan santai saja. Karena apa yang dikatakan tidak ada yang salah. Memang nama dari sahabatnya itu Shegara. Apa yang salah? Tidak ada bukan.
Gara dengan sengajanya menyentil telinga Revan. Revan mengusap telinganya dengan santai. Membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa terusik.
"Nona Zea yang cantik, bisakah kamu memanggilku dengan nama Raga?" Pinta Gara dengan sangat seperti memohon kepada pujaan hatinya.
"Tidak, manusia serba salah!" Ketus Zea. Sama sekali tidak peduli.
Dasar Revan, kurang ajar! Kalau begitu tidak jadi kubantu kau menikahi Zea. Biar Zea jadi milikku saja. Gara.
"Baiklah, aku mengalah padamu nona cantik." Gara pura-pura memelas. Namun, Zea tetap saja acuh padanya.
Sebelum pintu mobil tertutup. Zea mengatakan terima kasih kepada Revan. Hanya kepada Revan seorang. Tidak kepada yang lain.
Karena yang dia naiki mobil Revan dan yang mengemudikan mobil adalah Revan. Jadi, berterima kasih juga kepada Revan. Bukan kepada makhluk pengganggu yang ada di antara mereka.
Baru saja Zea menutup pintu mobil Revan. Pintu belakang terbuka dan Zea menatap tajam Gara yang turun dari mobil.
"Anda mau apa ya? Kenapa anda ikut turun juga? Ini rumah saya!" Ketusnya Zea tidak tertandingi.
"Maaf ya nona, Revan bukan sopirku. Dia sahabatku. Jadi, aku pindah duduknya ke depan. Nona Zea yang cantik paham kan? Boleh minggir sedikit ya cantik nanti lecet nangis." Gara berekspresi sangat menyebalkan hingga membuat Zea tidak bisa menahan sabarnya lagi.
Hampir saja dia ingin memukul kepala Gara dengan tasnya. Hanya saja kalau kepala Gara kenapa-kenapa nanti nangis atau minta diobatin. Tambah ribet lagi urusannya. Jadilah Zea segera masuk ke dalam rumahnya. Tidak memperdulikan lagi sahabat Revan yang amat sangat menyebalkan.
"Baru tahu ada manusia seperti itu ya, dasar tengil!" Gumam Kesal Zea seraya melepaskan sepatu kerjanya.
Kembali lagi pada rutinitas wajibnya dimalam hari. Mencuci wajah, kaki, dan tangan serta sikat gigi sebelum tidur.
Sudah diajarkan sejak kecil oleh ibunya yang selalu diterapkan oleh Zea sampai kini dimana dia sudah dewasa.
Zea merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya yang luar biasa empuknya. Dia meraih ponselnya dari atas nakas. Membuka mesin pencarian.
"Toko kue yang biasa buka jam berapa ya, lupa."
__ADS_1
"Kue ulang tahun yang biasa sama ayam bakar kaya biasa saja kali ya. Sumbangan juga jangan lupa. Lebih baik siapin dari malam saja deh."
Zea kembali bangkit dari rebahannya. Dia mengambil sebuah amplop dari laci mejanya. Lalu, memasukkan beberapa lembar uang yang jumlahnya setiap tahun selalu sama untuk disumbangkan ke panti asuhan.
Selesai dengan urusan uang sumbangan. Zea beralih lagi ke ponselnya. Dia melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
☎️
"Halo, selamat malam dengan Gea dari toko kue Lovelyco, ada yang bisa dibantu?"
"Halo, mba. Toko kue Lovelyco masih buka tidak?"
"Masih buka mba, tapi untuk kue pesanan jadinya besok."
"Kalau begitu saya pesan kue rainbow yang besarnya dua ya. Ditambah buah leci juga ya diatasnya."
"Baik mba, pesanannya bisa diambil besok jam sepuluh pagi ya. Sebelumnya dengan atas nama siapa?"
"Zea mba."
"Ada nomor telepon yang bisa dihubungi atau pakai nomor telepon yang ini saja?"
"Yang ini saja mba."
"Baik, pesanannya kue rainbow besar dengan tambahan leci ya. Kuenya bisa diambil besok jam sepuluh pagi. Totalnya jadi dua ratus dua puluh ribu rupiah ya mba Zea."
"Oh iya baik mba."
"Baik, terima kasih telah menghubungi dan memesan di toko kue Lovelyco."
"Sama-sama mba."
☎️
Zea menaruh ponselnya di atas nakas kembali dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Tidak lupa memeluk guling yang jadi teman tidurnya sebelum memejamkan mata.
Bersambung.
Halo, apa kabar semua? Semoga kalian dalam kondisi sehat ya..., Amin.🙏🏻
Terima kasih semua yang sudah membaca karya terbaru ku...
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemilihan kata dan lainnya ya...
Boleh like dan votenya ya kakak-kakak semua...
Kasih bunga juga boleh kok...hehe
Komen, Kritik dan saran juga boleh kok...oke kakak
__ADS_1
See u in the next episode 💕